Bukan Anak Sekolah

Di kereta menuju Cottbus dari Berlin. Di musim semi yang bersalju.

Tiba-tiba suatu malam, saya kepikiran ini nih: kenapa ya saya kok bisa sekolah lagi? Iya saya memang mau sekolah yang tinggi tapi sebenernya secara akademis saya ini nggak jago-jago banget. Gayanya aja mau belajar social sciences, humanities and culture, tapi kalau udah diajak ngobrol soal itu sama orang lain saya tetep aja merasa bego. Intinya, saya itu nggak merasa pinter-pinter banget lah. Nah tapi saya suka sekolah. Lucunya sepanjang sejarah persekolahan saya dari SD sampai sekarang lagi S2 ini, masa jaya saya sebagai seorang murid berakhir di…kelas 6 SD.

Iya, cuma sampai kelas 6 SD aja saya dapet ranking. Setelah itu masuk SMP, yang kebetulan muridnya banyak banget, pinter-pinter, cina-cina (maaf ini tidak bermaksud rasis. Saya juga cina walaupun separo), kaya-kaya, jadi deh saya nggak bersinar sama sekali. Selain karena sayanya juga mulai males belajar. Biasa, sudah menginjak usia remaja. Dulu pas SD, saya kenal banyak guru, sempet diikutin lomba ini itu. Paling berbekas dalam ingatan saya adalah saya dianggap pintar menulis, lalu diikutin lomba menulis essay. Bagi saya, cuma lomba itu yang penting. Lomba pramuka mah standar. Hahaha…

Terus waktu SMP, saya bener-bener nggak nampak. Prestasi bisa dibilang standar, olah raga nggak jago sama sekali, nggak pernah kepilih di bidang organisasi, lomba antar kelas juga kalahan terus. SMA? Masa SMA saya cukup asik, tapi saya nggak popular. Atau mungkin iya, tapi saya popular sebagai anak yang sombong. Padahal saya suka ngelamun aja, karena kalau harus fokus setiap saat itu menghabiskan energi ya nggak? Jadinya kalo pas jam istirahat, saya ngaplo aja. Disapa juga diem aja. Jadilah saya dianggap sombong.

Saya berani taruhan, di antara teman satu geng saya, kalau saya kembali ke SMA saya lagi, pasti guru-guru pada nggak inget sama saya. Soalnya, saya emang nggak ngapa-ngapain. Pinter jelas enggak, nilai IPA saya ampun-ampun banget deh. Eh tapi ada satu guru yang saya yakin inget sama saya, guru antropologi. Soalnya di kelas 3, ulangan pertama saya langsung dapet 100. Bahagia sekali hati itu ibu guru. Di bidang olah raga, saya juga payah banget, nggak pernah sekalipun masuk tim inti apapun. Saya jadi males juga. Nggak pernah datang kalau pas ekstrakulikuler. Ketika itu saya sudah sok-sok memutuskan untuk diri saya sendiri, apa yang penting dan nggak penting.

Waktu kuliah apalagi, siapa dosen yang tahu saya? Hehehe…cuma satu atau dua. Yang satu pembimbing akademik, yang satu pembimbing skripsi yang sedari awal emang sudah seperti teman sendiri. Nilai saya juga nggak bagus-bagus amat, A bisa diitung pake satu tangan, B cukup banyak. Kemudian C, termasuk mata kuliah Agama Katolik yang saya benci sampai sekarang. Saya lulus dengan IPK 3,38. Pas jaman saya itu, temen-temen seangkatan pada lulus dengan IPK di atas 3,5. Banyak deh yang cum laude. Saya bisa lulus saja sudah senang, bayangkan skripsi saya cuma 35 halaman! Hahaha…

Tapi saya tekankan sekali lagi: saya suka sekolah. Saya suka belajar. Saya suka berada di dalam kelas dan mendengarkan dosen atau guru, saya suka kalau di kelas ada hal baru yang diajarin hari itu (kecuali untuk KIMIA, FISIKA dan AKUNTANSI), saya suka mengerjakan PR, mencatat, menulis essay, apalagi kalau belajar bahasa. Saya suka banget. Masalah jago nggak jago, pada akhirnya saya menikmati prosesnya. Saya selalu percaya ini: sebenernya masalah pinter atau nggak pinter, itu bukan nilai yang menentukan kok, ya nggak? Saya mungkin memang di atas kertas nggak cemerlang-cemerlang amat. Tapi saya yakin ada banyak hal yang sudah saya pelajari sampai sekarang dan itu sangat saya syukuri dan berguna.

Banyak orang yang tanya: kamu kok bisa dapet beasiswa gimana caranya? Jawabannya sederhana: ya mendaftar. Tapi setelah saya renung-renungkan, iya ya, gimana saya bisa dapat beasiswa (ini sudah yang kedua kalinya) kalau saya nggak pinter-pinter banget. Di berbagai website motivasi, pasti ada kalimat: jangan menyerah! Anda pasti bisa kalau mau berusaha! Buat saya yang penting adalah mengenali dan mengidentifikasi di mana sih “jatah”mu. Saya, yang nilainya pas-pasan, mana mungkin bisa dapat Erasmus? Atau Rockefeller? Atau apalah itu beasiswa yang paling bonafid. Tapi apa saya butuh? iya. Apa penyedia beasiswa cuma itu aja? Enggak banget.

