Tentang Bir dan Perpisahan dengan Jerman

Sebelum memulai tulisan mengenai bir ini, saya hendak mengumumkan bahwa saya telah lulus s2! Yeay! Saya ujian tanggal 20 September yang lalu, dan lulus dengan hasil yang sangat baik menurut dosen saya. Terima kasih ya buat semua yang sudah mendukung dan mendoakan saya, semoga ilmunya bermanfaat. Amin amin.

Ketika saya memberi kabar kepada beberapa sahabat di Indonesia bahwa saya telah lulus, kebanyakan dari mereka -setelah mengucapkan selamat, bertanya, “dirayain pake bir nggak, Mi?” atau ada juga yang memaksa, “you should celebrate with big glasses of beer!”. Yang tentu saja sudah pasti absolutely saya lakukan, apalagi suami saya ikut ke Jerman kali itu, dan selama 3 minggu di sana, kayaknya dia sudah mencicipi lebih banyak merk bir daripada saya yang 2 tahun tinggal di sana hahaha.

Sebanyak apa bir yang suami saya cicipi? Ya mungkin ada sekitar 15-20 merk bir. Tapi sebenarnya, di Jerman saja ada lebih dari 1.300 brewery atau Bahasa Jermannya “Brauerei”. Nah dari 1.300 brewery itu, ada sekitar 5.000 merk bir yang diproduksi. Seperti yang sudah bisa kita duga sebelumnya, brewery paling banyak terletak di Bavaria, tepatnya di kota Bamberg. Tapi mungkin belum banyak yang tahu tentang ini: bahwa banyak biara-biara Katolik yang memproduksi bir, terutama dari ordo Benediktin.

Mengenal Komponen dan Jenis Bir

img_7262_2

Beberapa jenis bir yang saya cicipi ketika seminar. Salah satunya adalah bir yang diproduksi oleh brewery tertua di Jerman yaitu Weihenstephan (botol ketiga dari kiri), yang juga diproduksi oleh para Benediktin di biara mereka.

Kebetulan, selama 3 hari di bulan September kemarin, saya juga harus mengikuti seminar yang diselenggarakan oleh pemberi beasiswa saya, yaitu KAAD. Tema seminar kali itu adalah “Bierkulturen” atau Beer Culture. Saya merasa beruntung sekali bisa ikut seminar tersebut karena jadi bisa mengenali sejarah dan budaya orang Jerman….enggak ding, saya merasa beruntung karena bisa nyicipin macam-macam bir haha. Jadi mungkin yang pernah ikut wine tasting atau wine course(?) atau semacamnya bisa kebayang bahwa ini semacam itu tapi bir dan gratis tis.

Sebagai bagian dari seminar, kami mengunjungi brewery di dekat St. Ottilien bernama Andachs. Brewery ini juga dimiliki oleh ordo Benediktin sejak awal berdirinya, Andachs adalah namanya bukit tempat biara pastur-pastur itu berada. Pemandu kami menjelaskan bahwa ordo Benediktin banyak yang memiliki brewery karena mereka adalah ordo pekerja. Jadi mereka biasanya punya ladang, punya kebun, punya peternakan, dan tentu saja mereka bikin roti dan bir. Apa hubungannya roti dan bir?

img_7275_2

“Krug” atau gelas bir yang disimpan di loker di Andachs. Dulu kalau orang minum bir, mereka punya gelas sendiri-sendiri yang mereka simpan di brewery dan mereka pakai ketika minum di sana.

Bir dan roti sebenarnya memiliki bahan baku yang (hampir) sama, yaitu gandum (dan ragi) plus air. Dalam bir ditambahkan juga hops atau “hopfen”. Fungsi dari tanaman ini adalah untuk memberi rasa getir pada bir. Konon katanya, dulu orang-orang nggak tau kalau mereka bisa bikin bir langsung dari gandum, ragi dan air. Jadi mereka bikin roti dulu, trus rotinya direndam sampe buyar dan terfermentasi maksimal hehehe…makanya bir disebut “flüssiges Brot” atau roti cair (euw). Walaupun di Indonesia sempat dilarang beredar di minimarket kesayangan anda, di Jerman pada jaman dahulu kala, bir dianggap minuman yang menyehatkan, juga untuk anak-anak. Ini disebabkan karena bir sudah melalui proses perebusan yang lama. Sementara air minum biasa itu dianggap kotor…(terus saya jadi mikir kenapa mereka nggak ngerebus air aja ya?). Eh tapi walaupun anak-anak dulu boleh minum bir, jumlahnya sedikit sekali, paling cuma ditetesin aja ke mulut, macam vaksin polio.

