Tentang Bir dan Perpisahan dengan Jerman

Sebelum memulai tulisan mengenai bir ini, saya hendak mengumumkan bahwa saya telah lulus s2! Yeay! Saya ujian tanggal 20 September yang lalu, dan lulus dengan hasil yang sangat baik menurut dosen saya. Terima kasih ya buat semua yang sudah mendukung dan mendoakan saya, semoga ilmunya bermanfaat. Amin amin.

Ketika saya memberi kabar kepada beberapa sahabat di Indonesia bahwa saya telah lulus, kebanyakan dari mereka -setelah mengucapkan selamat, bertanya, “dirayain pake bir nggak, Mi?” atau ada juga yang memaksa, “you should celebrate with big glasses of beer!”. Yang tentu saja sudah pasti absolutely saya lakukan, apalagi suami saya ikut ke Jerman kali itu, dan selama 3 minggu di sana, kayaknya dia sudah mencicipi lebih banyak merk bir daripada saya yang 2 tahun tinggal di sana hahaha.

Sebanyak apa bir yang suami saya cicipi? Ya mungkin ada sekitar 15-20 merk bir. Tapi sebenarnya, di Jerman saja ada lebih dari 1.300 brewery atau Bahasa Jermannya “Brauerei”. Nah dari 1.300 brewery itu, ada sekitar 5.000 merk bir yang diproduksi. Seperti yang sudah bisa kita duga sebelumnya, brewery paling banyak terletak di Bavaria, tepatnya di kota Bamberg. Tapi mungkin belum banyak yang tahu tentang ini: bahwa banyak biara-biara Katolik yang memproduksi bir, terutama dari ordo Benediktin.

Mengenal Komponen dan Jenis Bir

img_7262_2

Beberapa jenis bir yang saya cicipi ketika seminar. Salah satunya adalah bir yang diproduksi oleh brewery tertua di Jerman yaitu Weihenstephan (botol ketiga dari kiri), yang juga diproduksi oleh para Benediktin di biara mereka.

Kebetulan, selama 3 hari di bulan September kemarin, saya juga harus mengikuti seminar yang diselenggarakan oleh pemberi beasiswa saya, yaitu KAAD. Tema seminar kali itu adalah “Bierkulturen” atau Beer Culture. Saya merasa beruntung sekali bisa ikut seminar tersebut karena jadi bisa mengenali sejarah dan budaya orang Jerman….enggak ding, saya merasa beruntung karena bisa nyicipin macam-macam bir haha. Jadi mungkin yang pernah ikut wine tasting atau wine course(?) atau semacamnya bisa kebayang bahwa ini semacam itu tapi bir dan gratis tis.

Sebagai bagian dari seminar, kami mengunjungi brewery di dekat St. Ottilien bernama Andachs. Brewery ini juga dimiliki oleh ordo Benediktin sejak awal berdirinya, Andachs adalah namanya bukit tempat biara pastur-pastur itu berada. Pemandu kami menjelaskan bahwa ordo Benediktin banyak yang memiliki brewery karena mereka adalah ordo pekerja. Jadi mereka biasanya punya ladang, punya kebun, punya peternakan, dan tentu saja mereka bikin roti dan bir. Apa hubungannya roti dan bir?

img_7275_2

“Krug” atau gelas bir yang disimpan di loker di Andachs. Dulu kalau orang minum bir, mereka punya gelas sendiri-sendiri yang mereka simpan di brewery dan mereka pakai ketika minum di sana.

Bir dan roti sebenarnya memiliki bahan baku yang (hampir) sama, yaitu gandum (dan ragi) plus air. Dalam bir ditambahkan juga hops atau “hopfen”. Fungsi dari tanaman ini adalah untuk memberi rasa getir pada bir. Konon katanya, dulu orang-orang nggak tau kalau mereka bisa bikin bir langsung dari gandum, ragi dan air. Jadi mereka bikin roti dulu, trus rotinya direndam sampe buyar dan terfermentasi maksimal hehehe…makanya bir disebut “flüssiges Brot” atau roti cair (euw). Walaupun di Indonesia sempat dilarang beredar di minimarket kesayangan anda, di Jerman pada jaman dahulu kala, bir dianggap minuman yang menyehatkan, juga untuk anak-anak. Ini disebabkan karena bir sudah melalui proses perebusan yang lama. Sementara air minum biasa itu dianggap kotor…(terus saya jadi mikir kenapa mereka nggak ngerebus air aja ya?). Eh tapi walaupun anak-anak dulu boleh minum bir, jumlahnya sedikit sekali, paling cuma ditetesin aja ke mulut, macam vaksin polio.

Nah lalu, tahukah anda bahwa 80% bir yang diproduksi di dunia ini adalah jenis Pilsner? Atau paling tidak mengaku-ngaku jenis itu? Coba cek botol Bir Bintang masing-masing. Kenapanya saya juga kurang jelas, tapi Pilsner sebenarnya adalah bir asli Ceko atau pada saat itu masih bernama Bohemia, tepatnya di kota Pilsen pada tahun 1842. Bir dari Pilsen ini dianggap mempunyai rasa yang lebih “mild” daripada bir buatan Jerman pada umumnya. Konon katanya sih karena air di Pilsen kandungan mineralnya lebih sedikit. Pilsen juga selalu berwarna terang tidak seperti kebanyakan bir dari Inggris misalnya yang gelap.  Merk bir Pilsen pertama adalah Pilsner Urquell, sampai saat ini masih bisa dibeli di supermarket.

Bir memiliki dua macam cara fermentasi: ada yang di atas atau top-fermented atau di bawah tanah bottom-fermented. Kedua cara fermentasi ini katanya sih menghasilkan reaksi ragi yang berbeda dan rasa bir yang berbeda. Tapi sungguh, saya ini nggak bisa membedakan rasa bir. Taunya cuma enak atau nggak enak itu aja. Lalu dari mana datangnya warna terang dan gelap pada bir? Dari gandumnya. Kalau warnanya gelap, berarti gandumnya sudah dipanggang dulu, menghasilkan aroma yang agak smoky gitu.

Tahun ini Jerman, khususnya mungkin Bavaria sedang merayakan “500 Tahun Dalil Kemurnian”, dalam Bahasa Inggris “500 Years of Purity Law” atau Bahasa Jermannya “500 Jahre Reinheitsgebot”. Purity Law adalah aturan atau faham (pake p apa f nih) yang menganggap bahwa bir terdiri dan HANYA BOLEH terdiri dari tiga unsur ini: air, gandum dan hops. Jadi kalau ditambah yang lain, ya itu melanggar aturan. Walaupun begitu, saat ini banyak brewery yang sekarang sudah mencampur baurkan perasa ke dalam bir. Mungkin kalau anda pernah minum Radler, nah itu…sudah nggak suci lagi bir itu maksudnya.

beer-reinheitsgebot_1000x667

Gandum, Hops dan Air, hanya tiga hal tersebut yang boleh ada di bir berdasarkan Purity Law. Sumber: http://www.travel1000places.com

Bir dan Orang Yahudi

Bicara soal suci, sekarang coba kita bicarakan soal orang Yahudi (ih apa hubungannya coba). Saya akan bicara khusus mengenai bir dan orang Yahudi di Jerman karena kami juga berkunjung ke Jüdisches Museum München, atau Museum Yahudi Munich di mana sedang diselenggarakan pameran bertajuk “Bier ist der Wein dieses Landes” atau “bir adalah wine-nya daerah ini.” Pameran ini bercerita mengenai asal muasal bir di tanah Mesir dan juga para pengusaha bir dengan latar belakang Yahudi. Satu hal yang sangat menarik bagi saya adalah bahwa orang Yahudi yang selalu mengalami tekanan (anti-semitism selalu ada bahkan sebelum Hitler, fyi) tetap mencari akal bagaimana bisa bertahan hidup.