Sebenernya ini baru saya sadari akhir-akhir ini. Di tengah rasa kegalauan saya mengikuti perkuliahan di Cottbus ini (lagi-lagi saya merasa kurang pintar sendiri), saya bertanya-tanya, kenapa saya bisa sampai di sini lagi? Jawabannya karena saya secara nggak sadar sudah mengenali potensi saya, mengidentifikasi saya ini pantasnya di mana, minta beasiswa ke siapa. Eitsss…bukan, ini bukan berarti saya bilang bahwa lembaga beasiswa yang satu standarnya lebih ecek-ecek daripada yang lain. Tapi: setiap lembaga penyedia beasiswa itu punya visi misi. Nah, profil kamu cocok nggak sama visi misi mereka. Profil saya jelas nggak cocok buat Erasmus, atau DAAD, atau Aminef. Mereka memang standar nilai dan prestasinya cukup tinggi.

Tapi profil saya pas untuk Rave Foundation dan KAAD. Saya dapat Rave Foundation karena pengalaman saya kerja di museum, bukan karena nilai. Saya dapat beasiswa KAAD, karena bidang yang ingin saya pelajari, yaitu heritage, dianggap dibutuhkan di Indonesia (menurut mereka) dan level bahasa jerman saya dianggap cukup baik. Jadi nilai tidak diperhitungkan sama sekali? Ya diperhatikan, tapi kamu nggak harus cum laude atau pernah ikut pertukaran pelajar untuk bisa diterima. Jadi, kalau kamu mendaftar beasiswa hanya karena gengsi nama besar beasiswa tersebut, ya kalau nggak cocok nggak bakal keterima. Malah keburu tua.

Di Cottbus ini saya juga sempat sedih. Berbagai tawaran magang yang dikirim ke email kami oleh si program coordinator, syaratnya tidak bisa saya jangkau. Bayangin aja, sebagian besar meminta kita untuk bisa bahasa lain selain bahasa inggris: spanyol, rusia, mandarin, perancis. Lah saya, belajar bahasa jerman udah setengah mati aja nggak bisa-bisa. Teman-teman saya yang bule-bule itu…mereka minimal pada bisa dua bahasa lain selain bahasa ibu mereka. Kesempatan akhirnya jatuh ke mereka, tawaran juga jatuh ke mereka. Saya iri? Iya, kalau enggak malah nggak wajar. Tapi saya nggak terus ngamuk-ngamuk dan protes. Saya sekarang lagi belajar bahasa spanyol juga (kecanduan belajar bahasa).

Lalu apa yang saya lakukan supaya saya bisa magang juga?

Ya cari sendiri! Sekali lagi, saya mencoba mengidentifikasi kira-kira saya cocoknya di mana. Karena bintang saya Aquarius…saya cocoknya kerja di air. Enggak ding. Oke jadi saya suka museum, saya dari Indonesia, saya menguasai bahasa inggris, sedikit bahasa jerman, sangat sedikit bahasa spanyol. Kira-kira di mana museum di Eropa yang banyak pake bahasa inggris? Louvre? Enggak mungkin, tu museum walopun yang ngunjungin dari mana-mana tetep aja staff nya orang Perancis. Jawabannya ada di Roma: Museum Vatikan. Keliatannya mentereng ya? Iya. Terus saya cari yang lain lagi, KITLV, lembaga di Leiden Belanda yang menyimpan banyak arsip dan melakukan penelitian soal Indonesia. Cocok dong pasti? Jadi buat apa saya nangis-nangis nggak bisa magang di World Heritage Watch di Berlin atau di kantor UNESCO di Paris kalau ada tempat lain yang lebih pas buat kapasitas saya saat ini?

Jadi intinya saya keterima nggak? Saya tidak diterima di Vatikan, tetapi saya diberi kesempatan sama mereka untuk magang di organisasi rekanan mereka di Roma, salah satu UNESCO Chair. Museum Vatikan sendiri yang merekomendasikan nama saya ke direkturnya. Saya diterima di KITLV, dan sekarang sedang mendaftar di UNESCO Jakarta. Jadi dari yang tadinya saya merasa nggak punya kesempatan, saya jadi kesannya tinggal milih mau yang mana. Roma, Leiden, atau Jakarta.

IMG_1334

East Side Gallery, Berlin – February 2015. Rasanya aneh kalo posting nggak pake foto. Jadi seadanya di komputer ajalah ya. (Foto: Anastasia Dwirahmi)

Kenapa saya nulis ini? Soalnya saya gemes sama diri saya sendiri yang selalu minder sama orang yang nilainya bagus-bagus, yang risetnya oke, yang deket sama dosen dan guru-guru. Saya rasa, kenapa saya berambisi untuk kuliah terus juga salah satunya untuk membuktikan itu: I can find my own path. Walaupun lucu juga pada akhirya path yang saya pilih justru kembali ke kampus. Hehe…saya cuma pengen membuktikan, kamu nggak harus nilainya bagus, nggak harus disayang guru atau diingat dosen, nggak harus cum laude kalau mau sekolah atau sukses. Yang penting, harus mawas diri, boleh sambil berdoa dikit-dikit, terus belajarlah yang banyak. Semakin banyak kamu tau hal-hal baru, semakin terbuka kesempatan kamu.

Testpack, Visa, and Everything in Between

Haiii…akhirnya hari yang dinanti tiba juga. Yaitu hari di mana saya bisa menulis di blog ini bahwa saya kemarin abis ngurus visa studi ke Jerman dan sukses. Hore! Jadi memang dari bulan September 2013 lalu saya udah menantikan kapan ya bisa cerita-cerita soal ngurus visa hehe. Tapi sebelum cerita soal ngurus visa, saya punya cerita yang lumayan bikin galau. Jadi begini…kan saya mau berangkat ke Jerman tanggal 29 Mei besok ya, nah masak saya terakhir mens itu tanggal 20 Februari kemarin. Trus saya panik dong, kalau saya hamil kan saya nggak jadi berangkat 😥 padahal kalo inget-inget perjuangan saya supaya bisa ke Jerman lagi, hamil di saat mau berangkat bukan sebuah hal yang saya inginkan. Pertama saya memang belum mau punya anak lagi. Aduh kemarin sempet pas pulang ke Semarang di kereta liat ada pasangan muda punya anak 2 repotnya minta ampun. Hih! Yang kedua, ya itu tadi. Saya sudah berusaha sekuat tenaga buat dapet beasiswa ini, eh masa sih pas mau berangkat malah HAMIL? O_o