Nah lalu, tahukah anda bahwa 80% bir yang diproduksi di dunia ini adalah jenis Pilsner? Atau paling tidak mengaku-ngaku jenis itu? Coba cek botol Bir Bintang masing-masing. Kenapanya saya juga kurang jelas, tapi Pilsner sebenarnya adalah bir asli Ceko atau pada saat itu masih bernama Bohemia, tepatnya di kota Pilsen pada tahun 1842. Bir dari Pilsen ini dianggap mempunyai rasa yang lebih “mild” daripada bir buatan Jerman pada umumnya. Konon katanya sih karena air di Pilsen kandungan mineralnya lebih sedikit. Pilsen juga selalu berwarna terang tidak seperti kebanyakan bir dari Inggris misalnya yang gelap.  Merk bir Pilsen pertama adalah Pilsner Urquell, sampai saat ini masih bisa dibeli di supermarket.

Bir memiliki dua macam cara fermentasi: ada yang di atas atau top-fermented atau di bawah tanah bottom-fermented. Kedua cara fermentasi ini katanya sih menghasilkan reaksi ragi yang berbeda dan rasa bir yang berbeda. Tapi sungguh, saya ini nggak bisa membedakan rasa bir. Taunya cuma enak atau nggak enak itu aja. Lalu dari mana datangnya warna terang dan gelap pada bir? Dari gandumnya. Kalau warnanya gelap, berarti gandumnya sudah dipanggang dulu, menghasilkan aroma yang agak smoky gitu.

Tahun ini Jerman, khususnya mungkin Bavaria sedang merayakan “500 Tahun Dalil Kemurnian”, dalam Bahasa Inggris “500 Years of Purity Law” atau Bahasa Jermannya “500 Jahre Reinheitsgebot”. Purity Law adalah aturan atau faham (pake p apa f nih) yang menganggap bahwa bir terdiri dan HANYA BOLEH terdiri dari tiga unsur ini: air, gandum dan hops. Jadi kalau ditambah yang lain, ya itu melanggar aturan. Walaupun begitu, saat ini banyak brewery yang sekarang sudah mencampur baurkan perasa ke dalam bir. Mungkin kalau anda pernah minum Radler, nah itu…sudah nggak suci lagi bir itu maksudnya.

beer-reinheitsgebot_1000x667

Gandum, Hops dan Air, hanya tiga hal tersebut yang boleh ada di bir berdasarkan Purity Law. Sumber: http://www.travel1000places.com

Bir dan Orang Yahudi

Bicara soal suci, sekarang coba kita bicarakan soal orang Yahudi (ih apa hubungannya coba). Saya akan bicara khusus mengenai bir dan orang Yahudi di Jerman karena kami juga berkunjung ke Jüdisches Museum München, atau Museum Yahudi Munich di mana sedang diselenggarakan pameran bertajuk “Bier ist der Wein dieses Landes” atau “bir adalah wine-nya daerah ini.” Pameran ini bercerita mengenai asal muasal bir di tanah Mesir dan juga para pengusaha bir dengan latar belakang Yahudi. Satu hal yang sangat menarik bagi saya adalah bahwa orang Yahudi yang selalu mengalami tekanan (anti-semitism selalu ada bahkan sebelum Hitler, fyi) tetap mencari akal bagaimana bisa bertahan hidup.

Di Jerman sempat ada pelarangan bagi orang Yahudi untuk membuka brewery. Tapi mereka tidak menyerah begitu saja melainkan mencari cara bagaimana mereka bisa ikutan dalam bisnis minuman yang menjanjikan itu tanpa perlu buka brewery. Jawabannya adalah, mereka membuka ladang hops. Dan hops yang mereka hasilkan selalu yang terbaik, karena mereka tidak mau dicibir sebagai “pedagang Yahudi yang tidak becus”. Orang-orang Yahudi ini juga yang pertama kali menemukan ide untuk memproses dan menjual hops dalam bentuk pelet (kayak makanan ikan) sehingga lebih memudahkan dalam proses pengiriman dan untuk pengolahan selanjutnya.