Di Jerman sempat ada pelarangan bagi orang Yahudi untuk membuka brewery. Tapi mereka tidak menyerah begitu saja melainkan mencari cara bagaimana mereka bisa ikutan dalam bisnis minuman yang menjanjikan itu tanpa perlu buka brewery. Jawabannya adalah, mereka membuka ladang hops. Dan hops yang mereka hasilkan selalu yang terbaik, karena mereka tidak mau dicibir sebagai “pedagang Yahudi yang tidak becus”. Orang-orang Yahudi ini juga yang pertama kali menemukan ide untuk memproses dan menjual hops dalam bentuk pelet (kayak makanan ikan) sehingga lebih memudahkan dalam proses pengiriman dan untuk pengolahan selanjutnya.

Ada lagi cerita yang menarik. Yaitu soal pemakaian tanda bintang di pintu brewery tradisional di sekitar Bavaria. Banyak yang menyangka, tanda bintang ini menandakan bahwa pemilik rumah-rumah bir tersebut adalah orang Yahudi. Tapi ternyata bukan. Simbol bintang mereka pakai sebagai bagian dari tradisi dan kepercayaan untuk menolak api/ mencegah kebakaran. Semacam tolak bala gitu. Dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Star of David-nya orang Yahudi. Terus saya jadi cerita sama mas pemandu museumnya kalau bir di Indonesia namanya Bir Bintang hehehe 😀

brewersstarmonk

Ilustrasi yang menunjukkan seorang rahib mengaduk rebusan bir dengan simbol bintang di atasnya sebagai pelindung. Sumber: http://www.brewingmuseum.org

Apakah bir halal untuk orang Yahudi? Jawabannya ya dan tidak. Yahudi, seperti yang kita tahu, juga mengenal prinsip halal dan haram. Salah satu bedanya di istilah. Mereka menyebutnya dengan kosher (halal) atau treif (haram). Konon pada suatu waktu, seorang Rabbi datang ke tanah Bavaria. Orang-orang Yahudi di situ memintanya melakukan perjamuan, tapi Rabbi menolak karena tidak ada anggur. Orang-orang Bavaria itupun berkata “tapi kami tidak punya anggur di sini!” dan Rabbi itu bertanya “lalu kalian punya apa?” lalu jawab mereka “kami punya bir! Asli dari tanah kami.” Maka berkatalah Rabbi itu, “baiklah, kalau memang bir adalah anggurnya tanah ini, mari kita adakan perjamuan.” Duh coba dia datangnya ke Semarang. If you know what I mean haha.

Sebagai penutupan dari rangkaian seminar, kami berkunjung ke Oktoberfest which literally is heaven on earth (or hell on earth, depends on your point of view heheh). Di sana saya dan suami merasakan bagaimana rasanya mabuk karena bir. Bir untuk Oktoberfest memang disiapkan khusus. Mulai dibuat katanya di bulan Maret dan dibuka di bulan September, dengan kandungan alkohol yang lebih tinggi tapi rasanya lebih enteng. Makanya nggak terasa tau-tau udah pusing aja.

Mengenal bir selama seminggu terakhir saya di Jerman menjadi sebuah tanda perpisahan yang berkesan bagi saya dan negara tersebut. Rasanya sedih juga karena kali ini saya tidak tahu pasti kapan bisa kembali lagi. Saya belajar banyak, saya betul-betul belajar banyak dari negara tersebut dan orang-orang yang saya temui di sana. Tapi nggak boleh sedih karena di Indonesia pun enak dan bisa berkarya. Terima kasih terima kasih sekali lagi 🙂

Prost!!

6 Tempat yang Selalu Saya Kunjungi Di Berlin

Kemarin pas saya di U-Bahn menuju rumah teman saya, tiba-tiba kepikiran, kok kayaknya kalau di Berlin saya selalu pergi ke tempat yang itu-itu aja ya? Jadi saya memutuskan untuk menulis senarai ini sebagai pengingat saja untuk diri saya sendiri supaya lebih kreatif dan tidak malas mencari tempat lain untuk dikunjungi.

Dussmann das KulturKaufhaus

Tidak usah bingung melihat namanya yang panjang, tempat ini sebenernya adalah toko buku. Tapi gede banget!! Lokasinya terletak di Friedrichstrasse, cukup dekat dari mana-mana kalau mau melanjutkan jalan-jalan. Tapi saya suka nongkrong di sini karena nggak pernah bosan muter-muter di dalem tokonya. Toko buku ini jual mulai dari buku, alat tulis yang lucu-lucu, CD musik (yang koleksinya lebih lengkap dari toko musik manapun), sampai board games!

Saya pertama kali ke toko buku ini untuk menghadiri talkshow nya Dewi Lestari dalam rangka persiapan Frankfurt Book Fair. Sejak itu, saya selalu menyempatkan ke sini kalau pas ke Berlin. Lumayan buat numpang ngecharge hape, minum air gratis, sambil baca-baca buku, dan selama apapun nangkring di situ, ga akan ada yang ngusir. Yang saya suka dari toko ini, mereka punya bagian sendiri di belakang yang menjual buku-buku berbahasa inggris (terjemahan juga, jadi bisa nemu banyak buku dari berbagai penulis seluruh dunia). Di bagian ini juga tempat bacanya nyaman, dan itu tadi..ada colokannya. Hehehe…

IMG_5694

Bagian favorit saya yang lain adalah Music Notes Section. Di situ ada pianonya, di pianonya ada headsetnya, jadi kita bisa ambil satu partitur, trus main tanpa mengganggu yang lain karena suara dari piano cuma bisa kita dengar di headset (nggak akan malu-maluin juga kalo masih amatiran seperti saya ini).

