Tourism and Its Contribution for the Community in Chinatown of Semarang

The Chinatown of Semarang, Indonesia is one great example where tourism and community try to work together to reveal and preserve the local heritage. The Chinese-Indonesian started to gain back their freedom of expressing their cultural identity in 1998, when the 32 years long dictatorship of Soeharto ended. As they became ‘free’, many Chinese cultural activities came back alive all over the country. It is now one of the main tourist destination in the city.

The Gate of Chinatown.(Dwirahmi Suryandari, 2010)

The Gate of Chinatown.(Dwirahmi Suryandari, 2010)

See Hoo Kiong is one of the main temple (Klenteng) in Sebandaran Street, Chinatown (Dwirahmi Suryandari 2013)

See Hoo Kiong is one of the main temple (Klenteng) in Sebandaran Street, Chinatown. (Dwirahmi Suryandari, 2013)

The Chinatown of Semarang comprises a large area of business center, housing, river, and is located side by side with other ethnic group settlements. When we enter this area, we will soon see how the dynamic of the community really helps bring out the character of this area. Even in normal days, there are always something happening there. People praying inside beautiful temples, selling goods in the market -which I and my mom visited regularly, traditional medicine shops serving their customers, or kids practicing the lion dance show. These -if we don’t want to call it non-artificial- are genuinely raised by the community.

The traditional market in China Town where people from different ethnic group meet and interact. (Dwirahmi Suryandari, 2012)

The traditional market in China Town where people from different ethnic group meet and interact. (Dwirahmi Suryandari, 2012)

Of course there are some organized efforts in order to add more values and enhance the quality of these cultural attractions, as well as to make sure that the community will benefit from this tourism activities . In 2003 an organisation called ‘Kopi Semawis’ (Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata – Chinatown Community of Semarang for Tourism) was founded. This organisation has been working since then creating many organized activities involving the local community of Chinatown. For example the festival during the Chinese New Year, exhibitions, book discussions, and approaching local government as well as private companies for financial and promotional support. This organisation is unique because it is not only composed by Chinese-Indonesian, but also people from other ethnic groups. This organisation has helped raising consciousness of the people living in Chinatown about their culture.

One of the 'Potehi' puppet master preparing for show. (Dwirahmi Suryandari, 2010)

One of the ‘Potehi’ puppet master preparing for show. (Dwirahmi Suryandari, 2010)

Consciousness of culture and also collective memory are very important. With that, the community will have sense of belonging of their heritage and work hand in hand to make sure that the values will not vanished through times. I think tourism can bring out the best of Chinatown. It makes the community realize more about the value of their identity and at the same time brings financial advantages. We can see now that many local food stalls, Chinese painting artists, puppet theater shows are more highly appreciated than before.

One of the ritual celebrated in the Chinese-Indonesian community, called King Hoo Ping. In this moment, the people pray for the soul of the death. This kind of ritual held by the community is also one big tourist attraction.

One of the ritual celebrated in the Chinese-Indonesian community, called King Hoo Ping. In this moment, the people pray for the soul of the death. This kind of ritual held by the community is also one big tourist attraction. (Dadang Pribadi, 2010)

There are many concerns about how tourism will bring disadvantages to the environment. But in the case if Chinatown of Semarang, I think tourism has triggered the community and government to make strategy for a better living quality in Chinatown. For example, how they could maintain the sanitation of the river. On top of all those things, I think tourism activities in Chinatown of Semarang has brought the inter-ethnicity dialogue in my city to a better stage. It means that tourism has benefited our local community in broader scope. And I am so proud about it.

 

Dwirahmi Suryandari

A passionate explorer and a student. Now living in Bonn, Germany.

Toen Djin Tong, Meramu Obat Lewat Syair

Prolog : sudah lama saya tidak menulis. Ketika saya akan mulai lagi, saya terjebak dalam keinginan untuk membuat tulisan yang keren, yang intelek, yang mengutip sana sini, dengan banyak referensi dan sebagainya. Akhirnya karena gagal, saya kembali lagi pada sebab awal saya suka menulis. Karena saya suka bercerita. Maka kali inipun saya akan melakukan pemanasan dengan bercerita. Silakan menyimak.

Suatu hari, ada seseorang yang mengirim pesan dengan memberi komentar pada salah satu tulisan saya di blog ini. Namanya Nanda, dia mahasiswi Bina Nusantara Jakarta yang sedang mengerjakan tugas akhir. Nanda kuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual, dan ingin membuat sebuah buku panduan wisata, dengan foto dan desain yang menarik, mengambil tema Pecinan Semarang. Saya senang, karena kebiasaan saya menulis tentang Pecinan ternyata membawa peluang ini : dia meminta saya menjadi copywriter dari buku tersebut. Setelah beberapa kali berkirim email, akhirnya kami melakukan riset bersama selama satu minggu di Pecinan. Entah kenapa, selalu saja ada hal yang menarik kaki saya kembali ke sana.

Sebelumnya kami berusaha memetakan apa dan bagaimana Pecinan Semarang akan dikemas dalam sebuah buku. Setelah beres, kami mulai menyusuri jalan dan gang di Pecinan, memotret dan mewawancarai narasumber. Walaupun ini bukan kali pertama saya melakukan riset di Pecinan, tapi saya selalu merasa akan menemukan hal baru. Semangat saya itu dan ketidakraguan saya untuk membuka percakapan dengan orang baru membuat salah satu teman saya yang lain berkata bahwa saya bisa jadi antropolog yang baik, daripada jadi lulusan HI yang tidak hafal berapa jumlah negara anggota ASEAN sekarang. Berapa sih? Tujuh? Delapan? Saya juga tidak tahu kalau Jerman itu punya presiden sebelum saya ke sana, bahkan saya selalu lupa : jadi Barrack Obama itu Republik atau Demokrat? Hehehe…

Kembali ke Pecinan. Selama satu minggu itu, ada beberapa orang baru yang belum pernah saya temui sebelumnya. Misalnya Pak Hengky pengurus kelenteng Wie Hwie Kiong merangkap peramal, Pak Heri pembuat barongsai, Tan Hay Ping perajin Bong Pay (nisan), dan Om Aming sinshe peracik obat. Selain itu, kami juga mengunjungi beberapa kelenteng, menyusuri pasar Gang Baru, dan saya punya misi pribadi. Saya ingin belajar tentang agama Buddha, atau ajaran Buddha. Saya lebih suka menyebutnya demikian. Maka di setiap kesempatan mengunjungi kelenteng, saya selalu bertanya tentang isi ajaran Buddha, misalnya reinkarnasi. Saya juga tertarik mempelajari dua ajaran lain yang masih dekat dengan Buddha yaitu Tao dan Kong Hu Chu.

Saya tidak membual, tapi panggilan untuk mempelajari ajaran ini muncul begitu saja. Beneran. Saya lupa mulai kapan, tapi yang jelas keinginan itu ada. Saya lebih tertarik mempelajari ajaran Buddha dalam bahasa aslinya, Bahasa Pali (Sansakerta) dan bukan yang sudah diterjemahkan ke Hokkian. Maka sayapun disarankan pergi ke wihara saja, karena hampir semua kelenteng sudah menggunakan kitab Buddha dalam bahasa Hokkian. Salah satu hal yang membuat saya makin jatuh cinta pada ajaran ini adalah keterbukaannya. Bukan hanya terbuka terhadap ajaran atau kepercayaan lain, tapi ajaran ini terbuka untuk dipertanyakan oleh pengikutnya. Bahkan penganut Buddha dianjurkan untuk selalu mempertanyakan ajaran-ajaran Buddha. Tidak boleh percaya begitu saja, katanya.

Dari beberapa ‘tokoh’ Pecinan yang saya sebut di atas, dalam tulisan kali ini saya akan membahas tentang Om Aming, shinse yang ahli meracik obat, tempat terakhir yang kami kunjungi sebelum Nanda kembali ke Jakarta. Om Aming membuka tokonya di Jalan Gang Warung 96. Toko obat sederhana itu bernama Toen Djin Tong atau Sumber Sehat yang sudah berdiri sejak tahun 1800an. Beliau belajar meracik obat di Shanghai selama 5 tahun demi meneruskan toko yang dirintis oleh leluhurnya ini. Sekolah keahlian khusus itu juga punya penjurusan seperti universitas. Diantaranya adalah akupuntur, pengobatan dan shinse. Di tokonya berjajar laci-laci kayu dalam rak yang menempel ke tembok. Di setiap laci tersebut tertulis nama obat dalam aksara Cina, yang tentunya hanya Om Aming dan Tuhan yang tahu apa artinya.

Begitu penasarannya saya akan isi laci itu sampai saya meminta Om Aming untuk mengeluarkan beberapa jumput rempah. Ada beberapa rempah yang cukup populer dan sering dipakai, antara lain Ma Wong, yang berfungsi untuk melancarkan napas. Lalu ada juga Pak Sok yang berkhasiat menghilangkan sakit di badan (mungkin maksudnya pegal-pegal), Sa Jin berguna untuk menyembuhkan maag dan tentu saja Ginseng (Shi Yang Sen), kayu manis dan bermacam-macam rempah lain. Satuan yang digunakan untuk menimbang rempah itu adalah Cie. Satu Cie sama dengan 4 gram. Di tokonya ada 300 macam lebih tanaman obat kering, tapi yang sering digunakan hanya 200an.