Ada lagi cerita yang menarik. Yaitu soal pemakaian tanda bintang di pintu brewery tradisional di sekitar Bavaria. Banyak yang menyangka, tanda bintang ini menandakan bahwa pemilik rumah-rumah bir tersebut adalah orang Yahudi. Tapi ternyata bukan. Simbol bintang mereka pakai sebagai bagian dari tradisi dan kepercayaan untuk menolak api/ mencegah kebakaran. Semacam tolak bala gitu. Dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Star of David-nya orang Yahudi. Terus saya jadi cerita sama mas pemandu museumnya kalau bir di Indonesia namanya Bir Bintang hehehe 😀

brewersstarmonk

Ilustrasi yang menunjukkan seorang rahib mengaduk rebusan bir dengan simbol bintang di atasnya sebagai pelindung. Sumber: http://www.brewingmuseum.org

Apakah bir halal untuk orang Yahudi? Jawabannya ya dan tidak. Yahudi, seperti yang kita tahu, juga mengenal prinsip halal dan haram. Salah satu bedanya di istilah. Mereka menyebutnya dengan kosher (halal) atau treif (haram). Konon pada suatu waktu, seorang Rabbi datang ke tanah Bavaria. Orang-orang Yahudi di situ memintanya melakukan perjamuan, tapi Rabbi menolak karena tidak ada anggur. Orang-orang Bavaria itupun berkata “tapi kami tidak punya anggur di sini!” dan Rabbi itu bertanya “lalu kalian punya apa?” lalu jawab mereka “kami punya bir! Asli dari tanah kami.” Maka berkatalah Rabbi itu, “baiklah, kalau memang bir adalah anggurnya tanah ini, mari kita adakan perjamuan.” Duh coba dia datangnya ke Semarang. If you know what I mean haha.

Sebagai penutupan dari rangkaian seminar, kami berkunjung ke Oktoberfest which literally is heaven on earth (or hell on earth, depends on your point of view heheh). Di sana saya dan suami merasakan bagaimana rasanya mabuk karena bir. Bir untuk Oktoberfest memang disiapkan khusus. Mulai dibuat katanya di bulan Maret dan dibuka di bulan September, dengan kandungan alkohol yang lebih tinggi tapi rasanya lebih enteng. Makanya nggak terasa tau-tau udah pusing aja.

Mengenal bir selama seminggu terakhir saya di Jerman menjadi sebuah tanda perpisahan yang berkesan bagi saya dan negara tersebut. Rasanya sedih juga karena kali ini saya tidak tahu pasti kapan bisa kembali lagi. Saya belajar banyak, saya betul-betul belajar banyak dari negara tersebut dan orang-orang yang saya temui di sana. Tapi nggak boleh sedih karena di Indonesia pun enak dan bisa berkarya. Terima kasih terima kasih sekali lagi 🙂

Prost!!

Advertisements

Museum di Bonn dan Ziarah ke Aachen

Judulnya agak nggak kreatif ya? Hehe…kemampuan menulis saya semakin berkurang akhir-akhir ini. Mungkin karena jarang dilatih 😛 Anyway, seperti yang sudah saya janjikan kemarin, saya akan menulis pengalaman saya jalan-jalan ke salah satu museum di Kota Bonn, Jerman. Kebetulan hari Kamis tanggal 19 Juni 2014 yang lalu adalah hari libur di sini, jadi saya sempatkan waktu itu untuk pergi ke museum. Saya pergi bersama dua orang teman baru dari Guatemala : Jeniffer dan Carla. Ohya, Jeniffer juga mau ngambil master di bidang heritage kayak saya, bedanya dia lebih spesifik; Monumental Heritage (di Dessau). Saya seneng ketemu dia karena ada temen jalan-jalan ke museum dan mengeksplorasi cerita (sejarah) tentang tempat-tempat yang kami kunjungi….nggak semua orang suka lho melakukan itu. Saya ingat dulu sebagian besar orang Indonesia yang ada di Dresden itu kayak ‘pasrah’ gitu aja sama sekitar, maksudnya ga peduli sama betapa menariknya kota itu dan betapa beruntungnya mereka bisa kuliah di sana. Mungkin karena mereka ga merasa beruntung? Hehe…

Kami bertiga berangkat dari Kreuzberg setelah makan siang. Hari itu museum tutup jam 18.00 jadi masih ada waktu lumayan buat liat-liat semua pameran. Kami bertiga masuk dengan tiket gratis dari Stadthaus, nah masalahnya saya lupa nanya kalo bayar, saya harus bayar berapa hehe 😀 Museum ini bernama LVR-Landesmuseum Bonn/ Rheinisches Landesmuseum Bonn. Bagian luar bangunan terbuat dari kaca. Sepertinya dulu di tempat di mana museum itu berdiri, ada sebuah bangunan tua, soalnya di balik kaca itu kayak ada sisa peninggalannya.

