Tentang Bir dan Perpisahan dengan Jerman

Sebelum memulai tulisan mengenai bir ini, saya hendak mengumumkan bahwa saya telah lulus s2! Yeay! Saya ujian tanggal 20 September yang lalu, dan lulus dengan hasil yang sangat baik menurut dosen saya. Terima kasih ya buat semua yang sudah mendukung dan mendoakan saya, semoga ilmunya bermanfaat. Amin amin.

Ketika saya memberi kabar kepada beberapa sahabat di Indonesia bahwa saya telah lulus, kebanyakan dari mereka -setelah mengucapkan selamat, bertanya, “dirayain pake bir nggak, Mi?” atau ada juga yang memaksa, “you should celebrate with big glasses of beer!”. Yang tentu saja sudah pasti absolutely saya lakukan, apalagi suami saya ikut ke Jerman kali itu, dan selama 3 minggu di sana, kayaknya dia sudah mencicipi lebih banyak merk bir daripada saya yang 2 tahun tinggal di sana hahaha.

Sebanyak apa bir yang suami saya cicipi? Ya mungkin ada sekitar 15-20 merk bir. Tapi sebenarnya, di Jerman saja ada lebih dari 1.300 brewery atau Bahasa Jermannya “Brauerei”. Nah dari 1.300 brewery itu, ada sekitar 5.000 merk bir yang diproduksi. Seperti yang sudah bisa kita duga sebelumnya, brewery paling banyak terletak di Bavaria, tepatnya di kota Bamberg. Tapi mungkin belum banyak yang tahu tentang ini: bahwa banyak biara-biara Katolik yang memproduksi bir, terutama dari ordo Benediktin.

Mengenal Komponen dan Jenis Bir

img_7262_2

Beberapa jenis bir yang saya cicipi ketika seminar. Salah satunya adalah bir yang diproduksi oleh brewery tertua di Jerman yaitu Weihenstephan (botol ketiga dari kiri), yang juga diproduksi oleh para Benediktin di biara mereka.

Kebetulan, selama 3 hari di bulan September kemarin, saya juga harus mengikuti seminar yang diselenggarakan oleh pemberi beasiswa saya, yaitu KAAD. Tema seminar kali itu adalah “Bierkulturen” atau Beer Culture. Saya merasa beruntung sekali bisa ikut seminar tersebut karena jadi bisa mengenali sejarah dan budaya orang Jerman….enggak ding, saya merasa beruntung karena bisa nyicipin macam-macam bir haha. Jadi mungkin yang pernah ikut wine tasting atau wine course(?) atau semacamnya bisa kebayang bahwa ini semacam itu tapi bir dan gratis tis.

Sebagai bagian dari seminar, kami mengunjungi brewery di dekat St. Ottilien bernama Andachs. Brewery ini juga dimiliki oleh ordo Benediktin sejak awal berdirinya, Andachs adalah namanya bukit tempat biara pastur-pastur itu berada. Pemandu kami menjelaskan bahwa ordo Benediktin banyak yang memiliki brewery karena mereka adalah ordo pekerja. Jadi mereka biasanya punya ladang, punya kebun, punya peternakan, dan tentu saja mereka bikin roti dan bir. Apa hubungannya roti dan bir?

img_7275_2

“Krug” atau gelas bir yang disimpan di loker di Andachs. Dulu kalau orang minum bir, mereka punya gelas sendiri-sendiri yang mereka simpan di brewery dan mereka pakai ketika minum di sana.

Bir dan roti sebenarnya memiliki bahan baku yang (hampir) sama, yaitu gandum (dan ragi) plus air. Dalam bir ditambahkan juga hops atau “hopfen”. Fungsi dari tanaman ini adalah untuk memberi rasa getir pada bir. Konon katanya, dulu orang-orang nggak tau kalau mereka bisa bikin bir langsung dari gandum, ragi dan air. Jadi mereka bikin roti dulu, trus rotinya direndam sampe buyar dan terfermentasi maksimal hehehe…makanya bir disebut “flüssiges Brot” atau roti cair (euw). Walaupun di Indonesia sempat dilarang beredar di minimarket kesayangan anda, di Jerman pada jaman dahulu kala, bir dianggap minuman yang menyehatkan, juga untuk anak-anak. Ini disebabkan karena bir sudah melalui proses perebusan yang lama. Sementara air minum biasa itu dianggap kotor…(terus saya jadi mikir kenapa mereka nggak ngerebus air aja ya?). Eh tapi walaupun anak-anak dulu boleh minum bir, jumlahnya sedikit sekali, paling cuma ditetesin aja ke mulut, macam vaksin polio.

Nah lalu, tahukah anda bahwa 80% bir yang diproduksi di dunia ini adalah jenis Pilsner? Atau paling tidak mengaku-ngaku jenis itu? Coba cek botol Bir Bintang masing-masing. Kenapanya saya juga kurang jelas, tapi Pilsner sebenarnya adalah bir asli Ceko atau pada saat itu masih bernama Bohemia, tepatnya di kota Pilsen pada tahun 1842. Bir dari Pilsen ini dianggap mempunyai rasa yang lebih “mild” daripada bir buatan Jerman pada umumnya. Konon katanya sih karena air di Pilsen kandungan mineralnya lebih sedikit. Pilsen juga selalu berwarna terang tidak seperti kebanyakan bir dari Inggris misalnya yang gelap.  Merk bir Pilsen pertama adalah Pilsner Urquell, sampai saat ini masih bisa dibeli di supermarket.

Bir memiliki dua macam cara fermentasi: ada yang di atas atau top-fermented atau di bawah tanah bottom-fermented. Kedua cara fermentasi ini katanya sih menghasilkan reaksi ragi yang berbeda dan rasa bir yang berbeda. Tapi sungguh, saya ini nggak bisa membedakan rasa bir. Taunya cuma enak atau nggak enak itu aja. Lalu dari mana datangnya warna terang dan gelap pada bir? Dari gandumnya. Kalau warnanya gelap, berarti gandumnya sudah dipanggang dulu, menghasilkan aroma yang agak smoky gitu.