Ishin

Saya pertama kali ke rumah makan khas Jepang ini tahun 2014. Terus sejak itu, setiap kali ke Berlin dan lapar, saya selalu ke sini. Yang saya suka di sini Buta Don-nya. Harganya cukup murah, cuma 5,6 Euro aja. Salah satu cabangnya terletak deket banget sama Dussman. Jadi biasanya kalau lagi di Dussmann dan lapar, saya lari sebentar ke Ishin. Hehehe…

Globetrotter

Ini adalah toko perlengkapan outdoor activity. Sebenernya lebih bagus yang di Dresden (toko yang di Dresden ada kolamnya, buat nyobain perahu). Saya selalu ke sini walaupun jarang belanja karena tau sendiri harga barang-barang begituan bikin kantong bolong. Tapi saya suka aja liat-liat barangnya, ngobrol sama mas-mas yang jaga, tanya soal gimana milih tas dan jaket yang bagus. Saya sendiri ga pernah naik gunung, tapi suami saya suka. Jadi biasanya kalau saya ke sini itu atas permintaan dia yang mau nitip-nitip hahaha…jadi intinya dia nitip terus tiap kali saya ke Berlin :p

IMG_3841.JPG

Sama seperti di Dussman, toko ini bikin betah. Bisa bobo-boboan di hammocknya, masuk ke tenda, kalau di Dresden bisa main perahu karet, dll, dsb. Dan pelayannya ga pernah bete, kadang kalau di Indonesia kan kalo orang masuk toko, tapi ga belanja malah ngerepotin, disewotin sama penjaganya. Apalagi suka ada tulisan “dilarang duduk di sini”, “dilarang mencoba” haha…teman saya sampai pernah ketiduran di hammock nungguin saya muter-muter. Untung nggak digulingin sama mas-masnya.

Dolores Burritos

Pertama kali saya mendengar soal kedai ini kira-kira 2 tahun yang lalu. Ketika itu saya sedang siap-siap untuk berangkat ke Jerman lagi. Waktu itu ada teman yang membagi tautan di facebook bahwa kedai ini sedang memperingati hari jadinya yang kesekian dan mereka membagikan Burrito gratis seharian. Saya jadi penasaran, dan akhirnya kesampean ke sana tahun 2015. Pertama ke sana saya suka banget, lama-lama jadi biasa aja. Saya masih suka ke sini karena tempatnya lucu, pelayanannya cepet (kalo pas nggak rame banget), dan mudah dijangkau. Yang unik di sini ada yang namanya Burrito in a Bowl. Yang wujudnya sekilas kayak semangkuk mie ayam. Saya nggak tau ada berapa Dolores di Berlin tepatnya, tapi yang saya tau ada 2, di sekitar Alexanderplatz dan di Wittenbergplatz.

IMG_5592.JPG

Naturkundemuseum

Naturkundemuseum terletak di Invalidenstrasse, relatif dekat dari Hauptbahnhof. Menurut saya ini adalah museum yang menyenangkan, cocok buat segala usia. Rasanya saya sudah hafal sama isi museum ini dan seluk beluknya. Kadang saya ke sini karena cuma pengen duduk di salah satu sudutnya, atau lihat pameran temporer. Pameran temporer yang saya kunjungi terakhir adalah soal panda, itu aja saya datangnya dua kali hahaha…saking sukanya sama panda. Saya suka museum ini karena…it’s so simple. It’s nature…museum ini tentang alam dan bagaimana alam berevolusi. Museum ini cukup kontemplatif juga sebenernya, bikin kita mikir. Bahwa kita kecil dan masih muda banget dibandingkan alam ini. Kalau ke museum lain kadang saya suka stress baca sejarah ini itu, dan jadi marah, jadi sedih, too much prejudice ahhhh bingung ngejelasinnya. Kalau di Naturkundemuseum ini…rasanya semua soal embracing the nature aja.

Sebenernya dari sisi exhibition design, museum ini tergolong konservatif. Teknologi yang digunakan memang lebih banyak daripada museum di Indonesia ya, tapi dibandingkan museum lain di Berlin -seperti Jewish Museum misalnya, museum ini tergolong cukup kuno. Tapi yang ga bisa dikalahin sama museum lain yaaaa….ada rangka brachiosaurus yang gede banget. Konon rangka ini adalah rangka dinosaurus terlengkap. Eh sekarang ada rangka T-rex dan Spinosaurus juga di sana yang dipamerkan sampai bulan Juni 2016, dan ada program Night at The Museum yang saya penasaran banget pengen nyoba.

Lego Store

Kalau ke Globetrotter dititipin suami, ke Lego Store ini dititipin kakak sama anak. Hahaha…nasib…nasib…enggak ding, saya suka juga ke Lego Store ini. Biasanya juga walaupun ga dititipin saya suka nawarin, biar ada alasan untuk mampir. Toko ini deket juga sama Wittenbergplatz dan biasanya saya memang selalu ke daerah ini buat window shopping :p teman-teman saya sampai heran kok saya masih mainan Lego padahal udah tua begini. Pernah pas saya naik S-bahn, ada anak kecil yang melototin tas belanjaan Lego saya terus dia bilang ke bapaknya, “Pah kenapa perempuan itu beli Lego kan udah gede.”

Penjaga tokonya juga ramah-ramah dan suka ngasi bonus, ngasi tips cara milih Lego untuk kado, trus suka ngasi info-info yang menarik gitu soal Lego. Oiya, harga Lego di Jerman lebih murah daripada di Indonesia, jadi yang mau kulakan, bisa lho.

IMG_5595.JPG

Rasanya cuma tempat itu aja yang saya selalu kunjungi. Saya nggak bilang bahwa tempat-tempat itu terbaik, bahkan saya sendiri merasa bahwa ada pilihan yang lebih menarik (terutama untuk tempat makannya), tapi mungkin karena suka malas mikir, udah kedinginan, kelaparan, malas tersesat, makanya saya selalu kembali ke tempat yang sama.

Sampai ketemu di tulisan berikutnya: Jewish Museum.

 

Setelah Satu Semester Berlalu :D

It’s been a while since the last time I wrote something on this blog. I had been ‘busy’ with other things such as school, travelling and procrastinating (sleeping all day long and try to survive this bloody cold winter). This next post will be in Indonesian Language and a lil bit of English haha, because I am too lazy to think and write completely in English. So here we go.

Sejak tulisan saya yang sebelumnya (One Summer In Kreuzberg), saya belum menyempatkan diri untuk menulis lagi. Padahal, banyak hal yang ingin saya simpan baik-baik sebagai kenangan, dan salah satu cara yang saya tahu adalah dengan menulisnya di blog ini. Winter Semester 2014/2015 dimulai pada bulan September tahun lalu, dan berakhir bulan Februari ini. Saya sudah menyelesaikan semua tes tertulis, dan masih harus menulis 3 esai untuk kelas Museology, Heritage Management dan Body of Knowledge. Semester ini saya mengambil 7 kelas dan itu membuat teman-teman saya melotot sambil bilang “Are you crazy?” tapi saya punya alasan, saya ingin menyelesaikan semua modul/kelas di tahun pertama supaya di tahun kedua saya bisa magang dan jalan-jalan keliling Eropa 😀