Jadi intinya saya hamil nggak? Jawabannya tidak, karena akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga kemarin tanggal 29 April, pas banget sehari setelah saya ngurus visa di Jakarta tanggal 28 April. Nah tapi kan saya cemas ya nunggunya, jadi stress. Paskah kemarin sampe gak konsen. Di gereja doanya : ya Tuhan kenapa saya nggak mens, saya nggak mau hamil. Hehe…terus saya beli testpack. Sekali test pas baru 2 minggu telat. Eh negatif. Trus saya ke dokter, dicek pake USG, ga ada apa-apanya kata dokternya (dan mbak suster menghibur saya : belum ada kehamilan, nggak papa ya bu. Iye iye nggak papa, Sus). Terus saya dikasi obat kata dokternya buat 5 hari. Kalo 2 minggu belum mens juga, saya diminta kontrol lagi. Terus saya tanya, kalau 2 minggu saya belum mens, itu tandanya apa, dok? Kata dokternya : hamil. Hahhhhh???? 😥 gimana sih. Trus dokternya bilang : ya mungkin saja ibu sudah hamil sekarang tapi janinnya belum nampak.

Lalu sayapun nggak mens juga sampe setelah 2 minggu itu. Jadwal saya kontrol lagi itu bertepatan dengan hari di mana saya harus berangkat ke Jakarta buat urus visa. Paginya saya testpack lagi pake 2 merk testpack. Negatif. Tapi katanya testpack itu bisa menipu. Namun saya tetep aja memilih untuk ke Jakarta daripada kontrol. Lagian saya nggak merasa hamil kok. Perut saya memang buncit dari dulu dan saya emang gampang laper, terus saya juga kembung tiap hari. Jadi nggak hamilpun saya memang sejak dulu selalu kayak orang hamil. Hahahah…

Tapi sejak saya kontrol dokter yang pertama sampe saya berangkat ke Jakarta itu adalah masa penantian tergalau. Beneran deh. Saya sampe pake pregnancy calculator online itu. Ngitung kalau saya hamil udah berapa minggu ya? Udah 8-9 minggu katanya saat itu. Anaknya udah segede buah raspberry. Saya juga browsing tanda-tanda kehamilan, yang mirip sama tanda-tanda mau mens. Jadi saya bingung kan. Saya hamil apa PMS ya? Hehehe 😀 Tapi anyway seperti yang sudah saya bilang tadi, saya memutuskan untuk nggak kontrol ke dokter dan pergi ke Jakarta ngurus visa.

Saya ke kedutaan tanggal 28 April 2014. Saya bikin janji jam 10 tapi udah nyampe ke kedutaan jam 9. Dulu pas pertama urus visa Jerman tahun 2011, satpamnya galak bener. Udah gitu kita belum bisa bikin termin online kayak sekarang. Jadilah para pemohon visa berbaris di trotoar di Jalan Thamrin yang panas menyengat itu. Kalau sekarang udah ada sistem online jadi bisa dateng sesuai time frame yang udah dikasih. Satu orang dapet jatah setengah jam. Hari itu jatah saya jam 10.00 – 10.30. Satpam kali ini lebih ramah, saya boleh langsung masuk dan nggak dijutekin.

Lalu saya naik ke atas, udah bawa dokumen lengkap. Kalau ngurus visa pake beasiswa ituuuuuu ennaaaakk bangetttt. Pertama : berkas yang dibutuhin dikit banget yaitu; formulir visa, foto biometris, surat bukti beasiswa, surat bukti keterima universitas, fotokopi paspor. Udah itu doang. Lalu keuntungan kedua adalah : masnya ramahhh banget. Begitu tanya : Oh beasiswa ya? Iya mas. Dari KAAD ya? Iya. Terus dia langsung : oke. Trus dia ngetik-ngetik apa gitu, saya dikasi form anti teroris itu, ngisi, balikin, cek akhir, kasihin semua ke dia termasuk paspor, trus udah. Dia bilang : diambil tanggal 8 Mei ya jam 13.00. Horeeeee!!! Padahal pas saya curi dengar pemohon visa yang lain agak susah ya, ditanya macem-macem, trus selalu dibilang “ya ini KALAU semua urusan lancar ya bu…ya ini KALAU disetujui ya pak…ya ini KALAU dapat ya visanya…” Tapi KALAU kasus saya, lancar. Pasti beres! Sombong ya? Biarin 😛 oiya satu lagi : GRATIS. Tidak dipungut biaya EUR 60 itu.

Lalu kemarin saya langsung kirim bukti tanda terima visa ke KAAD. Dan hari ini KAAD langsung urus tiket pesawat saya. Naik Etihad tanggal 29 Mei 2014, jam 01.45 am (pagi!). Nggak sabar, senangnya mau ke Jerman lagi. Kata suami, saya harus semangat walaupun mau pergi jauh. Karena kesempatan ini nggak datang dua kali 🙂

Ulang Tahun Tere di Museum Ronggowarsito

Akhirnya cita-cita saya selama satu tahun ini tercapai, merayakan ulang tahun anak saya, Tere di museum. Setelah pulang dari Jerman dalam rangka magang di beberapa museum di Dresden, Leipzig dan Berlin, saya ingin sekali menerapkan ilmu yang saya dapat di sana. Memang tidak mudah, butuh waktu sekitar 6 bulan sejak saya pulang untuk bisa merealisasikannya. Dan saya menemukan momen yang tepat, yaitu ulang tahun Tere yang ke-6. Sejak bulan Juni, saya sudah mengungkapkan ide ini pada suami, karena bagaimanapun juga saya tidak mungkin memutuskan ini sendirian. Selain itu saya butuh dukungan finansial dari dia, dan saya belum bisa memastikan apakah merayakan ulang tahun di museum akan lebih murah atau lebih mahal daripada merayakan ulang tahun di sekolah atau di KFC misalnya.