Tahun ini Jerman, khususnya mungkin Bavaria sedang merayakan “500 Tahun Dalil Kemurnian”, dalam Bahasa Inggris “500 Years of Purity Law” atau Bahasa Jermannya “500 Jahre Reinheitsgebot”. Purity Law adalah aturan atau faham (pake p apa f nih) yang menganggap bahwa bir terdiri dan HANYA BOLEH terdiri dari tiga unsur ini: air, gandum dan hops. Jadi kalau ditambah yang lain, ya itu melanggar aturan. Walaupun begitu, saat ini banyak brewery yang sekarang sudah mencampur baurkan perasa ke dalam bir. Mungkin kalau anda pernah minum Radler, nah itu…sudah nggak suci lagi bir itu maksudnya.

beer-reinheitsgebot_1000x667

Gandum, Hops dan Air, hanya tiga hal tersebut yang boleh ada di bir berdasarkan Purity Law. Sumber: http://www.travel1000places.com

Bir dan Orang Yahudi

Bicara soal suci, sekarang coba kita bicarakan soal orang Yahudi (ih apa hubungannya coba). Saya akan bicara khusus mengenai bir dan orang Yahudi di Jerman karena kami juga berkunjung ke Jüdisches Museum München, atau Museum Yahudi Munich di mana sedang diselenggarakan pameran bertajuk “Bier ist der Wein dieses Landes” atau “bir adalah wine-nya daerah ini.” Pameran ini bercerita mengenai asal muasal bir di tanah Mesir dan juga para pengusaha bir dengan latar belakang Yahudi. Satu hal yang sangat menarik bagi saya adalah bahwa orang Yahudi yang selalu mengalami tekanan (anti-semitism selalu ada bahkan sebelum Hitler, fyi) tetap mencari akal bagaimana bisa bertahan hidup.

Di Jerman sempat ada pelarangan bagi orang Yahudi untuk membuka brewery. Tapi mereka tidak menyerah begitu saja melainkan mencari cara bagaimana mereka bisa ikutan dalam bisnis minuman yang menjanjikan itu tanpa perlu buka brewery. Jawabannya adalah, mereka membuka ladang hops. Dan hops yang mereka hasilkan selalu yang terbaik, karena mereka tidak mau dicibir sebagai “pedagang Yahudi yang tidak becus”. Orang-orang Yahudi ini juga yang pertama kali menemukan ide untuk memproses dan menjual hops dalam bentuk pelet (kayak makanan ikan) sehingga lebih memudahkan dalam proses pengiriman dan untuk pengolahan selanjutnya.

Ada lagi cerita yang menarik. Yaitu soal pemakaian tanda bintang di pintu brewery tradisional di sekitar Bavaria. Banyak yang menyangka, tanda bintang ini menandakan bahwa pemilik rumah-rumah bir tersebut adalah orang Yahudi. Tapi ternyata bukan. Simbol bintang mereka pakai sebagai bagian dari tradisi dan kepercayaan untuk menolak api/ mencegah kebakaran. Semacam tolak bala gitu. Dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Star of David-nya orang Yahudi. Terus saya jadi cerita sama mas pemandu museumnya kalau bir di Indonesia namanya Bir Bintang hehehe 😀

brewersstarmonk

Ilustrasi yang menunjukkan seorang rahib mengaduk rebusan bir dengan simbol bintang di atasnya sebagai pelindung. Sumber: http://www.brewingmuseum.org

Apakah bir halal untuk orang Yahudi? Jawabannya ya dan tidak. Yahudi, seperti yang kita tahu, juga mengenal prinsip halal dan haram. Salah satu bedanya di istilah. Mereka menyebutnya dengan kosher (halal) atau treif (haram). Konon pada suatu waktu, seorang Rabbi datang ke tanah Bavaria. Orang-orang Yahudi di situ memintanya melakukan perjamuan, tapi Rabbi menolak karena tidak ada anggur. Orang-orang Bavaria itupun berkata “tapi kami tidak punya anggur di sini!” dan Rabbi itu bertanya “lalu kalian punya apa?” lalu jawab mereka “kami punya bir! Asli dari tanah kami.” Maka berkatalah Rabbi itu, “baiklah, kalau memang bir adalah anggurnya tanah ini, mari kita adakan perjamuan.” Duh coba dia datangnya ke Semarang. If you know what I mean haha.

Sebagai penutupan dari rangkaian seminar, kami berkunjung ke Oktoberfest which literally is heaven on earth (or hell on earth, depends on your point of view heheh). Di sana saya dan suami merasakan bagaimana rasanya mabuk karena bir. Bir untuk Oktoberfest memang disiapkan khusus. Mulai dibuat katanya di bulan Maret dan dibuka di bulan September, dengan kandungan alkohol yang lebih tinggi tapi rasanya lebih enteng. Makanya nggak terasa tau-tau udah pusing aja.

Mengenal bir selama seminggu terakhir saya di Jerman menjadi sebuah tanda perpisahan yang berkesan bagi saya dan negara tersebut. Rasanya sedih juga karena kali ini saya tidak tahu pasti kapan bisa kembali lagi. Saya belajar banyak, saya betul-betul belajar banyak dari negara tersebut dan orang-orang yang saya temui di sana. Tapi nggak boleh sedih karena di Indonesia pun enak dan bisa berkarya. Terima kasih terima kasih sekali lagi 🙂

Prost!!

Bukan Anak Sekolah

Di kereta menuju Cottbus dari Berlin. Di musim semi yang bersalju.

Tiba-tiba suatu malam, saya kepikiran ini nih: kenapa ya saya kok bisa sekolah lagi? Iya saya memang mau sekolah yang tinggi tapi sebenernya secara akademis saya ini nggak jago-jago banget. Gayanya aja mau belajar social sciences, humanities and culture, tapi kalau udah diajak ngobrol soal itu sama orang lain saya tetep aja merasa bego. Intinya, saya itu nggak merasa pinter-pinter banget lah. Nah tapi saya suka sekolah. Lucunya sepanjang sejarah persekolahan saya dari SD sampai sekarang lagi S2 ini, masa jaya saya sebagai seorang murid berakhir di…kelas 6 SD.

Iya, cuma sampai kelas 6 SD aja saya dapet ranking. Setelah itu masuk SMP, yang kebetulan muridnya banyak banget, pinter-pinter, cina-cina (maaf ini tidak bermaksud rasis. Saya juga cina walaupun separo), kaya-kaya, jadi deh saya nggak bersinar sama sekali. Selain karena sayanya juga mulai males belajar. Biasa, sudah menginjak usia remaja. Dulu pas SD, saya kenal banyak guru, sempet diikutin lomba ini itu. Paling berbekas dalam ingatan saya adalah saya dianggap pintar menulis, lalu diikutin lomba menulis essay. Bagi saya, cuma lomba itu yang penting. Lomba pramuka mah standar. Hahaha…

Terus waktu SMP, saya bener-bener nggak nampak. Prestasi bisa dibilang standar, olah raga nggak jago sama sekali, nggak pernah kepilih di bidang organisasi, lomba antar kelas juga kalahan terus. SMA? Masa SMA saya cukup asik, tapi saya nggak popular. Atau mungkin iya, tapi saya popular sebagai anak yang sombong. Padahal saya suka ngelamun aja, karena kalau harus fokus setiap saat itu menghabiskan energi ya nggak? Jadinya kalo pas jam istirahat, saya ngaplo aja. Disapa juga diem aja. Jadilah saya dianggap sombong.