IMG_1053Bulan-bulan pertama di Cottbus sangat berat bagi saya. Pertama karena saya terbiasa tinggal di Bonn di mana semua kebutuhan saya ‘dilayani’ oleh pengurus biara, mulai dari makan, kebersihan kamar dan laundry. Yang harus saya lakukan di sana hanya belajar Bahasa Jerman. Sementara di sini, semuanya harus diurus sendiri. Saya juga bukan orang yang pandai bergaul, jadi selama bulan pertama di Cottbus rasanya saya nggak terlalu punya banyak teman. Saya ingat pertama kali saya benar-benar menjalin pertemanan adalah dengan Tomo, teman satu program dari Jepang. Malam itu saya nggak bisa masuk ke kamar karena kuncinya ketinggalan di dalem kamar (ada beberapa sistem pintu di Jerman yang otomatis terkunci kalo kita tutup dari luar, jadi kunci nggak boleh lupa dibawa). Jadi malam itu saya nginep di tempat Tomo dan sejak itu kami berteman cukup akrab. Malam itu juga, saya beli tiket ke Roma tanpa pikir panjang. Tiba-tiba aja pengen ke Roma. Heheh…

IMG_0705Ngomong-ngomong soal Roma dan traveling, selama satu semester ini saya juga sudah jalan-jalan ke Dresden (karena gratis), Potsdam, Weimar, dan Stuttgart. Okay, mari kita mulai dengan Roma. Saya berangkat ke Roma naik Easyjet dan hanya membayar 70 Euro pulang pergi. Di sana saya menginap di apartement orang, yang saya temukan lewat Air Bn’B. It was a really great experience!! Rome was so beautiful. Sayangnya, saya tidak sempat masuk ke Vatican City, cuma jalan-jalan di St. Peter’s Square aja. Karena waktu itu sekitar pertengahan Desember, Roma sudah berhiaskan lampu-lampu natal yang membuat kota abadi itu semakin cantik dan romantis. Beberapa orang bilang, Roma punya aset heritage yang bagus tapi management-nya tidak terlalu baik, dan itu bisa saya rasakan ketika di sana. Setiap bangunan kelihatan megah dan ramai oleh turis, tapi tidak terawat dengan baik seperti di Jerman, misalnya. Sign system dan kebersihan juga kurang diperhatikan. But anyway, I will love to come back and live there for my internship this year ;). Di Roma, saya sempat berkunjung ke Basilika Santo Paulus, Piazza Navona, Gereja Santo Ignasius Loyola, dan tentu saja Pantheon dan Colosseum. And of course I ate gelato, pizza and a really good pasta!

IMG_0863IMG_1002Akhir Desember, saya memutuskan untuk menghabiskan liburan natal bersama Karl dan Anne, dua orang teman KAAD saya dari Filipina. Selama lebih dari dua minggu saya tinggal di apartemen mereka dan makan nasi tiap hari. I think I gain a couple of weight 😦 but it was okay, I was really happy there. Kami juga sempat jalan-jalan ke Esslingen, sebuah kota kecil di sekitar Stuttgart. Esslingen adalah salah satu kota kecil khas Jerman, banyak rumah-rumah di sana masih asli bentuknya dan kebanyakan dibangun dengan rangka dari kayu (half-timbered house). Saya sebenarnya heran, banyak orang suka jalan-jalan ke Eropa, tapi jarang ada yang mampir ke Jerman. Tujuan utama orang Asia kalau ke Eropa pasti ke Perancis (dan ke Paris tentunya) atau Belanda (dengan Amsterdamnya). Padahal menurut saya imaji soal Eropa itu kita dapatkan dari film, dan kebanyakan apa yang kita lihat di film itu justru adanya yang asli di Jerman. Menurut saya sih. Okay Paris might be great but come on, semua yang kalian lihat di Paris itu adalah mitos, heheh…Kalau mau lihat ‘negeri dongeng’ di Eropa, pergilah ke kota-kota kecil di Jerman (atau Belgia). Saya belum pernah ke Paris sih, tapi Amsterdam sudah tahun lalu. Menurut saya, kalau disuruh milih mau ke Amsterdam atau Luxemburg, saya milih Luxemburg karena selama dua hari di sana saya nggak bosan. Di Amsterdam entah mengapa hari pertama sudah bosan :p

IMG_1147Cerita soal Dresden dan Potsdam tidak terlalu menarik hahah, soalnya saya sudah banyak cerita soal Dresden beberapa tahun lalu di blog ini dan Potsdam, well that city is just full of castles and I don’t know what else is great about it. In the other hand, Weimar is great. Oke, pertama saya harus bilang kenyataan bahwa Jerman memiliki banyak kastil, gedung, bangunan, rumah, dll dsb yang tercatat dalam World Heritage List itu memang sangat berlebihan. Karena kalau kita lihat sebenernya ‘nilai’ dari benda-benda tersebut biasa aja. Untuk bisa masuk ke dalam World Heritage List, sebuah properti harus memiliki yang namanya ‘Outstanding Universal Value‘, dan begitu sebuah properti masuk ke dalam list itu, seolah-olah ada tanggung jawab semua umat manusia di muka bumi untuk menjaga dan mengapresiasi. Menjaga sih boleh-boleh saja, but who the hell are you saying that a child born in a village in the middle of nowhere in Sumatra should care about who Goethe and Schiller are? Pada akhirnya, semua hal tentang World Heritage List atau konvensi yang mendasarinya perlu dilihat secara lebih kritis.

But I DO care about Goethe and Schiller (yang juga menunjukkan bahwa there’s no such thing as universal value, except maybe human rights?). Saya tumbuh bersama figur-figur asing itu karena papa membawa saya pada mereka. Termasuk juga Beethoven, Mozart, Grimm bersaudara, lalu juga yang nggak terlalu tua-tua banget : Karajan dan beberapa tokoh lain yang semuanya Jerman hahah, I know my dad has a good taste 😛 Begini, seiring dengan maraknya gerakan kembali ke hal-hal berbau lokal, dan kebanggaan orang menjadi ndeso, saya masih bangga dengan diri saya yang separuh kebarat-baratan dan separuh ke timur-timuran whatever that means. Tidak perlu malu mengakui bahwa selama hidup ini memang kita banyak terpapar dengan ide-ide dari luar dan kita juga menghidupi ide-ide itu dalam diri kita. Ya nggaaakkk??? Dan sekali lagi, saya merasa beruntung mengenal figur-figur itu jauh sebelum saya ke Jerman karena saya jadi lebih bisa menghargai waktu dan kesempatan yang saya miliki di sini, berada di tengah peninggalan dari peradaban yang menurut saya, suka nggak suka, memang hebat.