Image

Jeniffer, saya, dan Carla di depan LVR-Landesmuseum Bonn

Image

Dengan pergi ke museum ini, pengunjung bisa belajar bagaimana kehidupan manusia yang tinggal di tepi Sungai Rhine jaman dulu (2000 tahun yang lalu). Kala itu, bangsa Romawi masih menguasai daerah yang (dulu) bernama Germania ini (?). Dari mulai kehidupan sehari-hari seperti bagaimana mereka mencari makan, masak, alat transportasi, agama, sampai ritual penguburan. Mereka menunjukkan periode-periode kehidupan masyarakat di tepi Sungai Rhine sehingga kita bisa tau gimana mereka mengalami perubahan dan perkembangan dari waktu ke waktu. Seperti biasa museum di Jerman itu canggih dan sophisticated. Hehe…saya bingung bagaimana ya menjelaskannya? Btw, ketika kami berkunjung ke sana, lagi ada pameran khusus soal peninggalan benda-benda perunggu dari jaman Romawi. Yang disayangkan adalah, museum di Jerman ini jarang sekali menyajikan keterangan dalam Bahasa Inggris, jadi saya nggak mudeng 😦 tapi saya jadi termotivasi untuk belajar Bahasa Jerman lebih baik lagi 🙂

Image

And here comes the best experience so far : saya dapat kesempatan untuk mengunjungi Aachen dan terlibat dalam sebuah perjalanan spiritual yang terjadi hanya sekali dalam 7 tahun. Yes, once in 7 years!! Dan pas banget yang terakhir itu tahun 2007, jadi tahun 2014 ini ada lagi. Ziarah ini bertujuan untuk menghormati 4 relik yang dianggap suci menurut kepercayaan Katolik : 1. Pakaian yang dikenakan Bunda Maria ketika melahirkan 2. Kain pembalut bayi Yesus (semacam kain bedong gitu) 3. Kain pinggang ketika Yesus disalib dan 4. Kain pembungkus kepala Yohanes Pembaptis. Jadi setiap 7 tahun sekali relik-relik tersebut dipamerkan untuk publik.

Image

Koeln Cathedral

Kami berangkat dari Bonn naik kereta dengan group ticket. Satu tiket harganya 41 euro bisa dipake berlima selama sehari untuk keliling ke mana aja selama masih dalam bagian Nord-Rhine Westfalen (NRW). Hari itu hari Minggu, 22 Juni 2014, tapi kami semua (15 orang) udah bangun jam 5.30, mandi, terus berangkat (tiket ini juga berlaku untuk naik bisa dalam Kota Bonn, jadi dari Kreuzberg kami ga perlu jalan kaki ke stasiun). Kami harus ganti kereta di Koeln, dan pas lagi nunggu kereta sambungannya dateng, foto-foto bentar di depan Katdreal Koeln yang tersohor itu (Katedral ini adalah gereja Katolik tertinggi di dunia, sebenernya kalo Sagrada Familia yang di Spanyol itu sudah selesai, dia bakal jadi yang tertinggi, tapi sampe sekarang blm selesai pembangunannya).

Image

With my best bb’s. Yeeaayyyy!!!

Kira-kira pukul 9.00 kami sudah sampai di Aachen. Ziarah dimulai dengan tur singkat di pusat kota Aachen, kemudian kami bergegas cari tempat duduk untuk ikut misa yang dimulai jam 11.00. Misanya panas banget, saya memutuskan untuk nggak ikut. Gila aja dipanggang gitu di siang bolong, saya (dan Jeniffer) memutuskan untuk masuk ke museum di sebelah lapangan tempat misa diadakan. Hehe…di dalem lebih adem dan kita bisa ngintip-ngintip dikit pameran tentang Charlemagne (kalo mau masuk pameran bayar 10 Euro).

Image

di gerbang tua kota Aachen

Image

Holy (Hot) Mass

Oiya, Charlemagne (atau Charles the Great) adalah sosok yang sangat terkenal buat umat Katolik di Eropa. Beliau ini dijuluki Father of Europe (kata seorang romo yang jadi guide kami hari itu). Charlemagne adalah raja dari Francia. Francia itu sebuah kerajaan di Eropa jaman dulu yang terdiri dari konfedarasi orang-orang Germanic. Dulu Eropa batas negara bangsanya belum kayak sekarang ya, jadi agak rumit juga ceritanya. Hehehe…Beliau bertahta dari tahun 768-814, meninggal di Aachen, dan dialah yang mendirikan katedral yang pada tahun 1978 masuk dalam daftar pertama World Heritage menurut UNESCO (ada 12, Katedral Aachen ini salah satunya). Di katedral ini telah dinobatkan 30 orang raja yang pernah memimpin Jerman dan sekitarnya 😀 Sejarah mengenai kenapa Charlemagne begitu penting dan bagaimana beliau bisa mendapatkan 4 relik terpenting itu bisa dibaca di sini. Singkatnya dia mendapatkan relik-relik tersebut sebagai hadiah dari Yerusalem karena jasanya melindungi umat Katolik di Eropa.

