Museum di Bonn dan Ziarah ke Aachen

Judulnya agak nggak kreatif ya? Hehe…kemampuan menulis saya semakin berkurang akhir-akhir ini. Mungkin karena jarang dilatih 😛 Anyway, seperti yang sudah saya janjikan kemarin, saya akan menulis pengalaman saya jalan-jalan ke salah satu museum di Kota Bonn, Jerman. Kebetulan hari Kamis tanggal 19 Juni 2014 yang lalu adalah hari libur di sini, jadi saya sempatkan waktu itu untuk pergi ke museum. Saya pergi bersama dua orang teman baru dari Guatemala : Jeniffer dan Carla. Ohya, Jeniffer juga mau ngambil master di bidang heritage kayak saya, bedanya dia lebih spesifik; Monumental Heritage (di Dessau). Saya seneng ketemu dia karena ada temen jalan-jalan ke museum dan mengeksplorasi cerita (sejarah) tentang tempat-tempat yang kami kunjungi….nggak semua orang suka lho melakukan itu. Saya ingat dulu sebagian besar orang Indonesia yang ada di Dresden itu kayak ‘pasrah’ gitu aja sama sekitar, maksudnya ga peduli sama betapa menariknya kota itu dan betapa beruntungnya mereka bisa kuliah di sana. Mungkin karena mereka ga merasa beruntung? Hehe…

Kami bertiga berangkat dari Kreuzberg setelah makan siang. Hari itu museum tutup jam 18.00 jadi masih ada waktu lumayan buat liat-liat semua pameran. Kami bertiga masuk dengan tiket gratis dari Stadthaus, nah masalahnya saya lupa nanya kalo bayar, saya harus bayar berapa hehe 😀 Museum ini bernama LVR-Landesmuseum Bonn/ Rheinisches Landesmuseum Bonn. Bagian luar bangunan terbuat dari kaca. Sepertinya dulu di tempat di mana museum itu berdiri, ada sebuah bangunan tua, soalnya di balik kaca itu kayak ada sisa peninggalannya.

Image

Jeniffer, saya, dan Carla di depan LVR-Landesmuseum Bonn

Image

Dengan pergi ke museum ini, pengunjung bisa belajar bagaimana kehidupan manusia yang tinggal di tepi Sungai Rhine jaman dulu (2000 tahun yang lalu). Kala itu, bangsa Romawi masih menguasai daerah yang (dulu) bernama Germania ini (?). Dari mulai kehidupan sehari-hari seperti bagaimana mereka mencari makan, masak, alat transportasi, agama, sampai ritual penguburan. Mereka menunjukkan periode-periode kehidupan masyarakat di tepi Sungai Rhine sehingga kita bisa tau gimana mereka mengalami perubahan dan perkembangan dari waktu ke waktu. Seperti biasa museum di Jerman itu canggih dan sophisticated. Hehe…saya bingung bagaimana ya menjelaskannya? Btw, ketika kami berkunjung ke sana, lagi ada pameran khusus soal peninggalan benda-benda perunggu dari jaman Romawi. Yang disayangkan adalah, museum di Jerman ini jarang sekali menyajikan keterangan dalam Bahasa Inggris, jadi saya nggak mudeng 😦 tapi saya jadi termotivasi untuk belajar Bahasa Jerman lebih baik lagi 🙂

Image

And here comes the best experience so far : saya dapat kesempatan untuk mengunjungi Aachen dan terlibat dalam sebuah perjalanan spiritual yang terjadi hanya sekali dalam 7 tahun. Yes, once in 7 years!! Dan pas banget yang terakhir itu tahun 2007, jadi tahun 2014 ini ada lagi. Ziarah ini bertujuan untuk menghormati 4 relik yang dianggap suci menurut kepercayaan Katolik : 1. Pakaian yang dikenakan Bunda Maria ketika melahirkan 2. Kain pembalut bayi Yesus (semacam kain bedong gitu) 3. Kain pinggang ketika Yesus disalib dan 4. Kain pembungkus kepala Yohanes Pembaptis. Jadi setiap 7 tahun sekali relik-relik tersebut dipamerkan untuk publik.

Image

Koeln Cathedral

Kami berangkat dari Bonn naik kereta dengan group ticket. Satu tiket harganya 41 euro bisa dipake berlima selama sehari untuk keliling ke mana aja selama masih dalam bagian Nord-Rhine Westfalen (NRW). Hari itu hari Minggu, 22 Juni 2014, tapi kami semua (15 orang) udah bangun jam 5.30, mandi, terus berangkat (tiket ini juga berlaku untuk naik bisa dalam Kota Bonn, jadi dari Kreuzberg kami ga perlu jalan kaki ke stasiun). Kami harus ganti kereta di Koeln, dan pas lagi nunggu kereta sambungannya dateng, foto-foto bentar di depan Katdreal Koeln yang tersohor itu (Katedral ini adalah gereja Katolik tertinggi di dunia, sebenernya kalo Sagrada Familia yang di Spanyol itu sudah selesai, dia bakal jadi yang tertinggi, tapi sampe sekarang blm selesai pembangunannya).