Sayapun meminta diracikkan obat diare. Dengan gesit Om Aming mengambil selembar kertas sampul buku coklat yang sudah digunting ukuran 30cmx30cm, mengguntingnya kecil-kecil, merebusnya dan meminta saya meminum air rebusannya. Hehe, enggak kok. Kertas itu ditaruhnya di atas meja kayu panjang, singgasananya meracik obat. Lalu ia membuka laci-laci di belakangnya. Ia pun mengambil rempah-rempah di laci tersebut sambil menyebut namanya satu persatu, “ Satu cie Wang Fung, satu cie Wang Yen, satu cie Pak Sok, satu cie Kayu Manis dan satu cie King Kay. King Kay ini untuk mengusir angin di badan,” saya dan Nanda manggut-manggut. Berasa sedang dalam satu scene film Kung Fu. Ramuan itupun dia berikan pada saya gratis. Dan maaf, Om, tapi sampai sekarang belum saya minum karena sebenarnya saya nggak diare.

Ada beberapa metode membeli obat di Shinse. Salah satunya adalah dengan mengaku-ngaku punya penyakit diare seperti saya tadi dan cara lain adalah dengan membawa Ciam Sie. Ciam Sie itu semacam resep, tapi bukan sembarang resep. Resep ini berisi syair Cina yang bisa didapat di kelenteng-kelenteng terdekat di kota anda. Jadi untuk mendapat Ciam Sie, seseorang yang sedang sakit harus sembayang dulu dengan membakar Hio, biasanya pada Poo Seng Tay Tee –salah satu Dewa Obat, untuk meminta kesembuhan. Setelah sembayang, langkah berikutnya ada mengocok tabung berisi bilah-bilah kayu tipis bernomor. Nanti yang keluar nomor berapa, langsung bisa dimintakan kertas Ciam Sie yang sesuai nomornya pada petugas kelenteng.

Kertas kecil itulah yang kemudian dibawa ke Shinse. Yang tertulis di situ masih dalam aksara Cina, dan kadang benar-benar hanya berisi syair saja, tanpa ada keterangan obatnya. Lalu bagaimana seorang Shinse bisa tau apa obat yang dibutuhkan? “ Itulah gunanya sekolah 5 tahun di Shanghai, nik,” kata Om Aming. Iya deh, Om. Om Aming berkata, bahwa belajar meracik ini tidak mudah, karena harus mempelajari banyak hal, salah satunya bahasa, syair dan budaya Cina. Maka ia berujar, sebenarnya bisa saja orang pribumi belajar meracik obat asal bisa bahasa Cina (entah Mandarin atau Hokkian?).

Beberapa hari sebelum mengunjungi toko Om Aming, saya sedang tenggelam dalam novel Dee terbaru berjudul Partikel. Novel tersebut bercerita bagaimana bumi telah memberikan banyak hal pada kita, dan bahwa kita adalah bagian dari alam. Kita manusia berbagi gen yang sama bahkan dengan tanaman jagung. Di novel itu juga diceritakan mengenai bermacam-macam tanaman yang bisa menimbulkan efek magis pada tubuh manusia. Bacalah buku itu, maka anda pasti akan merasa kecil. Bukan hanya di hadapan Tuhan, tapi di hadapan alam ini.
Mengunjungi Om Aming dan bermain-main dengan rempah-rempahnya, membuat saya yakin bahwa karena kita adalah bagian dari alam, maka jika ada yang salah dengan tubuh ini, bolehlah kita mencoba duduk bersama alam sambil menyeruput sedikit bagian darinya hangat-hangat.

Tan Eng Tiong Si Pelukis Kilat

Sudah cukup lama ternyata, saya tidak menulis catatan jalan-jalan saya di daerah Pecinan. Intensitas saya jalan-jalan di Pecinan dengan rekan-rekan dari BYAR Creative Industry memang sedikit berkurang karena kesibukan masing-masing (cie…gaya banget sih). Namun, sebelum saya menulis tentang penemuan saya yang baru di Pecinan beberapa waktu lalu, saya akan memperkenalkan anggota tim jalan-jalan kami yang baru, yaitu mas Dadang Pribadi dan Mas Khidir Marsanto. Mas Dadang yang jago fotografi inilah yang menyumbangkan foto-foto apiknya untuk artikel ini. Sementara Khidir Marsanto, walaupun tidak bisa ikut jalan-jalan karena tinggal di Jogja, tapi memberikan kontribusi yang sangat besar dalam mengedit tulisan untuk publikasi.

Pertama kali saya tahu tentang Pak Tan Eng Tiong adalah dari Bapak Eko, seorang tionghoa yang mencintai sejarah dan budaya, yang juga bekerja di Yayasan Rukun Kematian Tjie Lam Tjay. Saat itu, Pak Eko menunjukkan pada saya artikel di majalah China Town edisi Juli 2010 yang berjudul, Tan Eng Tiong, Pelukis Kilat Yang Sempat Minder Menjual Karyanya. Keesokan harinya saya langsung membeli majalah tersebut dan malamnya jalan-jalan ke Gang Warung, tempat Pak Tan Eng Tiong tinggal dan berkarya.

Rumah laki-laki itu sederhana saja, bentuknya tidak jauh beda dengan rumah-rumah di sebelahnya, khas Pecinan Semarang. Rumah toko dua lantai, dengan pintu besi dan sliding door. Pak Tan Eng Tiong langsung tersenyum ketika melihat saya mendekat. Dan seperti Pak Thio dan Pak Bambang, dia juga seorang yang ramah. Saya memulai pembicaraan dengan berkata bahwa saya membaca profilnya di majalah China Town. Wajah Pak Tan Eng Tiong langsung sumringah, “Kamsia…kamsia…“, katanya. Hal pertama yang saya perhatikan adalah bahwa Pak Tan Eng Tiong mengenakan kostum yang sama persis dengan yang ada di majalah China Town.

Sambil tetap duduk di meja kerjanya dan memegang kuas, Tan Eng Tiong mulai bercerita macam-macam. Sesekali dia berdiri untuk mengambil majalah-majalah yang pernah memuat cerita tentang dirinya. Saat itu, saya memang sengaja tidak terlalu banyak bertanya mengenai perjalanan hidup beliau. Saya lebih tertarik dengan gambar-gambar yang ada di sekitar area kerjanya. Tan Eng Tiong yang sudah melukis sejak belia ini pernah menggambar Dewa Kwan Kong diatas kain yang cukup besar pada tahun 1980. Sampai sekarang gambarnya masih ada dan awet. Tan Eng Tiong memiliki nama Indonesia, yaitu Suharto Martanto. I keep wondering why he chose the name Suharto for himself. Mungkin cuma kebetulan saja ya…kayaknya saya yang terlalu berpikir macam-macam.

Untuk membuat suasanya ngobrol menjadi semakin nyaman, saya memasan satu gambar. Sebuah gambar dua ikan lele (yang menurut saya adalah lele paling imut didunia) saya pilih dari sekian banyak gambar yang ditawarkan pak Eng Tiong. Lele mempunyai makna : setiap tahun pasti ada rejeki berlebih. Selain gambar, yang namanya chinese painting pasti dilengkapi dengan doa. Maka sayapun diminta untuk memilih satu kalimat doa dari sekitar 40an kalimat yang tersedia. “Ada permohonan pasti terkabul”, itulah kalimat yang menjadi pilihan saya.

Setelah itu, Eng Tiong bercerita soal murid-muridnya. Ya, Tan Eng Tiong memang menerima murid yang ingin belajar chinese painting dan kaligrafi. Dia menunjukkan foto dua orang muridnya. Yang saya kagum dari Eng Tiong, bapak ini cukup sadar arsip. Dia mendokumentasikan foto orang, majalah dan kliping koran yang berkaitan dengannya. Bahkan, ketika saya dan rekan BYAR Creative Industry mengunjunginya untuk kedua kali (esoknya), beliau mengambil gambar kami satu persatu. Hehehe…Oke, jadi untuk berguru di Eng Tiong, kita cukup membayar Rp. 50.000 per jam, kertas, alat dan bahan lainnya sudah disediakan oleh bapak yang juga membuka usaha agen penerbangan domestik ini.

Hasil Karya Eng Tiong (Dadang Pribadi,2010)

Keahlian Eng Tiong melukis cepat ini memang sangat mencengangkan. Dalam waktu 30 detik saja, beliau sudah bisa membuat seekor udang, kalau bambu bisa lebih cepat lagi. Sebelum saya pulang, beliau mendemonstrasikan bagaimana dia menggambar anak ayam dan kupu-kupu. Just like magic. Torehan tinta baknya bisa menjelma jadi ayam. Kelihatannya gampang sih, tapi saya yakin ketika saya mencoba pasti akan kesulitan. Saya berharap Pak Tan Eng Tiong ini punya penerus. Sebenarnya ada beberapa kelompok chinese painting dan kaligrafi di Semarang. Tapi ternyata sama saja, isinya adalah orang-orang yang sudah sepuh. Sangat sayang kalau kesenian ini tidak ada penerusnya. Padahal, selain seni, chinese painting juga mengandung unsur lain, yaitu budaya dan religi.