Image

Tampak depan Katedral Aachen

Image

Salah satu bagian dari Katedral Aachen, kacanya bagus ya 🙂

Image

ini juga bagian dalam dari Katedral Aachen, sebenarnya langit-langitnya bagus tapi nggak kefoto karena ada tali pembatas yang ga boleh dilewatin

Image

Jubah yang katanya pernah dikenakan Bunda Maria

Mungkin pada bertanya-tanya ya, masa sih reliknya asli? Saya sendiri kurang mau membicarakan apakah saya percaya itu asli atau tidak, saya cuma mau bilang bahwa saya lebih tertarik pada kesempatan untuk terlibat di peziarahan yang bersejarah ini. Tradisi ini sudah berlangsung selama 660 tahun! Lagipula pergi ke Aachen sangat mudah dari Bonn. Kalau saya lagi di Indonesia, ya ngapain juga kali jauh-jauh terbang ke Jerman hehehe….

Hhhhmmm kayaknya ceritanya udahan dulu soalnya harus belajar. Besok Jumat ujiaannn 😥

Ulang Tahun Tere di Museum Ronggowarsito

Akhirnya cita-cita saya selama satu tahun ini tercapai, merayakan ulang tahun anak saya, Tere di museum. Setelah pulang dari Jerman dalam rangka magang di beberapa museum di Dresden, Leipzig dan Berlin, saya ingin sekali menerapkan ilmu yang saya dapat di sana. Memang tidak mudah, butuh waktu sekitar 6 bulan sejak saya pulang untuk bisa merealisasikannya. Dan saya menemukan momen yang tepat, yaitu ulang tahun Tere yang ke-6. Sejak bulan Juni, saya sudah mengungkapkan ide ini pada suami, karena bagaimanapun juga saya tidak mungkin memutuskan ini sendirian. Selain itu saya butuh dukungan finansial dari dia, dan saya belum bisa memastikan apakah merayakan ulang tahun di museum akan lebih murah atau lebih mahal daripada merayakan ulang tahun di sekolah atau di KFC misalnya.

Saya mulai dengan memilih museum. Museum Ronggowarsito menjadi satu-satunya pilihan. Alasannya sederhana saja, dibandingkan museum-museum lain di Semarang, Ronggowarsito kondisinya lebih baik. Walaupun sayang sekali tidak bisa saya bilang ideal. Saya mulai melakukan pendekatan dengan museum tersebut. Setelah pulang dari hari pertama masuk sekolah, saya langsung mengajak Tere berkunjung. Saya pun melakukan survey kecil-kecilan, kira-kira ruang pamer mana yang siap dan pantas mendukung acara ini. Dari sekian banyak ruang pamer, hanya ada satu yang sudah cukup bagus karena baru selesai direnovasi. Ruang ini terletak di Gedung A, dan memerkan koleksi museum dari jaman pra-sejarah sampai masa Hindu-Buddha di Nusantara. Saat itu juga saya tanya sama Tere, “kamu mau ulang tahun di sini?” dia bilang mau. Dan saya melanjutkan rencana itu.

Saat kunjungan pertama kami ke Ronggowarsito

Lalu saya melakukan pendekatan pada pegawai museum. Kebetulan saya bertemu dengan Bu Herma, beliau adalah Kepala Seksi Tata Pameran dan Pelayanan (yang cukup mengherankan bagi saya, mengingat Tata Pameran dan Pelayanan adalah dua bidang di museum yang berbeda jauh). Bu Herma menyambut baik usul tersebut dan beliau sangat antusias. Apalagi setelah beliau tahu bahwa saya punya beberapa pengalaman terkait dengan museum. Beliau memperkenalkan beberapa staff Museum Ronggowarsito dan seorang pemandu bernama mas Zaki yang nantinya akan banyak membantu saya di acara ulang tahu Tere.