Image

With my best bb’s. Yeeaayyyy!!!

Kira-kira pukul 9.00 kami sudah sampai di Aachen. Ziarah dimulai dengan tur singkat di pusat kota Aachen, kemudian kami bergegas cari tempat duduk untuk ikut misa yang dimulai jam 11.00. Misanya panas banget, saya memutuskan untuk nggak ikut. Gila aja dipanggang gitu di siang bolong, saya (dan Jeniffer) memutuskan untuk masuk ke museum di sebelah lapangan tempat misa diadakan. Hehe…di dalem lebih adem dan kita bisa ngintip-ngintip dikit pameran tentang Charlemagne (kalo mau masuk pameran bayar 10 Euro).

Image

di gerbang tua kota Aachen

Image

Holy (Hot) Mass

Oiya, Charlemagne (atau Charles the Great) adalah sosok yang sangat terkenal buat umat Katolik di Eropa. Beliau ini dijuluki Father of Europe (kata seorang romo yang jadi guide kami hari itu). Charlemagne adalah raja dari Francia. Francia itu sebuah kerajaan di Eropa jaman dulu yang terdiri dari konfedarasi orang-orang Germanic. Dulu Eropa batas negara bangsanya belum kayak sekarang ya, jadi agak rumit juga ceritanya. Hehehe…Beliau bertahta dari tahun 768-814, meninggal di Aachen, dan dialah yang mendirikan katedral yang pada tahun 1978 masuk dalam daftar pertama World Heritage menurut UNESCO (ada 12, Katedral Aachen ini salah satunya). Di katedral ini telah dinobatkan 30 orang raja yang pernah memimpin Jerman dan sekitarnya 😀 Sejarah mengenai kenapa Charlemagne begitu penting dan bagaimana beliau bisa mendapatkan 4 relik terpenting itu bisa dibaca di sini. Singkatnya dia mendapatkan relik-relik tersebut sebagai hadiah dari Yerusalem karena jasanya melindungi umat Katolik di Eropa.

Image

Tampak depan Katedral Aachen

Image

Salah satu bagian dari Katedral Aachen, kacanya bagus ya 🙂

Image

ini juga bagian dalam dari Katedral Aachen, sebenarnya langit-langitnya bagus tapi nggak kefoto karena ada tali pembatas yang ga boleh dilewatin

Image

Jubah yang katanya pernah dikenakan Bunda Maria

Mungkin pada bertanya-tanya ya, masa sih reliknya asli? Saya sendiri kurang mau membicarakan apakah saya percaya itu asli atau tidak, saya cuma mau bilang bahwa saya lebih tertarik pada kesempatan untuk terlibat di peziarahan yang bersejarah ini. Tradisi ini sudah berlangsung selama 660 tahun! Lagipula pergi ke Aachen sangat mudah dari Bonn. Kalau saya lagi di Indonesia, ya ngapain juga kali jauh-jauh terbang ke Jerman hehehe….

Hhhhmmm kayaknya ceritanya udahan dulu soalnya harus belajar. Besok Jumat ujiaannn 😥

Advertisements

Kembali ke Jerman*

(* kayaknya ada masalah sama WordPress soalnya saya ga bisa kasih caption di foto. Jadi beberapa foto tanpa keterangan gpp ya, males soalnya hihihi)

Hallooo, sudah tiga minggu saya di sini tapi baru kali ini sempet (mau) nulis. Soalnya males banget kemarin-kemarin. Mungkin beda sama waktu pertama kali ke Jerman, saya semangat banget nulis. Begitu nyampe dan dapet akses internet, langsung deh nulis sambil mengisi waktu-waktu jetlag. Tapi yang kali ini, kok nggak begitu ya? Hehe…

Anw, saya sekarang sudah di Bonn. Tinggal di sebuah tempat bernama Kreuzberg. Tempat ini semacam asrama gitu buat scholar dari berbagai belahan dunia yang sedang belajar bahasa. Kreuzberg punya institut bahasa juga, jadi kalau mau les sama mereka dan ga punya tempat tinggal bisa nginep di sini (ga gratis ya, tetep harus bayar). Yang mengelola tempat ini ada biarawati (suster) karitas. Saya sih walaupun beragama Katolik….er….kurang suka ya tinggal di tempat seperti ini. Makanya dulu saya nggak mau dimasukin ke Syantikara (di Yogyakarta) pas kuliah. Ogah!!! (di bawah ini adalah salah satu sisi dari rumah tempat tinggal kami).Image

