Tourism and Its Contribution for the Community in Chinatown of Semarang

The Chinatown of Semarang, Indonesia is one great example where tourism and community try to work together to reveal and preserve the local heritage. The Chinese-Indonesian started to gain back their freedom of expressing their cultural identity in 1998, when the 32 years long dictatorship of Soeharto ended. As they became ‘free’, many Chinese cultural activities came back alive all over the country. It is now one of the main tourist destination in the city.

The Gate of Chinatown.(Dwirahmi Suryandari, 2010)

The Gate of Chinatown.(Dwirahmi Suryandari, 2010)

See Hoo Kiong is one of the main temple (Klenteng) in Sebandaran Street, Chinatown (Dwirahmi Suryandari 2013)

See Hoo Kiong is one of the main temple (Klenteng) in Sebandaran Street, Chinatown. (Dwirahmi Suryandari, 2013)

The Chinatown of Semarang comprises a large area of business center, housing, river, and is located side by side with other ethnic group settlements. When we enter this area, we will soon see how the dynamic of the community really helps bring out the character of this area. Even in normal days, there are always something happening there. People praying inside beautiful temples, selling goods in the market -which I and my mom visited regularly, traditional medicine shops serving their customers, or kids practicing the lion dance show. These -if we don’t want to call it non-artificial- are genuinely raised by the community.

The traditional market in China Town where people from different ethnic group meet and interact. (Dwirahmi Suryandari, 2012)

The traditional market in China Town where people from different ethnic group meet and interact. (Dwirahmi Suryandari, 2012)

Of course there are some organized efforts in order to add more values and enhance the quality of these cultural attractions, as well as to make sure that the community will benefit from this tourism activities . In 2003 an organisation called ‘Kopi Semawis’ (Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata – Chinatown Community of Semarang for Tourism) was founded. This organisation has been working since then creating many organized activities involving the local community of Chinatown. For example the festival during the Chinese New Year, exhibitions, book discussions, and approaching local government as well as private companies for financial and promotional support. This organisation is unique because it is not only composed by Chinese-Indonesian, but also people from other ethnic groups. This organisation has helped raising consciousness of the people living in Chinatown about their culture.

One of the 'Potehi' puppet master preparing for show. (Dwirahmi Suryandari, 2010)

One of the ‘Potehi’ puppet master preparing for show. (Dwirahmi Suryandari, 2010)

Consciousness of culture and also collective memory are very important. With that, the community will have sense of belonging of their heritage and work hand in hand to make sure that the values will not vanished through times. I think tourism can bring out the best of Chinatown. It makes the community realize more about the value of their identity and at the same time brings financial advantages. We can see now that many local food stalls, Chinese painting artists, puppet theater shows are more highly appreciated than before.

One of the ritual celebrated in the Chinese-Indonesian community, called King Hoo Ping. In this moment, the people pray for the soul of the death. This kind of ritual held by the community is also one big tourist attraction.

One of the ritual celebrated in the Chinese-Indonesian community, called King Hoo Ping. In this moment, the people pray for the soul of the death. This kind of ritual held by the community is also one big tourist attraction. (Dadang Pribadi, 2010)

There are many concerns about how tourism will bring disadvantages to the environment. But in the case if Chinatown of Semarang, I think tourism has triggered the community and government to make strategy for a better living quality in Chinatown. For example, how they could maintain the sanitation of the river. On top of all those things, I think tourism activities in Chinatown of Semarang has brought the inter-ethnicity dialogue in my city to a better stage. It means that tourism has benefited our local community in broader scope. And I am so proud about it.

 

Dwirahmi Suryandari

A passionate explorer and a student. Now living in Bonn, Germany.

Toen Djin Tong, Meramu Obat Lewat Syair

Prolog : sudah lama saya tidak menulis. Ketika saya akan mulai lagi, saya terjebak dalam keinginan untuk membuat tulisan yang keren, yang intelek, yang mengutip sana sini, dengan banyak referensi dan sebagainya. Akhirnya karena gagal, saya kembali lagi pada sebab awal saya suka menulis. Karena saya suka bercerita. Maka kali inipun saya akan melakukan pemanasan dengan bercerita. Silakan menyimak.

Suatu hari, ada seseorang yang mengirim pesan dengan memberi komentar pada salah satu tulisan saya di blog ini. Namanya Nanda, dia mahasiswi Bina Nusantara Jakarta yang sedang mengerjakan tugas akhir. Nanda kuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual, dan ingin membuat sebuah buku panduan wisata, dengan foto dan desain yang menarik, mengambil tema Pecinan Semarang. Saya senang, karena kebiasaan saya menulis tentang Pecinan ternyata membawa peluang ini : dia meminta saya menjadi copywriter dari buku tersebut. Setelah beberapa kali berkirim email, akhirnya kami melakukan riset bersama selama satu minggu di Pecinan. Entah kenapa, selalu saja ada hal yang menarik kaki saya kembali ke sana.

Sebelumnya kami berusaha memetakan apa dan bagaimana Pecinan Semarang akan dikemas dalam sebuah buku. Setelah beres, kami mulai menyusuri jalan dan gang di Pecinan, memotret dan mewawancarai narasumber. Walaupun ini bukan kali pertama saya melakukan riset di Pecinan, tapi saya selalu merasa akan menemukan hal baru. Semangat saya itu dan ketidakraguan saya untuk membuka percakapan dengan orang baru membuat salah satu teman saya yang lain berkata bahwa saya bisa jadi antropolog yang baik, daripada jadi lulusan HI yang tidak hafal berapa jumlah negara anggota ASEAN sekarang. Berapa sih? Tujuh? Delapan? Saya juga tidak tahu kalau Jerman itu punya presiden sebelum saya ke sana, bahkan saya selalu lupa : jadi Barrack Obama itu Republik atau Demokrat? Hehehe…

Kembali ke Pecinan. Selama satu minggu itu, ada beberapa orang baru yang belum pernah saya temui sebelumnya. Misalnya Pak Hengky pengurus kelenteng Wie Hwie Kiong merangkap peramal, Pak Heri pembuat barongsai, Tan Hay Ping perajin Bong Pay (nisan), dan Om Aming sinshe peracik obat. Selain itu, kami juga mengunjungi beberapa kelenteng, menyusuri pasar Gang Baru, dan saya punya misi pribadi. Saya ingin belajar tentang agama Buddha, atau ajaran Buddha. Saya lebih suka menyebutnya demikian. Maka di setiap kesempatan mengunjungi kelenteng, saya selalu bertanya tentang isi ajaran Buddha, misalnya reinkarnasi. Saya juga tertarik mempelajari dua ajaran lain yang masih dekat dengan Buddha yaitu Tao dan Kong Hu Chu.

Saya tidak membual, tapi panggilan untuk mempelajari ajaran ini muncul begitu saja. Beneran. Saya lupa mulai kapan, tapi yang jelas keinginan itu ada. Saya lebih tertarik mempelajari ajaran Buddha dalam bahasa aslinya, Bahasa Pali (Sansakerta) dan bukan yang sudah diterjemahkan ke Hokkian. Maka sayapun disarankan pergi ke wihara saja, karena hampir semua kelenteng sudah menggunakan kitab Buddha dalam bahasa Hokkian. Salah satu hal yang membuat saya makin jatuh cinta pada ajaran ini adalah keterbukaannya. Bukan hanya terbuka terhadap ajaran atau kepercayaan lain, tapi ajaran ini terbuka untuk dipertanyakan oleh pengikutnya. Bahkan penganut Buddha dianjurkan untuk selalu mempertanyakan ajaran-ajaran Buddha. Tidak boleh percaya begitu saja, katanya.

Dari beberapa ‘tokoh’ Pecinan yang saya sebut di atas, dalam tulisan kali ini saya akan membahas tentang Om Aming, shinse yang ahli meracik obat, tempat terakhir yang kami kunjungi sebelum Nanda kembali ke Jakarta. Om Aming membuka tokonya di Jalan Gang Warung 96. Toko obat sederhana itu bernama Toen Djin Tong atau Sumber Sehat yang sudah berdiri sejak tahun 1800an. Beliau belajar meracik obat di Shanghai selama 5 tahun demi meneruskan toko yang dirintis oleh leluhurnya ini. Sekolah keahlian khusus itu juga punya penjurusan seperti universitas. Diantaranya adalah akupuntur, pengobatan dan shinse. Di tokonya berjajar laci-laci kayu dalam rak yang menempel ke tembok. Di setiap laci tersebut tertulis nama obat dalam aksara Cina, yang tentunya hanya Om Aming dan Tuhan yang tahu apa artinya.