Tan Eng Tiong dan seragam khasnya (Dadang Pribadi,2010)

Jadi, jika anda berkesempatan untuk mengunjungi Waroeng Semawis, jangan lupa mampir ke rumah Eng Tiong, si pelukis kilat.

Saujana Potehi di Pecinan Semarang

oleh Anastasia Dwirahmi dan Khidir Marsanto P.*

Lazim bagi sebagian orang ketika berbicara tentang budaya Tionghoa di Indonesia, baik yang sifatnya campuran maupun murni, yang terbayang biasanya akan tertuju pada ihwal itu-itu saja, seperti perayaan Imlek (tahun baru Cina), kelenteng, atau tari Barongsai. Padahal, dalam tradisi Tionghoa di Nusantara masih banyak hal lain yang tak kalah menariknya untuk diungkap dan dipelajari.

Permisal saja, dalam aspek kesenian orang-orang Tionghoa memiliki seni lukis dengan tinta bak seperti Tan Eng Tiong di Semarang, kain batik kaligrafi dan pesisiran, seni dan teknologi makanan, seni musik seperti gambang kromong dengan senandung Kong Jilok dan Gutaypan-nya di tanah Betawi, wayang Potehi dan wayang Thithi (yang nyaris punah), keramik-keramik Tiongkok dan ornamen ukir-ukiran pada kayu, kerajinan lampion dan ‘rumah kertas’, dan sebagainya. Yang bila ditelisik lebih dalam kita bisa mengerti kayanya ragam kebudayaan Tionghoa yang tersebar di Nusantara.

Namun, dari deretan seni-budaya Tionghoa itu, tidak semuanya dapat lestari, dan beberapa dari mereka bahkan terancam punah karena tidak banyak yang dapat meneruskan eksistensi mereka –jika tidak mau dibilang tidak peduli. Nah, persoalan regenerasi menjadi penting dalam konteks ini. Tetapi, ini adalah hal lain yang akan diulas pada lain kesempatan.

Memang banyak hal yang membuat sebagian dari kesenian tradisi Tionghoa ini kurang dapat bernafas lebih panjang, dan inilah satu dari sekian keprihatinan kami. Satu hal yang kentara adalah soal minimnya pengetahuan kita tentang seni-tradisi orang-orang Tionghoa di Indonesia. Sebab itu, sekarang dan tanpa tenggat waktu, kami merasa perlu menelusuri, mengetahui, menanyakan-kembali, dan menyajikan hal-hal yang belum banyak disinggung dan terkuak (atau memang dilupakan) dari kebudayaan Tionghoa. Tak ketinggalan juga, di sini kami berupaya menampilkan dan mengenali tokoh-tokohnya (para pelaku).

Meskipun dengan segala keterbatasan kami dalam praktik dan pendanaan, kami tetap meyakini bahwa paling tidak, lewat “catatan jalan-jalan” rutin ini kami akan bisa menyajikan berbagai tulisan ringan tentang hal di atas. Sehingga, harapan tentang diseminasi informasi dan wacana mengenai ketionghoaan akan lebih terbaca luas. Kali ini, kita mencoba ‘memotret’ kembali wayang Potehi di Pecinan Semarang setelah dilarangnya hal-ihwal yang berbau Cina di Indonesia oleh Inpres No.14 Tahun 1967. Alasan lain, di mata kami masih sangat sedikit dari kita yang paham seluk-beluk wayang Potehi, begitu pula dengan diri kami sendiri.

Wayang Boneka Kain

Mengenai ihwal Potehi ini, selain hasil obrolan dengan kedua dalang Potehi sebagai narasumber, merupakan hasil pensarian kami dari beberapa bacaan yang didapat. Potehi, seperti dikatakan oleh sang dalang Thio Tiong Gie (yang akan diulas nanti), berasal dari Poo Tay Hie yang berarti wayang kain kantong. ‘Poo’ berarti kain, ‘tay’ adalah kantong, dan ‘hie’ merupakan wayang (Dwirahmi, 2010b; Mastuti, 2004; Nurhasim, 2009a). Wayang di sini bisa juga bermakna boneka, jika ‘wayang’ kita terjemahkan dari kata dalam bahasa Inggris, puppet.

Wayang Potehi, menurut catatan Mastuti (2004) dan Nurhasim (2009a), merupakan satu jenis wayang asli Tiongkok yang masih ada di Indonesia –kalau bukan satu-satunya– yang berbeda dengan wayang Thithi. Wayang Thithi lebih dianggap merupakan hasil dari proses pembauran dua kebudayaan, yakni paduan Jawa dan Cina, yang lahir dan (pernah) berkembang di Yogyakarta (lihat Lestari, 2005).

Karena itu, wayang Thithi juga dikenal sebagai wayang kulit Cina-Jawa. Namun, ada persamaan pada keduanya, yaitu fungsinya sebagai media hiburan, edukasi, kritik sosial, serta salah satu syarat ritual tertentu dalam masyarakat Tionghoa sebagai persembahan pada leluhur atau para dewa di kelenteng (Lestari, 2005; Mastuti, 2004).

Selain itu, pementasan wayang Potehi juga berlaku sebagai kaul, sebuah perayaan atau selamatan bagi kerabat yang telah sembuh dari sakit. Dari sini kita mengerti, bahwa budaya Tionghoa juga mengenal tradisi membayar janji ketika permohonan kita terkabul, mirip konsep ‘nazar’ dalam ajaran Islam.

Konon, dalam sejarahnya dan juga menurut penuturan dalang wayang kain kantung ini, Potehi diciptakan dari lima orang narapidana terhukum mati pada zaman dinasti Sang Tiau (Tsang Tian) masa pemerintahan raja Tioe Ong pada sekitar 3000 tahun silam. Kala itu, kondisi psikologis mereka pada titik nadir. Tanpa harapan. Mereka di penjara di kota Chuan Cu, provinsi Hokkian, Tiongkok (lihat Dwirahmi, 2010b; Mastuti, 2004; Nurhasim, 2009a).

Menjelang eksekusi, seorang dari mereka berupaya menghibur diri dengan cara memanfaatkan barang-barang yang ada di balik sel mereka. Ajakan ini direspon baik oleh empat yang lain. Dari balik bui itulah, mereka merancang satu pertunjukkan dan menyiapkan segala perlengkapannya, termasuk ‘alat musik’ seadanya. Yaitu, tangkai sapu bambu bekas (alat untuk mengatur aba-aba musik), pecahan kaca, tutup panci bekas (sebagai kecrek), baskom (sebagai gembreng/alat musik pukul), serta sapu tangan bekas / perca dan sobekan kain (untuk baju tokoh wayangnya) (Mastuti, 2004; Nurhasim, 2009a).

Akhirnya, mereka menggelar pementasan kecil-kecilan yang ternyata hal ini sampai ke telinga sang raja. Kemudian, mereka ditantang untuk pentas di hadapan raja dan akan mendapat imbalan terbebas dari hukuman bila sang raja merasa senang. Mendengar kesempatan ini, mereka merasa kudu memanfaatkan dengan baik. Lantas, mereka memutuskan untuk mengangkat lakon tentang raja Tioe Ong itu sendiri, dengan cara meriwayatkan kebaikan dan citra positif pada diri sang raja. Karena hal ini, maka mereka pun akhirnya terbebas dari hukuman.

Bagaimana dengan proses Potehi? Tata-laksana pementasan wayang Potehi biasanya dilakukan pada sore dan malam, masing-masing dua jam yakni pukul 15.00—17.00 dan 19.00—21.00. Dan, di tiap sesi pertunjukan menyajikan lakon yang berbeda. Misalnya, pada siang digelar lakon Sie Bing Kwie (Kuda Wasiat), dan malamnya mengangkat lakon Ngoho Peng See (Lima Harimau Sakti). Sementara, lakon lain yang juga sering dipentaskan adalah Poei Sie Giok, Loo Thong Sauw Pak, Hong Kiam Cun Ciu, dan lain sebagainya (Mastuti, 2004; Nurhasim, 2009a).

Dalam catatan sejarahnya di Indonesia, Potehi mulai dibawakan dalam bahasa Melayu (atau Indonesia) sejak awal abad ke-20 (Nurhasim, 2009a), artinya kira-kira dimulai sejak masa guru sang dalang Thio Tiong Gie itu (Dwirahmi, 2010b; Nurhasim, 2009a). Meski disajikan dalam bahasa Melayu, namun suluknya tetap dipertahankan dalam bahasa Cina Hokkian hingga kini. Menurut KBBI, Suluk merupakan nyanyian (tembang) dari sang dalang yang dilakukan saat memulai suatu adegan (babak) dalam sebuah pertunjukan wayang.

Meski sama-sama memiliki suluk, wayang Potehi tidak menampilkan goro-goro seperti dalam wayang purwa yang menghadirkan punakawan: semar, gareng, petruk, dan bagong. Yang ada dalam Potehi adalah munculnya tokoh mata-mata atau pembantu rumah tangga untuk mengundang gelak tawa penonton (Nurhasim, 2009a).