Lalu kenapa saya tinggal di sini? Karena saya adalah penerima beasiswa dari KAAD, dan KAAD punya kerjasama dengan Kreuzberg. Semua scholar dari KAAD ditempatkan di ‘rumah’ ini selama kursus bahasa di Bonn. Yang mau ambil PhD jatahnya 6 bulan, yang ambil master rata-rata jatahnya 4 bulan, tapi ada juga yang dapet 6 bulan tergantung program studinya nanti dalam bahasa apa. Saya sendiri bakal ambil World Heritage Studies di Cottbus, dengan bahasa pengantar Bahasa Inggris. Maka saya dapat jatah belajar bahasa Jerman 4 bulan saja. Tapi saya seneng belajar Bahasa  Jerman, makanya saya bersyukur banget akan kesempatan ini 🙂ImageImage

Di ‘rumah’ ini saya berbagi dengan banyak orang dari berbagai benua. Seneng karena bisa belajar banyak hal, walaupun kadang saya pegel juga ngomong bahasa inggris terus tiap hari. Mana kadang-kadang karena belajar bahasa jerman, beberapa kosakata bahasa inggris saya jadi hilang, hehehe…. Tapi saya dapat banyak teman baru, dari Syria, Jordania, Guatemala, Colombia, Kenya, usw. KAAD memang memberi kesempatan pada mereka yang berasal dari dunia ketiga untuk sekolah di Jerman. Kelebihan dari KAAD, lembaga ini adalah salah satu lembaga yang memberikan kebebasan pada scholarnya untuk memilih jurusan. Saya sih agak ga sreg sama DAAD yang udah milihin jurusan. Dan cuma itu-itu doang. KAAD ini menurut saya cocok buat yang pengen belajar ilmu-ilmu sosial/humaniora. Mereka sangat terbuka. Dan janga salah sangka, beasiswa ini bukan cuma untuk orang Katolik saja 😀 Image

Image

Hm…jadi selama tiga minggu ini saya sudah ngapain aja ya? Saya sudah jalan-jalan naik kapal kemarin (kalo naik kapal bukan jalan-jalan ya namanya :P) tapi intinya saya kemarin kapan gitu naik kapal ke Koenigswinter. Pake kupon gratisan. Oh ya, di Jerman ini kalo kamu mendaftarkan diri, kamu akan dapat gift. Tergantung kotanya. Kalau di Dresden dulu saya dapet mug, notes, peta, kupon (yang dulu tidak saya pakai karena ga paham). Kalau di Bonn saya dapat satu bendel kupon (Gutschein). Kupon naik kapal sudah saya pakai, hari ini mau ke museum, pake kupon juga. Beda banget ya sama di Indonesia, kalau di Indonesia, kita dapet apa? Hehe.. Satu hal yang sebenernya membuat saya semangat tinggal di Bonn simply because this city is the CAPITAL OF GUMMY BEARSSSS!!! ❤ HARIBOImageImageImage

Oh iya, saya juga beruntung karena berada di Jerman bertepatan dengan Piala Dunia. Baru kali ini saya nonton piala dunia di negara yang ikut Piala Dunia. Suasananya tentu berbeda ya. Kalau di Bonn ini yang saya perhatikan sih orang-orang pada pasang bendera (bukan di tiang, tapi ditempel aja di tembok rumah). Jadi meriah suasananya. Di mobil juga kadang pada masang bendera kecil-kecil gitu. Lucu deh. Dan tentunya ada acara nonton bareng yang selalu heboh gila. DI bawah ini foto menjelang malam pembukaan, nampak sepi ya, tapi tidak berapa lama setelah itu jadi rame banget!!

Image

Soal makanannn, entah kenapa saya merasa dulu pas di Dresden makanannya lebih enak daripada di sini. Saya juga merasa lebih cocok sama Jerman sebelah timur daripada barat 😀 Atau mungkin karena saya tinggal di ‘rumah’ suster-suster yang makanannya itu-itu aja kali ya. Saya sebenernya ga terlalu mempermasalahkan makanannya, makanan sederhana pun bisa enak menurut saya. Tapi entah kenapa kokinya di sini suka aneh deh 😦

UUummm kayaknya segitu dulu ceritanya, nanti abis dari museum saya mau nulis lagi :p

See ya!

Testpack, Visa, and Everything in Between

Haiii…akhirnya hari yang dinanti tiba juga. Yaitu hari di mana saya bisa menulis di blog ini bahwa saya kemarin abis ngurus visa studi ke Jerman dan sukses. Hore! Jadi memang dari bulan September 2013 lalu saya udah menantikan kapan ya bisa cerita-cerita soal ngurus visa hehe. Tapi sebelum cerita soal ngurus visa, saya punya cerita yang lumayan bikin galau. Jadi begini…kan saya mau berangkat ke Jerman tanggal 29 Mei besok ya, nah masak saya terakhir mens itu tanggal 20 Februari kemarin. Trus saya panik dong, kalau saya hamil kan saya nggak jadi berangkat 😥 padahal kalo inget-inget perjuangan saya supaya bisa ke Jerman lagi, hamil di saat mau berangkat bukan sebuah hal yang saya inginkan. Pertama saya memang belum mau punya anak lagi. Aduh kemarin sempet pas pulang ke Semarang di kereta liat ada pasangan muda punya anak 2 repotnya minta ampun. Hih! Yang kedua, ya itu tadi. Saya sudah berusaha sekuat tenaga buat dapet beasiswa ini, eh masa sih pas mau berangkat malah HAMIL? O_o