Begitu penasarannya saya akan isi laci itu sampai saya meminta Om Aming untuk mengeluarkan beberapa jumput rempah. Ada beberapa rempah yang cukup populer dan sering dipakai, antara lain Ma Wong, yang berfungsi untuk melancarkan napas. Lalu ada juga Pak Sok yang berkhasiat menghilangkan sakit di badan (mungkin maksudnya pegal-pegal), Sa Jin berguna untuk menyembuhkan maag dan tentu saja Ginseng (Shi Yang Sen), kayu manis dan bermacam-macam rempah lain. Satuan yang digunakan untuk menimbang rempah itu adalah Cie. Satu Cie sama dengan 4 gram. Di tokonya ada 300 macam lebih tanaman obat kering, tapi yang sering digunakan hanya 200an.

Sayapun meminta diracikkan obat diare. Dengan gesit Om Aming mengambil selembar kertas sampul buku coklat yang sudah digunting ukuran 30cmx30cm, mengguntingnya kecil-kecil, merebusnya dan meminta saya meminum air rebusannya. Hehe, enggak kok. Kertas itu ditaruhnya di atas meja kayu panjang, singgasananya meracik obat. Lalu ia membuka laci-laci di belakangnya. Ia pun mengambil rempah-rempah di laci tersebut sambil menyebut namanya satu persatu, “ Satu cie Wang Fung, satu cie Wang Yen, satu cie Pak Sok, satu cie Kayu Manis dan satu cie King Kay. King Kay ini untuk mengusir angin di badan,” saya dan Nanda manggut-manggut. Berasa sedang dalam satu scene film Kung Fu. Ramuan itupun dia berikan pada saya gratis. Dan maaf, Om, tapi sampai sekarang belum saya minum karena sebenarnya saya nggak diare.

Ada beberapa metode membeli obat di Shinse. Salah satunya adalah dengan mengaku-ngaku punya penyakit diare seperti saya tadi dan cara lain adalah dengan membawa Ciam Sie. Ciam Sie itu semacam resep, tapi bukan sembarang resep. Resep ini berisi syair Cina yang bisa didapat di kelenteng-kelenteng terdekat di kota anda. Jadi untuk mendapat Ciam Sie, seseorang yang sedang sakit harus sembayang dulu dengan membakar Hio, biasanya pada Poo Seng Tay Tee –salah satu Dewa Obat, untuk meminta kesembuhan. Setelah sembayang, langkah berikutnya ada mengocok tabung berisi bilah-bilah kayu tipis bernomor. Nanti yang keluar nomor berapa, langsung bisa dimintakan kertas Ciam Sie yang sesuai nomornya pada petugas kelenteng.

Kertas kecil itulah yang kemudian dibawa ke Shinse. Yang tertulis di situ masih dalam aksara Cina, dan kadang benar-benar hanya berisi syair saja, tanpa ada keterangan obatnya. Lalu bagaimana seorang Shinse bisa tau apa obat yang dibutuhkan? “ Itulah gunanya sekolah 5 tahun di Shanghai, nik,” kata Om Aming. Iya deh, Om. Om Aming berkata, bahwa belajar meracik ini tidak mudah, karena harus mempelajari banyak hal, salah satunya bahasa, syair dan budaya Cina. Maka ia berujar, sebenarnya bisa saja orang pribumi belajar meracik obat asal bisa bahasa Cina (entah Mandarin atau Hokkian?).

Beberapa hari sebelum mengunjungi toko Om Aming, saya sedang tenggelam dalam novel Dee terbaru berjudul Partikel. Novel tersebut bercerita bagaimana bumi telah memberikan banyak hal pada kita, dan bahwa kita adalah bagian dari alam. Kita manusia berbagi gen yang sama bahkan dengan tanaman jagung. Di novel itu juga diceritakan mengenai bermacam-macam tanaman yang bisa menimbulkan efek magis pada tubuh manusia. Bacalah buku itu, maka anda pasti akan merasa kecil. Bukan hanya di hadapan Tuhan, tapi di hadapan alam ini.
Mengunjungi Om Aming dan bermain-main dengan rempah-rempahnya, membuat saya yakin bahwa karena kita adalah bagian dari alam, maka jika ada yang salah dengan tubuh ini, bolehlah kita mencoba duduk bersama alam sambil menyeruput sedikit bagian darinya hangat-hangat.

ada yang bilang aku china*

*sebuah refleksi ringan setelah membaca buku Mereka Bilang Aku China, karya Dewi Anggraeni, Bentang Pustaka, 2010

Saya baru mendapat kiriman sebuah buku dari seorang sahabat di Jogja, buku itu berjudul Mereka Bilang Aku China. Buku ini, karena saya pikir cukup ringan untuk dibaca, saya bawa ke gym dan menemani saya fitness pagi ini. Tak diduga, efeknya adalah, saya terharu membaca buku ini sehingga hampir menangis di atas sepeda statis. Tapi lebih dari itu, buku tersebut membuat saya mengkhayal bagaimana kalau saya menjadi salah seorang dari 8 perempuan tionghoa yang dikisahkan dalam buku ini. Salah satunya adalah Susi Susanti, yang tentu saja perlu kita ingat namanya di hari pahlawan ini, tanpa menihilkan peran ketujuh perempuan lainnya sebagai anak bangsa yang gigih berjuang bahkan sampai ke akar rumput.

Saya berkhayal bukan karena saya merasa secemerlang mereka atau telah memberikan kontribusi sebesar mereka pada masyarakat, tapi karena selama membaca kisah-kisah dalam buku itu, saya merasa “lho, saya juga punya pengalaman yang menarik dalam hal identitas ketionghoaan.” Dan saya ingin menuliskannya sendiri karena saya belum segitu pentingnya untuk diwawancara oleh seorang penulis macam Dewi Anggraeni. Hehe..

Ibu saya Tionghoa dan ayah saya Jawa. Saya tidak merasakan adanya perbedaan dari identitas etnis tersebut sampai ketika saya SMP. Seingat saya, banyak sekali teman saya yang keturunan tionghoa dan mereka kaya-kaya, cantik-cantik dan pintar-pintar. Saya merasa, guru-guru lebih sayang pada mereka daripada ke saya atau teman-teman saya yang so-called pribumi. Begitu juga dengan masa SMA, namun karena SMA ini adalah sekolah yang sangat menekankan pentingnya persaudaraan, pembauran dan semangat berjuang untuk kebaikan dan kemuliaan sesama, maka segala macam perbedaan tersebut dikubur. Mengapa saya bilang dikubur dan bukan terkubur? Karena saya sadar betul bahwa kondisi “berbaur” itu memang dirancang oleh SMA saya, itu memang bukan suatu hal yang buruk, karena pada kenyataannya sampai sekarang saya lebih bisa merasakan kehangatan teman-teman masa SMA daripada SMP.

Ada satu momen yang masih membekas di ingatan saya tentang masa SMA. Salah seorang teman akrab saya, yang kebetulan laki-laki, tionghoa dan sering bercanda dengan saya, tiba-tiba secara spontan ketika kami sedang saling mengejek satu sama lain melontarkan, “Wo…dasar jowo edan.” Seketika saya diam, bukan tersinggung karena dia menghina orang jawa. Tapi karena saya tidak suka dibilang jawa. Saya memang selalu tidak suka dibilang jawa dan merasa sebal setiap harus mendaftar sekolah harus mencentang kotak “jawa” dalam pertanyaan mengenai suku bangsa. Tapi bukan karena saya ingin mencentang “tionghoa/china” juga. Pokoknya, saya tidak suka dibilang jawa. Eh, tapi ini bukan berarti saya sebel sama orang Jawa lho…

Masuk kuliah, pengalaman saya berbeda lagi. Saya memang ingin masuk universitas negri, karena saya merasa dengan masuk negri saya akan lebih memiliki kesempatan untuk mengenal bermacam-macam jenis dan bentuk manusia. Ternyata, saya adalah salah satu dari bentuk manusia  yang sedikit berbeda. Saya tidak terlalu ingat apakah teman-teman kuliah satu angkatan saya menyadari bahwa saya separuh china atau tidak. Yang jelas, masa-masa kuliah di Jogja adalah masa paling sering saya merasa dianggap lebih tionghoa daripada Jawa. Apakah saya senang? Tidak juga sih.