Kelompok wayang Potehi hanya terdiri dari beberapa orang saja, tidak seperti wayang purwa di Jawa yang sampai belasan orang. Paling tidak, dalam satu tim terdapat satu dalang, dan seorang asisten. Sementara, para pengiring musiknya hanya berjumlah tiga orang. Ketiga orang ini bertanggungjawab atas tujuh alat musik pengiring pertunjukan, yaitu gembreng besar (Toa Loo), gembreng kecil (Siauw Loo), rebab (Hian Na), kayu (Piak Ko), suling (Bien Siauw), gendang (Tong Ko), slompret (Thua Jwee).

Sebab itu, rata-rata setiap orang memainkan dua sampai tiga alat musik. Wayang ini dipentaskan dalam sebuah panggung, semacam box boneka yang tidak begitu besar. Sang dalang dan asisten berada di balik (dalam) panggung / kotak layar boneka tadi. Mereka tampil apa adanya, tanpa riasan dan kostum khusus. Beberapa pementasan lakon, kata Thio Tiong Gie, tidak akan bermakna jika tanpa penonton.

Potehi dan Sang Dalang

Penelusuran kami mengenai Potehi sebenarnya berangkat dari temuan beberapa judul artikel di media massa dan makalah seminar yang pernah mengulas tentang wayang ini di Pecinan Semarang. Juga sebagian dari ceritera teman-teman di sekitar kami.

Dari situ, kami lantas merasa perlu untuk melihatnya secara langsung, dan berbincang dengan mereka. Beberapa fakta yang kami dapati di lapangan adalah (1) dalang Potehi tidak banyak, sejauh ini kami hanya menemukan dua orang yang aktif di Pecinan Semarang, yaitu Bambang Sutrisno dan Thio Tiong Gie. (2) Usia mereka sudah tidak lagi muda, alias uzur. (3) Sulitnya mencari pengganti yang setara dengan dalang-dalang senior Potehi.

Ulasan di majalah Arti menjelaskan mengapa para dalang ini kesulitan mencari penggantinya, sehingga bisa dibilang Potehi mengalami krisis regenerasi (lihat Nurhasim, 2009a dan 2009b). Tentu saja bukan sembarang orang yang dapat menjadi penerus pedalangan Potehi secara baik, karena memang tidak gampang menjadi dalang Potehi yang harus hafal betul dan menghayati riwayat-riwayat lakon Tiongkok dalam wayang Potehi.

Serta, (4) apresiasi masyarakat terhadap Potehi tidak sebesar apresiasi kita pada kesenian tradisi yang lain, seperti wayang purwa dan ketoprak yang telah digubah sedemikian rupa, sehingga dapat masuk ke dalam tayangan komersial televisi swasta. Kondisi demikian, menurut kami tidak selalu pantas mendapat pemakluman-pemakluman, melainkan harus memutar otak supaya seni-tradisi ini tidak lenyap.

Terkadang, kami merasa berat berjalan menjelajahi Pecinan, lantaran cuaca kota Semarang yang relatif panas menyengat. Namun, hal itu nyatanya telah membawa kami tiga kali ke Pecinan untuk membidik informasi tentang wayang Potehi. Kendati baru sekali kami menyaksikan pertunjukkan wayang Potehi di pelataran Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, 22 Juni 2010 lalu, kami sudah tiga kali bertandang ke rumah masing-masing dalang Potehi. Nah, berikut ini ialah hasil kunjungan dan perbincangan kami dengan kedua dalang tersebut.

Bambang Sutrisno

Kami menemui Bambang Sutrisno (60 tahun) di kediamannya Jumat siang (02/07/2010) lalu. Ia merupakan salah satu sang dalang Wayang Potehi. Menuju ke rumahnya, kita hanya perlu menyusuri Gang Lombok. Di situ akan melewati Yayasan Kuncup Melati. Nampak juga di sepanjang jalan itu, seorang tukang kusen pintu.

Sampai di depan rumah Bambang Sutrisno, kami terhenyak sejenak dan bertanya,”Apa benar ini rumahnya?” Ya, di rumah kontrakan dua lantai berukuran sekitar 1,5 x 3 meter itulah satu legenda dalang Potehi tinggal. Beliau mengatakan kepada kami, bahwa ia tidur di ruang tamu tempat di mana kami di jamu. Bagian rumah ini sekaligus menjadi ruang keluarga, ruang makan, tempat menyimpan barang-barang berharganya, dan lain sebagainya.

Sementara, lantai dua difungsikan untuk menyimpan baju dan barang-barang lain yang tidak dapat ditaruh di lantai satu. Dua lantai rumahnya ini dihubungkan dengan tangga kayu yang nampak sudah rapuh. Sempit dan berjejalnya tempat berteduh Bambang Sutrisno dan keluarganya tidak memadamkan semangat melestarikan wayang yang sempat terkubur tiga dekade di bumi pertiwi ini.

Setelah berbasa-basi, lantas kami mengutarakan niat kedatangan kami. Beliau merespon dengan senang hati, dan segera menarik ‘brankas’ dokumen-dokumen penting beliau dari balik pintu rumah untuk ditunjukkan. Jangan dibayangkan brankas ini berbentuk lemari besi. Tidak. Brankas milik Bambang Sutrisno hanya berupa kardus mie instan.

Dalam kardus ini ternyata tersimpan koleksi buku-buku ceritera wayang milik Bambang Sutrisno. Dan, menariknya adalah, dari sebagian ceritera-ceritera dalam buku itu merupakan tulisan tangannya sendiri. Ia mengisahkan dari mana asal kumpulan ceritera yang ia tulisan dengan sangat rapi itu. ”Riwayat-riwayat dalam pewayangan ini saya peroleh dari Siauw Thian Hoo (gurunya),” begitu ia menjelaskan.

Di dalam kardus itu juga tampak beberapa komik jaman dahulu, seperti Kera Sakti, 5 Harimau Sakti, dan cerita pendekar Rajawali. Namun, kisah-kisah yang telah diubah ke dalam ceritera komik bagi Bambang Sutrisno tidak lagi dapat dijadikan acuan mementaskan Potehi (Dwirahmi, 2010a).

Karenanya, ia lebih mantap jika berpedoman dengan kisah-kisah dalam catatan-catatan bukunya sendiri. Selain itu, yang menarik dari isi kardus itu adalah sehelai baju wayang berwarna merah dengan motif bunga keemasan, berkerah hijau. Baju boneka usang dan mripili (hampir rontok) itu merupakan kenang-kenangan pemberian gurunya.

Ada pula kumpulan Surat Jalan miliknya beserta sang isteri (yang telah mendahului Bambang Sutrisno sekitar empat tahun silam) yang digunakan untuk bepergian ke luar kota saat ia dan rombongan kelompok keseniannya hendak mementaskan Potehi di masa pemerintahan Orde Baru (Dwirahmi, 2010a). Surat Jalan ini dikeluarkan oleh pemerintah sebagai penanda bahwa si pembawa surat tidak terlibat dalam partai terlarang dan tragedi kudeta militer pada 30 September 1965, yang kita kenal sebagai G-30-S.

Pelbagai kenangan di masa lalu, dan kesendiriannya kini membuat Bambang Sutrisno tidak lagi merasa perlu menyimpan buku-buku kisah pewayangan Tiongkok dalam kardus itu. Lantas, sembari memasukkan buku-buku itu ke dalam kardus, ia pun berujar, “nanti setelah saya salin akan saya bakar saja.” Perasaan iba kami muncul mendengar pernyataan itu dari sang dalang.

Namun, kami berupaya mencegahnya. Akhirnya, niat Bambang urung karena kami meyakinkannya untuk menyerahkan kepada kami saja agar dirawat sebaik mungkin. Dan, ia menjanjikan menyerahkannya setelah pementasan Sam Poo besar pada 7 – 8 Agustus 2010 di Semarang.

Thio Tiong Gie

Di suatu siang (06/07/2010), setelah menyeruput semangkuk wedang tahu hangat (berbahan air jahe yang dipadu dengan saripati kedelai) dari penjaja wedang panggulan, kami bergegas menuju Gang Pinggir untuk menjumpai dalang Potehi yang cukup legendaris dan sering muncul di media massa, Thio Tiong Gie atau Teguh Chandra Irawan.

Nama ini sesungguhnya merupakan pilihan terakhir dalam daftar penelusuran kami tentang budaya peranakan Semarang, lantaran prioritas kami ialah mengungkap hal-hal di Pecinan Semarang yang masih jarang terdengar orang banyak. Namun, nasib kami siang itu berkata lain, yang membuat keputusan kami justru menuju ke rumah dalang Thio Tiong Gie. Kediaman Thio Tiong Gie berada di Kampung Pesantren, Kelurahan Purwodinatan.

Thio Tiong Gie (73 tahun) merupakan pria kelahiran Demak pada 1933. Dilahirkan dari keluarga pedagang kain pemilik toko kain sederhana, Tiong Gie muda saat itu membantu usaha sang ayah, Thio Thian Soe. Ketika Perang Dunia II pecah dan Jepang menguasai Indonesia pada 1942, rumah beserta usaha keluarganya sebagai penopang hidup dirampok dan Thio Thian Soe sempat dipenjara entah karena alasan apa. Kemudian, ia dan keluarganya hijrah ke Semarang, sebab dianggap sebagai salah satu kota yang aman.