Jadi intinya saya hamil nggak? Jawabannya tidak, karena akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga kemarin tanggal 29 April, pas banget sehari setelah saya ngurus visa di Jakarta tanggal 28 April. Nah tapi kan saya cemas ya nunggunya, jadi stress. Paskah kemarin sampe gak konsen. Di gereja doanya : ya Tuhan kenapa saya nggak mens, saya nggak mau hamil. Hehe…terus saya beli testpack. Sekali test pas baru 2 minggu telat. Eh negatif. Trus saya ke dokter, dicek pake USG, ga ada apa-apanya kata dokternya (dan mbak suster menghibur saya : belum ada kehamilan, nggak papa ya bu. Iye iye nggak papa, Sus). Terus saya dikasi obat kata dokternya buat 5 hari. Kalo 2 minggu belum mens juga, saya diminta kontrol lagi. Terus saya tanya, kalau 2 minggu saya belum mens, itu tandanya apa, dok? Kata dokternya : hamil. Hahhhhh???? 😥 gimana sih. Trus dokternya bilang : ya mungkin saja ibu sudah hamil sekarang tapi janinnya belum nampak.

Lalu sayapun nggak mens juga sampe setelah 2 minggu itu. Jadwal saya kontrol lagi itu bertepatan dengan hari di mana saya harus berangkat ke Jakarta buat urus visa. Paginya saya testpack lagi pake 2 merk testpack. Negatif. Tapi katanya testpack itu bisa menipu. Namun saya tetep aja memilih untuk ke Jakarta daripada kontrol. Lagian saya nggak merasa hamil kok. Perut saya memang buncit dari dulu dan saya emang gampang laper, terus saya juga kembung tiap hari. Jadi nggak hamilpun saya memang sejak dulu selalu kayak orang hamil. Hahahah…

Tapi sejak saya kontrol dokter yang pertama sampe saya berangkat ke Jakarta itu adalah masa penantian tergalau. Beneran deh. Saya sampe pake pregnancy calculator online itu. Ngitung kalau saya hamil udah berapa minggu ya? Udah 8-9 minggu katanya saat itu. Anaknya udah segede buah raspberry. Saya juga browsing tanda-tanda kehamilan, yang mirip sama tanda-tanda mau mens. Jadi saya bingung kan. Saya hamil apa PMS ya? Hehehe 😀 Tapi anyway seperti yang sudah saya bilang tadi, saya memutuskan untuk nggak kontrol ke dokter dan pergi ke Jakarta ngurus visa.

Saya ke kedutaan tanggal 28 April 2014. Saya bikin janji jam 10 tapi udah nyampe ke kedutaan jam 9. Dulu pas pertama urus visa Jerman tahun 2011, satpamnya galak bener. Udah gitu kita belum bisa bikin termin online kayak sekarang. Jadilah para pemohon visa berbaris di trotoar di Jalan Thamrin yang panas menyengat itu. Kalau sekarang udah ada sistem online jadi bisa dateng sesuai time frame yang udah dikasih. Satu orang dapet jatah setengah jam. Hari itu jatah saya jam 10.00 – 10.30. Satpam kali ini lebih ramah, saya boleh langsung masuk dan nggak dijutekin.

Lalu saya naik ke atas, udah bawa dokumen lengkap. Kalau ngurus visa pake beasiswa ituuuuuu ennaaaakk bangetttt. Pertama : berkas yang dibutuhin dikit banget yaitu; formulir visa, foto biometris, surat bukti beasiswa, surat bukti keterima universitas, fotokopi paspor. Udah itu doang. Lalu keuntungan kedua adalah : masnya ramahhh banget. Begitu tanya : Oh beasiswa ya? Iya mas. Dari KAAD ya? Iya. Terus dia langsung : oke. Trus dia ngetik-ngetik apa gitu, saya dikasi form anti teroris itu, ngisi, balikin, cek akhir, kasihin semua ke dia termasuk paspor, trus udah. Dia bilang : diambil tanggal 8 Mei ya jam 13.00. Horeeeee!!! Padahal pas saya curi dengar pemohon visa yang lain agak susah ya, ditanya macem-macem, trus selalu dibilang “ya ini KALAU semua urusan lancar ya bu…ya ini KALAU disetujui ya pak…ya ini KALAU dapat ya visanya…” Tapi KALAU kasus saya, lancar. Pasti beres! Sombong ya? Biarin 😛 oiya satu lagi : GRATIS. Tidak dipungut biaya EUR 60 itu.