IMG_1177Di Weimar, selain jalan-jalan ke rumahnya Goethe dan Schiller, saya juga ke Buchenwald, bekas Concentration Camp kira-kira 30 menit dari pusat kota Weimar. Ketika saya di sana, salju sedang turun dengan lebatnya sampai nggak bisa liat apa-apa. Yang ada semuanya putih. Dan saya merinding membayangkan apa yang terjadi di sana dalam cuaca seperti itu ketika camp tersebut masih berfungsi. Banyak orang Yahudi, homoseksual, tahanan perang dan kriminal meninggal di tempat ini. Ada satu hal yang saya ingat, bahwa sebenarnya kalau mau membicarakan soal kekejaman terhadap tahanan, kita tidak boleh hanya berpikir mengenai tentara SS saja. Karena banyak orang Jerman yang sebenarnya tahu akan apa yang terjadi di camp ini, tapi mereka memilih untuk tutup mulut. Orang-orang tersebut kebanyakan adalah pegawai atau pemiliki perusahaan yang disewa oleh SS untuk memasang mesin, alat berat, termasuk tungku di krematorium. Padahal kalau mereka menolak bekerjasama dengan SS, nggak ada resikonya juga, tapi demi uang mereka rela tutup mulut dan nggak melaporkan kejahatan SS di concentration camp. Jangan dibayangkan kalau hukum di Jerman itu melegalkan apa yang dilakukan oleh Nazi dan SS, kebanyakan dari praktek yang mereka lakukan itu sebenarnya melanggar hukum.

Anyway, bulan ini karena sudah selesai semua kelas di kampus, saya mengambil kursus singkat Bahasa Spanyol di Berlin. And I fall in love with this language 🙂 Saya juga jadi lebih sering ke Berlin untuk beli tempe, karena saya baru tahu ada yang jual tempe di Berlin. Iya saya tau sih kalo banyak Asian Market di mana-mana tapi nggak tau kenapa kok selama ini nggak pernah kepikiran beli tempe di sana. Beberapa bulan belakangan ini saya juga sering masak, dan semakin lama masakan saya semakin enak! Mulai dari babi kecap, pasta, mamel tempe, siomay sampai hari ini saya mau bikin bapao. Sekarang selain sibuk belajar bahasa, saya juga lagi ribet nyari oleh-oleh karena dua minggu lagi mau pulang ke Semarang!!! Dan saya sudah tidak sabar mau makan di tempat-tempat favorit saya di sana. So see you guys very soon!!!

One Summer in Kreuzberg

Disclaimer : this story is dedicated to the people who lived in Kreuzberg Bonn during the period of May-September 2014. For others who read this, they might not get the whole picture, but it’s okay. I might not be able to mention all names, but you have to believe that you are also in my heart. And please, bear with my English, okay?

So now it comes to me to write about this story. The story that I think might change my life forever, how I see the world, how I treat people, and how I evolve as a Catholic. This story, as you might all guess, is a story about friendship, but most of all, it is a story about love. You know when you talk about love, you might get trapped to the concept of romantic love between two people. My story is not like that. It’s not the romantic part that doesn’t fit, but more to the number of people that involve. I am so amazed how I can truly fall in love with these bunch of crazy people I had been living together in Kreuzberg, Bonn. So here the story goes…

I arrived in Bonn on the 29th of May 2014. I was a bit nervous when I realized that I will be living with Sisters in a religious house. When Sister Liveena handed me the small pink mass book, I was like “Shit all I do here will be just learning German and pray,” I was so devastated. Then I remember I met Hassan from Syria. I didn’t really remember how or why, but he was the one who helped me to carry my bag to my room in the first floor. Then I met Brenda from Guatemala (whom later I called Brendita, since she is so lovely). Brenda was studying in the cafetaria for her A1.2 test, and she gave me another impression that all what people do here is just studying. Then I met Maram from Jordan, Melisa (also from Guatemala), Father Ferney and David (both are from Colombia). And then Anh and Thang from Vietnam, Gabriel from Myanmar. I also met Maria Belen from Ecuador.

There was not much Asian people until the next day. Sister Liveena told me earlier that morning that there would be 4 students coming from the Phillipines. I was so excited. Finally I have some fellow South East Asian people. So that afternoon, I welcome them joyfully and helped them with the form for Ausländerbehörde. I knew from the start that they are nice people. Okay now I have to admit, these were my first impression about them (haha!). Anne, she is so pretty, I just love looking at her. Luzile seems to be so funny and easy to get along with. Karl was like, you know, the smart ass and talks a lot. And Kevin, when I saw him the first time, I thought he was lost or something. Because he was so nervous and confuse only to fill the form. And then we had lunch. Kevin hate his first lunch in Kreuzberg, I knew that.IMG_1077

And then came this group of crazy Latinas. Tatiana from Colombia : she came with bags that were bigger than her body, her hair was tied and rolled up to the top of her head. I remember asking her if she will be my roommate, but she said no. And I was a bit dissapointed because I think she is a funny girl (and I am not wrong about it, ha!). And then Karla, she suddenly showed up during lunch (i don’t remember what day). And she was so beautiful, I really remember that she was wearing a blue t-shirt, training pants, and running shoes. But still, I think she’s cute. I first met Jeniffer in the class. Our group was small, it was only me, Filemon, Maria Belen, and Tatiana. Then Jenni came to try if she could join our level or move to A1. I was hoping she would stay, but then she moved. It’s okay, we still see each other in the house. Both Karla and Jenni are from Guatemala.

The two Phillipino girls don’t live in the house. They lived in Krug Hotel downtown. And that was why the Phillipino boys were nowhere to be seen in the house also. They kept staying at the girls’ place. I was sad. Really, everytime I saw Karl and Kevin I always ask them if they would stay but they were always downtown. But later on, I saw them more often around the house. I was happy. The first month was hard for me, I felt lonely in my room. I didn’t know the people really well, I hate the food, the weather was too hot, etc. That’s why I was hoping to see the Phillipinos more often, because they made me feel closer to home.

Do you know why I called the Latinas as crazy Latinas? Because they are. My first experience with them was after the match between Colombia and a country that I don’t remember now. Ah yes, I also have to say that it was the World Cup season! So the ambience in Germany was super! The match was in Muliendo Cafe. Colombia won that game, hence the party began. It was a latin party (of course, what do you expect). And, that was the night when the first time I saw a priest dancing. It was Father Ferney, and he is so good (I even realize that he dances better as I saw him dancing in another parties after).

10458929_10203061028824301_469953703597068417_n

Jenni was the one who taught me how to dance. And Maria Belen too! OMG she is so sexy when she’s dancing. I don’t know how to do latin dance, but they eagerly encourage me and show me how to do it. It was so much fun. They were exceptionally funny and have a lot of energy. They drink a lot. Well we have to admit girls, that at the beginning of my stay, I drink the less. Okay? And that night, Karla had a stalker. He even showed up again in another Latin party at Melisa’s birthday in cafe called Anno (what a bad name). I also remember that night when Jenni, Karla, and I were talking outside at the picnic table. We were having a really good conversation that we didn’t realize it was already 10.00pm. Then came Sister Liveena and she scolded us. Hahaha..

DSCN4707

So I spent my first month mostly with the Latin people. After that incident with Sister Liveena, we were always gossiping around about how the rule of the house is sucks. And then came this news : there will be more than 20 priests coming from Rome (none of them are Italian, they came from different countries but at the moment they are studying in Rome) and would stay here for two months with us. Our main concern was : the internet connection! We have to share with 20 more people? So Sister Liveena made this meeting with us before the priests came (to make sure that we will behave properly for the next 2 months), and Kuria, a nice guy from Kenya was asking Sister Liveena about the internet (that was our only question). And I was laughing inside because, you know, internet is all we care about. But some people said that when the priests come, the food will be better.