Saya mulai dengan memilih museum. Museum Ronggowarsito menjadi satu-satunya pilihan. Alasannya sederhana saja, dibandingkan museum-museum lain di Semarang, Ronggowarsito kondisinya lebih baik. Walaupun sayang sekali tidak bisa saya bilang ideal. Saya mulai melakukan pendekatan dengan museum tersebut. Setelah pulang dari hari pertama masuk sekolah, saya langsung mengajak Tere berkunjung. Saya pun melakukan survey kecil-kecilan, kira-kira ruang pamer mana yang siap dan pantas mendukung acara ini. Dari sekian banyak ruang pamer, hanya ada satu yang sudah cukup bagus karena baru selesai direnovasi. Ruang ini terletak di Gedung A, dan memerkan koleksi museum dari jaman pra-sejarah sampai masa Hindu-Buddha di Nusantara. Saat itu juga saya tanya sama Tere, “kamu mau ulang tahun di sini?” dia bilang mau. Dan saya melanjutkan rencana itu.

Saat kunjungan pertama kami ke Ronggowarsito

Lalu saya melakukan pendekatan pada pegawai museum. Kebetulan saya bertemu dengan Bu Herma, beliau adalah Kepala Seksi Tata Pameran dan Pelayanan (yang cukup mengherankan bagi saya, mengingat Tata Pameran dan Pelayanan adalah dua bidang di museum yang berbeda jauh). Bu Herma menyambut baik usul tersebut dan beliau sangat antusias. Apalagi setelah beliau tahu bahwa saya punya beberapa pengalaman terkait dengan museum. Beliau memperkenalkan beberapa staff Museum Ronggowarsito dan seorang pemandu bernama mas Zaki yang nantinya akan banyak membantu saya di acara ulang tahu Tere.

Beberapa minggu setelah kunjungan pertama, saya datang lagi ke Ronggowarsito. Kali ini untuk menentukan kira-kira nanti acaranya bagaimana. Saya menyusuri lagi ruang pamer di Gedung A lantai bawah, mencatat koleksi apa saja yang sekiranya tidak terlalu sulit untuk dijelaskan pada anak-anak. Beberapa di antaranya adalah Prasasti Canggal, Patung Buddha, Ganesha, Prambanan, Borobudur, Arca Durga, dan Ratu Sima. Saya memilih yang sedekat mungkin dengan anak-anak. Alasan saya memilih Ganesha, karena dia berkepala gajah sehingga pasti menarik perhatian, Durga, bertangan banyak, dan Ratu Sima adalah seorang Ratu yang tentunya menarik bagi anak-anak perempuan.

Kira-kira ada 10 koleksi yang harus dijelaskan oleh pemandu. Saya tidak ingin anak-anak kehabisan waktu dan energi dalam tour, karena setelah tour, ada games yang sekaligus menjadi penutup acara. Games-nya saya rancang seperti ini : anak-anak akan dibagi dalam kelompok terdiri atas 5-6 orang, mereka harus berusaha menjawab pertanyaan di pos-pos yang ada di ruang pamer. Setiap pos dijaga oleh kakak pemandu yang membawa kertas pertanyaan dan hadiah setelah mereka menjawab pertanyaan. Jumlah pos ada 6, dan semua pos terletak di koleksi yang tadi sudah dijelaskan dalam tour.

Isi pertanyaan dalam pos-pos tersebut adalah : 1. Berapa tangan Durga Mahisasuramardhini? 2. Ganesha berkepala apa? 3. Terbuat dari apa uang kuno ini? 4. Ada berapa jumlah Candi Gedongsongo? (saya juga menambahkan perintah bagi mereka untuk berhitung 1-10 dalam Bahasa Jawa, ini sesuai dengan kurikulum sekolah. Mereka kelas 1 SD, baru saja dapat pelajaran Bahasa Jawa) 5. Tirukan cara duduk Buddha! dan 6. Gambarlah Prasasti Canggal dan isilah dengan ucapan selamat ulang tahun untuk TERE!

Saya merasa, ke-6 pertanyaan tersebut cukup mewakili pola pendidikan anak yang mencakup aspek kognitif, motorik dan kreatifitas anak.Setelah itu, mereka berjalan menuju pintu keluar dan acara selesai.

Pelaksanaannya ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Menurut pengalaman, akan lebih baik jika jumlah anak tidak terlalu banyak, 20 adalah jumlah ideal. Tapi, jumlah teman sekelas Tere saja ada 40 anak, belum ditambah dengan teman-teman TK nya yang sekarang duduk di kelas lain. Total ada 53 undangan yang saya sebar, dengan permohonan konfirmasi keikutsertaan. Pesta diadakan hari Minggu, 5 Agustus dan sampai hari Sabtu, 4 agustus jumlah anak yang konfirmasi berjumlah 40. Saat itu saya berpikir, mungkin acaranya akan sedikit di luar rencana.

Undangan Ulang Tahun Tere dan sticker suvenirnya

Untungnya, saya memiliki banyak teman yang bersedia membantu. Salah satunya adalah Mbak Palma dari Sanggar Tari Amarta Laksita, dia setuju untuk membantu saya dengan cuma-cuma. Karena ada 40 anak, maka tour harus dibagi menjadi 3 kelompok, agar situasi tetap aman terkendali. Nah, anak-anak yang sedang menunggu giliran tur diberi workshopdolanan anak oleh Mbak Palma.