Lalu kemarin saya langsung kirim bukti tanda terima visa ke KAAD. Dan hari ini KAAD langsung urus tiket pesawat saya. Naik Etihad tanggal 29 Mei 2014, jam 01.45 am (pagi!). Nggak sabar, senangnya mau ke Jerman lagi. Kata suami, saya harus semangat walaupun mau pergi jauh. Karena kesempatan ini nggak datang dua kali 🙂

Tentang Marah-marah di Media Sosial (Facebook)

Nahhhhh akhirnya saya nulis juga kan…hahaha. Di luar lagi hujan, Tere sudah saya ‘serahkan’ ke mama saya (yang baru pulang dari Bandung dan bawa oleh-oleh banyak banget jadi si Tere mau banget main ke rumah omanya)…jadi saya punya waktu deh buat sendirian, tidur-tiduran, dan blog walking. 

Setelah blog walking ke sana dan ke sini saya jadi sadar selama ini kalau saya nulis blog kok kayaknya serius banget. Bukan…bukan topiknya yang serius, tapi kok kayaknya saya tiap mau nulis blog harus persiapan macem-macem. Ya fotolah apalah gitu, jadinya nggak nulis-nulis malah males. Hehe…jadi tulisan kali ini nyantai aja ya, cuma mau cerita uneg-uneg aja gitu.

Jadi, ehm, saya ini emang sukaaa banget misuh. Iya bener, makanya saya cocok berteman sama orang-orang yang fasih banget kalau misuh. Aduh mulut saya ini emang sampah banget deh haha. Nah, tapi biasanya pisuhan itu kebanyakan sifatnya guyon, becanda, berupa celetukan-celetukan yang belum tentu mencerminkan mood atau karakter saya. Iya, saya emang seneng banget tiba-tiba ngomong “goblok”, “afu”, “asu”, “anjing”, dll tapi bukan berarti saya itu jahat, emosian, nggak bisa santai, nggak selow, nggak baik hati, nggak ramah, dlsb. Tentu saja saya ini baik, tidak sombong, dan cerdas luar biasa. Haha…kenapa sih saya nulis ini?

Jadi gini, selama ini saya sering dibilang terlalu sering misuh, ngomel, ngedumel di fb. Iya sih emang, wih saya suka tuh ngomel…trus nanti pas ada yang komen dan tu orang mendukung omelan saya, tambah seru kan? Kesannya marah-marah barengan gitu di fb. Padahal kan orang nggak tau juga ya mostly saya posting itu sambil ketawa-ketawa juga hahahaha….maksudnya omelan itu kan terlintas gitu, trus iseng “ih ini kayaknya lucu jadi status” trus jadi deh. Tapi kan bukan berarti saya grumpy. Gggrrr…. *lho* 

Iya, banyak tuh temen saya yang kalau lagi ada isu SARA mereka biasanya nulis status aneh-aneh dan lucu-lucu pake kata-kata kasar, saya seneng aja liatnya. Jujur meennnnn emang kan kalo ada orang rasis kita bawaannya pengen misuh dan bukan pengen sembayang : Ya Tuhan ampunilah mereka. Ini saya sih. Hahahaha…E tapi kalau kebangetan saya juga tau diri kok, biasanya saya hapus sih. 

Masalahnya, banyak juga menurut saya yang posting status yang BAGI SAYA, ini BAGI SAYA lho ya lebih mengganggu daripada status orang misuh : yaitu status yang menceritakan kembali dialog dengan tetangga, dengan anak, dengan tukang sayur, dll…dan kadang itu bener-bener deh…ga ada lucunya. Misalnya :

Mama : Ah nak terimakasih ya mama dibeliin panci

Anakku : iya mama terimakasih juga sudah masak enak-enak.

Ah anakku kamu memang paling mengerti mama nak. Lucunya kalau begini terus, mama jadi tambah semangat masak :*

Penting kan?

Nah kalau kemudian orang bilang, ya namanya juga status kan bebas dong mau ngomong apa. Ah apa iya? Kalau iya, kenapa saya diomelin kalau saya bikin status yang ngomel? Apa karena menyebarkan energi negatif? Lalu apakah anda pikir status anda yang bercerita bahwa kucing di rumah anda suka makan kelengkeng itu membawa energi positif bagi yang baca? 

Bagi saya sih enggak -____- jadi intinya, sama aja bok. Dan ini bukan saya aja yang ngerasa.  

Buat saya sih ada satu jurus jitu kalau anda udah eneg sama status orang : ya diunfriend aja sih. Repot bener. Bukan…saya bukan orang yang terlalu serius juga kok. Saya bukannya hanya mau liat postingan yang berat-berat macam heritage, isu-isu kebudayaan, dll. Saya suka banget tuh cari-cari meme terbaru yang lucu-lucu, foto-foto binatang yang imut-imut. Iya saya suka, dan akan saya share kalau saya suka banget (saya sama nggak pentingnya kayak anda-anda ini hehehehe). Dan saya suka banget sama Katy Perry, iya saya ini mainstream banget sampe hanyut. Tapi jangan dimarahin dong kalau saya ngomel, jangan dikatain : hidup anda sepertinya negatif sekali, penuh omelan. Yaelah…ga tau aja ya abis nulis status marah-marah biasanya saya nonton Upin Ipin sama anak saya, ngga mikir lagi apa yang saya tulis. Afterall, katanya kan : itu kan cuma status, bebas dong mau nulis apa…

Jadi walaupun saya seneng misuh dan banyak yang menyangka saya ini orang dengan energi negatif saya akan bilang : #AkurapopoImage

 

Crochet : Membuat Selimut!