Saya berani taruhan, di antara teman satu geng saya, kalau saya kembali ke SMA saya lagi, pasti guru-guru pada nggak inget sama saya. Soalnya, saya emang nggak ngapa-ngapain. Pinter jelas enggak, nilai IPA saya ampun-ampun banget deh. Eh tapi ada satu guru yang saya yakin inget sama saya, guru antropologi. Soalnya di kelas 3, ulangan pertama saya langsung dapet 100. Bahagia sekali hati itu ibu guru. Di bidang olah raga, saya juga payah banget, nggak pernah sekalipun masuk tim inti apapun. Saya jadi males juga. Nggak pernah datang kalau pas ekstrakulikuler. Ketika itu saya sudah sok-sok memutuskan untuk diri saya sendiri, apa yang penting dan nggak penting.

Waktu kuliah apalagi, siapa dosen yang tahu saya? Hehehe…cuma satu atau dua. Yang satu pembimbing akademik, yang satu pembimbing skripsi yang sedari awal emang sudah seperti teman sendiri. Nilai saya juga nggak bagus-bagus amat, A bisa diitung pake satu tangan, B cukup banyak. Kemudian C, termasuk mata kuliah Agama Katolik yang saya benci sampai sekarang. Saya lulus dengan IPK 3,38. Pas jaman saya itu, temen-temen seangkatan pada lulus dengan IPK di atas 3,5. Banyak deh yang cum laude. Saya bisa lulus saja sudah senang, bayangkan skripsi saya cuma 35 halaman! Hahaha…

Tapi saya tekankan sekali lagi: saya suka sekolah. Saya suka belajar. Saya suka berada di dalam kelas dan mendengarkan dosen atau guru, saya suka kalau di kelas ada hal baru yang diajarin hari itu (kecuali untuk KIMIA, FISIKA dan AKUNTANSI), saya suka mengerjakan PR, mencatat, menulis essay, apalagi kalau belajar bahasa. Saya suka banget. Masalah jago nggak jago, pada akhirnya saya menikmati prosesnya. Saya selalu percaya ini: sebenernya masalah pinter atau nggak pinter, itu bukan nilai yang menentukan kok, ya nggak? Saya mungkin memang di atas kertas nggak cemerlang-cemerlang amat. Tapi saya yakin ada banyak hal yang sudah saya pelajari sampai sekarang dan itu sangat saya syukuri dan berguna.

Banyak orang yang tanya: kamu kok bisa dapet beasiswa gimana caranya? Jawabannya sederhana: ya mendaftar. Tapi setelah saya renung-renungkan, iya ya, gimana saya bisa dapat beasiswa (ini sudah yang kedua kalinya) kalau saya nggak pinter-pinter banget. Di berbagai website motivasi, pasti ada kalimat: jangan menyerah! Anda pasti bisa kalau mau berusaha! Buat saya yang penting adalah mengenali dan mengidentifikasi di mana sih “jatah”mu. Saya, yang nilainya pas-pasan, mana mungkin bisa dapat Erasmus? Atau Rockefeller? Atau apalah itu beasiswa yang paling bonafid. Tapi apa saya butuh? iya. Apa penyedia beasiswa cuma itu aja? Enggak banget.

Sebenernya ini baru saya sadari akhir-akhir ini. Di tengah rasa kegalauan saya mengikuti perkuliahan di Cottbus ini (lagi-lagi saya merasa kurang pintar sendiri), saya bertanya-tanya, kenapa saya bisa sampai di sini lagi? Jawabannya karena saya secara nggak sadar sudah mengenali potensi saya, mengidentifikasi saya ini pantasnya di mana, minta beasiswa ke siapa. Eitsss…bukan, ini bukan berarti saya bilang bahwa lembaga beasiswa yang satu standarnya lebih ecek-ecek daripada yang lain. Tapi: setiap lembaga penyedia beasiswa itu punya visi misi. Nah, profil kamu cocok nggak sama visi misi mereka. Profil saya jelas nggak cocok buat Erasmus, atau DAAD, atau Aminef. Mereka memang standar nilai dan prestasinya cukup tinggi.

Tapi profil saya pas untuk Rave Foundation dan KAAD. Saya dapat Rave Foundation karena pengalaman saya kerja di museum, bukan karena nilai. Saya dapat beasiswa KAAD, karena bidang yang ingin saya pelajari, yaitu heritage, dianggap dibutuhkan di Indonesia (menurut mereka) dan level bahasa jerman saya dianggap cukup baik. Jadi nilai tidak diperhitungkan sama sekali? Ya diperhatikan, tapi kamu nggak harus cum laude atau pernah ikut pertukaran pelajar untuk bisa diterima. Jadi, kalau kamu mendaftar beasiswa hanya karena gengsi nama besar beasiswa tersebut, ya kalau nggak cocok nggak bakal keterima. Malah keburu tua.

Di Cottbus ini saya juga sempat sedih. Berbagai tawaran magang yang dikirim ke email kami oleh si program coordinator, syaratnya tidak bisa saya jangkau. Bayangin aja, sebagian besar meminta kita untuk bisa bahasa lain selain bahasa inggris: spanyol, rusia, mandarin, perancis. Lah saya, belajar bahasa jerman udah setengah mati aja nggak bisa-bisa. Teman-teman saya yang bule-bule itu…mereka minimal pada bisa dua bahasa lain selain bahasa ibu mereka. Kesempatan akhirnya jatuh ke mereka, tawaran juga jatuh ke mereka. Saya iri? Iya, kalau enggak malah nggak wajar. Tapi saya nggak terus ngamuk-ngamuk dan protes. Saya sekarang lagi belajar bahasa spanyol juga (kecanduan belajar bahasa).

Lalu apa yang saya lakukan supaya saya bisa magang juga?

Ya cari sendiri! Sekali lagi, saya mencoba mengidentifikasi kira-kira saya cocoknya di mana. Karena bintang saya Aquarius…saya cocoknya kerja di air. Enggak ding. Oke jadi saya suka museum, saya dari Indonesia, saya menguasai bahasa inggris, sedikit bahasa jerman, sangat sedikit bahasa spanyol. Kira-kira di mana museum di Eropa yang banyak pake bahasa inggris? Louvre? Enggak mungkin, tu museum walopun yang ngunjungin dari mana-mana tetep aja staff nya orang Perancis. Jawabannya ada di Roma: Museum Vatikan. Keliatannya mentereng ya? Iya. Terus saya cari yang lain lagi, KITLV, lembaga di Leiden Belanda yang menyimpan banyak arsip dan melakukan penelitian soal Indonesia. Cocok dong pasti? Jadi buat apa saya nangis-nangis nggak bisa magang di World Heritage Watch di Berlin atau di kantor UNESCO di Paris kalau ada tempat lain yang lebih pas buat kapasitas saya saat ini?

Jadi intinya saya keterima nggak? Saya tidak diterima di Vatikan, tetapi saya diberi kesempatan sama mereka untuk magang di organisasi rekanan mereka di Roma, salah satu UNESCO Chair. Museum Vatikan sendiri yang merekomendasikan nama saya ke direkturnya. Saya diterima di KITLV, dan sekarang sedang mendaftar di UNESCO Jakarta. Jadi dari yang tadinya saya merasa nggak punya kesempatan, saya jadi kesannya tinggal milih mau yang mana. Roma, Leiden, atau Jakarta.