Salah satu kelompok sedang dijelaskan mengenai Ganesha

Jadi, pada hari Minggu tanggal 5 Agustus, acara kami mulai pukul 11 siang. Pertama, anak-anak kami kumpulkan dalam ruangan, untuk pemanasan, sambil berkenalan dengan para pemandu. Lalu kami membagi mereka menjadi 3 kelompok. 1 kelompok pergi untuk tour, yang 2 kelompok menunggu sambil ikut workshop. Setelah semua kelompok dapat giliran tour, mereka kami biarkan istirahat sebentar untuk minum. Waktu istirahat ini juga kami manfaatkan untuk tiup lilin dan potong kue. Setelah anak-anak segar kembali, kami membagi mereka menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil (dan percayalah, membagi anak-anak menjadi kelompok itu susahnya minta ampun).

Setelah kelompok terbentuk, mereka kembali lagi ke ruang pamer. Sudah ada kakak pemandu di masing-masing pos dengan pertanyaan. Jika berhasil menjawab atau melaksanakan perintah, mereka akan diberi stickerbertuliskan “ayo ke museum”. Saya sengaja membuat suvenir yang berfungsi sebagai kenang-kenangan sekaligus bisa untuk kampanye soal museum. Di pintu keluar, mereka disambut oleh Tere (Tere sengaja saya tempatkan di kelompok pertama untuk games, jadi dia bisa menyambut teman-teman yang lain) yang bertugas membagi balon dan bingkisan berupa snack dan makan siang.

Pos menirukan Dhyani Buddha Amitabha

Pos Menggambar Prasasti Canggal dan Menulis Ucapan

Salah satu gambar Prasasti Canggal menurut imajinasi temen-temen Tere 🙂

Kebetulan, Museum Ronggowarsito memiliki ruang yang cukup luas dengan tempat duduk yang nyaman bagi para orang tua yang menunggu. Ada juga orang tua yang terdorong untuk masuk ke beberapa ruang pamer dan mengelilingi museum. Guru kelas Tere juga hadir saat itu. Beliau mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya dia melihat orang tua murid memiliki konsep acara ulang tahun seperti ini. Saya sendiri cukup puas dengan acaranya, walaupun banyak hal yang sepertinya perlu diperbaiki, dan ada juga yang tidak sesuai dengan rencana. Tapi intinya saya bangga karena bisa memberi inspirasi bagi guru dan orang tua murid yang lain, bahwa museum bisa menjadi pilihan untuk merayakan acara-acara serupa.

Akhir rangkaian acara, bagi balon dan bingkisan

Ini Tere (baju garis-garis) dan teman baiknya, udah mau pulang 🙂

Beberapa hal yang harus diperhatikan jika ada yang ingin mengadakan acara ulang tahun di museum adalah :

1. Pastikan museum menerima usulan anda dengan baik, dan kalau bisa mereka terlihat bersemangat.

2. Karena SDM di museum belum terlalu mengerti cara dan metode seperti ini, maka usahakan anda yang in charge, jangan menyerahkan sepenuhnya pada pihak museum.

3. Kerjasamalah dengan rekan-rekan anda, orang tua murid dan guru kelas dari si anak. Dijamin akan sangat membantu.

4. Lakukan beberapa kali survey pendahuluan, catat koleksi-koleksi yang penting dan relevan untuk anak.

5. Tentukan susunan acara yang pas, jangan terlalu singkat, jangan terlalu lama. Karena mungkin anak akan lelah dan orang tua malas terlalu lama menunggu.

6. Sebar undangan jauh-jauh hari dan minta orang tua untuk mengkonfirmasi keikutsertaaan anak.

7. Tetap patuhi peraturan dan batasan yang sudah ditetapkan oleh museum. Misalnya tidak boleh makan dan minum di dalam ruang pameran, tidak boleh menyentuh koleksi, dan sebagainya. Ini memang pesta, tapi juga tidak boleh seenak kita sendiri.

8. Jika ada games/ permainan/ workshop yang menuntut tersedianya alat tulis/ alat pendukung lainnya, sebaiknya anda yang menyediakan semua. Jangan minta pihak orang tua untuk membekali anaknya dengan alat-alat tersebut. Biasanya mereka malas, sudah disuruh datang ke museum, disuruh membawa macam-macam.

9. Selebihnya….bisa nanya sama saya. Hehe 🙂

My Report :)

It was amazing to receive the scholarship from Rave Foundation for 4 months in Germany. During my stay in the two cities – Dresden and Leipzig, I had so many useful experiences about the management of museum, and I was lucky because I had the chance to do the internship in a big institution of Staatliche Kunstsammlungen Dresden, with various kinds of museums and galleries. This was very important for me because I come from a country that lack of professionals in museum field. So working in one of many good museums in Europe, especially in Germany was until now the best experience for my career forward.

I had the internship in two ethnological museums owned by Staatliche Kunstsammlungen Dresden, they were in Leipzig and Dresden. My first term of internship was from middle August until the end of September in Museum fuer Voelkerkunde Dresden. Here, I got the first impression about the situation of museum in Germany, how the organisation of the museum, how they work and also how they manage the exhibition. I also had a glance on how the restorators and the technical department of this museum work. But I was first only observing. In this museum I had the chance to do some scientifical works with the collections from Indonesia. It was great because it made me learn about my own culture and I could see how the Europeans see my culture.

In this scientifical work, I had the responsibility to make the description of some old objects of wayang puppets, batiks, and some objects of the chinese Indonesian culture. I also learned how to make a good digital photo of objects, the catalogue systems and the database of the collections. Beside making the descriptions for the archives of the museum, I also prepared some for the database of Virtual Collection of Masterpiece (VCM), the online catalogue of museum from around the world.
I did some educational programs with the department of education. I learned on how to prepare the materials for workshops and guided tours, and how to deal with smaller and older children. This experience with the education department of museum in Dresden was very important because I had to make my own programs for children for the museum in Leipzig, where I had my internship for the second term.