Linda Christanty, ketika sedang mengantre karcis kereta api di Gambir, pernah dituding orang dan dikatai “Dasar cina!” (hal.82) Saya juga memiliki pengalaman serupa, walaupun tidak separah itu. Saat itu saya sedang mengantre tiket bioskop di Ambarukmo Plaza, filmnya Harry Potter dan hari itu adalah hari pertama pemutaran. Saya sudah antre sejak sebelum mall buka. Dan ada seorang perempuan yang entah terlalu kreatif atau terlalu bosan, menowel lengan saya dan bertanya, “ Anda orang China ya?” spontan saya bertanya, “emang iya, ya?” karena saya benar-benar kaget. “ Iya, wajah anda seperti orang China.” Saya manggut-manggut, tidak menjawab, dan ingin segera memastikan apakah wajah saya memang segitu China-nya.

Akhir-akhir ini, setelah saya lebih serius menekuni studi tentang tionghoa dan berusaha lebih peka, saya menyadari beberapa hal unik yang terjadi berkaitan dengan bagaimana pedagang di pasar Gang Baru Pecinan Semarang menyapa saya. Pemilik toko kelontong yang mayoritas tionghoa akan memanggil saya “nok” sementara pedagang-pedagang yang kebanyakan orang jawa akan memanggil saya “nik”. Kadang, saya merasa lucu karena ketika saya berada di sekitar orang tionghoa, ketionghoaan saya malah lenyap. Dan ketika saya berada di antara orang Jawa, kejawaan sayalah yang lenyap. Semua ciri-ciri fisik  saya seolah-olah termakan oleh ciri-ciri fisik dari identitas (etnis) tertentu yang dimiliki orang-orang di sekitar saya. Sehingga saya menjadi tidak jelas. Mungkin seperti warna merah marun, yang kalau dijejerkan dengan warna merah malah jadi lebih ungu dan kalau dijejerkan warna ungu jadi lebih merah. Iya nggak sih?

Saya merasa, dalam lubuk spiritual saya yang paling dalam, saya lebih cocok dengan mistisisme tionghoa (kalau memang ada istilah demikian). Saya selalu heran pada suami saya yang terlalu kejawen, percaya mbah petruk dan eyang semar di puncak Merapi, walaupun saya tidak menolak untuk mempelajari hal-hal itu. Tapi saya bisa sebegitu larutnya berdiri di depan patung Kong Hu Chu di Tay Kak Sie, dan memohon restu agar saya lebih rajin belajar, membaca buku dan mempelajari ilmu-ilmu baru. Saya tidak tahu apa persisnya yang membuat saya merasa demikian. Maybe it runs in my blood. Padahal, saya sama sekali tidak pernah melihat ibu saya, atau bahkan oma opa saya melakukan hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan/agama/ budaya tionghoa. Setahu saya mereka hanya percaya Tuhan Yesus.

Padahal juga, saya tidak berhak menyandang predikat peranakan. Karena yang tionghoa itu ibu saya, bukan ayah saya. Sementara istilah peranakan merujuk pada mereka yang berayah cina dan beribu pribumi. Hal tersebut karena masyarakat china/tionghoa menggunakan garis keturunan dari ayah dan bukan ibu. Beberapa catatan sejarah bisa menjelaskan apa yang menyebabkan orang-orang China pada jaman dulu menikah dengan perempuan pribumi.

Saya sedang tidak berusaha menjadi melankolis. Menurut saya, yang saya tuliskan di atas bukan sesuatu yang menyedihkan, mengesankan, atau mengharukan. Saya hanya ingin berbagi pengalaman saja. Bahwa, beginilah saya yang beribu tionghoa dan berayah Jawa. Tentu akan berbeda sekali dengan perempuan-perempuan yang memang keturunan tionghoa, yang berayah tionghoa dan beribu pribumi, atau perempuan yang kebetulan berwajah mirip tionghoa padahal dilahirkan dari keluarga jawa yang sadhumuk bathuk sanyari bumi tohpati. Jadi begitulah, ada yang bilang saya China dan ada yang bilang saya Jawa. Dan bagaimana rasanya menjadi saya? Selalu menyenangkan 🙂

Membaca 6 Kisah Perempuan Tionghoa

Membaca  buku karya Lim Sing Meij merupakan tantangan bagi saya yang sama sekali tidak terbiasa membaca karya ilmiah atau hasil penelitian. Saya paling malas membaca pendahuluan serta berbagai landasan teori dan pemikiran dalam sebuah karya tulis (padahal saya tahu itu sangat berguna). I always want to get straight to the point. Maka, saya lebih menyukai bacaan yang jenisnya seperti buku Leo Suryadinata yang saya resensi sebelumnya. Dan tulisan saya kali ini bukan resensi buku. Saya hanya akan berbagi cerita tentang buku Lim Sing Meij ini, dan bagaimana saya membacanya.

Sebenarnya, ini adalah kajian yang saya cari-cari. Mungkin sebagai seorang perempuan, saya otomatis ingin tahu mengenai perempuan dan gerakan mereka. Walaupun saya bukan feminis. Buku ini menarik perhatian saya walau dari judulnya saja sudah membuat saya bingung : “Ruang Sosial Baru Perempuan Tionghoa, Sebuah Kajian Pascakolonial.” Kenapa pascakolonial dan apa itu pascakolonial? Dan kenapa menggunakan masa kolonial sebagai titik tolaknya? Akhirnya daripada saya bingung, saya memutuskan untuk mencari tahu kenapa bisa muncul istilah itu.

Lim menuliskan bahwa wacana pascakolonial berarti suatu perlawanan terhadap kolonialisme dan warisan-warisannya. Dan dalam karyanya ini, Lim menggunakan pendekatan-pendekatan yang menggugat teori-teori Feminis Barat yang memiliki pandangan yang bias mengenai “perempuan dunia ketiga”. Feminis Barat cenderung menganggap bahwa perempuan yang hidup di negara dunia ketiga sebagai subjek yang monolitik. Keadaan itu disebut sebagai kolonisasi diskursus, yang dikritisi oleh Mohanty dalam bukunya Under The Western Eyes. Teori Mohanty inilah yang kemudian digunakan Lim dalam penelitiannya. Untuk lebih memahami teori pascakolonial, kita harus lebih dahulu paham soal teori pascastruktural yang membawa nama Foucault dan Derrida penting untuk disebut. Dan secara sadar saya melewatkan bagian itu. Hehehe… Semoga tidak terlalu berpengaruh terhadap proses membaca buku ini.

Oke, lebih baik saya berbagi cerita tentang perempuan-perempuan Tionghoa profesional yang menjadi narasumber dalam karya ini, serta premis-premis yang muncul dalam buku ini mengenai perempuan Tionghoa dan pergulatan mereka. Untung saja, buku ini banyak menampilkan kutipan langsung wawancara sehingga sangat membantu saya yang kegemaran membaca bukunya berangkat dari hobi membaca cerita pendek.

Ada enam orang narasumber, mereka adalah Muthia, Wati, Nani, Ima, Erni dan Kartika. Keenamnya adalah perempuan Tionghoa yang hidup di Jakarta dan menempuh pendidikan tinggi, serta bekerja dalam sektor formal, dan menjadi seorang ‘profesional’ dalam pekerjaan mereka. Karya ini memang mengaku terbatas pada keenam orang ini saja dan tidak mencoba melakukan generalisasi terhadap perempuan Tionghoa. Mengapa? Karena seperti manusia pada umumnya, identitas perempuan tionghoa bukanlah sesuatu yang homogen. Jika mereka sama dalam hal ketionghoaannya mereka bisa saja berbeda dalam hal agama, kepercayaan, pendidikan, status sosial, bahkan kota tempat tinggal, yang melahirkan pribadi yang berbeda pula.

Kajian soal perempuan hampir tidak pernah lepas dari isu bagaimana perempuan terdiskriminasi. Dalam kasus perempuan Tionghoa (walaupun sekali lagi, tidak semua) mereka sudah terdiskriminasi sejak dalam keluarga, terutama bagi perempuan Tionghoa yang hidup dalam keluarga yang masih menganut kuat konfusianisme. Konfusianisme menjunjung tinggi konsep rule by man. Man yang dimaksud disini bukanlah manusia, tetapi laki-laki. Sehingga keputusan yang diambil oleh para senior, ayah, orang yang lebih tua, atau saudara laki-laki adalah hal yang mutlak. Dalam dunia barat, konsep ini disebut patriarkhi.