Hidup di kota besar seperti Semarang ternyata tidak mudah bagi keluarga Thio Thian Soe. Saat itu, Thio Tiong Gie masih berusia belasan tahun. Ayah Thio Tiong Gie membuka usaha baru, yaitu menjual makanan kecil (kue basah). Untuk mengemas kue basahnya tersebut, ayah Thio menggunakan koran bekas yang belinya secara kiloan.

Suatu kali, dalam satu ikat koran yang beliau beli, terselip buku cerita Tiongkok berjudul She Jin Kwee Cing Tse yang bukunya masih terjaga dengan baik hingga sekarang (Dwirahmi, 2010b). Sumber lain mengatakan judul buku itu Cu Hun Thay Cu Cao Kok (Putera Mahkota Cu Hun Melarikan Diri) (Nurhasim, 2009a).

Thio muda membawa buku itu ke mana-mana dan membacanya hingga khatam. Lama-lama dia jatuh cinta pada cerita itu. Kisah She Jin Kwee Cing Tse ini sudah diterbitkan versi Jawanya dan ditampilkan oleh banyak kelompok ketoprak di Yogyakarta yang dikenal dengan kisah Joko Sudiro.

Thio muda sangat suka menyambangi pagelaran wayang Potehi, sampai-sampai ia jatuh hati pada wayang kain kantung ini, yang saat itu masih disampaikan dalam bahasa Hokkian campur Melayu. Karena seringnya menonton, Thio muda lantas disarankan untuk belajar mendalang oleh sang pemilik wayang Potehi, Oei Sing Twie.

Hanya dengan memerhatikan dalang Potehi kala pentas selama bertahun-tahun ia dapat mencerap bagaimana cara mendalang, hingga akhirnya dalang muda pengagum Soekarno dan R.A. Kartini ini mendapat kesempatan pada usia 27 tahun (1960) untuk manggung di Cianjur. Ajakan sang guru membuka jalan baru bagi hidup Thio. Lakon pertama yang dibawakan ialah cerita She Jin Kwee Cing Tse dalam bukunya tadi. Inilah cikal-bakal Thio menjadi dalang Potehi.

Saat kami menjumpainya, kami menjadi lebih banyak tahu dari apa yang telah kami baca dan dengar tentang sosok Thio. Bahwa, penguasaan Thio Tiong Gie terhadap wayang tidak hanya sebatas pada Potehi, namun juga wayang purwa (kulit) Jawa. Ia mengatraksikan kebolehannya dalam hal perbedaan suluk wayang Jawa dan wayang Cina.

Suluk dilantunkannya dengan suara yang ngebas dan lantang. Secara bergantian, setelah suluk wayang Jawa, lalu suluk wayang Cina. Menakjubkan, karena pria berdarah Tionghoa ini sangat fasih dalam suluk wayang Jawa, sekilas persis seperti dalang wayang kulit kawakan.

Banyak kisah yang keluar dari mulut dalang Thio ini, gaya berceriteranya penuh semangat, enerjik, dan mungkin karena ini semua kisah menjadi lebih menarik. Pun, kisah-kisah pribadinya. Dalang berwajah sangar namun sungguh ramah dan santun ketika menerima tamu ini, kini masih membuka usaha bengkel las “Bintara” yang ia buka tatkala pemerintah Orde Baru mengebiri segala aktivitas barbau budaya Tionghoa sekitar 30 tahun silam. Sikap dalang Thio yang seperti ini meruntuhkan stereotipe orang awam yang bilang bahwa orang-orang Tionghoa itu tertutup dan kurang ramah (Dwirahmi, 2010b).

Kini, di usianya yang senja, selain kemampuannya mempertunjukkan berbagai ceritera asli Tiongkok dalam pentas wayang Potehi, Thio Tiong Gie masih memiliki daya ingat yang luar biasa, sehingga sosoknya yang karismatik di mata banyak orang ini pantas menjadi narasumber bagi kita yang ingin tahu tentang budaya Tionghoa. Sebab itu, tak salah bila predikat penjaga tradisi, pendeta, budayawan, seniman, hingga sejarawan disematkan padanya. Saat kami bertamu, ia mengatakan,”selagi saya masih hidup, biar saya ceritakan sejarah raja-raja Nusantara dan juga Soekarno.”

Sukarno? Ya, dalam benak Thio hanya ada dua pemimpin dunia yang tak tergantikan, yakni salah satunya Soekarno. Kekagumannya akan Soekarno nampak di ruang tamu tempat kami berbincang, ada gambar Soekarno yang cukup besar tertempel di salah satu sudut dinding rumahnya. Ada kisah menarik di balik gambar Soekarno itu.

Gambar itu pernah dibungkus kertas, kerdus, sabut kelapa dan sebagainya, lantas dikubur di bawah pohon jeruk (yang kini telah berganti menjadi pohon belimbing) di halaman rumah oleh Thio selama 32 tahun! Ini ia lakukan lantaran perasaan ketakutan pada rezim Soeharto dan kecintaannya pada Soekarno bercampur-baur saat itu. “Siapa yang berani masang foto Bung Karno pada saat itu? Tidak ada!” katanya berapi-api kepada kami.

Apa yang terurai di atas sesungguhnya masih berupa pembacaan awal, yang akan terus didalami. Salam Pecinan. []

*Anastasia Dwirahmi adalah alumnus Masters of World Heritage Studies, BTU Cottbus, Jerman sementara Khidir Marsanto P. merupakan peneliti sosial-budaya Parikesit Institut, alumnus Antropologi UGM.

Referensi

Dwirahmi, A. 2010a. Bukan Sekedar Potehi. Catatan perjalanan diunduh dari: https://anastasiadwirahmi.wordpress.com/2010/07/03/bambang-sutrisno-babak-pertama/.

__________. 2010b. Bambang Sutrisno. Catatan perjalanan diunduh dari: https://anastasiadwirahmi.wordpress.com/2010/07/07/bukan-sekedar-potehi/.

Lestari, N. 2005. Dari Wayang Potehi ke Wayang Thithi: suatu kajian historis seni pertunjukan wayang Potehi di Semarang dan Perkembangannya. Makalah seminar “600 tahun Kedatangan Laksamana Cheng Ho”, 2 Agustus di Semarang.

Mastuti, D.W.R. 2004. Wayang Cina di Jawa Sebagai Wujud Akulturasi Budaya dan Perekat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Makalah seminar naskah kuno Nusantara “Naskah Kuno Sebagai perekat Negara Kesatuan Republik Indonesia” di PNRI, Jakarta 12 Oktober.

Nurhasim, A. 2009a. “Warisan Wayang Tiongkok,” Majalah arti, edisi 021, November. hlm. 83-87.

__________. 2009b. “Setelah Diskriminasi, Kini Krisis Datang,” Majalah arti, edisi 021, November. hlm. 92-93.

Suara Merdeka. 2010a. “Para Penjaga Budaya Tionghoa (1): Lestarikan Tradisi lewat Inovasi Batik Kaligrafi.” 12 Februari.

Suara Merdeka. 2010b. “Para Penjaga Budaya Tionghoa (2): Tjan ID dan Thio Tiong Gie berpayah-payah siapkan pengganti”. 13 Februari.

Sumber Foto: Anastasia Dwirahmi, Dadang Pribadi, dan Tim Riset Byar C.I.

Ong Bing Hok dan Rumah Kertas

Bila sedikit menilik ke belakang, perjalanan pertama kami –di suatu hari sekitar Mei 2010– sesungguhnya diawali dengan menyambangi tempat pembuatan rumah kertas milik Ong Bing Hok di Gang Cilik, Pecinan Semarang. Namun, ketika itu kami belum mempublikasikan catatan mengenai seluk-beluk rumah kertas, tempat pembuatan rumah kertas, ritual pembakarannya, hingga empunya rumah kertas pak Ong Bing Hok untuk diketahui lebih jauh. Kini, kami kembali lagi ke sana untuk memberikan informasi tentang hal itu.

Seorang Pekerja di Bengkel Rumah Kertas Ong Bing Hok

Rumah kertas merupakan satu dari sekian banyak media yang dipakai dalam upacara tradisional masyarakat Tionghoa untuk memberikan penghormatan pada leluhur mereka. Rumah kertas ini nantinya akan dibakar saat peringatan kematian/meninggalnya kerabat atau pendahulu mereka. Dalam upacara ini juga digunakan tata-cara perhitungan hari seperti halnya pada masyarakat Jawa, seperti tiga hari, tujuh hari dan yang agak berbeda, 49 hari. Pada hari ke 49 ini dipercaya arwah leluhur sudah naik ke kahyangan. Nantinya, abu hasil pembakaran rumah kertas tadi dilarung di laut, sebagai wujud kesempurnaan pengiriman rumah pada leluhur. Hal ini dapat kita saksikan pada komunitas-komunitas Tionghoa di kota-kota pesisir utara Jawa pada umumnya.

Tentang Ong Bing Hok sendiri, sang pengrajin rumah kertas, adalah generasi keempat di keluarganya sebagai pembuat/pengrajin rumah kertas. Kakek-buyutnya, atau generasi pertama dari silsilah keluarga Ong Bing Hok masih asli Tiongkok. Menariknya di sini adalah hingga sekarang, Ong Bing Hok masih bertahan dan tetap melestarikan tradisi leluhurnya, meski (hanya) melalui usaha pembuatan rumah kertas ini. “ Karena ini hal yang mulia untuk dilakukan ,” demikian penuturan Ong Bing Hok.