Beberapa minggu setelah kunjungan pertama, saya datang lagi ke Ronggowarsito. Kali ini untuk menentukan kira-kira nanti acaranya bagaimana. Saya menyusuri lagi ruang pamer di Gedung A lantai bawah, mencatat koleksi apa saja yang sekiranya tidak terlalu sulit untuk dijelaskan pada anak-anak. Beberapa di antaranya adalah Prasasti Canggal, Patung Buddha, Ganesha, Prambanan, Borobudur, Arca Durga, dan Ratu Sima. Saya memilih yang sedekat mungkin dengan anak-anak. Alasan saya memilih Ganesha, karena dia berkepala gajah sehingga pasti menarik perhatian, Durga, bertangan banyak, dan Ratu Sima adalah seorang Ratu yang tentunya menarik bagi anak-anak perempuan.

Kira-kira ada 10 koleksi yang harus dijelaskan oleh pemandu. Saya tidak ingin anak-anak kehabisan waktu dan energi dalam tour, karena setelah tour, ada games yang sekaligus menjadi penutup acara. Games-nya saya rancang seperti ini : anak-anak akan dibagi dalam kelompok terdiri atas 5-6 orang, mereka harus berusaha menjawab pertanyaan di pos-pos yang ada di ruang pamer. Setiap pos dijaga oleh kakak pemandu yang membawa kertas pertanyaan dan hadiah setelah mereka menjawab pertanyaan. Jumlah pos ada 6, dan semua pos terletak di koleksi yang tadi sudah dijelaskan dalam tour.

Isi pertanyaan dalam pos-pos tersebut adalah : 1. Berapa tangan Durga Mahisasuramardhini? 2. Ganesha berkepala apa? 3. Terbuat dari apa uang kuno ini? 4. Ada berapa jumlah Candi Gedongsongo? (saya juga menambahkan perintah bagi mereka untuk berhitung 1-10 dalam Bahasa Jawa, ini sesuai dengan kurikulum sekolah. Mereka kelas 1 SD, baru saja dapat pelajaran Bahasa Jawa) 5. Tirukan cara duduk Buddha! dan 6. Gambarlah Prasasti Canggal dan isilah dengan ucapan selamat ulang tahun untuk TERE!

Saya merasa, ke-6 pertanyaan tersebut cukup mewakili pola pendidikan anak yang mencakup aspek kognitif, motorik dan kreatifitas anak.Setelah itu, mereka berjalan menuju pintu keluar dan acara selesai.

Pelaksanaannya ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Menurut pengalaman, akan lebih baik jika jumlah anak tidak terlalu banyak, 20 adalah jumlah ideal. Tapi, jumlah teman sekelas Tere saja ada 40 anak, belum ditambah dengan teman-teman TK nya yang sekarang duduk di kelas lain. Total ada 53 undangan yang saya sebar, dengan permohonan konfirmasi keikutsertaan. Pesta diadakan hari Minggu, 5 Agustus dan sampai hari Sabtu, 4 agustus jumlah anak yang konfirmasi berjumlah 40. Saat itu saya berpikir, mungkin acaranya akan sedikit di luar rencana.

Undangan Ulang Tahun Tere dan sticker suvenirnya

Untungnya, saya memiliki banyak teman yang bersedia membantu. Salah satunya adalah Mbak Palma dari Sanggar Tari Amarta Laksita, dia setuju untuk membantu saya dengan cuma-cuma. Karena ada 40 anak, maka tour harus dibagi menjadi 3 kelompok, agar situasi tetap aman terkendali. Nah, anak-anak yang sedang menunggu giliran tur diberi workshopdolanan anak oleh Mbak Palma.

Salah satu kelompok sedang dijelaskan mengenai Ganesha

Jadi, pada hari Minggu tanggal 5 Agustus, acara kami mulai pukul 11 siang. Pertama, anak-anak kami kumpulkan dalam ruangan, untuk pemanasan, sambil berkenalan dengan para pemandu. Lalu kami membagi mereka menjadi 3 kelompok. 1 kelompok pergi untuk tour, yang 2 kelompok menunggu sambil ikut workshop. Setelah semua kelompok dapat giliran tour, mereka kami biarkan istirahat sebentar untuk minum. Waktu istirahat ini juga kami manfaatkan untuk tiup lilin dan potong kue. Setelah anak-anak segar kembali, kami membagi mereka menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil (dan percayalah, membagi anak-anak menjadi kelompok itu susahnya minta ampun).