Memiliki seorang anak laki-laki adalah kebanggan bagi keluarga konfusian, sementara anak perempuan dianggap tidak terlalu berharga. Namun, walaupun status kehormatan dipegang penuh oleh laki-laki, perempuan mempunyai kewajiban untuk mempertahankan tradisi keluarga secara turun-temurun. Nani dan Muthia menuturkan bagaimana mereka merasa diperlakukan secara berbeda dalam keluarga. Muthia mengaku bahwa adik laki-lakinya tidak memanggilnya “cici”, padahal terhadap kakak laki-lakinya, adiknya memanggil “koko”. Yang memanggil Muthia “cici” hanyalah adik perempuannya (hal.78). Sementara Nani merasa bahwa nama yang diberikan padanya tidak memiliki makna yang bagus sehingga dia enggan menggunakannya (hal.80).

Diskriminasi juga dialami dalam bidang pendidikan dan karir/pekerjaan. Kartika mengatakan bahwa  orang Tionghoa yang mengikuti tes di PTN harus mengikuti psikotes, tidak demikian dengan orang pribumi. Menariknya, keenam perempuan Tionghoa ini adalah pribadi yang tangguh dan selalu berusaha untuk keluar dari cengkraman ketidakadilan. Kartika membuktikan bahwa ia bisa menjadi mahasiswa teladan (hal. 114). Sementara Ima menjadi korban dalam kasus kerusuhan 1998, supermarket yang ia bina bersama suaminya dibakar massa. Namun ia tetap eksis sebagai dosen dan akuntan publik dan mendapatkan penghargaan Satyalencana Karya Sapta dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2005 atas pengabdiannya pada negara (hal.66-67).

Selain tantangan dari luar, perempuan Tionghoa juga mengalami tekanan dari keluarga saat mereka akan memilih pekerjaan atau jurusan saat kuliah. Muthia mengatakan ia dicemooh oleh orang tua dan kakak laki-lakinya saat masuk ke jurusan psikologi konseling, karena hanya jurusan itu yang bersedia menerimanya. Muthia kini menjadi konselor HIV/AIDS dan melakukan pemberdayaan pada para penyandang HIV/AIDS. Begitu juga dengan Nani yang terjun ke ranah sosial kemasyarakatan, ia mengawali karirnya di LSM dan meneruskan kuliah magister teologi di Jogja. Ia menjadi seorang teolog feminis sekaligus trainer profesional (hal.75-76).

Agama dan kepercayaan bagi perempuan Tionghoa dalam penelitian ini bukan suatu hal yang diturunkan atau ditularkan begitu saja dari keluarga. Bahkan keyakinan beragama mereka diperoleh melalui proses kritis dan dipengaruhi oleh pengalaman hidup, baik yang pahit maupun manis. Erni mendapatkan ketenangan batin dengan menganut Islam, sementara Muthia yang awalnya sempat menjadi seorang Kristen fundamentalis kini membebaskan diri dari paham tersebut karena berbagai pengalaman hidupnya (hal.95-96). Sementara bagi Wati, menjadi seorang Katolik tidak berarti menganggap bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya kebenaran (hal.99). Keputusan mereka untuk menganut agama lain selain Kong Hu Chu itu tentu saja mendapatkan tantangan dari keluarga.

Identitas ketionghoaan sempat menjadi beban bagi beberapa perempuan Tionghoa informan dalam penelitian ini. Namun, berlatarbelakang pendidikan yang baik dan berbekal mental yang kuat, perempuan-perempuan ini menempuh perjalanan pencarian identitas dengan terus mempertanyakan  secara reflektif jati diri mereka sebagai orang Tionghoa dan juga orang Indonesia pada saat yang sama, setidaknya begitulah penangkapan saya saat membaca kutipan-kutipan wawancara mereka. Mereka sempat melakukan penyangkalan diri sampai akhirnya menempuh proses rekonsiliasi yang tidak mudah. Seperti Nani, yang mengaku juga mendapatkan perlakuan diskriminatif justru dari orang Tionghoa karena dia berasal dari keluarga Cina miskin, berprofesi sebagai trainer dan menikah dengan non-Tionghoa (hal.153).

Perempuan Tionghoa dalam penelitian ini secara garis besar saya nilai sebagai pribadi yang liberal, moderat, berpikiran terbuka dan cerdas. Pengalaman hidup dan pendidikan telah membuat mereka memandang diri sendiri dan lingkungan di luar mereka, termasuk bagaimana bangsa ini ‘menerima’ mereka dengan cara yang sangat mengesankan. Lim Sing Meij sendiri menurut saya sangat hebat karena dia berhasil membingkai cerita keenam perempuan Tionghoa tersebut menjadi satu, dan menunjukkan betapa perempuan Tionghoa bagaimanapun juga memiliki identitas Tionghoa dan indentitas Indonesia yang senantiasa berdampingan.

Buku ini sangat menarik untuk dibaca dan saya dan bersyukur ada seorang perempuan Tionghoa yang menulis mengenai topik ini. Beberapa kisah di buku ini membuat saya tersentuh dan banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan dari cerita-cerita di dalamnya. Saya percaya masih banyak sisi dari perempuan Tionghoa yang menarik untuk dibahas, seperti misalnya perempuan Tionghoa dari kelas menengah-bawah yang hidup di kota kecil sepanjang pesisir utara pulau Jawa. Saya sendiri merasa mengenal beberapa perempuan  Tionghoa yang hebat, yang kisah hidupnya mungkin sangat menarik untuk dibahas.

Tan Eng Tiong Si Pelukis Kilat

Sudah cukup lama ternyata, saya tidak menulis catatan jalan-jalan saya di daerah Pecinan. Intensitas saya jalan-jalan di Pecinan dengan rekan-rekan dari BYAR Creative Industry memang sedikit berkurang karena kesibukan masing-masing (cie…gaya banget sih). Namun, sebelum saya menulis tentang penemuan saya yang baru di Pecinan beberapa waktu lalu, saya akan memperkenalkan anggota tim jalan-jalan kami yang baru, yaitu mas Dadang Pribadi dan Mas Khidir Marsanto. Mas Dadang yang jago fotografi inilah yang menyumbangkan foto-foto apiknya untuk artikel ini. Sementara Khidir Marsanto, walaupun tidak bisa ikut jalan-jalan karena tinggal di Jogja, tapi memberikan kontribusi yang sangat besar dalam mengedit tulisan untuk publikasi.

Pertama kali saya tahu tentang Pak Tan Eng Tiong adalah dari Bapak Eko, seorang tionghoa yang mencintai sejarah dan budaya, yang juga bekerja di Yayasan Rukun Kematian Tjie Lam Tjay. Saat itu, Pak Eko menunjukkan pada saya artikel di majalah China Town edisi Juli 2010 yang berjudul, Tan Eng Tiong, Pelukis Kilat Yang Sempat Minder Menjual Karyanya. Keesokan harinya saya langsung membeli majalah tersebut dan malamnya jalan-jalan ke Gang Warung, tempat Pak Tan Eng Tiong tinggal dan berkarya.

Rumah laki-laki itu sederhana saja, bentuknya tidak jauh beda dengan rumah-rumah di sebelahnya, khas Pecinan Semarang. Rumah toko dua lantai, dengan pintu besi dan sliding door. Pak Tan Eng Tiong langsung tersenyum ketika melihat saya mendekat. Dan seperti Pak Thio dan Pak Bambang, dia juga seorang yang ramah. Saya memulai pembicaraan dengan berkata bahwa saya membaca profilnya di majalah China Town. Wajah Pak Tan Eng Tiong langsung sumringah, “Kamsia…kamsia…“, katanya. Hal pertama yang saya perhatikan adalah bahwa Pak Tan Eng Tiong mengenakan kostum yang sama persis dengan yang ada di majalah China Town.