IMG_1334

East Side Gallery, Berlin – February 2015. Rasanya aneh kalo posting nggak pake foto. Jadi seadanya di komputer ajalah ya. (Foto: Anastasia Dwirahmi)

Kenapa saya nulis ini? Soalnya saya gemes sama diri saya sendiri yang selalu minder sama orang yang nilainya bagus-bagus, yang risetnya oke, yang deket sama dosen dan guru-guru. Saya rasa, kenapa saya berambisi untuk kuliah terus juga salah satunya untuk membuktikan itu: I can find my own path. Walaupun lucu juga pada akhirya path yang saya pilih justru kembali ke kampus. Hehe…saya cuma pengen membuktikan, kamu nggak harus nilainya bagus, nggak harus disayang guru atau diingat dosen, nggak harus cum laude kalau mau sekolah atau sukses. Yang penting, harus mawas diri, boleh sambil berdoa dikit-dikit, terus belajarlah yang banyak. Semakin banyak kamu tau hal-hal baru, semakin terbuka kesempatan kamu.

Museum di Bonn dan Ziarah ke Aachen

Judulnya agak nggak kreatif ya? Hehe…kemampuan menulis saya semakin berkurang akhir-akhir ini. Mungkin karena jarang dilatih 😛 Anyway, seperti yang sudah saya janjikan kemarin, saya akan menulis pengalaman saya jalan-jalan ke salah satu museum di Kota Bonn, Jerman. Kebetulan hari Kamis tanggal 19 Juni 2014 yang lalu adalah hari libur di sini, jadi saya sempatkan waktu itu untuk pergi ke museum. Saya pergi bersama dua orang teman baru dari Guatemala : Jeniffer dan Carla. Ohya, Jeniffer juga mau ngambil master di bidang heritage kayak saya, bedanya dia lebih spesifik; Monumental Heritage (di Dessau). Saya seneng ketemu dia karena ada temen jalan-jalan ke museum dan mengeksplorasi cerita (sejarah) tentang tempat-tempat yang kami kunjungi….nggak semua orang suka lho melakukan itu. Saya ingat dulu sebagian besar orang Indonesia yang ada di Dresden itu kayak ‘pasrah’ gitu aja sama sekitar, maksudnya ga peduli sama betapa menariknya kota itu dan betapa beruntungnya mereka bisa kuliah di sana. Mungkin karena mereka ga merasa beruntung? Hehe…

Kami bertiga berangkat dari Kreuzberg setelah makan siang. Hari itu museum tutup jam 18.00 jadi masih ada waktu lumayan buat liat-liat semua pameran. Kami bertiga masuk dengan tiket gratis dari Stadthaus, nah masalahnya saya lupa nanya kalo bayar, saya harus bayar berapa hehe 😀 Museum ini bernama LVR-Landesmuseum Bonn/ Rheinisches Landesmuseum Bonn. Bagian luar bangunan terbuat dari kaca. Sepertinya dulu di tempat di mana museum itu berdiri, ada sebuah bangunan tua, soalnya di balik kaca itu kayak ada sisa peninggalannya.

Image

Jeniffer, saya, dan Carla di depan LVR-Landesmuseum Bonn

Image

Dengan pergi ke museum ini, pengunjung bisa belajar bagaimana kehidupan manusia yang tinggal di tepi Sungai Rhine jaman dulu (2000 tahun yang lalu). Kala itu, bangsa Romawi masih menguasai daerah yang (dulu) bernama Germania ini (?). Dari mulai kehidupan sehari-hari seperti bagaimana mereka mencari makan, masak, alat transportasi, agama, sampai ritual penguburan. Mereka menunjukkan periode-periode kehidupan masyarakat di tepi Sungai Rhine sehingga kita bisa tau gimana mereka mengalami perubahan dan perkembangan dari waktu ke waktu. Seperti biasa museum di Jerman itu canggih dan sophisticated. Hehe…saya bingung bagaimana ya menjelaskannya? Btw, ketika kami berkunjung ke sana, lagi ada pameran khusus soal peninggalan benda-benda perunggu dari jaman Romawi. Yang disayangkan adalah, museum di Jerman ini jarang sekali menyajikan keterangan dalam Bahasa Inggris, jadi saya nggak mudeng 😦 tapi saya jadi termotivasi untuk belajar Bahasa Jerman lebih baik lagi 🙂

Image

And here comes the best experience so far : saya dapat kesempatan untuk mengunjungi Aachen dan terlibat dalam sebuah perjalanan spiritual yang terjadi hanya sekali dalam 7 tahun. Yes, once in 7 years!! Dan pas banget yang terakhir itu tahun 2007, jadi tahun 2014 ini ada lagi. Ziarah ini bertujuan untuk menghormati 4 relik yang dianggap suci menurut kepercayaan Katolik : 1. Pakaian yang dikenakan Bunda Maria ketika melahirkan 2. Kain pembalut bayi Yesus (semacam kain bedong gitu) 3. Kain pinggang ketika Yesus disalib dan 4. Kain pembungkus kepala Yohanes Pembaptis. Jadi setiap 7 tahun sekali relik-relik tersebut dipamerkan untuk publik.

Image

Koeln Cathedral

Kami berangkat dari Bonn naik kereta dengan group ticket. Satu tiket harganya 41 euro bisa dipake berlima selama sehari untuk keliling ke mana aja selama masih dalam bagian Nord-Rhine Westfalen (NRW). Hari itu hari Minggu, 22 Juni 2014, tapi kami semua (15 orang) udah bangun jam 5.30, mandi, terus berangkat (tiket ini juga berlaku untuk naik bisa dalam Kota Bonn, jadi dari Kreuzberg kami ga perlu jalan kaki ke stasiun). Kami harus ganti kereta di Koeln, dan pas lagi nunggu kereta sambungannya dateng, foto-foto bentar di depan Katdreal Koeln yang tersohor itu (Katedral ini adalah gereja Katolik tertinggi di dunia, sebenernya kalo Sagrada Familia yang di Spanyol itu sudah selesai, dia bakal jadi yang tertinggi, tapi sampe sekarang blm selesai pembangunannya).

Image

With my best bb’s. Yeeaayyyy!!!

Kira-kira pukul 9.00 kami sudah sampai di Aachen. Ziarah dimulai dengan tur singkat di pusat kota Aachen, kemudian kami bergegas cari tempat duduk untuk ikut misa yang dimulai jam 11.00. Misanya panas banget, saya memutuskan untuk nggak ikut. Gila aja dipanggang gitu di siang bolong, saya (dan Jeniffer) memutuskan untuk masuk ke museum di sebelah lapangan tempat misa diadakan. Hehe…di dalem lebih adem dan kita bisa ngintip-ngintip dikit pameran tentang Charlemagne (kalo mau masuk pameran bayar 10 Euro).