It was not just the food that got better. Our life too. We met a lot of wonderful men (of God, I have to say). They are funny, generous, and…okay stop. I have to admit that some of them are really, really, out of our league. We didn’t know how to communicate with them. But, we made friends with some others. The best thing for me was to know that they are also human being. They are just like your brothers, fathers, sons, and husbands. In Indonesia, people praise the priests as if they are really sent from heaven. But in Kreuzberg, I got to know their stories, I could ask a lot of questions which they would answer gladly (honestly or not, only God knows). And those 2 months, we had the best parties of our life. Proost to Father Christopher who initiated our first barbeque party. We regularly went walking to the Rhine River. Drinking and sitting on the grass. It was such a perfect moment, Rhine and the lights at night were amazing. I will never forget that. I also miss the smoking together with Karl and Father Christopher, and our never ending conversation about whatever.

We started to feel the separation anxiety when the priests were about to leave. It was late August. Our last party was great but also sad. At least for me. Not only because the priests were about to leave, but also because some of us, the KAAD scholars were leaving to. Tatiana left one day after the priests. I remember texting Kevin that there was a big hole in my heart. When I walked down the coridor, to the dining room, the cafetaria, or out to the table tennis area and picnic table (where usually we had our party and drinking together), my heart was as heavy as when I was about to leave Indonesia. I felt so empty. I didn’t even go to the table tennis area until 1 week after Tatiana left. It was difficult for me, and I believe also for the other. Weird thing was, I didn’t cry at all. I mean, not as much tears as I expected. I only shed a tear and that’s all.

Last party

September was so gloomy. But the weather somehow got better. There were not much people during the mass anymore, nor during the adoration. But we, who still stayed in Kreuzberg became closer. We talked about how sad we were, and it helped us to support each other. We spent a lot of time together. We cooked Asian food at the Phillipino girls’ hotel. We even went to the river again (I guess it was for the last time). When Karla moved, I felt sad but I kinda used to it. Maybe because I had seen so many people left. For Kevin is actually the hardest because he will stay in Bonn (also Brendita). So they would see all people move away.

And came the time for me to leave Kreuzberg, to leave Bonn. I took the train to Berlin with Jenni. David, Melisa, and Father Ferney also left on the same day to Aachen. I was so excited to start my study but felt miserable to leave Bonn and all the memories. Just like what Father Christopher said “all good things must come to an end”, it was the end for me and Kreuzberg. And yes, it was a GOOD thing. It was the best summer ever. I might not be able to attend mass with my dearest friends and priests anymore (you know, that great feeling you have when you see a LOT of priests during the mass sitting at the altar), I might not be able to sing Indonesian songs again in Kreuzberg (with Father Bobby), I might not see Karl anymore during breakfast (he was always the first one to wake up), there will be no more complain about dinner, no more egg days on Wednesday and Sunday, nor chamomille tea and honey after lunch. No more climbing up to the hill (which is the only good thing). We might attend another German Language course in our own cities, but it will never be the same. Also for the party and the dance.

But this experience made me a better person, I believe. I think it’s because I can see how lovely people can be, how kind human heart is. These people are so genuine and I am so lucky that I had been living with them for 4 months. Maybe you can say that it was our religion that brought us together, but it was not just that. I think it was even the other way around, at least for me. I become closer to God, because of these wonderful people. Talking to them, sharing our stories, make me feel how generous God could be. They really touch my heart and I am trully fully blessed.

Okay guys, there will never be enough thank you and hugs for you people. I believe we still can see each other again in the near future, and don’t forget to always be united through prayers. I love you all. You guys are irreplaceable.

IMG-20140927-WA0008

Finally I have to say :

“ Danke für die Einladung”

Cottbus, 3.Oktober 2014 – Tag der Deutschen Einheit

For : Tatiana, Karla, Jennifer, Melisa, Belen, Brenda, Hassan, Karl, Kevin, Anne, Luzile, Maram, Mary, Shimmels, David, Carolina, Father Ferney, Father Christopher, Father Bobby, Father Alex, Fernando, Kuria, Mabula, Tsega, Celine, Jaime, Gabriel, Anh, Thang, Filemon, and Darius.

For those whose names are not mentioned above, you know who you are 🙂

Bertamu ke Rumah Beethoven

ImageHari Minggu kemarin, saya, Tatiana, Jeniffer, dan Karla berkunjung ke Beethovens Geburthaus (rumah kelahiran Beethoven), tentu saja di Bonn, Jerman. Rumah ini sekarang menjadi museum tempat disimpan dan dipamerkannya arsip dan barang-barang peninggalan sang komponis tersebut. Ada pianonya, biolanya, meja tulisnya, kaca mata, sampe ada potongan rambutnya. Tentu saja ada juga surat-surat yang pernah ditulis Beethoven untuk sahabat-sahabatnya, dan beberapa partitur dari karya-karyanya, baik yang masih tulisan tangan maupun yang udah dicetak. Oya, di dalam rumah ini sama sekali ga boleh foto-foto. Kami masuknya pake kupon gratisan (lagi), saya sempat ngecek kayaknya kalau bayar, harganya sekitar 6 Euro, kalau mau pinjam audioguide 2.5 Euro.

 ImageImage

Tahun 2014 ini adalah peringatan 125 tahun berdirinya Beethoven-Haus Society, jadi selain pameran yang permanen, mereka juga memamerkan perjalanan komunitas (yayasan?) yang menaungi museum ini. Menurut saya, ini lebih menarik daripada kisah hidup Beethoven itu sendiri. Mungkin karena saya selalu terkesan dengan orang-orang yang mendedikasikan dirinya untuk kelestarian arsip, bagaimana mengolahnya, dan bagaimana menyajikannya kepada publik. Kalau kisah hidup Beethoven, saya rasa tidak sulit untuk dicari tahu.

Waktu kecil, saya sangat akrab dengan sosok Beethoven. Karena dulu saya les piano dan sempat belajar memainkan lagu-lagu dari Beethoven (sekarang udah lupa semua jadi jangan disuruh praktek ya). Saya selalu suka musik klasik, dan saya merasa bersalah karena tidak dengan serius memperkenalkan jenis musik ini pada Tere sampai sekarang. Padahal dulu papa saya sangat bersikeras anaknya harus tahu jenis-jenis musik macam ini. Pengetahuan semacam ini sangat bermanfaat di masa sekarang saya dewasa. Karena percaya atau tidak, ada orang yang tidak kenal Beethoven. Apalagi kalau kamu di Jerman, ada orang yang bilang “kamu harus pergi ke Beethoven’s House“, kemudian kamu jawab dengan “Beethoven siapa ya?” maka niscaya akan ilfillah orang tersebut sama kamu. Hehehe…

Saya juga merasa lebih bisa relate sama pertunjukan-pertunjukan di sini because I know what I see or what I hear. Kamu ga akan merasa pergi nonton orkestra itu spesial kalo kamu ga tau seberapa terkenal lagu yang mereka mainkan, misalnya. Sama kayak saya ga merasa nonton bola itu seru-seru amat karena saya ga tau siapa pemainnya. Emangnya dia hebat ya? Dll, dsb, usw, etc.