Sambil tetap duduk di meja kerjanya dan memegang kuas, Tan Eng Tiong mulai bercerita macam-macam. Sesekali dia berdiri untuk mengambil majalah-majalah yang pernah memuat cerita tentang dirinya. Saat itu, saya memang sengaja tidak terlalu banyak bertanya mengenai perjalanan hidup beliau. Saya lebih tertarik dengan gambar-gambar yang ada di sekitar area kerjanya. Tan Eng Tiong yang sudah melukis sejak belia ini pernah menggambar Dewa Kwan Kong diatas kain yang cukup besar pada tahun 1980. Sampai sekarang gambarnya masih ada dan awet. Tan Eng Tiong memiliki nama Indonesia, yaitu Suharto Martanto. I keep wondering why he chose the name Suharto for himself. Mungkin cuma kebetulan saja ya…kayaknya saya yang terlalu berpikir macam-macam.

Untuk membuat suasanya ngobrol menjadi semakin nyaman, saya memasan satu gambar. Sebuah gambar dua ikan lele (yang menurut saya adalah lele paling imut didunia) saya pilih dari sekian banyak gambar yang ditawarkan pak Eng Tiong. Lele mempunyai makna : setiap tahun pasti ada rejeki berlebih. Selain gambar, yang namanya chinese painting pasti dilengkapi dengan doa. Maka sayapun diminta untuk memilih satu kalimat doa dari sekitar 40an kalimat yang tersedia. “Ada permohonan pasti terkabul”, itulah kalimat yang menjadi pilihan saya.

Setelah itu, Eng Tiong bercerita soal murid-muridnya. Ya, Tan Eng Tiong memang menerima murid yang ingin belajar chinese painting dan kaligrafi. Dia menunjukkan foto dua orang muridnya. Yang saya kagum dari Eng Tiong, bapak ini cukup sadar arsip. Dia mendokumentasikan foto orang, majalah dan kliping koran yang berkaitan dengannya. Bahkan, ketika saya dan rekan BYAR Creative Industry mengunjunginya untuk kedua kali (esoknya), beliau mengambil gambar kami satu persatu. Hehehe…Oke, jadi untuk berguru di Eng Tiong, kita cukup membayar Rp. 50.000 per jam, kertas, alat dan bahan lainnya sudah disediakan oleh bapak yang juga membuka usaha agen penerbangan domestik ini.

Hasil Karya Eng Tiong (Dadang Pribadi,2010)

Keahlian Eng Tiong melukis cepat ini memang sangat mencengangkan. Dalam waktu 30 detik saja, beliau sudah bisa membuat seekor udang, kalau bambu bisa lebih cepat lagi. Sebelum saya pulang, beliau mendemonstrasikan bagaimana dia menggambar anak ayam dan kupu-kupu. Just like magic. Torehan tinta baknya bisa menjelma jadi ayam. Kelihatannya gampang sih, tapi saya yakin ketika saya mencoba pasti akan kesulitan. Saya berharap Pak Tan Eng Tiong ini punya penerus. Sebenarnya ada beberapa kelompok chinese painting dan kaligrafi di Semarang. Tapi ternyata sama saja, isinya adalah orang-orang yang sudah sepuh. Sangat sayang kalau kesenian ini tidak ada penerusnya. Padahal, selain seni, chinese painting juga mengandung unsur lain, yaitu budaya dan religi.

Tan Eng Tiong dan seragam khasnya (Dadang Pribadi,2010)

Jadi, jika anda berkesempatan untuk mengunjungi Waroeng Semawis, jangan lupa mampir ke rumah Eng Tiong, si pelukis kilat.

Saujana Potehi di Pecinan Semarang

oleh Anastasia Dwirahmi dan Khidir Marsanto P.*

Lazim bagi sebagian orang ketika berbicara tentang budaya Tionghoa di Indonesia, baik yang sifatnya campuran maupun murni, yang terbayang biasanya akan tertuju pada ihwal itu-itu saja, seperti perayaan Imlek (tahun baru Cina), kelenteng, atau tari Barongsai. Padahal, dalam tradisi Tionghoa di Nusantara masih banyak hal lain yang tak kalah menariknya untuk diungkap dan dipelajari.

Permisal saja, dalam aspek kesenian orang-orang Tionghoa memiliki seni lukis dengan tinta bak seperti Tan Eng Tiong di Semarang, kain batik kaligrafi dan pesisiran, seni dan teknologi makanan, seni musik seperti gambang kromong dengan senandung Kong Jilok dan Gutaypan-nya di tanah Betawi, wayang Potehi dan wayang Thithi (yang nyaris punah), keramik-keramik Tiongkok dan ornamen ukir-ukiran pada kayu, kerajinan lampion dan ‘rumah kertas’, dan sebagainya. Yang bila ditelisik lebih dalam kita bisa mengerti kayanya ragam kebudayaan Tionghoa yang tersebar di Nusantara.

Namun, dari deretan seni-budaya Tionghoa itu, tidak semuanya dapat lestari, dan beberapa dari mereka bahkan terancam punah karena tidak banyak yang dapat meneruskan eksistensi mereka –jika tidak mau dibilang tidak peduli. Nah, persoalan regenerasi menjadi penting dalam konteks ini. Tetapi, ini adalah hal lain yang akan diulas pada lain kesempatan.

Memang banyak hal yang membuat sebagian dari kesenian tradisi Tionghoa ini kurang dapat bernafas lebih panjang, dan inilah satu dari sekian keprihatinan kami. Satu hal yang kentara adalah soal minimnya pengetahuan kita tentang seni-tradisi orang-orang Tionghoa di Indonesia. Sebab itu, sekarang dan tanpa tenggat waktu, kami merasa perlu menelusuri, mengetahui, menanyakan-kembali, dan menyajikan hal-hal yang belum banyak disinggung dan terkuak (atau memang dilupakan) dari kebudayaan Tionghoa. Tak ketinggalan juga, di sini kami berupaya menampilkan dan mengenali tokoh-tokohnya (para pelaku).

Meskipun dengan segala keterbatasan kami dalam praktik dan pendanaan, kami tetap meyakini bahwa paling tidak, lewat “catatan jalan-jalan” rutin ini kami akan bisa menyajikan berbagai tulisan ringan tentang hal di atas. Sehingga, harapan tentang diseminasi informasi dan wacana mengenai ketionghoaan akan lebih terbaca luas. Kali ini, kita mencoba ‘memotret’ kembali wayang Potehi di Pecinan Semarang setelah dilarangnya hal-ihwal yang berbau Cina di Indonesia oleh Inpres No.14 Tahun 1967. Alasan lain, di mata kami masih sangat sedikit dari kita yang paham seluk-beluk wayang Potehi, begitu pula dengan diri kami sendiri.

Wayang Boneka Kain

Mengenai ihwal Potehi ini, selain hasil obrolan dengan kedua dalang Potehi sebagai narasumber, merupakan hasil pensarian kami dari beberapa bacaan yang didapat. Potehi, seperti dikatakan oleh sang dalang Thio Tiong Gie (yang akan diulas nanti), berasal dari Poo Tay Hie yang berarti wayang kain kantong. ‘Poo’ berarti kain, ‘tay’ adalah kantong, dan ‘hie’ merupakan wayang (Dwirahmi, 2010b; Mastuti, 2004; Nurhasim, 2009a). Wayang di sini bisa juga bermakna boneka, jika ‘wayang’ kita terjemahkan dari kata dalam bahasa Inggris, puppet.

Wayang Potehi, menurut catatan Mastuti (2004) dan Nurhasim (2009a), merupakan satu jenis wayang asli Tiongkok yang masih ada di Indonesia –kalau bukan satu-satunya– yang berbeda dengan wayang Thithi. Wayang Thithi lebih dianggap merupakan hasil dari proses pembauran dua kebudayaan, yakni paduan Jawa dan Cina, yang lahir dan (pernah) berkembang di Yogyakarta (lihat Lestari, 2005).

Karena itu, wayang Thithi juga dikenal sebagai wayang kulit Cina-Jawa. Namun, ada persamaan pada keduanya, yaitu fungsinya sebagai media hiburan, edukasi, kritik sosial, serta salah satu syarat ritual tertentu dalam masyarakat Tionghoa sebagai persembahan pada leluhur atau para dewa di kelenteng (Lestari, 2005; Mastuti, 2004).

Selain itu, pementasan wayang Potehi juga berlaku sebagai kaul, sebuah perayaan atau selamatan bagi kerabat yang telah sembuh dari sakit. Dari sini kita mengerti, bahwa budaya Tionghoa juga mengenal tradisi membayar janji ketika permohonan kita terkabul, mirip konsep ‘nazar’ dalam ajaran Islam.