My removal to Leipzig allowed me to see a great permanent exhibition organised by GRASSI Museum fuer Voelkerkunde. I saw how they created a really great and convinient exhibition room, and the technologies that they use to support the exhibition. But my main task here was to present some batik workshops for children and adults, therefore in this museum I was fully working in the education department. I started my days in Leipzig assisting some programs for children, like kid’s birthday, school workshop and special guided tours for children. Then I had to prepare for my own workshops. For this preparation I made some trials with the help of my colleagues.

I had three workshops here, one was for children, one for adults and one for my colleagues in Leipzig. I began the workshops for children and adults by showing them the batik in the showcases of the museum, and telling the history and the real traditional process of making batik. Then we did the workshops. I was glad and proud to see how the people were interested of the process of batik making and that they were eager to try that. I have to say that all the workshops were great, I made some new friends and exchanged knowledges with the participants. I also had one day chance to do batik demonstration on the exhibition room. It was a pleasure for me to talk with the visitors of the museum and explain them about my own heritage. During this period I made a visit to Berlin because my embassy asked me to do the same workshop in the Labyrinth Museum in Berlin. The workshop was successful and I had some impressions of great museums in Berlin.

workshop at Labyrinth Museum Berlin with the embassy

My third term of internship was back in Dresden again. This time I involved in some projects while continue on doing scientifical works. First I had to help on preparing the winter gallery, especially on the inventory process. I was trusted to select some things to be sold at the gallery, especially things that came from Indonesia, defining the quality and responsible for the pricing. I also participated at the opening ceremony of the winter gallery. From this event I learned about how the museum funds itself and who the important stakeholders that support the existence of a museum are. Another task that I had was to make a preparation of a small exhibition that will be opened on the beginning of 2012.

This task was quiet challenging because I felt that this was really new for me. The exhibition will be about models, ranging from ship models, house models, household models, etc. I had to cooperate with the catalogue department to know all the models that the museum has, then I need to choose among those models, the objects that might be suitable for the exhibition. Then I made some photos of the objects, and discussed with the restorators about the condition of the objects. The last thing I did was designing the display on the chosen and approved objects. I had a brand new experience while preparing this exhibition and I was so excited about it.

During my stay, I only had one problem: language. I should had be able to speak and understand better of German. Unfortunately, because I had to move from one city and another, I couldn’t find a proper program from a language course. But all the colleagues were so nice a supportive. I would like to thank Ms. Petra Martin, the curator for South East Asia and also my supervisor for this program, for all the chances, the knowledges and hospitality that she’s given to me. Also for the colleagues in Leipzig, Ms. Christine Fischer, Mr. Dietmar Grundmann and Mr. Reinhard Wagenknecht.

I would like also to thank all the people in Rave Foundation for the scholarship that made me have this experience for having an internship in Dresden and Leipzig, and had the chance to conduct a workshop in Berlin. With this chance I was able to visit many museums and galleries, improving my language skill, and had interactions with various kinds of people from around the world. I believe this knowledge that I have now, will help me in my future career and I hope I can make a better condition for the situations of museums in Indonesia. I really appreciate the Rave Foundation for giving the chance for young people from third world countries to work in museums in Germany. I think this program is really usefull for those who want to learn about museum.

 http://www.ifa.de/en/foerderprogramme/rave-foundation/ravestipendien/erfahrungsbericht/dwirahmi-suryandari/

Benda Cagar Budaya, Siapa Peduli?

Hari ini setidaknya ada 3 tulisan mengenai benda cagar budaya di Kompas. Yang pertama adalah mengenai minimnya upah para perawat benda cagar budaya di Kudus, yang kedua adalah mengenai Candi Muara Jambi yang “terkikis” oleh kegiatan industri tambang di sekitarnya dan yang ketiga mengenai Museum Radya Pustaka yang katanya lebih baik dikelola oleh pemerintah pusat. Membaca tulisan – tulisan tersebut, jujur saja membuat saya semakin pesimis dengan niat pemerintah dan orang-orang Indonesia dalam merawat peninggalan nenek moyang.

Upah seorang perawat benda cagar budaya di Kudus hanya sebesar Rp 75.000 per bulan, dengan alasan minimnya anggaran. Dan benda-benda bersejarah itu juga hanya disimpan di bekas sebuah balai kesehatan. Candi Muara Jambi juga semakin keropos karena tidak ada konservasi yang memadai. Padahal situs ini adalah universitas tertua di nusantara, tempat banyak cendekiawan masa lalu belajar. Mengenai Museum Radya Pustaka, saya rasa mau dirawat sama siapapun tidak ada bedanya selama yang merawat itu belum paham mengenai fungsi dan pengelolaan museum yang baik itu seperti apa.

Ketika saya membaca mengenai berita-berita itu, saya berpikir kenapa tidak ada (saya tidak pernah dengar) orang Indonesia yang mau menolong kasus-kasus seperti ini. Kudus adalah kota yang terkenal dengan industri rokok, saya tidak perlu menyebut merk. Perusahaan ini gencar mengatakan bahwa mereka juga peduli pada budaya, menurut saya omong kosong. Selama yang mereka danai itu konser jazz yang digawangi oleh seniman kota gudeg yang sudah mapan. Atau perusahaan lain yang berusaha mendukung pengembangan batik, ini dan itu. Tapi mereka hanya mau membiayai acara berskala besar, glamor, batik juga hanya sebatas fashion show, dan pameran (jualan).