Jadi seperti yang pernah saya katakan sebelumnya di blog ini, kenapa saya belajar merajut adalah karena saya kepengen bikin selimut. Dan proyek ini sudah saya kerjakan sejak awal saya belajar crochet. Setahun yang lalu dan sampai sekarang nggak selesai-selesai. Sebabnya antara lain karena saya sempat bosan merajut, terus sibuk dengan urusan lain juga, atau saya merajut tapi tergoda untuk nyoba bikin amigurumi, bikin casing hape…akhirnya proyek impian saya untuk bikin selimut tertunda. Btw merajut membuat saya lebih sabar dan jarang marah, dan mengurangi rokok. Karena rokok berkurang ( 1 bungkus = 1 minggu, sampe ampang rasa rokoknya ahaha), maka bangun pagi juga lebih segar. Ini saya lho ya, mungkin kasusnya beda lagi untuk orang lain. Dan saya tidak sedang kampanye anti rokok. Merokok boleh-boleh saja asal tau tempat dan sadar kondisi keuangan dan kesehatan masing-masing. Hehehehe….

Meet Polyando

Image

Untuk selimut ini, saya pakai benang bernama Polyando, yang dikeluarkan oleh merk benang Excellia. Tidak seperti benang-benang lain yang banyak dipasaran dan biasanya satu pabrik tapi dimerk-in beda-beda, Polyando hanya ada dari Excellia, dan hanya Excellia yang punya benang jenis ini setahu saya sampai sekarang. Benang ini adalah benang yang pertama kali saya pakai waktu belajar merajut. Belinya dulu di Toko Satria, harganya (dulu) saya inget Rp 16.000,00 per gulung. Waktu itu saya beli benang ini dengan polosnya karena masih newbie dalam dunia merajut. Saya pikir untuk benang, harga segitu nggak mahal-mahal amat. Eh tapi semakin saya mempelajari berbagai jenis benang (lokal) ternyata untuk ukuran benang produksi dalam negeri, harga Excellia Polyando cukup mahal. Tapi saya sudah terlanjur jatuh cinta sama benang ini, menurut saya dibanding katun bali, rayon, poly, dan lainnya, benang ini paling enak di tangan. Nah sekarang harganya sudah beda. Di Toko Satria sudah nggak ada (stok lagi kosong), akhirnya saya dapat di Victory, Jl. Dr. Cipto dan harganya Rp 18.000 per gulung! Sebagai pembanding, harga katun bali di toko yang sama masih Rp 9.000 saja. Hehehe…tapi gimana dong, udah terlanjur suka.

Itu pula sebenarnya yang membuat saya ingin melanjutkan bikin selimut, karena benangnya mahal. Jadi sayang kalau cuma dibikin barang kecil-kecil yang bakal terbuang. Kalau selimut, harapan saya sih bisa saya bawa ke Jerman besok, terus diturunkan ke anak cucu. Amin. Oh iya, saya juga sedang menahan diri untuk nggak coba-coba beli benang impor. Tergoda sih sebenernya, pengen nyobain. Tapi sebentar lagi saya juga dapat kesempatan untuk beli benang ‘impor’ sebanyak-banyaknya (amin lagi). Hehehe…

Benang Polyando ini sudah agak langka di Semarang, makanya setiap ada uang saya selalu nengok ke Satria atau Victory. Untungnya kayaknya di Victory yang beli benang ini cuma saya deh. Hehehe…tapi selalu ada toko online di Facebook. Salah satunya MyHobby Craft Rajut – Crochet yang menjual benang Excellia Polyando. Harganya Rp 15.000 saja per gulung! Dan toko itu menjual crochet hooks kayak punya Katy Perry, 1 set bermerk Susan Bates. Huwawwww….(pengen, tapi sold out). And yes, Katy Perry also crochets….how cool is that? Well since I am a KatyCat, I am so excited about it haha!

Image

See thattt, KatyCat??