Kembali ke Beethoven’s House. Dulu pemerintah Kota Bonn sempat nggak mau bertanggung jawab sama kelestarian rumah ini. Maka pda 1889 secara swadaya, 12 orang yang cinta sama Beethoven mulai menggalang dana. Jadi dulu di Jerman pemerintahnya sama aja kayak di Indonesia, ga peduli sama heritage. Itu tandanya, kita ga boleh menyerah!!! Hahha…Beethoven’s House sempat juga terancam terbakar pas perang dunia ke 2, tapi ada caretaker rumah ini yang berusaha nyelametin. Dia naik ke atap dan menghalau api yang mulai menyambar. Terharu saya bacanya… 😥

Lalu ada juga video yang menyajikan rekaman dari tentara Amerika dan Inggris yang menyelamatkan dan mengembalikan aset dari Beethoven’s House pasca perang dunia ke 2. Saya jadi inget film Monuments Men. Tapi kalau Monuments Men itu kan mereka mencari kembali benda-benda seni yang dicuri Hitler ya? Kalau aset-aset Beethoven ini, kayaknya emang diselametin sebelum perang, trus pas perang udah selesai dikembalikan lagi. Tapi mungkin saya salah :p

Di akhir pameran, saya mencoba bermain-main dengan portal arsip digital yang lucu banget. Jadi halaman-halamannya kayak games gitu, trus ada backsound suara-suaranya. Ini ada fotonya beberapa, jadi mungkin kebayang dikit. Itu kan ada gambar semacam suasana rumah, nah kalau kita klik salah satu gambar, misalnya buku, maka kita akan diarahkan ke cerita mengenai pendidikan Beethoven, mulai dari pendidikan dasar sampe sekolah musiknya. Lalu misalnya kita klik gambar piano, maka kita akan diarahkan ke halaman yang ada gambar piano sama rak buku dengan partitur yang bisa kita pilih. Trus klik ‘play’, kita dengerin deh lagunya. Versi yang lucu tadi ditujukan untuk anak-anak sampai usia 13 tahun. Sementara ada juga arsip partitur, karya-karya Beethoven yang dimainkan beberapa orkestra, violis, maupun pianis handal yang bisa kita lihat dan dengarkan. ImageImageImage

Dari komputer tempat kita mengakses arsip itu, kita bisa juga ngirim e-cards ke temen, sodara, pacar, dll. Template nya udah mereka sediakan, bisa disisipi lagu juga di e-cardsnya. Tentunya lagunya Beethoven. Kreatif banget ya…salut deh sama tim yang bikin ini 🙂 Selesai dari tour di Beethoven’s House, kami belanja di toko souvenirnya. Tapi saya cuma beli permen Haribo seharga 50 sen, soalnya permennya berbentuk kepalanya Beethoven. Hehe lucu deh 😀

Image

Kembali ke Jerman*

(* kayaknya ada masalah sama WordPress soalnya saya ga bisa kasih caption di foto. Jadi beberapa foto tanpa keterangan gpp ya, males soalnya hihihi)

Hallooo, sudah tiga minggu saya di sini tapi baru kali ini sempet (mau) nulis. Soalnya males banget kemarin-kemarin. Mungkin beda sama waktu pertama kali ke Jerman, saya semangat banget nulis. Begitu nyampe dan dapet akses internet, langsung deh nulis sambil mengisi waktu-waktu jetlag. Tapi yang kali ini, kok nggak begitu ya? Hehe…

Anw, saya sekarang sudah di Bonn. Tinggal di sebuah tempat bernama Kreuzberg. Tempat ini semacam asrama gitu buat scholar dari berbagai belahan dunia yang sedang belajar bahasa. Kreuzberg punya institut bahasa juga, jadi kalau mau les sama mereka dan ga punya tempat tinggal bisa nginep di sini (ga gratis ya, tetep harus bayar). Yang mengelola tempat ini ada biarawati (suster) karitas. Saya sih walaupun beragama Katolik….er….kurang suka ya tinggal di tempat seperti ini. Makanya dulu saya nggak mau dimasukin ke Syantikara (di Yogyakarta) pas kuliah. Ogah!!! (di bawah ini adalah salah satu sisi dari rumah tempat tinggal kami).Image

Lalu kenapa saya tinggal di sini? Karena saya adalah penerima beasiswa dari KAAD, dan KAAD punya kerjasama dengan Kreuzberg. Semua scholar dari KAAD ditempatkan di ‘rumah’ ini selama kursus bahasa di Bonn. Yang mau ambil PhD jatahnya 6 bulan, yang ambil master rata-rata jatahnya 4 bulan, tapi ada juga yang dapet 6 bulan tergantung program studinya nanti dalam bahasa apa. Saya sendiri bakal ambil World Heritage Studies di Cottbus, dengan bahasa pengantar Bahasa Inggris. Maka saya dapat jatah belajar bahasa Jerman 4 bulan saja. Tapi saya seneng belajar Bahasa  Jerman, makanya saya bersyukur banget akan kesempatan ini 🙂ImageImage

Di ‘rumah’ ini saya berbagi dengan banyak orang dari berbagai benua. Seneng karena bisa belajar banyak hal, walaupun kadang saya pegel juga ngomong bahasa inggris terus tiap hari. Mana kadang-kadang karena belajar bahasa jerman, beberapa kosakata bahasa inggris saya jadi hilang, hehehe…. Tapi saya dapat banyak teman baru, dari Syria, Jordania, Guatemala, Colombia, Kenya, usw. KAAD memang memberi kesempatan pada mereka yang berasal dari dunia ketiga untuk sekolah di Jerman. Kelebihan dari KAAD, lembaga ini adalah salah satu lembaga yang memberikan kebebasan pada scholarnya untuk memilih jurusan. Saya sih agak ga sreg sama DAAD yang udah milihin jurusan. Dan cuma itu-itu doang. KAAD ini menurut saya cocok buat yang pengen belajar ilmu-ilmu sosial/humaniora. Mereka sangat terbuka. Dan janga salah sangka, beasiswa ini bukan cuma untuk orang Katolik saja 😀 Image