Siapa yang mau merawat benda-benda peninggalan nenek moyang yang sudah ada ini? Yang sudah tua dan rapuh, tapi punya nilai historis teramat penting. Ketika saya mengunjungi Museum Keraton Surakarta beberapa waktu yang lalu, saya miris melihat kondisi museum tersebut. Tidak heran anak muda malas ke museum, jangankan mereka, saya yang suka museum saja malas ke museum itu. Di sana ada kereta kuda milik keraton yang sangat kental pengaruh Eropa-nya. Kereta ini memiliki ornamen malaikat-malaikat di sisinya dan desain serta warnanya sangat Eropa. Menurut saya ini unik untuk menggambarkan (mungkin) betapa kuat hubungan keraton Solo dengan Belanda misalnya. Ada dua buah kereta, dan keduanya berada di selasar terbuka, tidak terawat sama sekali.

kalau rumah saya besar, kereta ini mau saya minta saja

Hampir semua objek di dalam ruang pamer tidak ada keterangannya. Ruangannya berdebu, singup, lembab dan lemari-lemarinya kumuh. Waktu itu saya berpikir, lebih baik mungkin memang semua benda cagar budaya di Indonesia ini diberikan saja pada museum-museum di luar negeri. Dijamin lebih dirawat. Saya kadang heran kalau kita meraung-raung karena ada benda cagar budaya di tangan asing, memangnya kenapa? Apa ada jaminan kita bisa dan mau merawatnya dengan lebih baik? Apa cuma karena gengsi? Saya jadi ingat dulu sering  minta anjing, begitu dikabulkan oleh ayah saya, saya selalu malas merawat. Begitu anjing itu dikasih ke orang lain saya nangis merengek-rengek minta dikembalikan, ayah saya selalu bilang, “lha kamu ini aneh, wong anjingnya aja nggak kamu rawat, kenapa waktu papa kasih ke orang lain kamu nangis?”

Tempat penyimpanan wayang kulit di Museum fuer Voelkerkunde, Dresden. Bersih, rapi dan terawat.

Kalau kemarin sempat masyarakat kita heboh karena batik  katanya mau dicuri Malaysia, kenapa tidak heboh juga banyak batik di museum digerogoti rayap? Lalu semua orang tiba-tiba pakai batik (yang dipakai juga batik printing), semua orang jualan batik. Begitu kita menang dan batik diakui sebagai intangible heritage dari Indonesia, ya sudah, euphoria nya berhenti. Kelak batik-batik itu juga akan dimuseumkan dan dimakan rayap. Kita memang tidak bisa merawat apa yang sudah ada dan apa yang ditinggalkan oleh pendahulu kita. Orang Indonesia selalu senang dengan kegegapgempitaan, yang baru-baru. Sementara ruh nenek moyang kita tersimpan dalam diam di dalam fosil-fosil tidak terawat, di gudang museum-museum kita, atau yang lebih beruntung, di tangan bangsa lain.

random thoughts :

#1 orang Indonesia lebih suka dengan yang intangible, karena bisa dimain-mainin. Karena namanya saja intangible, maka itu berupa konsep atau ide, jadi bisa diputar ke kanan dan ke kiri sesuai kemauan dan kepentingan mereka sendiri. Misalnya, “ya yang penting kan pelestarian motif batik, entah ini pameran cuma jualan atau apa kan yang penting pelestarian motifnya itu”. Beda dengan yang tangible. Bendanya ada di sana, diam saja. Kalau mau menguntungkan ya dijual (ilegal), kalau tidak ya dirawat (merepotkan).

#2 saya menulis ini dalam keadaan meriang luar biasa. Setelah selesai jadi sembuh. Terbukti menulis adalah obat yang ampuh mengatasi penyakit.

Menjadi Katolik dan Indonesia

This is not a spiritual note, neither a note that tries to compare one religion to other. Saya menulis ini, hanya ingin berbagi rasa tentang apa yang saya rasakan tentang “ibadah” selama saya di Jerman kemarin. Dan bukannya saya masih in Germany mode (or maybe mood?), tapi saya ingin membayar utang (paling tidak terhadap diri sendiri) untuk menulis pengalaman saya selama di sana. Sebenarnya keinginan untuk menulis tulisan tentang ini muncul ketika saya pergi ke gereja kemarin Minggu (29/01). Saya merasa bahwa betapa mewahnya orang Indonesia kalau beribadah. Dan -di luar kekerasan yang banyak terjadi- orang Katolik (yang benar-benar mengharap bisa beribadah secara kolektif) seharusnya bersyukur. Karena jangan harap kita bisa merasakan hal seperti itu -paling tidak- di Jerman (khususnya untuk orang Indonesia Katolik yang ada di sana).

Saya harus bilang bahwa saya bukan orang Katolik yang baik. Haha.. does it matter anyway? Sejak pertama datang ke Jerman, saya sudah tahu bahwa saya akan tinggal di kota yang terletak di (bekas) Jerman Timur. Artinya kebanyakan orang di sana tidak beragama Katolik. Dan tentu saja jarang ditemukan gereja Katolik. Selama saya di Dresden saya hanya menemukan 3 gereja Katolik di sana, salah satunya adalah Katedral (yang lebih banyak dikunjungi turis daripada umat). Selain itu ada beberapa gereja Kristen yang dulunya gereja Katolik seperti Frauenkirche, gereja ortodoks serta beberapa aliran lain seperti Evangelis salah satunya Thomaskirche di Leipzig. Bahkan Katedral di Berlin sekarang sudah berfungsi sebagai gereja Kristen. Nah, sebenarnya apa sih yang mau saya bicarakan?