Setelah kelompok terbentuk, mereka kembali lagi ke ruang pamer. Sudah ada kakak pemandu di masing-masing pos dengan pertanyaan. Jika berhasil menjawab atau melaksanakan perintah, mereka akan diberi stickerbertuliskan “ayo ke museum”. Saya sengaja membuat suvenir yang berfungsi sebagai kenang-kenangan sekaligus bisa untuk kampanye soal museum. Di pintu keluar, mereka disambut oleh Tere (Tere sengaja saya tempatkan di kelompok pertama untuk games, jadi dia bisa menyambut teman-teman yang lain) yang bertugas membagi balon dan bingkisan berupa snack dan makan siang.

Pos menirukan Dhyani Buddha Amitabha

Pos Menggambar Prasasti Canggal dan Menulis Ucapan

Salah satu gambar Prasasti Canggal menurut imajinasi temen-temen Tere 🙂

Kebetulan, Museum Ronggowarsito memiliki ruang yang cukup luas dengan tempat duduk yang nyaman bagi para orang tua yang menunggu. Ada juga orang tua yang terdorong untuk masuk ke beberapa ruang pamer dan mengelilingi museum. Guru kelas Tere juga hadir saat itu. Beliau mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya dia melihat orang tua murid memiliki konsep acara ulang tahun seperti ini. Saya sendiri cukup puas dengan acaranya, walaupun banyak hal yang sepertinya perlu diperbaiki, dan ada juga yang tidak sesuai dengan rencana. Tapi intinya saya bangga karena bisa memberi inspirasi bagi guru dan orang tua murid yang lain, bahwa museum bisa menjadi pilihan untuk merayakan acara-acara serupa.

Akhir rangkaian acara, bagi balon dan bingkisan

Ini Tere (baju garis-garis) dan teman baiknya, udah mau pulang 🙂

Beberapa hal yang harus diperhatikan jika ada yang ingin mengadakan acara ulang tahun di museum adalah :

1. Pastikan museum menerima usulan anda dengan baik, dan kalau bisa mereka terlihat bersemangat.

2. Karena SDM di museum belum terlalu mengerti cara dan metode seperti ini, maka usahakan anda yang in charge, jangan menyerahkan sepenuhnya pada pihak museum.

3. Kerjasamalah dengan rekan-rekan anda, orang tua murid dan guru kelas dari si anak. Dijamin akan sangat membantu.

4. Lakukan beberapa kali survey pendahuluan, catat koleksi-koleksi yang penting dan relevan untuk anak.

5. Tentukan susunan acara yang pas, jangan terlalu singkat, jangan terlalu lama. Karena mungkin anak akan lelah dan orang tua malas terlalu lama menunggu.

6. Sebar undangan jauh-jauh hari dan minta orang tua untuk mengkonfirmasi keikutsertaaan anak.

7. Tetap patuhi peraturan dan batasan yang sudah ditetapkan oleh museum. Misalnya tidak boleh makan dan minum di dalam ruang pameran, tidak boleh menyentuh koleksi, dan sebagainya. Ini memang pesta, tapi juga tidak boleh seenak kita sendiri.

8. Jika ada games/ permainan/ workshop yang menuntut tersedianya alat tulis/ alat pendukung lainnya, sebaiknya anda yang menyediakan semua. Jangan minta pihak orang tua untuk membekali anaknya dengan alat-alat tersebut. Biasanya mereka malas, sudah disuruh datang ke museum, disuruh membawa macam-macam.

9. Selebihnya….bisa nanya sama saya. Hehe 🙂

Benda Cagar Budaya, Siapa Peduli?

Hari ini setidaknya ada 3 tulisan mengenai benda cagar budaya di Kompas. Yang pertama adalah mengenai minimnya upah para perawat benda cagar budaya di Kudus, yang kedua adalah mengenai Candi Muara Jambi yang “terkikis” oleh kegiatan industri tambang di sekitarnya dan yang ketiga mengenai Museum Radya Pustaka yang katanya lebih baik dikelola oleh pemerintah pusat. Membaca tulisan – tulisan tersebut, jujur saja membuat saya semakin pesimis dengan niat pemerintah dan orang-orang Indonesia dalam merawat peninggalan nenek moyang.

Upah seorang perawat benda cagar budaya di Kudus hanya sebesar Rp 75.000 per bulan, dengan alasan minimnya anggaran. Dan benda-benda bersejarah itu juga hanya disimpan di bekas sebuah balai kesehatan. Candi Muara Jambi juga semakin keropos karena tidak ada konservasi yang memadai. Padahal situs ini adalah universitas tertua di nusantara, tempat banyak cendekiawan masa lalu belajar. Mengenai Museum Radya Pustaka, saya rasa mau dirawat sama siapapun tidak ada bedanya selama yang merawat itu belum paham mengenai fungsi dan pengelolaan museum yang baik itu seperti apa.