Konon, dalam sejarahnya dan juga menurut penuturan dalang wayang kain kantung ini, Potehi diciptakan dari lima orang narapidana terhukum mati pada zaman dinasti Sang Tiau (Tsang Tian) masa pemerintahan raja Tioe Ong pada sekitar 3000 tahun silam. Kala itu, kondisi psikologis mereka pada titik nadir. Tanpa harapan. Mereka di penjara di kota Chuan Cu, provinsi Hokkian, Tiongkok (lihat Dwirahmi, 2010b; Mastuti, 2004; Nurhasim, 2009a).

Menjelang eksekusi, seorang dari mereka berupaya menghibur diri dengan cara memanfaatkan barang-barang yang ada di balik sel mereka. Ajakan ini direspon baik oleh empat yang lain. Dari balik bui itulah, mereka merancang satu pertunjukkan dan menyiapkan segala perlengkapannya, termasuk ‘alat musik’ seadanya. Yaitu, tangkai sapu bambu bekas (alat untuk mengatur aba-aba musik), pecahan kaca, tutup panci bekas (sebagai kecrek), baskom (sebagai gembreng/alat musik pukul), serta sapu tangan bekas / perca dan sobekan kain (untuk baju tokoh wayangnya) (Mastuti, 2004; Nurhasim, 2009a).

Akhirnya, mereka menggelar pementasan kecil-kecilan yang ternyata hal ini sampai ke telinga sang raja. Kemudian, mereka ditantang untuk pentas di hadapan raja dan akan mendapat imbalan terbebas dari hukuman bila sang raja merasa senang. Mendengar kesempatan ini, mereka merasa kudu memanfaatkan dengan baik. Lantas, mereka memutuskan untuk mengangkat lakon tentang raja Tioe Ong itu sendiri, dengan cara meriwayatkan kebaikan dan citra positif pada diri sang raja. Karena hal ini, maka mereka pun akhirnya terbebas dari hukuman.

Bagaimana dengan proses Potehi? Tata-laksana pementasan wayang Potehi biasanya dilakukan pada sore dan malam, masing-masing dua jam yakni pukul 15.00—17.00 dan 19.00—21.00. Dan, di tiap sesi pertunjukan menyajikan lakon yang berbeda. Misalnya, pada siang digelar lakon Sie Bing Kwie (Kuda Wasiat), dan malamnya mengangkat lakon Ngoho Peng See (Lima Harimau Sakti). Sementara, lakon lain yang juga sering dipentaskan adalah Poei Sie Giok, Loo Thong Sauw Pak, Hong Kiam Cun Ciu, dan lain sebagainya (Mastuti, 2004; Nurhasim, 2009a).

Dalam catatan sejarahnya di Indonesia, Potehi mulai dibawakan dalam bahasa Melayu (atau Indonesia) sejak awal abad ke-20 (Nurhasim, 2009a), artinya kira-kira dimulai sejak masa guru sang dalang Thio Tiong Gie itu (Dwirahmi, 2010b; Nurhasim, 2009a). Meski disajikan dalam bahasa Melayu, namun suluknya tetap dipertahankan dalam bahasa Cina Hokkian hingga kini. Menurut KBBI, Suluk merupakan nyanyian (tembang) dari sang dalang yang dilakukan saat memulai suatu adegan (babak) dalam sebuah pertunjukan wayang.

Meski sama-sama memiliki suluk, wayang Potehi tidak menampilkan goro-goro seperti dalam wayang purwa yang menghadirkan punakawan: semar, gareng, petruk, dan bagong. Yang ada dalam Potehi adalah munculnya tokoh mata-mata atau pembantu rumah tangga untuk mengundang gelak tawa penonton (Nurhasim, 2009a).

Kelompok wayang Potehi hanya terdiri dari beberapa orang saja, tidak seperti wayang purwa di Jawa yang sampai belasan orang. Paling tidak, dalam satu tim terdapat satu dalang, dan seorang asisten. Sementara, para pengiring musiknya hanya berjumlah tiga orang. Ketiga orang ini bertanggungjawab atas tujuh alat musik pengiring pertunjukan, yaitu gembreng besar (Toa Loo), gembreng kecil (Siauw Loo), rebab (Hian Na), kayu (Piak Ko), suling (Bien Siauw), gendang (Tong Ko), slompret (Thua Jwee).

Sebab itu, rata-rata setiap orang memainkan dua sampai tiga alat musik. Wayang ini dipentaskan dalam sebuah panggung, semacam box boneka yang tidak begitu besar. Sang dalang dan asisten berada di balik (dalam) panggung / kotak layar boneka tadi. Mereka tampil apa adanya, tanpa riasan dan kostum khusus. Beberapa pementasan lakon, kata Thio Tiong Gie, tidak akan bermakna jika tanpa penonton.

Potehi dan Sang Dalang

Penelusuran kami mengenai Potehi sebenarnya berangkat dari temuan beberapa judul artikel di media massa dan makalah seminar yang pernah mengulas tentang wayang ini di Pecinan Semarang. Juga sebagian dari ceritera teman-teman di sekitar kami.

Dari situ, kami lantas merasa perlu untuk melihatnya secara langsung, dan berbincang dengan mereka. Beberapa fakta yang kami dapati di lapangan adalah (1) dalang Potehi tidak banyak, sejauh ini kami hanya menemukan dua orang yang aktif di Pecinan Semarang, yaitu Bambang Sutrisno dan Thio Tiong Gie. (2) Usia mereka sudah tidak lagi muda, alias uzur. (3) Sulitnya mencari pengganti yang setara dengan dalang-dalang senior Potehi.

Ulasan di majalah Arti menjelaskan mengapa para dalang ini kesulitan mencari penggantinya, sehingga bisa dibilang Potehi mengalami krisis regenerasi (lihat Nurhasim, 2009a dan 2009b). Tentu saja bukan sembarang orang yang dapat menjadi penerus pedalangan Potehi secara baik, karena memang tidak gampang menjadi dalang Potehi yang harus hafal betul dan menghayati riwayat-riwayat lakon Tiongkok dalam wayang Potehi.

Serta, (4) apresiasi masyarakat terhadap Potehi tidak sebesar apresiasi kita pada kesenian tradisi yang lain, seperti wayang purwa dan ketoprak yang telah digubah sedemikian rupa, sehingga dapat masuk ke dalam tayangan komersial televisi swasta. Kondisi demikian, menurut kami tidak selalu pantas mendapat pemakluman-pemakluman, melainkan harus memutar otak supaya seni-tradisi ini tidak lenyap.

Terkadang, kami merasa berat berjalan menjelajahi Pecinan, lantaran cuaca kota Semarang yang relatif panas menyengat. Namun, hal itu nyatanya telah membawa kami tiga kali ke Pecinan untuk membidik informasi tentang wayang Potehi. Kendati baru sekali kami menyaksikan pertunjukkan wayang Potehi di pelataran Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, 22 Juni 2010 lalu, kami sudah tiga kali bertandang ke rumah masing-masing dalang Potehi. Nah, berikut ini ialah hasil kunjungan dan perbincangan kami dengan kedua dalang tersebut.

Bambang Sutrisno

Kami menemui Bambang Sutrisno (60 tahun) di kediamannya Jumat siang (02/07/2010) lalu. Ia merupakan salah satu sang dalang Wayang Potehi. Menuju ke rumahnya, kita hanya perlu menyusuri Gang Lombok. Di situ akan melewati Yayasan Kuncup Melati. Nampak juga di sepanjang jalan itu, seorang tukang kusen pintu.

Sampai di depan rumah Bambang Sutrisno, kami terhenyak sejenak dan bertanya,”Apa benar ini rumahnya?” Ya, di rumah kontrakan dua lantai berukuran sekitar 1,5 x 3 meter itulah satu legenda dalang Potehi tinggal. Beliau mengatakan kepada kami, bahwa ia tidur di ruang tamu tempat di mana kami di jamu. Bagian rumah ini sekaligus menjadi ruang keluarga, ruang makan, tempat menyimpan barang-barang berharganya, dan lain sebagainya.

Sementara, lantai dua difungsikan untuk menyimpan baju dan barang-barang lain yang tidak dapat ditaruh di lantai satu. Dua lantai rumahnya ini dihubungkan dengan tangga kayu yang nampak sudah rapuh. Sempit dan berjejalnya tempat berteduh Bambang Sutrisno dan keluarganya tidak memadamkan semangat melestarikan wayang yang sempat terkubur tiga dekade di bumi pertiwi ini.