Ong Bing Hok dan keluarga besarnya melalui banyak periode sejarah Indonesia dimana orang Tionghoa kerap kali mendapat perlakuan yang tidak adil. Salah satunya saat terjadi huru-hara pada 1965, Bing Hok menyaksikan sendiri bagaimana banyak temannya yang kabur ke Tiongkok. Namun tidak seperti kawan-kawannya, ia sendiri memilih untuk tetap tinggal di Indonesia, karena saat itu menurutnya kondisi politik di Tiongkok juga sama tidak stabilnya dengan Indonesia. Karena peristiwa di 1965 itu pula, Bing Hok terpaksa keluar dari Tiong Hwa Hwee Kwan (sekolah berbahasa Cina) yang ditutup oleh pemerintah.

Salah satu sudut rumah Bing Hok

Sore itu, ketika kami berkunjung ke rumahnya, Ong Bing Hok sedang menggarap sebuah rumah kertas pesanan yang akan dibakar keesokan harinya. ‘Bengkel’nya nampak sederhana, hanya memanfaatkan sisa ruangan bagian depan rumahnya. Di ruangan itu, nampak berbagai peralatan kerja dan bahan-bahan membuat rumah kertas. Sementara, di langit-langit rumahnya digantung beberapa pernak-pernik pelengkap rumah kertas seperti koper, pengawal, dewa-dewa, tandu, dan gudang. Semuanya, tentu saja, terbuat dari kertas juga.

Pernik tersebut juga merupakan syarat dalam proses pembakaran. Karena tanpa berbagai pernik itu, diyakini rumah tidak akan terkirim dengan sempurna ke alam baka. Satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan adalah ‘sertifikat rumah’ yang berisi nama si pengirim dan penerima. Semuanya ditulis dengan menggunakan bahasa dan aksara Hokkian. Namun, ada kekhawatiran bahwa ketiadaan generasi penerus yang mampu berbahasa Hokkian inilah yang dapat mengancam keberlangsungan usaha turun-temurun ini.

Bing Hok mengatakan, bahwa saat ini hanya ada sedikit pembuat rumah kertas di Semarang. Jika ada pun, toh tidak semua dari mereka memahami betul bagaimana tata-aturan tradisi yang benar dalam membuat dan menyajikan rumah kertas dalam ritual sembahyangan. Dalam hal ini, Bing Hok tidak hanya mahir membuat rumah-rumahan beserta isinya, melainkan juga mampu membuat perlengkapan upacara lain seperti lian, too wi, teng-tengan, dan lain-lain.

Selepas menyambangi kediamaan Ong Bing Hok, kami mencoba untuk mencari informasi mengenai ritual bakar rumah kertas. Dari penuturan Bing Hok, membakar rumah kertas adalah tradisi penganut Kong Hu Chu. Namun dari beberapa artikel yang kami temukan, tradisi ini justru berasal dari seorang kaisar China beragama Budha. Walaupun tidak serta merta juga bisa dikatakan ini adalah tradisi Budha (karena memang bukan). Sebenarnya, menghormati leluhur memang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Cina, sehingga apapun agamanya, mereka kebanyakan masih menjalankan tradisi ini.

Pembakaran rumah kertas, peringatan 49 hari, di Vihara Tanah Putih Semarang - 27 Mei 2010

Hal ini kami buktikan sendiri keesokan harinya, ketika mengikuti jejak rumah kertas yang dirakit oleh Bing Hok sampai ke Vihara Tanah Putih, Semarang, tempat dimana rumah kertas itu akan dibakar. Rumah kertas itu ternyata akan dipersembahkan kepada seorang almarhum oma beragama Katolik oleh cucunya yang beragama Islam. Hal tersebut membuat kami menjadi lebih paham akan perpaduan agama, tradisi, budaya dan kehidupan manusia yang terlalu rumit untuk dikotak-kotakkan berdasarkan satu identitas saja.

Penelusuran kami akan Bing Hok dan rumah kertas belum selesai. Kelak, kami akan kembali ke sana dan akan berusaha menuliskan lagi hasil ‘blusukan’ kami di Gang Cilik, yang memang ‘cilik’ itu.

Pecinan, Semarang Juli 2010



Bukan Sekedar Potehi

Saya belum menyerah. Saya ingat pernah menuliskan kalimat itu pada status facebook pribadi saya beberapa waktu yang lalu. Dan memang sampai saat ini, saya masih belum menyerah untuk menjelajahi pecinan, mencari dan mempelajari budaya tionghoa. Maka siang itu, saya berjalan menyusuri gang pinggir, lalu belok ke kiri setelah jembatan. Dan kembali sampai di Tay Kak Sie. Mas Ridho sudah datang rupanya. Hehe…kali ini saya bukan yang pertama.

Wedang, Pencarian, dan Penemuan

Jalan-jalan hari itu dibuka dengan semangkuk wedang tahu yang hangat dan sebatang rokok. Wedang tahu ini bukan sembarang wedang tahu. Entah saya yang sudah fanatik sama pecinan atau gimana, saya merasa, kalau untuk urusan perwedangan, pecinan Semarang nggak ada lawannya. Kalau wedang tahu ini, dijualnya kebanyakan siang hari.

Anehnya, walaupun diminum siang hari, wedang tahu yang hanya berisi air jahe dan sari pati kedelai ini tetap menyegarkan. Padahal kan, jahe panas dan banyak orang yang bilang lebih cocok diminum malam hari. Wedang tahu dijajakan dengan dipanggul oleh pak penjualnya. Sebilah kayu panjang yang kedua sisinya diganduli tangki besar berisi wedang, mangkuk, sendok dan lainnya ( I know there should be a word to call that thing, tapi saya nggak tau). Rasanya nano nano ada pahit, manis dan pedas. Harganya 4000 saja semangkuk. Nyam..

Inilah si Wedang Tahu 🙂

Wedang lainnya? Ada..namanya Tjap Kaw King. Jualan malam hari, di Jalan Wotgandul. Biasanya kalau habis makan Mie Hap Kie, saya langsung have dessert di sini. Hehe…dan langsung kekenyangan luar biasa. Di sinilah dijual wedang ronde, wedang kacang, wedang roti, wedang kacang hijau, dan lainnya. Nggak ada yang menandingi. Wedang ronde gerobak di sekitar Tugu Jogja? Kalah deh…(maaf ya, yang orang Jogja).

Jadi, cukup sekian dulu soal perwedangan. Saya janji akan membicarakannya lain kali, karena nama Tjap Kaw King sendiri sudah mengandung nuansa sejarah tionghoa di Semarang. Apa itu? Penasaran kan? I’ll keep it for next time.

Setelah Mas Candra dan Mas Singgih beserta pacarnya datang, kami langsung bergerak. Agak bingung juga saat itu, mau kemana ya? Karena Pak Bambang sedang pentas di Jakarta. Hm…hm…setelah Mas Candra membuka catatannya, dia mengusulkan bagaimana kalau ke toko obat cina. Akhirnya kami berusaha mencari. Lokasinya Pekojan – Gang Warung –Gang Pinggir.

Hasilnya? NIHIL. Setelah memasuki beberapa toko obat dan menanyakan kesediaan beliau-beliau itu untuk diwawancara, kami tidak mendapatkan respon positif. Belakangan, kami tau alasannya. Mereka takut rahasia ramuan mereka tersebar luas. Oalahh…iya deh maklum. Diam-diam saya tetap penasaran dan akan mencari cara untuk mendekati mereka.

Tapi ada beberapa hal yang kami dapatkan, pertama, toko-toko obat tersebut tidak menerima resep dokter. Mereka hanya menerima resep dari shinse atau dari kelenteng. Yang kedua, toko Ngo Hok Tong adalah toko obat tertua. Kini namanya Panca Jaya. Ketiga, siapa bilang obat yang bukan resep dokter harganya murah. Mahal cing! Tadi saya sempat menguping pembicaraan seorang pembeli dan pramuniaga toko. Harganya ratusan ribu lah obatnya.

Karena kami pantang menyerah, akhirnya kami berusaha mencari objek lain untuk dijelajahi. Saya punya satu nama. Thio Tiong Gie. Namun, dari awal saya sudah menetapkan beliau sebagai pilihan terakhir. Kenapa? Pikir saya, Thio Tiong Gie sudah banyak diungkap. Pernah dimuat di beberapa surat kabar nasional, dan namanya sudah cukup terkenal di Semarang. Misi saya kan mencari-cari mereka yang belum terungkap keberadaannya. Tapi karena saat itu tidak ada pilihan lain maka ya sudah, ke tempat Pak Thio saja. Saya sudah browsing soal dia dan mendapatkan alamatnya di kampung pesantren, kelurahan Purwodinatan.

Masuk ke jalan Petudungan, kami bertanya pada sebuah bengkel las bernama Bintara. Bengkel itu adalah kepunyaan Pak Thio (saya tahu ini dari hasil browsing juga). Saat saya numpang tanya disana, yang menjawab adalah anak-anak beliau yang ramah-ramah. Kata mereka, “oh, papah lagi mimpin sembahyangan.” Tapi tidak lama kemudian Pak Thio lewat dengan dibonceng motor oleh cucu perempuannya. Kami langsung membuntuti motor itu. Tidak seberapa jauh ternyata.