Ketika saya membaca mengenai berita-berita itu, saya berpikir kenapa tidak ada (saya tidak pernah dengar) orang Indonesia yang mau menolong kasus-kasus seperti ini. Kudus adalah kota yang terkenal dengan industri rokok, saya tidak perlu menyebut merk. Perusahaan ini gencar mengatakan bahwa mereka juga peduli pada budaya, menurut saya omong kosong. Selama yang mereka danai itu konser jazz yang digawangi oleh seniman kota gudeg yang sudah mapan. Atau perusahaan lain yang berusaha mendukung pengembangan batik, ini dan itu. Tapi mereka hanya mau membiayai acara berskala besar, glamor, batik juga hanya sebatas fashion show, dan pameran (jualan).

Siapa yang mau merawat benda-benda peninggalan nenek moyang yang sudah ada ini? Yang sudah tua dan rapuh, tapi punya nilai historis teramat penting. Ketika saya mengunjungi Museum Keraton Surakarta beberapa waktu yang lalu, saya miris melihat kondisi museum tersebut. Tidak heran anak muda malas ke museum, jangankan mereka, saya yang suka museum saja malas ke museum itu. Di sana ada kereta kuda milik keraton yang sangat kental pengaruh Eropa-nya. Kereta ini memiliki ornamen malaikat-malaikat di sisinya dan desain serta warnanya sangat Eropa. Menurut saya ini unik untuk menggambarkan (mungkin) betapa kuat hubungan keraton Solo dengan Belanda misalnya. Ada dua buah kereta, dan keduanya berada di selasar terbuka, tidak terawat sama sekali.

kalau rumah saya besar, kereta ini mau saya minta saja

Hampir semua objek di dalam ruang pamer tidak ada keterangannya. Ruangannya berdebu, singup, lembab dan lemari-lemarinya kumuh. Waktu itu saya berpikir, lebih baik mungkin memang semua benda cagar budaya di Indonesia ini diberikan saja pada museum-museum di luar negeri. Dijamin lebih dirawat. Saya kadang heran kalau kita meraung-raung karena ada benda cagar budaya di tangan asing, memangnya kenapa? Apa ada jaminan kita bisa dan mau merawatnya dengan lebih baik? Apa cuma karena gengsi? Saya jadi ingat dulu sering  minta anjing, begitu dikabulkan oleh ayah saya, saya selalu malas merawat. Begitu anjing itu dikasih ke orang lain saya nangis merengek-rengek minta dikembalikan, ayah saya selalu bilang, “lha kamu ini aneh, wong anjingnya aja nggak kamu rawat, kenapa waktu papa kasih ke orang lain kamu nangis?”

Tempat penyimpanan wayang kulit di Museum fuer Voelkerkunde, Dresden. Bersih, rapi dan terawat.

Kalau kemarin sempat masyarakat kita heboh karena batik  katanya mau dicuri Malaysia, kenapa tidak heboh juga banyak batik di museum digerogoti rayap? Lalu semua orang tiba-tiba pakai batik (yang dipakai juga batik printing), semua orang jualan batik. Begitu kita menang dan batik diakui sebagai intangible heritage dari Indonesia, ya sudah, euphoria nya berhenti. Kelak batik-batik itu juga akan dimuseumkan dan dimakan rayap. Kita memang tidak bisa merawat apa yang sudah ada dan apa yang ditinggalkan oleh pendahulu kita. Orang Indonesia selalu senang dengan kegegapgempitaan, yang baru-baru. Sementara ruh nenek moyang kita tersimpan dalam diam di dalam fosil-fosil tidak terawat, di gudang museum-museum kita, atau yang lebih beruntung, di tangan bangsa lain.

random thoughts :

#1 orang Indonesia lebih suka dengan yang intangible, karena bisa dimain-mainin. Karena namanya saja intangible, maka itu berupa konsep atau ide, jadi bisa diputar ke kanan dan ke kiri sesuai kemauan dan kepentingan mereka sendiri. Misalnya, “ya yang penting kan pelestarian motif batik, entah ini pameran cuma jualan atau apa kan yang penting pelestarian motifnya itu”. Beda dengan yang tangible. Bendanya ada di sana, diam saja. Kalau mau menguntungkan ya dijual (ilegal), kalau tidak ya dirawat (merepotkan).

#2 saya menulis ini dalam keadaan meriang luar biasa. Setelah selesai jadi sembuh. Terbukti menulis adalah obat yang ampuh mengatasi penyakit.