Image

Hm…jadi selama tiga minggu ini saya sudah ngapain aja ya? Saya sudah jalan-jalan naik kapal kemarin (kalo naik kapal bukan jalan-jalan ya namanya :P) tapi intinya saya kemarin kapan gitu naik kapal ke Koenigswinter. Pake kupon gratisan. Oh ya, di Jerman ini kalo kamu mendaftarkan diri, kamu akan dapat gift. Tergantung kotanya. Kalau di Dresden dulu saya dapet mug, notes, peta, kupon (yang dulu tidak saya pakai karena ga paham). Kalau di Bonn saya dapat satu bendel kupon (Gutschein). Kupon naik kapal sudah saya pakai, hari ini mau ke museum, pake kupon juga. Beda banget ya sama di Indonesia, kalau di Indonesia, kita dapet apa? Hehe.. Satu hal yang sebenernya membuat saya semangat tinggal di Bonn simply because this city is the CAPITAL OF GUMMY BEARSSSS!!! ❤ HARIBOImageImageImage

Oh iya, saya juga beruntung karena berada di Jerman bertepatan dengan Piala Dunia. Baru kali ini saya nonton piala dunia di negara yang ikut Piala Dunia. Suasananya tentu berbeda ya. Kalau di Bonn ini yang saya perhatikan sih orang-orang pada pasang bendera (bukan di tiang, tapi ditempel aja di tembok rumah). Jadi meriah suasananya. Di mobil juga kadang pada masang bendera kecil-kecil gitu. Lucu deh. Dan tentunya ada acara nonton bareng yang selalu heboh gila. DI bawah ini foto menjelang malam pembukaan, nampak sepi ya, tapi tidak berapa lama setelah itu jadi rame banget!!

Image

Soal makanannn, entah kenapa saya merasa dulu pas di Dresden makanannya lebih enak daripada di sini. Saya juga merasa lebih cocok sama Jerman sebelah timur daripada barat 😀 Atau mungkin karena saya tinggal di ‘rumah’ suster-suster yang makanannya itu-itu aja kali ya. Saya sebenernya ga terlalu mempermasalahkan makanannya, makanan sederhana pun bisa enak menurut saya. Tapi entah kenapa kokinya di sini suka aneh deh 😦

UUummm kayaknya segitu dulu ceritanya, nanti abis dari museum saya mau nulis lagi :p

See ya!

Tentang Marah-marah di Media Sosial (Facebook)

Nahhhhh akhirnya saya nulis juga kan…hahaha. Di luar lagi hujan, Tere sudah saya ‘serahkan’ ke mama saya (yang baru pulang dari Bandung dan bawa oleh-oleh banyak banget jadi si Tere mau banget main ke rumah omanya)…jadi saya punya waktu deh buat sendirian, tidur-tiduran, dan blog walking. 

Setelah blog walking ke sana dan ke sini saya jadi sadar selama ini kalau saya nulis blog kok kayaknya serius banget. Bukan…bukan topiknya yang serius, tapi kok kayaknya saya tiap mau nulis blog harus persiapan macem-macem. Ya fotolah apalah gitu, jadinya nggak nulis-nulis malah males. Hehe…jadi tulisan kali ini nyantai aja ya, cuma mau cerita uneg-uneg aja gitu.

Jadi, ehm, saya ini emang sukaaa banget misuh. Iya bener, makanya saya cocok berteman sama orang-orang yang fasih banget kalau misuh. Aduh mulut saya ini emang sampah banget deh haha. Nah, tapi biasanya pisuhan itu kebanyakan sifatnya guyon, becanda, berupa celetukan-celetukan yang belum tentu mencerminkan mood atau karakter saya. Iya, saya emang seneng banget tiba-tiba ngomong “goblok”, “afu”, “asu”, “anjing”, dll tapi bukan berarti saya itu jahat, emosian, nggak bisa santai, nggak selow, nggak baik hati, nggak ramah, dlsb. Tentu saja saya ini baik, tidak sombong, dan cerdas luar biasa. Haha…kenapa sih saya nulis ini?

Jadi gini, selama ini saya sering dibilang terlalu sering misuh, ngomel, ngedumel di fb. Iya sih emang, wih saya suka tuh ngomel…trus nanti pas ada yang komen dan tu orang mendukung omelan saya, tambah seru kan? Kesannya marah-marah barengan gitu di fb. Padahal kan orang nggak tau juga ya mostly saya posting itu sambil ketawa-ketawa juga hahahaha….maksudnya omelan itu kan terlintas gitu, trus iseng “ih ini kayaknya lucu jadi status” trus jadi deh. Tapi kan bukan berarti saya grumpy. Gggrrr…. *lho* 

Iya, banyak tuh temen saya yang kalau lagi ada isu SARA mereka biasanya nulis status aneh-aneh dan lucu-lucu pake kata-kata kasar, saya seneng aja liatnya. Jujur meennnnn emang kan kalo ada orang rasis kita bawaannya pengen misuh dan bukan pengen sembayang : Ya Tuhan ampunilah mereka. Ini saya sih. Hahahaha…E tapi kalau kebangetan saya juga tau diri kok, biasanya saya hapus sih. 

Masalahnya, banyak juga menurut saya yang posting status yang BAGI SAYA, ini BAGI SAYA lho ya lebih mengganggu daripada status orang misuh : yaitu status yang menceritakan kembali dialog dengan tetangga, dengan anak, dengan tukang sayur, dll…dan kadang itu bener-bener deh…ga ada lucunya. Misalnya :

Mama : Ah nak terimakasih ya mama dibeliin panci

Anakku : iya mama terimakasih juga sudah masak enak-enak.

Ah anakku kamu memang paling mengerti mama nak. Lucunya kalau begini terus, mama jadi tambah semangat masak :*

Penting kan?

Nah kalau kemudian orang bilang, ya namanya juga status kan bebas dong mau ngomong apa. Ah apa iya? Kalau iya, kenapa saya diomelin kalau saya bikin status yang ngomel? Apa karena menyebarkan energi negatif? Lalu apakah anda pikir status anda yang bercerita bahwa kucing di rumah anda suka makan kelengkeng itu membawa energi positif bagi yang baca? 

Bagi saya sih enggak -____- jadi intinya, sama aja bok. Dan ini bukan saya aja yang ngerasa.  

Buat saya sih ada satu jurus jitu kalau anda udah eneg sama status orang : ya diunfriend aja sih. Repot bener. Bukan…saya bukan orang yang terlalu serius juga kok. Saya bukannya hanya mau liat postingan yang berat-berat macam heritage, isu-isu kebudayaan, dll. Saya suka banget tuh cari-cari meme terbaru yang lucu-lucu, foto-foto binatang yang imut-imut. Iya saya suka, dan akan saya share kalau saya suka banget (saya sama nggak pentingnya kayak anda-anda ini hehehehe). Dan saya suka banget sama Katy Perry, iya saya ini mainstream banget sampe hanyut. Tapi jangan dimarahin dong kalau saya ngomel, jangan dikatain : hidup anda sepertinya negatif sekali, penuh omelan. Yaelah…ga tau aja ya abis nulis status marah-marah biasanya saya nonton Upin Ipin sama anak saya, ngga mikir lagi apa yang saya tulis. Afterall, katanya kan : itu kan cuma status, bebas dong mau nulis apa…

Jadi walaupun saya seneng misuh dan banyak yang menyangka saya ini orang dengan energi negatif saya akan bilang : #AkurapopoImage