Image

di gerbang tua kota Aachen

Image

Holy (Hot) Mass

Oiya, Charlemagne (atau Charles the Great) adalah sosok yang sangat terkenal buat umat Katolik di Eropa. Beliau ini dijuluki Father of Europe (kata seorang romo yang jadi guide kami hari itu). Charlemagne adalah raja dari Francia. Francia itu sebuah kerajaan di Eropa jaman dulu yang terdiri dari konfedarasi orang-orang Germanic. Dulu Eropa batas negara bangsanya belum kayak sekarang ya, jadi agak rumit juga ceritanya. Hehehe…Beliau bertahta dari tahun 768-814, meninggal di Aachen, dan dialah yang mendirikan katedral yang pada tahun 1978 masuk dalam daftar pertama World Heritage menurut UNESCO (ada 12, Katedral Aachen ini salah satunya). Di katedral ini telah dinobatkan 30 orang raja yang pernah memimpin Jerman dan sekitarnya 😀 Sejarah mengenai kenapa Charlemagne begitu penting dan bagaimana beliau bisa mendapatkan 4 relik terpenting itu bisa dibaca di sini. Singkatnya dia mendapatkan relik-relik tersebut sebagai hadiah dari Yerusalem karena jasanya melindungi umat Katolik di Eropa.

Image

Tampak depan Katedral Aachen

Image

Salah satu bagian dari Katedral Aachen, kacanya bagus ya 🙂

Image

ini juga bagian dalam dari Katedral Aachen, sebenarnya langit-langitnya bagus tapi nggak kefoto karena ada tali pembatas yang ga boleh dilewatin

Image

Jubah yang katanya pernah dikenakan Bunda Maria

Mungkin pada bertanya-tanya ya, masa sih reliknya asli? Saya sendiri kurang mau membicarakan apakah saya percaya itu asli atau tidak, saya cuma mau bilang bahwa saya lebih tertarik pada kesempatan untuk terlibat di peziarahan yang bersejarah ini. Tradisi ini sudah berlangsung selama 660 tahun! Lagipula pergi ke Aachen sangat mudah dari Bonn. Kalau saya lagi di Indonesia, ya ngapain juga kali jauh-jauh terbang ke Jerman hehehe….

Hhhhmmm kayaknya ceritanya udahan dulu soalnya harus belajar. Besok Jumat ujiaannn 😥

Testpack, Visa, and Everything in Between

Haiii…akhirnya hari yang dinanti tiba juga. Yaitu hari di mana saya bisa menulis di blog ini bahwa saya kemarin abis ngurus visa studi ke Jerman dan sukses. Hore! Jadi memang dari bulan September 2013 lalu saya udah menantikan kapan ya bisa cerita-cerita soal ngurus visa hehe. Tapi sebelum cerita soal ngurus visa, saya punya cerita yang lumayan bikin galau. Jadi begini…kan saya mau berangkat ke Jerman tanggal 29 Mei besok ya, nah masak saya terakhir mens itu tanggal 20 Februari kemarin. Trus saya panik dong, kalau saya hamil kan saya nggak jadi berangkat 😥 padahal kalo inget-inget perjuangan saya supaya bisa ke Jerman lagi, hamil di saat mau berangkat bukan sebuah hal yang saya inginkan. Pertama saya memang belum mau punya anak lagi. Aduh kemarin sempet pas pulang ke Semarang di kereta liat ada pasangan muda punya anak 2 repotnya minta ampun. Hih! Yang kedua, ya itu tadi. Saya sudah berusaha sekuat tenaga buat dapet beasiswa ini, eh masa sih pas mau berangkat malah HAMIL? O_o

Jadi intinya saya hamil nggak? Jawabannya tidak, karena akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga kemarin tanggal 29 April, pas banget sehari setelah saya ngurus visa di Jakarta tanggal 28 April. Nah tapi kan saya cemas ya nunggunya, jadi stress. Paskah kemarin sampe gak konsen. Di gereja doanya : ya Tuhan kenapa saya nggak mens, saya nggak mau hamil. Hehe…terus saya beli testpack. Sekali test pas baru 2 minggu telat. Eh negatif. Trus saya ke dokter, dicek pake USG, ga ada apa-apanya kata dokternya (dan mbak suster menghibur saya : belum ada kehamilan, nggak papa ya bu. Iye iye nggak papa, Sus). Terus saya dikasi obat kata dokternya buat 5 hari. Kalo 2 minggu belum mens juga, saya diminta kontrol lagi. Terus saya tanya, kalau 2 minggu saya belum mens, itu tandanya apa, dok? Kata dokternya : hamil. Hahhhhh???? 😥 gimana sih. Trus dokternya bilang : ya mungkin saja ibu sudah hamil sekarang tapi janinnya belum nampak.

Lalu sayapun nggak mens juga sampe setelah 2 minggu itu. Jadwal saya kontrol lagi itu bertepatan dengan hari di mana saya harus berangkat ke Jakarta buat urus visa. Paginya saya testpack lagi pake 2 merk testpack. Negatif. Tapi katanya testpack itu bisa menipu. Namun saya tetep aja memilih untuk ke Jakarta daripada kontrol. Lagian saya nggak merasa hamil kok. Perut saya memang buncit dari dulu dan saya emang gampang laper, terus saya juga kembung tiap hari. Jadi nggak hamilpun saya memang sejak dulu selalu kayak orang hamil. Hahahah…

Tapi sejak saya kontrol dokter yang pertama sampe saya berangkat ke Jakarta itu adalah masa penantian tergalau. Beneran deh. Saya sampe pake pregnancy calculator online itu. Ngitung kalau saya hamil udah berapa minggu ya? Udah 8-9 minggu katanya saat itu. Anaknya udah segede buah raspberry. Saya juga browsing tanda-tanda kehamilan, yang mirip sama tanda-tanda mau mens. Jadi saya bingung kan. Saya hamil apa PMS ya? Hehehe 😀 Tapi anyway seperti yang sudah saya bilang tadi, saya memutuskan untuk nggak kontrol ke dokter dan pergi ke Jakarta ngurus visa.

Saya ke kedutaan tanggal 28 April 2014. Saya bikin janji jam 10 tapi udah nyampe ke kedutaan jam 9. Dulu pas pertama urus visa Jerman tahun 2011, satpamnya galak bener. Udah gitu kita belum bisa bikin termin online kayak sekarang. Jadilah para pemohon visa berbaris di trotoar di Jalan Thamrin yang panas menyengat itu. Kalau sekarang udah ada sistem online jadi bisa dateng sesuai time frame yang udah dikasih. Satu orang dapet jatah setengah jam. Hari itu jatah saya jam 10.00 – 10.30. Satpam kali ini lebih ramah, saya boleh langsung masuk dan nggak dijutekin.