Kami disambut oleh Liong yang lagi ngintip ini.

Saat saya browsing, saya membaca sebuah artikel yang menulis bahwa Thio adalah orang yang ramah. Batinku, “masa sih? Wajahnya angker begitu.” Ternyata, beliau dan semua yang tinggal di rumah beliau sangat baik dan murah senyum. Saya jadi merasa berdosa masih menyisakan stereotip bahwa orang tionghoa itu ketus-ketus dan tertutup.

Ketika kami menyampaikan maksud kami untuk mewawancara beliau soal potehi, tanggapan Pak Thio adalah, “kenapa kalau ngomong budaya kok hanya potehi? Padahal masih banyak yang harus diketahui orang selain potehi.” Kami semua manggut-manggut setuju. Lalu, mulai berceritalah Pak Thio. Awalnya memang tentang potehi.

Riwajat Thiong Gie dan Potehi

Pak Thio Tiong Gie asli Demak, lahir pada tahun 1933, ia pindah ke Semarang  pada tahun 1942 ketika Jepang masuk ke Indonesia. Saat itu terjadi huru hara besar dimana-mana karena pergantian kekuasaan. Dan salah satu tempat yang paling aman adalah Semarang. Akhirnya keluarga Thio hijrah ke Semarang dan meninggalkan rumah serta toko kain milik keluarga di Demak yang sudah habis dirampok.

Sesampainya di Semarang, ayah Thio membuka usaha baru, yaitu menjual makanan kecil (kue basah). Untuk mengemas kue basahnya tersebut, ayah Thio menggunakan koran bekas yang belinya kiloan. Nah, suatu kali dalam satu ikat koran yang beliau beli, terselip buku cerita Tiongkok berjudul She Jin Kwee Cing Tse. Thio yang saat itu masih kecil membawa buku itu kemana-mana dan membacanya. Lama-lama dia jatuh cinta pada cerita itu. Kisah She Jin Kwee Cing Tse ini sudah ada versi Jawanya dan ditampilkan oleh banyak kelompok ketoprak di Jogjakarta yang dikenal dengan Kisah Joko Sudiro. Thio kecil juga suka nonton wayang potehi, yang saat itu masih disampaikan dalam bahasa Hokkian campur Melayu.

Ketika Thio berumur 27 tahun, ia diajak oleh seorang dalang untuk manggung di Cianjur. Cerita yang pertama kali dia bawakan adalah cerita She Jin Kwee tadi, dan jangan salah…beliau masih menyimpan bukunya hingga sekarang. Yah…paling tidak, begitulah kira-kira awalnya bagaimana Thio Tiong Gie menjadi dalang wayang potehi. Tapi, apakah dia hanya pantas dilabeli dalang potehi saja?

Ternyata tidak! Wah, bakal terpesona deh sama bapak yang satu ini. Dari kemampuan mendalangnya saja sudah sangat hebat, suaranya ngebas dan lantang. Lalu, yang bikin saya melongo adalah ketika beliau mempraktekkan perbedaan antara suluk wayang cina dan wayang jawa. Ketika Pak Thio mencoba untuk menunjukkan bagaimana suluk wayang jawa itu…wow…saya sampai merinding. Persis seperti dalang wayang kulit kawakan. Kalau hanya mendengar suaranya tanpa melihat orangnya, kita tidak akan menyangkan kalau dia orang tionghoa.

Itu melongo yang pertama. Yang kedua, adalah saat beliau bercerita mengenai sejarah bagaimana wayang potehi diciptakan. Wayang potehi berusia lebih dari 3000 tahun, dan ternyata lahir dari balik teralis penjara. Kadang saya merasa, Pak Thio ini suka trans sendiri kalo lagi cerita, jadi gaya bercerita dia mirip sama gaya dia mendalang (walaupun saya belum pernah liat dia ndalang). Intinya, Pak Thio serius dan sangat menghayati setiap ceritanya. Nah, ketika beliau bercerita mengenai sejarah wayang potehi, Thio mengelurkan sapu tangan dari kantongnya, mengikat di sini dan di situ, lalu…voila! Jadilah ‘replika’ wayang potehi dari sapu tangan beliau.

Raja-Raja, Soekarno dan Sejarah

Lalu, hal terakhir yang ingin saya sampaikan disini adalah (karena sebenarnya masih banyak hal yang perlu saya tuliskan soal dia, tapi lain kali ya), Thio Tiong Gie is not just a potehi master, dia juga sejarawan, budayawan, pendeta, penjaga tradisi dan lain-lainnya. Di usianya yang sudah senja ini, beliau masih sangat bersemangat berbagi cerita soal apapun. Termasuk dua hal ini : Sejarah raja-raja Nusantara dan Soekarno, “mumpung saya masih hidup.” Gitu sih katanya. Yang mau tau soal sejarah kerajaan tapi bosen dengerin guru sejarah atau dosen di kelas, dateng ke rumah Pak Thio. Dijamin nggak ngantuk. Hehe..

Soekarno? Ya, Soekarno. Pak Thio ngefans berat sama si Bung satu ini. Beliau bilang, ada dua pemimpin dunia yang tak tergantikan, yaitu Soekarno dan Hitler (saya no comment deh soal Hitler). Di ruang tamu tempat kami berbincang, ada gambar Soekarno yang cukup besar. Mas Ridho langsung nanya, “ngefans sama Bung Karno ya Pak?”

Pak Thio mengangguk. Tapi, bukan kisah ngefansnya yang membuat saya lagi-lagi melongo. Namun kisah dibalik gambar Soekarno itu. Percaya nggak, gambar itu pernah dikubur sama Pak Thio selama 32 tahun! Jadi gambar itu dibungkus kertas, kerdus, sabut kelapa, trus apa lagi ya? Pokoknya supaya awet dan nggak rusak kena hujan atau panas. Lalu, setelah dibuntel, gambar itu dipendem di bawah pohon jeruk yang terletak di depan rumahnya. Kini, pohon jeruk itu udah ganti jadi pohon belimbing. Tapi tempat dia mengubur gambar itu masih ada. Ini sempat saya foto.

Semua itu karena Pak Thio takut pada rezim Soeharto dan kroni-kroninya. Sehingga dia menyembunyikan gambar “sang penyambung lidah rakyat” (kata Pak Thio nih, mengutip tulisan di nisan Bung Karno) di bawah pohon, lebih dari 3 dasawarsa. Selain melongo, saya juga merinding. HEBAT!!! “Siapa yang berani masang foto Bung Karno pada saat itu? Tidak ada!” katanya berapi-api.

See the Bung Karno picture up there? Itulah gambar yang beliau sembunyikan selama 32 tahun.

Pak Thio bilang, ada satu tokoh lagi yang dia pengen pasang fotonya tapi belum kesampean. Siapa? Hayo siapa….Kwan Im? Yesus? Confusius? Bunda Maria? Megawati? Bukan…Jawabannya adalah : R.A. Kartini sodara-sodara. Beliau bilang, jika ada ukuran foto R.A. Kartini yang sebesar ukuran gambar Bung Karno yang dia punya, dia mau beli lalu dipasang berdampingan…(Mas Candra atau Mas Singgih tertarik menggambar R.A. Kartini? Hehehe..keren lho).

Setelah ngobrol sampai kemana-mana, akhirnya kami permisi pulang. Sepertinya Pak Thio juga perlu istirahat karena dia hari itu baru sampai rumah setelah manggung di Sukabumi selama 2 bulan. Sebelum pulang, saya bertanya, “boleh mampir lagi kan, Pak?” Pak Thio tersenyum, “boleh, mumpung saya masih hidup.” Saya nyengir. Ah, bapak ini bikin deg-degan aja.

Cerita berikutnya adalah soal Tjie Lam Tjay. Tunggu ya! 🙂

Bambang Sutrisno – Babak Pertama

Hari Jumat tanggal 2 Juli 2010, saya bersama Mas Ridho dan Mas Candra dari BYAR Creative Industry kembali mengunjungi pecinan. Kali ini, kami akan mencari rumah Pak Bambang Sutrisno, sang dalang Wayang Potehi. Ini adalah kali kedua setelah perjumpaan pertama saya dengan Pak Bambang ketika beliau sedang mempersiapkan pentas Wayang Potehi di depan Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok pada 22 Juni 2010 — yang saat itu saya dan Mas Candra secara tidak sengaja menjumpai kelompok seni tradisi ini di Pecinan Semarang.

Seperti dalam jalan-jalan sebelumnya, saya selalu sampai di Pecinan lebih dulu. Untungnya saja saya membawa majalah National Geographic yang baru, jadinya nggak bosen nunggu. Selama menunggu, saya sempat clingak-clinguk di “rumah abu” Yayasan Tjie Lam Tjay yang persis bersebelahan dengan Kelenteng Tay Kak Sie. Saya lihat di sana ada yang sedang menyiapkan sembahyangan bakar rumah kertas (sayangnya saya lupa namanya apa). Karena saya selalu ragu untuk masuk ke Rumah Abu itu (alasannya logis dan tidak logis. Hehehe… yang logis adalah, saya takut menganggu orang yang sedang sembahyang. Sementara yang tidak logis, saya merasa suasana di situ singup. Hihihi…), maka saya memutuskan untuk menunggu di bangku merah panjang yang ada di depan Pujasera Tay Kak Sie, sambil baca-baca majalah tadi.