Setelah berbasa-basi, lantas kami mengutarakan niat kedatangan kami. Beliau merespon dengan senang hati, dan segera menarik ‘brankas’ dokumen-dokumen penting beliau dari balik pintu rumah untuk ditunjukkan. Jangan dibayangkan brankas ini berbentuk lemari besi. Tidak. Brankas milik Bambang Sutrisno hanya berupa kardus mie instan.

Dalam kardus ini ternyata tersimpan koleksi buku-buku ceritera wayang milik Bambang Sutrisno. Dan, menariknya adalah, dari sebagian ceritera-ceritera dalam buku itu merupakan tulisan tangannya sendiri. Ia mengisahkan dari mana asal kumpulan ceritera yang ia tulisan dengan sangat rapi itu. ”Riwayat-riwayat dalam pewayangan ini saya peroleh dari Siauw Thian Hoo (gurunya),” begitu ia menjelaskan.

Di dalam kardus itu juga tampak beberapa komik jaman dahulu, seperti Kera Sakti, 5 Harimau Sakti, dan cerita pendekar Rajawali. Namun, kisah-kisah yang telah diubah ke dalam ceritera komik bagi Bambang Sutrisno tidak lagi dapat dijadikan acuan mementaskan Potehi (Dwirahmi, 2010a).

Karenanya, ia lebih mantap jika berpedoman dengan kisah-kisah dalam catatan-catatan bukunya sendiri. Selain itu, yang menarik dari isi kardus itu adalah sehelai baju wayang berwarna merah dengan motif bunga keemasan, berkerah hijau. Baju boneka usang dan mripili (hampir rontok) itu merupakan kenang-kenangan pemberian gurunya.

Ada pula kumpulan Surat Jalan miliknya beserta sang isteri (yang telah mendahului Bambang Sutrisno sekitar empat tahun silam) yang digunakan untuk bepergian ke luar kota saat ia dan rombongan kelompok keseniannya hendak mementaskan Potehi di masa pemerintahan Orde Baru (Dwirahmi, 2010a). Surat Jalan ini dikeluarkan oleh pemerintah sebagai penanda bahwa si pembawa surat tidak terlibat dalam partai terlarang dan tragedi kudeta militer pada 30 September 1965, yang kita kenal sebagai G-30-S.

Pelbagai kenangan di masa lalu, dan kesendiriannya kini membuat Bambang Sutrisno tidak lagi merasa perlu menyimpan buku-buku kisah pewayangan Tiongkok dalam kardus itu. Lantas, sembari memasukkan buku-buku itu ke dalam kardus, ia pun berujar, “nanti setelah saya salin akan saya bakar saja.” Perasaan iba kami muncul mendengar pernyataan itu dari sang dalang.

Namun, kami berupaya mencegahnya. Akhirnya, niat Bambang urung karena kami meyakinkannya untuk menyerahkan kepada kami saja agar dirawat sebaik mungkin. Dan, ia menjanjikan menyerahkannya setelah pementasan Sam Poo besar pada 7 – 8 Agustus 2010 di Semarang.

Thio Tiong Gie

Di suatu siang (06/07/2010), setelah menyeruput semangkuk wedang tahu hangat (berbahan air jahe yang dipadu dengan saripati kedelai) dari penjaja wedang panggulan, kami bergegas menuju Gang Pinggir untuk menjumpai dalang Potehi yang cukup legendaris dan sering muncul di media massa, Thio Tiong Gie atau Teguh Chandra Irawan.

Nama ini sesungguhnya merupakan pilihan terakhir dalam daftar penelusuran kami tentang budaya peranakan Semarang, lantaran prioritas kami ialah mengungkap hal-hal di Pecinan Semarang yang masih jarang terdengar orang banyak. Namun, nasib kami siang itu berkata lain, yang membuat keputusan kami justru menuju ke rumah dalang Thio Tiong Gie. Kediaman Thio Tiong Gie berada di Kampung Pesantren, Kelurahan Purwodinatan.

Thio Tiong Gie (73 tahun) merupakan pria kelahiran Demak pada 1933. Dilahirkan dari keluarga pedagang kain pemilik toko kain sederhana, Tiong Gie muda saat itu membantu usaha sang ayah, Thio Thian Soe. Ketika Perang Dunia II pecah dan Jepang menguasai Indonesia pada 1942, rumah beserta usaha keluarganya sebagai penopang hidup dirampok dan Thio Thian Soe sempat dipenjara entah karena alasan apa. Kemudian, ia dan keluarganya hijrah ke Semarang, sebab dianggap sebagai salah satu kota yang aman.

Hidup di kota besar seperti Semarang ternyata tidak mudah bagi keluarga Thio Thian Soe. Saat itu, Thio Tiong Gie masih berusia belasan tahun. Ayah Thio Tiong Gie membuka usaha baru, yaitu menjual makanan kecil (kue basah). Untuk mengemas kue basahnya tersebut, ayah Thio menggunakan koran bekas yang belinya secara kiloan.

Suatu kali, dalam satu ikat koran yang beliau beli, terselip buku cerita Tiongkok berjudul She Jin Kwee Cing Tse yang bukunya masih terjaga dengan baik hingga sekarang (Dwirahmi, 2010b). Sumber lain mengatakan judul buku itu Cu Hun Thay Cu Cao Kok (Putera Mahkota Cu Hun Melarikan Diri) (Nurhasim, 2009a).

Thio muda membawa buku itu ke mana-mana dan membacanya hingga khatam. Lama-lama dia jatuh cinta pada cerita itu. Kisah She Jin Kwee Cing Tse ini sudah diterbitkan versi Jawanya dan ditampilkan oleh banyak kelompok ketoprak di Yogyakarta yang dikenal dengan kisah Joko Sudiro.

Thio muda sangat suka menyambangi pagelaran wayang Potehi, sampai-sampai ia jatuh hati pada wayang kain kantung ini, yang saat itu masih disampaikan dalam bahasa Hokkian campur Melayu. Karena seringnya menonton, Thio muda lantas disarankan untuk belajar mendalang oleh sang pemilik wayang Potehi, Oei Sing Twie.

Hanya dengan memerhatikan dalang Potehi kala pentas selama bertahun-tahun ia dapat mencerap bagaimana cara mendalang, hingga akhirnya dalang muda pengagum Soekarno dan R.A. Kartini ini mendapat kesempatan pada usia 27 tahun (1960) untuk manggung di Cianjur. Ajakan sang guru membuka jalan baru bagi hidup Thio. Lakon pertama yang dibawakan ialah cerita She Jin Kwee Cing Tse dalam bukunya tadi. Inilah cikal-bakal Thio menjadi dalang Potehi.

Saat kami menjumpainya, kami menjadi lebih banyak tahu dari apa yang telah kami baca dan dengar tentang sosok Thio. Bahwa, penguasaan Thio Tiong Gie terhadap wayang tidak hanya sebatas pada Potehi, namun juga wayang purwa (kulit) Jawa. Ia mengatraksikan kebolehannya dalam hal perbedaan suluk wayang Jawa dan wayang Cina.

Suluk dilantunkannya dengan suara yang ngebas dan lantang. Secara bergantian, setelah suluk wayang Jawa, lalu suluk wayang Cina. Menakjubkan, karena pria berdarah Tionghoa ini sangat fasih dalam suluk wayang Jawa, sekilas persis seperti dalang wayang kulit kawakan.

Banyak kisah yang keluar dari mulut dalang Thio ini, gaya berceriteranya penuh semangat, enerjik, dan mungkin karena ini semua kisah menjadi lebih menarik. Pun, kisah-kisah pribadinya. Dalang berwajah sangar namun sungguh ramah dan santun ketika menerima tamu ini, kini masih membuka usaha bengkel las “Bintara” yang ia buka tatkala pemerintah Orde Baru mengebiri segala aktivitas barbau budaya Tionghoa sekitar 30 tahun silam. Sikap dalang Thio yang seperti ini meruntuhkan stereotipe orang awam yang bilang bahwa orang-orang Tionghoa itu tertutup dan kurang ramah (Dwirahmi, 2010b).