Lalu saya naik ke atas, udah bawa dokumen lengkap. Kalau ngurus visa pake beasiswa ituuuuuu ennaaaakk bangetttt. Pertama : berkas yang dibutuhin dikit banget yaitu; formulir visa, foto biometris, surat bukti beasiswa, surat bukti keterima universitas, fotokopi paspor. Udah itu doang. Lalu keuntungan kedua adalah : masnya ramahhh banget. Begitu tanya : Oh beasiswa ya? Iya mas. Dari KAAD ya? Iya. Terus dia langsung : oke. Trus dia ngetik-ngetik apa gitu, saya dikasi form anti teroris itu, ngisi, balikin, cek akhir, kasihin semua ke dia termasuk paspor, trus udah. Dia bilang : diambil tanggal 8 Mei ya jam 13.00. Horeeeee!!! Padahal pas saya curi dengar pemohon visa yang lain agak susah ya, ditanya macem-macem, trus selalu dibilang “ya ini KALAU semua urusan lancar ya bu…ya ini KALAU disetujui ya pak…ya ini KALAU dapat ya visanya…” Tapi KALAU kasus saya, lancar. Pasti beres! Sombong ya? Biarin 😛 oiya satu lagi : GRATIS. Tidak dipungut biaya EUR 60 itu.

Lalu kemarin saya langsung kirim bukti tanda terima visa ke KAAD. Dan hari ini KAAD langsung urus tiket pesawat saya. Naik Etihad tanggal 29 Mei 2014, jam 01.45 am (pagi!). Nggak sabar, senangnya mau ke Jerman lagi. Kata suami, saya harus semangat walaupun mau pergi jauh. Karena kesempatan ini nggak datang dua kali 🙂

My Report :)

It was amazing to receive the scholarship from Rave Foundation for 4 months in Germany. During my stay in the two cities – Dresden and Leipzig, I had so many useful experiences about the management of museum, and I was lucky because I had the chance to do the internship in a big institution of Staatliche Kunstsammlungen Dresden, with various kinds of museums and galleries. This was very important for me because I come from a country that lack of professionals in museum field. So working in one of many good museums in Europe, especially in Germany was until now the best experience for my career forward.

I had the internship in two ethnological museums owned by Staatliche Kunstsammlungen Dresden, they were in Leipzig and Dresden. My first term of internship was from middle August until the end of September in Museum fuer Voelkerkunde Dresden. Here, I got the first impression about the situation of museum in Germany, how the organisation of the museum, how they work and also how they manage the exhibition. I also had a glance on how the restorators and the technical department of this museum work. But I was first only observing. In this museum I had the chance to do some scientifical works with the collections from Indonesia. It was great because it made me learn about my own culture and I could see how the Europeans see my culture.

In this scientifical work, I had the responsibility to make the description of some old objects of wayang puppets, batiks, and some objects of the chinese Indonesian culture. I also learned how to make a good digital photo of objects, the catalogue systems and the database of the collections. Beside making the descriptions for the archives of the museum, I also prepared some for the database of Virtual Collection of Masterpiece (VCM), the online catalogue of museum from around the world.
I did some educational programs with the department of education. I learned on how to prepare the materials for workshops and guided tours, and how to deal with smaller and older children. This experience with the education department of museum in Dresden was very important because I had to make my own programs for children for the museum in Leipzig, where I had my internship for the second term.

My removal to Leipzig allowed me to see a great permanent exhibition organised by GRASSI Museum fuer Voelkerkunde. I saw how they created a really great and convinient exhibition room, and the technologies that they use to support the exhibition. But my main task here was to present some batik workshops for children and adults, therefore in this museum I was fully working in the education department. I started my days in Leipzig assisting some programs for children, like kid’s birthday, school workshop and special guided tours for children. Then I had to prepare for my own workshops. For this preparation I made some trials with the help of my colleagues.

I had three workshops here, one was for children, one for adults and one for my colleagues in Leipzig. I began the workshops for children and adults by showing them the batik in the showcases of the museum, and telling the history and the real traditional process of making batik. Then we did the workshops. I was glad and proud to see how the people were interested of the process of batik making and that they were eager to try that. I have to say that all the workshops were great, I made some new friends and exchanged knowledges with the participants. I also had one day chance to do batik demonstration on the exhibition room. It was a pleasure for me to talk with the visitors of the museum and explain them about my own heritage. During this period I made a visit to Berlin because my embassy asked me to do the same workshop in the Labyrinth Museum in Berlin. The workshop was successful and I had some impressions of great museums in Berlin.

workshop at Labyrinth Museum Berlin with the embassy

My third term of internship was back in Dresden again. This time I involved in some projects while continue on doing scientifical works. First I had to help on preparing the winter gallery, especially on the inventory process. I was trusted to select some things to be sold at the gallery, especially things that came from Indonesia, defining the quality and responsible for the pricing. I also participated at the opening ceremony of the winter gallery. From this event I learned about how the museum funds itself and who the important stakeholders that support the existence of a museum are. Another task that I had was to make a preparation of a small exhibition that will be opened on the beginning of 2012.

This task was quiet challenging because I felt that this was really new for me. The exhibition will be about models, ranging from ship models, house models, household models, etc. I had to cooperate with the catalogue department to know all the models that the museum has, then I need to choose among those models, the objects that might be suitable for the exhibition. Then I made some photos of the objects, and discussed with the restorators about the condition of the objects. The last thing I did was designing the display on the chosen and approved objects. I had a brand new experience while preparing this exhibition and I was so excited about it.

During my stay, I only had one problem: language. I should had be able to speak and understand better of German. Unfortunately, because I had to move from one city and another, I couldn’t find a proper program from a language course. But all the colleagues were so nice a supportive. I would like to thank Ms. Petra Martin, the curator for South East Asia and also my supervisor for this program, for all the chances, the knowledges and hospitality that she’s given to me. Also for the colleagues in Leipzig, Ms. Christine Fischer, Mr. Dietmar Grundmann and Mr. Reinhard Wagenknecht.

I would like also to thank all the people in Rave Foundation for the scholarship that made me have this experience for having an internship in Dresden and Leipzig, and had the chance to conduct a workshop in Berlin. With this chance I was able to visit many museums and galleries, improving my language skill, and had interactions with various kinds of people from around the world. I believe this knowledge that I have now, will help me in my future career and I hope I can make a better condition for the situations of museums in Indonesia. I really appreciate the Rave Foundation for giving the chance for young people from third world countries to work in museums in Germany. I think this program is really usefull for those who want to learn about museum.

 http://www.ifa.de/en/foerderprogramme/rave-foundation/ravestipendien/erfahrungsbericht/dwirahmi-suryandari/

Menjadi Katolik dan Indonesia

This is not a spiritual note, neither a note that tries to compare one religion to other. Saya menulis ini, hanya ingin berbagi rasa tentang apa yang saya rasakan tentang “ibadah” selama saya di Jerman kemarin. Dan bukannya saya masih in Germany mode (or maybe mood?), tapi saya ingin membayar utang (paling tidak terhadap diri sendiri) untuk menulis pengalaman saya selama di sana. Sebenarnya keinginan untuk menulis tulisan tentang ini muncul ketika saya pergi ke gereja kemarin Minggu (29/01). Saya merasa bahwa betapa mewahnya orang Indonesia kalau beribadah. Dan -di luar kekerasan yang banyak terjadi- orang Katolik (yang benar-benar mengharap bisa beribadah secara kolektif) seharusnya bersyukur. Karena jangan harap kita bisa merasakan hal seperti itu -paling tidak- di Jerman (khususnya untuk orang Indonesia Katolik yang ada di sana).