Basic Granny and Daisy Granny

Saya selalu suka segala sesuatu yang kecil-kecil dan warna-warni. Makanya di rumah saya ini banyak barang nggak penting yang kecil, banyak, dan warna-warni. Hihihi…untuk selimut ini saya pakai dua macam granny square, yang satu basic, yang satu daisy. Tutorial untuk keduanya bisa ditemukan di sini dan di sini. Saya terpikir untuk pakai granny square dengan pola lain, tapi belum nemu yang lucu. Oh iya, saya mungkin mau coba bikin sunburst, dan melihat kemungkinan apakah bisa disambung with the rest of the squares. Untuk menyambungnya saya pakai teknik join as you go. Tadinya pengen pakai single crochet aja tapi kok pengen memperkaya teknik, jadinya saya coba pakai metode as you go itu. Saya juga learning as I go, makanya pola selimut keseluruhannya nggak teratur dan nggak berpola haha…pokoknya begitu bikin kotakan baru, langsung sambung aja. Berikut adalah foto-fotonya…

Image

Join as you go

Image

My fav part of the blanket so far

Image

Daisy-nya awalnya agak fail karena tekniknya salah sedikit….(foto atasnya adalah daisy yang sukses)

Image

Gara-gara berhenti lama jadinya nggak selesai-selesai padahal udah setahun haahahah….

Sekian dulu ya…saya sebenernya berharap ada lebih banyak blog dan tutorial soal merajut yang dibuat oleh orang Indonesia, karena kebanyakan kan yang bikin orang luar ya…tapi lebih baik kita mulai dari diri sendiri. Hehe…ayo rajin-rajin merajut dan berbagi mengenai rajutan! Kapan-kapan kalau udah pede saya mau bikin tutorial deh 😀

Crochet : The T-shirt Yarn Project

Akhir-akhir ini saya benar-benar suka merajut, lebih tepatnya meng-crochet. Tapi baru kali ini saya terpikir untuk menulis sesuatu tentang hobi baru saya ini. Sebenarnya sudah mulai merajut mungkin satu tahun yang lalu. Tapi sempat berhenti, dan sekarang suka lagi. Awalnya karena ingin membuat selimut, tapi kok kayaknya terlalu ambisius hehe…akhirnya saya lebih sibuk dengan karya-karya kecil (dan mini) yang masuk dalam kategori BLGP (Barang Lucu Gak Penting). Yak, begitulah. Saya nggak (paling tidak belum) niat berjualan karena saya tidak punya jiwa pedagang.

Kenapa saya memutuskan untuk akhirnya menulis soal ini? Karena saya baru saja mencoba sebuah teknik membuat benang dari baju bekas (kaos). Tutorial untuk membuatnya ada di youtube (bisa dicari dengan kalimat : “how to make t-shirt yarn”). Kalau mau lihat contoh-contoh project yang pernah dilakukan orang lain banyak juga di internet (bisa dicari di google : “crochet fabric yarn” atau sejenisnya). 

Jadi ceritanya saya selama ini selalu beli benang. Karena nggak jualan tapi beli benang terus, maka saya sadar mungkin lama-lama saya akan jatuh miskin….(hehe). Lalu saya menemukan teknik membuat ‘benang’ ini di internet. Dan hasilnya lucu banget! Yang penting dari karya ini menurut saya bukan rapinya, tapi proses membuat dari yang tadinya masih berbentuk kaos, sprei, sarung bantal, atau celana (yang tentunya bekas), menjadi sebuah karya yang lucu-lucu. Sebenarnya saya juga tidak berharap karya saya ini akan jadi rapiihhh sekali. Justru menurut saya di ketidakrapian itulah kelihatan unsur seni dan recycle-upcycle nya.

Saya membuat karya ini dari kaos bekas berwarna biru (bahan katun stretch) dan sarung bantal motif batik (bahan katun biasa, nggak stretchy). Kedua bahan tersebut menghasilkan tipe benang yang beda pula. Yang satu berserabut (yang dari sarung bantal), dan harus dipilin-pilin sendiri kalau mau dapat hasil yang lebih rapi. Yang dari bahan kaos, lebih enak bikinnya. Tinggal ditarik dia udah curl sendiri (apasih bahasa indonesianya). Ya pokoknya itu deh, silahkan cari tutorialnya di youtube 😀 Oh iya, sebenarnya ada benang hasil recycle seperti ini yang sudah jadi, tinggal beli. Salah satunya bisa dilihat di sini. Tapi mendingan bikin sendiri karena jauhhhh belinya ahaha…

Pola ini saya karang sendiri, yang sudah bisa teknik crochet dasar, pasti bisa menirunya atau bikin pola sendiri sesuka hati. Jangan lupa siapkan gunting kain yang masih baik pisaunya, hook crochet berukuran besar (minimal ukuran 8), dan stitch marker. Ini saya pamerin foto-fotonya ya…

Image

Yang kiri dari sarung bantal bekas, yang kanan dari kaos bekas 😀

Image

Hasil akhir dan sisa benangnya. Untuk karya seperti ini saya sarankan mengkombinasikan beberapa warna benang, yang senada atau yang kontras. Hasilnya akan lebih manis dan nggak kelihatan ‘bekas’.

Image

Nah ini fungsinya…bisa dipakai buat nyimpan barang kecil-kecil kebutuhan merajut, gunting, pensil, atau apapun deh. Lucu kannnn….