Bambang Sutrisno, saat menerima kami di kediamannya

Lalu… lalu… setelah Mas Candra datang, kira-kira 45 menit menunggu tadi, sekitar pukul 13.30, dia langsung bertanya ke seorang satpam, “Dimana rumah Pak Bambang sang dalang?”

Ternyata, memang rumahnya tidak terlalu jauh. Cukup menyusuri Gang Lombok saja, melewati Yayasan Kuncup Melati, lalu ada tukang kusen pintu di sekitar itu.. terus… terus… dan sampai deh di rumahnya.

Sesampainya kami di sana, ternyata Pak Bambang sedang tidur siang. “Maaf ya Pak, mengganggu…,” kata Mas Candra. Sementara, saya sendiri terpana dan masih terus terpana karena demi segala nama Tuhan, rumahnya kecil banget. Itupun rumah kontrakan. Jadi, lantas saya pun bertanya dalam hati,”Dimana Pak Bambang tidur?” Usut-punya-usut, ya di ruang tamu yang juga merangkap sebagai ruang keluarga, ruang makan, ruang menyimpan barang, dll., dst. itu tempat di mana kami bertandang siang itu.

Setelah saya dipersilakan masuk, saya langsung disuruh duduk di atas alas kardus yang bawahnya dialasi tikar anyaman. Sedangkan Mas Candra duduk di depan pintu, dan pintunya sengaja dibuka karena sempitnya ruang. Jujur, saat itu pula, saya nggak bisa membayangkan bagaimana rasanya duduk di dalam bertiga dengan keadaan pintu tertutup.

Rumah Pak Bambang sebenarnya terdiri dari dua lantai, lantai pertama ukurannya kira-kira 1,5m x 3m. Kecil banget, bukan? Iya, memang. Wong lebarnya saja pas buat saya selonjoran. Panjangnya, ya nggak beda jauh dari itulah. Di dalamnya ada tangga dari kayu yang sudah ringkih dan tampak rapuh. Saya sungguh ngeri membayangkan Pak Bambang yang sesepuh itu harus naik-turun tangga. Bagaimana dengan ukuran lantai duanya? Ya kira-kira samalah. Di atas, katanya, berfungsi sebagai gudang untuk menyimpan baju dan barang-barangnya yang lain.

Tidak lama kemudian, Mas Ridho datang menyusul. Ketika Mas Ridho datang, Pak Bambang sedang sibuk menarik kardus yang ia simpan di belakang pintu. Ia tarik dari tempatnya. Isi kardus itu adalah buku-buku cerita wayang. Dan, ternyata kami baru mengetahui bahwa kebanyakan dari buku cerita itu adalah tulisan tangan beliau sendiri! Ia menulisnya dengan rapi. Katanya, cerita-cerita itu beliau dapat dari gurunya. Memang ada sih beberapa komik seperti Kera Sakti, 5 Harimau Sakti, terus ada … apa tuh … yang penunggang rajawali itu. Tetapi, kata Pak Bambang, justru yang sudah jadi komik atau buku cerita itu nggak bisa dijadikan landasan cerita untuk bahan mendalang karena sudah terlalu banyak modifikasi dari si pengarang. Jadi untuk menyiasatinya, beliau lebih suka menggunakan catatannya sendiri. Dan, buku catatannya ada buaaannnyaaakkkk banget! Buku tulis yang ia gunakan masih Tjap Banteng. Yang artinya sudah tuuuaaaaa banget.

Tulisan tangan Pak Bambang, rapi ya?

Kemudian sisi lain yang menarik dari isi kardus itu buat kami ada dua hal. Yang pertama, ada sehelai baju wayang berwarna merah dengan motif bunga keemasan, berkerah hijau. Baju boneka yang sudah usang dan mripili itu ternyata kenang-kenangan dari guru beliau yang bernama Siauw Thian Hoo. Saya langsung berpikir, “ah, lucu nih kalo dimasukin ke museum.” Hehehe… “tapi itu sih terserah Pak  Bambang saja, itu kan barang beliau…” batin saya (*padahal mupeng).

Lalu benda kedua yang cukup menghebohkan adalah,…hm…sebenarnya cukup banyak sih. Tapi jenisnya sama, yaitu kumpulan surat jalan beliau ke luar kota saat akan mementaskan Wayang Potehi di masa lalu. Jadi dalam setiap surat jalan itu harus ada keterangan bahwa dia tidak terlibat gerakan “G 30 S/ PKI”. Arsip yang penting nih! Saya langsung terbayang bagaimana Pak Bambang kala itu harus menunjukkan sehelai surat tersebut setiap melewati perbatasan kota, dengan rombongan senimannya.

Baju boneka, kenangan dari Sang Guru
Baju boneka, kenangan dari Sang Guru

Selain itu, ada juga surat jalan milik istrinya yang isinya kurang lebih sama, yang menyatakan bahwa orang tersebut tidak terlibat kegiatan partai terlarang. “Istri saya ini sudah meninggal tahun 2006 kemarin. Dia sudah pulang ke ‘India’.” Saya langsung bingung, lho kok India? Oh … ternyata maksudnya pulang ke tempat di mana agama Buddha berasal. *manggut-manggut.

Surat Jalan ini harus dilengkapi dengan foto plus keterangan yang menyatakan bahwa yang bersangkutan tidak terlibat G 30 S/ PKI

Setelah kami puas melihat-melihat isu dusnya, Pak Bambang memasukkan lagi satu demi satu koleksinya tersebut dan berujar, “nanti habis saya salin mau saya bakar.” Hah? Dibakar? Dengan sigap saya langsung ngomong, “Aduh pak, jangan… kan sayang. Mending … kita rawat aja.” Eh, setelah mendengar saran saya itu Pak Bambangnya malah bingung. Tapi, akhirnya beliau berjanji akan memberikannya setelah pentas Sam Poo besar, di bulan Agustus besok.

Sekitar pukul 15.30, kami pamitan.

Namun, kami tidak langsung pulang karena saya masih penasaran dengan rumah kertas yang saya lihat di Rumah Abu tadi siang. Dan, kami pun beranjak ke sana. Sesampainya di sana, seketika saya dan Mas Candra mendekat, dan terdengar lantunan doa dalam bahasa entah Hokkian entah Mandarin.

Upacaranya sudah dimulai. Dan seperti biasa, hehe… saya masih ragu untuk mendekat. Tapi, karena Mas Ridho sudah main nyelonong duluan, ya sudah akhirnya saya ikut masuk juga. lalu saya berdiri dengan canggungnya tanpa tahu harus ngapain. “Hmm … boleh motret nggak ya?” gumam saya.  Tidak lama kemudian, lantunan doa-doa itu selesai. Pendeta dan para pendoa melepas pakaian sembahyang mereka. Si pendeta pakai warna kuning, pendoa yang lain pakai warna biru. Pakaian sembahyangnya berupa jubah panjang yang ada kancing-kancing kecil di bagian samping.

“Ayo sini… sini… masuk saja,” ajak si pendeta. Lho ternyata ramah to? Akhirnya, saya masuk lebih dalam mendekati meja persembahan. Dia adalah seorang Banthe, atau pemimpin upacara agama Buddha. Dia bilang, sebenarnya dalam ajaran Buddha, tidak ada tradisi membakar rumah kertas. Namun, ini adalah sebuah wujud ‘dakwah melalui budaya’, begitu katanya. Agama Buddha berusaha menyesuaikan dengan budaya Tionghoa. Dan pengetahuannya tentang budaya Tionghoa sangat komplit di mata saya. Dia mengajak kami berkeliling Rumah Abu dan mempelajari simbol-simbol yang terukir pada rumah itu. Kelelewar merupakan lambang kemujuran. Sementara, di meja sembahyang ada berbagai macam kue (kueh), ada kue moho, bakpao, kue ketan yang melambangkan umur panjang. Selain itu, ada pula buah jeruk, semangka, nanas yang melambangkan kehadiran raja/kemuliaan/derajat yang tinggi bagi seseorang. Di meja itupun tampak berbagai macam manisan. Sayangnya, tidak semua bisa saya ingat maknanya, karena lagi-lagi kebodohan terbesar saya adalah lupa bawa buku catatan. Hiks …

Di Rumah Abu ini ternyata juga ada ukiran-ukiran kayu penghias ruangan peninggalan tokoh Tionghoa terkenal di Semarang, seperti Oei Tiong Ham dan seorang kapiten pemimpin Kong Koan. Kong Koan adalah otoritas Tionghoa di Semarang pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Kong Koan dibubarkan pada tahun 1930 oleh pemerintah Hindia-Belanda. Dari Kong Koan-lah asal muasal kata ‘kongkow’, yang berarti duduk-duduk sambil ngobrol, berasal. Menarik bukan? Hehehe …

Tidak lama kemudian, upacara dimulai lagi. Rumah kertas akan dibakar pada pukul 20.00. Sayangya tidak ada satupun di antara kami yang bisa mengikuti prosesi ritual itu sampai akhir.

Tapi, tidak apa-apa … pasti lain kali masih ada kesempatan.

-Bersambung-