Kini, di usianya yang senja, selain kemampuannya mempertunjukkan berbagai ceritera asli Tiongkok dalam pentas wayang Potehi, Thio Tiong Gie masih memiliki daya ingat yang luar biasa, sehingga sosoknya yang karismatik di mata banyak orang ini pantas menjadi narasumber bagi kita yang ingin tahu tentang budaya Tionghoa. Sebab itu, tak salah bila predikat penjaga tradisi, pendeta, budayawan, seniman, hingga sejarawan disematkan padanya. Saat kami bertamu, ia mengatakan,”selagi saya masih hidup, biar saya ceritakan sejarah raja-raja Nusantara dan juga Soekarno.”

Sukarno? Ya, dalam benak Thio hanya ada dua pemimpin dunia yang tak tergantikan, yakni salah satunya Soekarno. Kekagumannya akan Soekarno nampak di ruang tamu tempat kami berbincang, ada gambar Soekarno yang cukup besar tertempel di salah satu sudut dinding rumahnya. Ada kisah menarik di balik gambar Soekarno itu.

Gambar itu pernah dibungkus kertas, kerdus, sabut kelapa dan sebagainya, lantas dikubur di bawah pohon jeruk (yang kini telah berganti menjadi pohon belimbing) di halaman rumah oleh Thio selama 32 tahun! Ini ia lakukan lantaran perasaan ketakutan pada rezim Soeharto dan kecintaannya pada Soekarno bercampur-baur saat itu. “Siapa yang berani masang foto Bung Karno pada saat itu? Tidak ada!” katanya berapi-api kepada kami.

Apa yang terurai di atas sesungguhnya masih berupa pembacaan awal, yang akan terus didalami. Salam Pecinan. []

*Anastasia Dwirahmi adalah alumnus Masters of World Heritage Studies, BTU Cottbus, Jerman sementara Khidir Marsanto P. merupakan peneliti sosial-budaya Parikesit Institut, alumnus Antropologi UGM.

Referensi

Dwirahmi, A. 2010a. Bukan Sekedar Potehi. Catatan perjalanan diunduh dari: https://anastasiadwirahmi.wordpress.com/2010/07/03/bambang-sutrisno-babak-pertama/.

__________. 2010b. Bambang Sutrisno. Catatan perjalanan diunduh dari: https://anastasiadwirahmi.wordpress.com/2010/07/07/bukan-sekedar-potehi/.

Lestari, N. 2005. Dari Wayang Potehi ke Wayang Thithi: suatu kajian historis seni pertunjukan wayang Potehi di Semarang dan Perkembangannya. Makalah seminar “600 tahun Kedatangan Laksamana Cheng Ho”, 2 Agustus di Semarang.

Mastuti, D.W.R. 2004. Wayang Cina di Jawa Sebagai Wujud Akulturasi Budaya dan Perekat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Makalah seminar naskah kuno Nusantara “Naskah Kuno Sebagai perekat Negara Kesatuan Republik Indonesia” di PNRI, Jakarta 12 Oktober.

Nurhasim, A. 2009a. “Warisan Wayang Tiongkok,” Majalah arti, edisi 021, November. hlm. 83-87.

__________. 2009b. “Setelah Diskriminasi, Kini Krisis Datang,” Majalah arti, edisi 021, November. hlm. 92-93.

Suara Merdeka. 2010a. “Para Penjaga Budaya Tionghoa (1): Lestarikan Tradisi lewat Inovasi Batik Kaligrafi.” 12 Februari.

Suara Merdeka. 2010b. “Para Penjaga Budaya Tionghoa (2): Tjan ID dan Thio Tiong Gie berpayah-payah siapkan pengganti”. 13 Februari.

Sumber Foto: Anastasia Dwirahmi, Dadang Pribadi, dan Tim Riset Byar C.I.

Identitas di Persimpangan Jalan: Resensi buku “Tokoh Tionghoa dan Indentitas Indonesia” karya Leo Suryadinata*

Tokoh Tionghoa memang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Pemikiran dan  perjuangan mereka dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat telah memberikan sumbangan yang berarti bagi negeri. Dari sekian banyak tokoh yang memiliki peran penting, Leo Suryadinata merangkum delapan sosok Tionghoa yang sepak terjangnya dianggap signifikan dalam kaitannya dengan pendefinisian identitas kebangsaan masyarakat Tionghoa di Indonesia. Terutama, sepanjang era 1920-1970. Delapan orang tokoh ini adalah mereka yang tergolong agresif dalam menyuarakan isu identitas, yang utamanya melalui keterlibatan mereka dalam dunia tulis-menulis serta jurnalistik.

Delapan fragmen yang dihadirkan Suryadinata lewat penerbit Komunitas Bambu ini adalah terbitan ulang dari buku berjudul Mencari Identitas Nasional: Dari Tjoe Bou San sampai Yap Thiam Hien yang pernah diterbitkan oleh LP3ES pada tahun 1990. Walaupun dibukukan menjadi satu, bukan berarti riwayat kedelapan tokoh yang dipilih oleh Suryadinata ini memiliki pandangan yang seragam mengenai identitas kebangsaan. Ada Tjoe Bou San dan Kwee Kek Beng yang menganut nasionalis Tionghoa. Bou San, yang sempat bekerja di Sin Po ini, gigih memperjuangkan pemberantasan Undang-undang kekawulaan pemerintah kolonial Belanda. Sementara, Kek Beng adalah penerus Bou San di surat kabar yang sama.

Kemudian, ada Kwee Hing Tjiat yang melepaskan konsep nasionalisme Tionghoanya dan menganjurkan pembauran total. Lalu, di tempat lain hadir sosok P.K. Ojong yang juga menyarankan pembauran total dengan budaya masyarakat setempat. Upaya ini mendapatkan tantangan keras dari Yap Thiam Hien yang anti ganti nama serta anti-asimilasi. Sementara itu, dalam hal keagamaan, ada dua tokoh yang diangkat yaitu Kwee Tek Hoay, penganjur ajaran Tridharma dan Abdul Karim Oey, pendiri Persatuan Islam Tionghoa di Indonesia. Kiprah mereka dalam bidang agama ini juga sangat berpengaruh terhadap orientasi masyarakat Tionghoa akan kebangsaan.

Dari buku ini, juga dapat kita peroleh informasi mengenai keterlibatan mereka dalam beberapa organisasi dan media massa besar, baik itu yang mereka dirikan maupun sebagai wadah bagi mereka untuk menyalurkan idealisme dan pemikiran mengenai identitas Tionghoa. Organisasi dan media massa tersebut antara lain adalah surat kabar Sin Po, majalah Intisari, BAPERKI, Tiong Hwa Hwee Kwan dan Partai Tionghoa Indonesia (PTI), sebuah partai berorientasi Indonesia yang didirikan oleh Liem Koen Hian. Perbedaan pandangan yang dimiliki tokoh-tokoh ini disebabkan juga karena pengaruh dari organisasi di mana mereka terlibat.

Suryadinata mengatakan bahwa buku ini belum bisa mewakili seluruh tokoh Tionghoa yang berperan dalam kurun waktu tersebut, maka ada beberapa nama lain yang disebut sekilas, namun perannya tidak kalah penting. Seperti misalnya Oei Tjong Hauw, anak dari Oei Tiong Ham yang dengan perusahaan besarnya ternyata menggagas lahirnya sebuah surat kabar bernama Mata Hari, terbit pertama kali di Semarang pada tahun 1934. Selain itu ada pula Dr. Yap Hong Tjoen seorang ahli mata lulusan sekolah Belanda yang mendukung Undang-undang kekawulaan Belanda.

Dari kisah latar belakang pendidikan, kelas sosial, dan pengalaman pergerakan dan kelembagaan tokoh-tokoh dalam buku ini, kita bisa memahami mengapa ada beberapa orang Tionghoa yang kemudian lebih memilih menjadi nasionalis Tionghoa. Semua itu bukan karena mereka tidak menghargai Indonesia, tetapi lebih karena tekanan dari pemerintah Belanda. Bahkan, Kwee Kek Beng juga menyokong pergerakan nasionalis Indonesia melalui tulisan-tulisannya di surat kabar. Dalam setiap cerita pun, kita bisa membaca bahwa pada akhirnya mereka justru menyuarakan agar orang Tionghoa menjadi Indonesia.

Judul : Tokoh Tionghoa dan Indentitas Indonesia : Dari Tjou Bou San Sampai Yap Thiam Hien

Penulis : Leo Suryadinata
Penerbit : Komunitas Bambu, 2010

*Leo Suryadinata adalah direktur Chinese Heritage Centre dan profesor di Nanyang Technological University,  Singapura.