 

 

Membaca Karya si Urban Archeologist

Karya Adytama Pranada (Charda) yang dipamerkan pada Jakarta Biennale di Museum Seni Rupa dan Keramik berhasil menarik perhatian saya sebagai pecinta museum. Menurut cerita yang tersaji di katalog, Charda berusaha menantang ‘rezim’ museum dan penulisan sejarah yang ia curigai tidak mampu menyajikan sejarah yang tidak tunggal.

ImageImageImage

Museum memang tidak mungkin menyajikan seluruh kisah sejarah, itulah mengapa ada proses kurasi. Saya pikir hal tersebut wajar, seperti juga Biennale yang sama-sama melalui proses kurasi. Tetapi saya juga tidak sedang mengatakan bahwa  kuratorial museum di Indonesia sudah sempurna. Banyak hal memang yang perlu dikritisi dari museum yang ada di Indonesia. Mulai dari segi perawatan koleksi, publikasi, sampai kualitas sumber daya manusia pengelola museum.

Memang ada beberapa museum, terutama museum-museum perjuangan yang hanya merepresentasikan versi cerita dari penguasa pada waktu museum didirikan. Praktek politik representasi museum ini sudah lama dibahas. Sehingga menurut saya keputusan Charda untuk mengkritisi museum dari sisi yang ia pilih (yaitu mengenai representasi museum) sudah sangat ketinggalan jaman. Paling tidak bagi para pemerhati sejarah dan museum.

Isu yang diangkat oleh Charda mengenai keberpihakan museum bukanlah hal yang baru lagi. Beberapa tahun belakangan ini, sudah banyak komunitas yang melakukan penelusuran sejarah baik itu sejarah kota, sejarah bangsa, maupun sejarah kampung-kampung di sekitar mereka. Bukan lagi museum yang ditantang, tapi penulisan sejarah secara lebih luas. Kegelisan Charda tentu juga dirasakan oleh banyak pecinta sejarah. Hanya saja Charda cukup cerdas menamai dirinya dengan sebutan Urban Archeologist.

Keputusannya untuk menyajikan karya-karya fiktif malah mengaburkan pesan yang ingin ia sampaikan mengenai ‘kisah sejarah yang tidak terwakili dalam museum’. Bagi saya karya seniman lain yang sifatnya project based sudah merupakan jawaban dari protes terhadap museum di Indonesia yang tidak berkembang dalam hal konsep dan display. Bukankah itu yang diharapkan dari museum? Yaitu bahwa museum selalu melakukan riset yang serius dan mengikuti zaman dengan penyajian yang kreatif? Justru karya Charda yang hanya memamerkan lukisan tanpa caption membuat pengunjung menjadi sulit mennerjemahkan pesan yang ia maksud. Saya juga tidak berhasil menangkap kesan bahwa Charda sudah melakukan riset yang baik untuk karyanya kali ini.

Terlebih lagi, saya tidak melihat ada hal yang istimewa dari konsep dan presentasi karyanya . Bahkan menurut saya, tidak ada unsur seni dalam karya tersebut. Kecuali jika cerita fiktif yang dia sajikan kemudian bisa dianggap sebagai seni. Namun tetap saja secara penyajian kurang menarik. Berbeda misalnya dengan karya Saleh Husein berjudul Arabian Party, yang sama-sama menampilkan cerita fiktif. Presentasi Saleh Husein nampak lebih memiliki unsur artistik setidaknya bagi mata awam dan juga menunjukkan seberapa banyak ia telah melakukan riset.

Jika ia ingin merespon isu mengenai museum/sejarah yang tidak mewakili kisah banyak orang dengan menggunakan kisah fiktif, akan menarik jika ia mengubah sebuah cerita sejarah yang dikenal banyak orang dan membuat versinya sendiri. Daripada menyajikan kisah mengenai seorang Rahmansyah yang tidak membuat orang kebanyakan sadar akan pesan di dalamnya.

Cara Charda menyampaikan kisah dalam video bahwa ia mendapatkan sebuah paket juga sulit dipercaya (yang kemudian membawa saya sebagai penikmat pada kebingungan berikutnya). Charda mungkin juga bisa, misalnya, menceritakan kembali sebuah kisah sejarah yang dianggap tidak penting dengan bumbu-bumbu fiktif atau parodi yang disesuaikan dengan konteks masa kini. Dengan begitu maka Charda melekatkan pesannya secara simbolik pada kisah sejarah yang sudah ada dan tidak ‘memaksa’ orang untuk menebak-nebak maksud dari presentasinya. Karena menurut saya jika Charda ingin menantang penulisan sejarah, maka ia harus meletakkan penantang dan yang ditantang di satu arena.

(tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas dari workshop kurator muda DKJ-Ruang Rupa. Nggak yakin juga yang ditulis memenuhi syarat. Asal aja sih 😀 Tulisan mengenai workshop dan jalan-jalan tur Jakarta Biennale akan diupload kemudian,yah!)