Saya harus bilang bahwa saya bukan orang Katolik yang baik. Haha.. does it matter anyway? Sejak pertama datang ke Jerman, saya sudah tahu bahwa saya akan tinggal di kota yang terletak di (bekas) Jerman Timur. Artinya kebanyakan orang di sana tidak beragama Katolik. Dan tentu saja jarang ditemukan gereja Katolik. Selama saya di Dresden saya hanya menemukan 3 gereja Katolik di sana, salah satunya adalah Katedral (yang lebih banyak dikunjungi turis daripada umat). Selain itu ada beberapa gereja Kristen yang dulunya gereja Katolik seperti Frauenkirche, gereja ortodoks serta beberapa aliran lain seperti Evangelis salah satunya Thomaskirche di Leipzig. Bahkan Katedral di Berlin sekarang sudah berfungsi sebagai gereja Kristen. Nah, sebenarnya apa sih yang mau saya bicarakan?

Begini, saya beberapa kali melihat status teman-teman saya  -yang beragama Islam – dan kebanyakan dari mereka mengaku kangen mendengar suara adzan. Saya bisa memahami bagaimana mereka merindukan suara adzan karena di Jerman tidak ada adzan. Walaupun saya tahu banyak juga teman saya yang beragama Islam menganggap adzan yang bersahut-sahutan dan tidak merdu itu mengganggu ketertiban lingkungan. Tapi paling tidak, komunitas orang Indonesia yang beragama Islam tidak kehilangan : sholat berjamaah, pengajian, merayakan Idul Fitri-Idul Adha bersama, jumatan, dan lainnya. Sementara kami yang beragama Kristen dan Katolik (terutama Katolik) susah sekali mencari kesempatan untuk bisa beribadah dan merayakan hari besar sebagaimana kebiasaan kami di Indonesia. Tidak ada yang namanya : misa lingkungan, kunjungan romo paroki, lomba-lomba di gereja, atau bahkan arisan Wanita Katolik. Haha.. sumpah saya sih nggak keberatan dengan ketiadaan itu semua, bener. Saya cuma mau cerita aja. Bahwa….

Bahwa kalau orang merasa karena Jerman atau negara Eropa lainnya itu adalah basis dari agama Kristen (simply karena mereka negara Eropa atau negara “barat”), maka orang Kristen dan Katolik di sana akan lebih enak. Tidak. Saya tidak bicara masalah keimanan ya, saya cuma mau berbagi cerita tentang kondisi yang nampak saja. Komunitas orang Indonesia di luar negeri dimanapun saya yakin masih didominasi orang-orang Islam (which is not a crime), dan itu yang membuat mereka lebih mudah menjalankan ibadah seperti yang mereka lakukan di Indonesia. Mungkin dengan pengecualian (atau perkecualian?) negara-negara lain yang tidak mengakui kebebasan beragama. Saya juga tidak tahu negara mana saja itu.

Katedral, di kawasan wisata. Altstadt- Dresden. (Anastasia Dwirahmi, 2011)

Selama saya di sana, saya baru ke gereja di bulan-bulan terakhir. Antara November sampai Desember. Biasanya saya ke gereja bertiga, bersama Ferdi dan Christina. Gereja Katolik di sana sangat minim teknologi. Bangunannya memang indah, yang saya perkirakan dibangun atau terinspirasi puncak kejayaan era gotik di abad pertengahan, dimana gereja dibangun semegah mungkin bukan karena umatnya banyak melainkan untuk menunjukkan kekuasaan Allah (thanks Mr.Gaarder!! For I’m able to put a lil bit of intellectual bite in my writing!). Selain minim teknologi, gereja di sana tidak digila-gilai seperti gereja di Indonesia. Umatnya sedikit, sehingga kami yang foreigner ini malah sering menarik perhatian. Misa hari Minggu itu paling hanya seramai misa pagi harian di Indonesia (jumlah umat tidak lebih dari 50). Misa paling ramai yang pernah saya datangi adalah misa Adven minggu pertama (sebagai catatan saja, Adven itu di sana memang lebih “hip” daripada di Indonesia, tapi secara tradisi. Mungkin kalau di Indonesia seperti bulan Ramadhan). Itupun saya perkirakan umatnya tidak lebih dari 100 orang. Apalagi kalau misa hari Jumat sore (misa favorit kami karena cuma 45 menit), paling banyak 20 orang.

Saya pernah menghitung berapa electric tools yang digunakan oleh gereja. Suatu kali saya melihat hanya satu set : mike dan speaker. Untuk musik mereka tidak butuh listrik karena mereka menggunakan orgel, yang suaranya membahana membuat orang merinding. Papan nomer bacaan dan lagu masih menggunakan kayu yang bisa digeser-geser dan diganti setiap mau misa, lampu? Pakai lilin. Tapi jangan salah, kondisi gereja yang seperti itu kalau buat saya malah menambah kekhusukan orang dalam beribadah. Bandingkan dengan gereja Katolik di Indonesia, paling tidak yang saya tahu di Semarang. Lampu, mike dan speaker, LCD proyektor, kipas angin (dan beberapa gereja pakai AC), laptop, organ, dll. Saya tahu bahwa itu semua tidak menjamin apakah orang bisa beribadah dengan “layak” atau tidak. Saya malah merasa lebih nyaman ke gereja di Jerman karena merasa bahwa ketika saya ke gereja saya berdoa, bukan untuk lihat presentasi power point.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa menjadi orang Katolik di sana lebih susah, daripada orang Islam -misalnya. Saya tahu betapa susahnya cari masjid. Salah satu bangunan yang menjadi landmark kota Dresden berbentuk menyerupai masjid, tapi ternyata itu adalah pabrik tembakau (yaelah..). Saya juga tidak ingin mengatakan bahwa lebih baik beribadah dengan sedikit teknologi, atau sebaliknya. Intinya : jadi orang beriman, beragama dan mau beribadah di luar negeri itu, walaupun lebih aman, tapi jangan harap mendapatkan gegap gempita dan keguyuban yang dirasakan seperti di Indonesia. Mungkin karena di sana agama bukan barang penting dan laku dijual seperti di sini. Dan sekali lagi I have no problem with that (berapa kali ya saya harus ngomong ini? Hehe..). Anyway, ini pengalaman saya tinggal di kota yang relatif kecil, mungkin dengan komunitas orang Indonesia yang lebih besar di kota lain atau negara lain, kondisinya akan berbeda. So Good Luck people!