Begini, saya beberapa kali melihat status teman-teman saya  -yang beragama Islam – dan kebanyakan dari mereka mengaku kangen mendengar suara adzan. Saya bisa memahami bagaimana mereka merindukan suara adzan karena di Jerman tidak ada adzan. Walaupun saya tahu banyak juga teman saya yang beragama Islam menganggap adzan yang bersahut-sahutan dan tidak merdu itu mengganggu ketertiban lingkungan. Tapi paling tidak, komunitas orang Indonesia yang beragama Islam tidak kehilangan : sholat berjamaah, pengajian, merayakan Idul Fitri-Idul Adha bersama, jumatan, dan lainnya. Sementara kami yang beragama Kristen dan Katolik (terutama Katolik) susah sekali mencari kesempatan untuk bisa beribadah dan merayakan hari besar sebagaimana kebiasaan kami di Indonesia. Tidak ada yang namanya : misa lingkungan, kunjungan romo paroki, lomba-lomba di gereja, atau bahkan arisan Wanita Katolik. Haha.. sumpah saya sih nggak keberatan dengan ketiadaan itu semua, bener. Saya cuma mau cerita aja. Bahwa….

Bahwa kalau orang merasa karena Jerman atau negara Eropa lainnya itu adalah basis dari agama Kristen (simply karena mereka negara Eropa atau negara “barat”), maka orang Kristen dan Katolik di sana akan lebih enak. Tidak. Saya tidak bicara masalah keimanan ya, saya cuma mau berbagi cerita tentang kondisi yang nampak saja. Komunitas orang Indonesia di luar negeri dimanapun saya yakin masih didominasi orang-orang Islam (which is not a crime), dan itu yang membuat mereka lebih mudah menjalankan ibadah seperti yang mereka lakukan di Indonesia. Mungkin dengan pengecualian (atau perkecualian?) negara-negara lain yang tidak mengakui kebebasan beragama. Saya juga tidak tahu negara mana saja itu.

Katedral, di kawasan wisata. Altstadt- Dresden. (Anastasia Dwirahmi, 2011)

Selama saya di sana, saya baru ke gereja di bulan-bulan terakhir. Antara November sampai Desember. Biasanya saya ke gereja bertiga, bersama Ferdi dan Christina. Gereja Katolik di sana sangat minim teknologi. Bangunannya memang indah, yang saya perkirakan dibangun atau terinspirasi puncak kejayaan era gotik di abad pertengahan, dimana gereja dibangun semegah mungkin bukan karena umatnya banyak melainkan untuk menunjukkan kekuasaan Allah (thanks Mr.Gaarder!! For I’m able to put a lil bit of intellectual bite in my writing!). Selain minim teknologi, gereja di sana tidak digila-gilai seperti gereja di Indonesia. Umatnya sedikit, sehingga kami yang foreigner ini malah sering menarik perhatian. Misa hari Minggu itu paling hanya seramai misa pagi harian di Indonesia (jumlah umat tidak lebih dari 50). Misa paling ramai yang pernah saya datangi adalah misa Adven minggu pertama (sebagai catatan saja, Adven itu di sana memang lebih “hip” daripada di Indonesia, tapi secara tradisi. Mungkin kalau di Indonesia seperti bulan Ramadhan). Itupun saya perkirakan umatnya tidak lebih dari 100 orang. Apalagi kalau misa hari Jumat sore (misa favorit kami karena cuma 45 menit), paling banyak 20 orang.

Saya pernah menghitung berapa electric tools yang digunakan oleh gereja. Suatu kali saya melihat hanya satu set : mike dan speaker. Untuk musik mereka tidak butuh listrik karena mereka menggunakan orgel, yang suaranya membahana membuat orang merinding. Papan nomer bacaan dan lagu masih menggunakan kayu yang bisa digeser-geser dan diganti setiap mau misa, lampu? Pakai lilin. Tapi jangan salah, kondisi gereja yang seperti itu kalau buat saya malah menambah kekhusukan orang dalam beribadah. Bandingkan dengan gereja Katolik di Indonesia, paling tidak yang saya tahu di Semarang. Lampu, mike dan speaker, LCD proyektor, kipas angin (dan beberapa gereja pakai AC), laptop, organ, dll. Saya tahu bahwa itu semua tidak menjamin apakah orang bisa beribadah dengan “layak” atau tidak. Saya malah merasa lebih nyaman ke gereja di Jerman karena merasa bahwa ketika saya ke gereja saya berdoa, bukan untuk lihat presentasi power point.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa menjadi orang Katolik di sana lebih susah, daripada orang Islam -misalnya. Saya tahu betapa susahnya cari masjid. Salah satu bangunan yang menjadi landmark kota Dresden berbentuk menyerupai masjid, tapi ternyata itu adalah pabrik tembakau (yaelah..). Saya juga tidak ingin mengatakan bahwa lebih baik beribadah dengan sedikit teknologi, atau sebaliknya. Intinya : jadi orang beriman, beragama dan mau beribadah di luar negeri itu, walaupun lebih aman, tapi jangan harap mendapatkan gegap gempita dan keguyuban yang dirasakan seperti di Indonesia. Mungkin karena di sana agama bukan barang penting dan laku dijual seperti di sini. Dan sekali lagi I have no problem with that (berapa kali ya saya harus ngomong ini? Hehe..). Anyway, ini pengalaman saya tinggal di kota yang relatif kecil, mungkin dengan komunitas orang Indonesia yang lebih besar di kota lain atau negara lain, kondisinya akan berbeda. So Good Luck people!

in my bag

these are the things in my bag :

1. Dunia Sophie by Jostein Gaarder.

2. Notes buat nulis-nulis. Just in case I have something important pops out of my mind to make the world a better place. Haha.

3. Tempat pensil. I made it myself, lhoo…

4. Blackberry. Yes I am a loser. And it’s Bellagio baby! Indonesia, first in the world to launch!!

5. Rokok dan korek.

6. Lipbalm.

7. Dompet.

8. Kamus Jerman.

(saking nggak punya bahan untuk ditulis tapi pengen banget posting di blog)