Museum adalah…

Museum. Hm, why in the world I love this thing called museum? Sebenernya alasannya ada banyak dan bermacam-macam. Dan mungkin satu tulisan tidak cukup untuk menampung semua. Pertemuan saya dengan museum yang pertama adalah di tahun 2007, saat saya mulai menjadi volunteer di Museum Anak Kolong Tangga, Yogyakarta. Setelah itu, saya menjadi sangat suka pada museum. Jadi, ketertarikan saya pada museum insyaallah datang murni dari hati saya sendiri. Well okay, di tulisan kali ini saya akan mencoba menyampaikan apa makna museum menurut pendapat saya. Dan tentu saja makna-makna tersebut menjadi beberapa dari banyak alasan kenapa saya menyukai museum. Dan semua ini saya tulis atas pengalaman saya mengelilingi beberapa museum di dua kota di Jerman, yaitu Dresden dan Leipzig. Terutama dua museum etnologi di dua kota tersebut.

1. Museum adalah ketekunan

Yap, museum dengan banyak koleksi di dalamnya, adalah lambang dari ketekunan manusia. Coba bayangkan, berapa lama waktu yang dikumpulkan untuk mengumpulkan objek-objek yang ada di dalam museum. Bagaimana mengolah informasi atas objek, melakukan riset ilmiah, dan yang paling penting adalah mewariskan objek (dan juga ketekunan itu) dari generasi ke generasi. Mustahil jika semua itu bisa terjadi tanpa adanya kerja keras dan kesabaran yang dilakukan terus-menerus dari waktu ke waktu.

2. Museum adalah kepedulian

Tanpa kepedulian, tidak  mungkin museum bisa berdiri dan museum akan eksis selama manusia masih peduli. Tanpa kepedulian, tidak mungkin objek yang sudah berumur ratusan tahun bisa terawat dengan baik. Tanpa kepedulian, tidak mungkin orang-orang mau bekerja dan menjaga objek di dalam museum, atau bahkan berkunjung ke museum. Menurut saya, kepedulian merupakan sebuah makna yang sangat nampak dari museum. And in the case of museum, biasanya kepedulian ini sampai pada hal-hal yang dianggap remeh. Yang mungkin bagi kebanyakan orang dianggap kurang atau tidak penting.

3. Museum adalah keingintahuan

Tidak diragukan lagi. Museum adalah wujud nyata dari rasa ingin tahu manusia. Rasa itulah yang membuat para kolektor melakukan ekspedisi ke berbagai penjuru dunia untuk melihat budaya lain dan mengumpulkan artefak. Rasa ingin tahu juga yang membuat para ilmuwan, kurator dan staff museum lain terus melakukan riset atas objek yang dimiliki museum. Tentu saja rasa ingin tahu juga yang membuat orang-orang pergi mengunjungi museum. Tanpa hasrat alami manusia yang satu ini, mustahil museum bisa berkembang dan lestari.

4. Museum adalah perjalanan

Mengunjungi museum kita seolah-olah terbawa dalam sebuah perjalanan umat manusia. Bagaimana manusia itu berkembang dari waktu ke waktu. Kita juga bisa membayangkan bagaimana sebuah objek yang berasal dari sebuah suku di pelosok Afrika, bisa terpajang dengan manis di dalam lemari kaca di sebuah museum yang megah. Saya juga selalu menerka-nerka bagaimana seorang kolektor bisa mendapatkan sebuah objek tertentu, perjalanan seperti apa yang mereka tempuh, dan bagaimana akhirnya objek itu bisa sampai ke tangan sebuah museum. Apa saja yang sudah dilalui oleh objek tersebut sampai akhirnya dia bisa dinikmati oleh para pengunjung museum, dan beralih fungsi menjadi salah satu media belajar yang penting bagi manusia.

5. Museum adalah pengabdian

Begitu banyak orang yang bekerja di dan untuk museum. Mulai dari kurator, konservator, bagian edukasi, publikasi, sekretaris, sampai penjaga keamanan dan petugas teknis. Selain itu ada juga para kolektor, petugas pemerintah dan institusi budaya lainnya di luar museum yang mendukung keberadaan museum. Mereka semua menurut saya bekerja dengan penuh pengabdian. Bahkan di Eropa sekalipun, working in a museum doesn’t seem to be a wealth-making profession. Dan sekali lagi, mereka mengabdi pada hal yang mungkin menurut orang tidak cukup make sense. Tapi di sini museum tetap berdiri dengan megah dan melangsungkan kegiatan belajar hampir setiap hari untuk anak-anak sekolah. Kalau bukan pengabdian, apa lagi?

6. Museum adalah proses dan hasil

Berkunjung ke museum berarti kita melihat sebuah proses dan hasil dalam waktu yang bersamaan. Museum adalah proses belajar dan hasil dari belajar. Museum yang baik selalu memperbarui data yang mereka miliki, ilmuwan tidak pernah berhenti bekerja di dalam museum. Jangan kira sebuah objek yang sudah duduk manis di dalam vitrin berarti sudah selesai diteliti. Kurator yang bertanggung jawab atas objek itu terus bekerja setiap hari, mencari apakah ada fakta baru yang bisa dia temukan atas objek tersebut. Dan semua hasil dari proses tersebut, bisa kita lihat di dalam museum. Sampai dimana seorang ilmuwan berproses, bisa kita lihat hasilnya di dalam lemari pajang.

7. Museum adalah kerjasama

Merawat sebuah museum dengan banyak koleksi membutuhkan waktu, pikiran dan tenaga yang tidak sedikit. Mereka semua bekerja bersama untuk menghasilkan sebuah presentasi yang layak dilihat di sebuah museum. Kurator/ilmuwan bertugas untuk menyeleksi barang apa yang cukup signifikan untuk diletakkan di lemari pajang, serta menuliskan keterangan atas barang tersebut. Sebelumnya, barang itu harus diutak-atik dulu di dalam ruang para konservator dengan spesialisasi masing-masing (metal, keramik, porcelain, kayu, kulit, kain, dan lainnya). Desainer kemudian memikirkan bagaimana posisi terbaik dari barang itu, di atas, di bawah, di dalam, di luar, menghadap kemana, bagaimana warna dari lemarinya, dan lain-lain. Lemari juga harus dirancang sebaik mungkin. Mulai dari kelembaban, pencahayaan, kemanan dan kenyamanan bagi pengunjung, kepraktisan untuk mendisplay barang, dan seterusnya. A lot of work, huh? Dan itu belum semua. Masih ada para petugas keamanan, ahli teknologi informasi, dan yang tentu saja para edukator (yang biasa kita kenal dengan tour guide).

8. Museum adalah totalitas

Dan semua itu dilakukan dengan penuh totalitas. Semua hal dirancang sebaik mungkin dari jauh-jauh hari. Pameran yang akan diselenggarakan di tahun 2014, sudah dibuat rencana anggarannya dari sekarang. Barang yang rusak, diperbaiki dengan penuh ketelitian dan -sekali lagi- ketekunan. Para konservator memiliki alat-alat yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya ada di laboratorium sebuah museum (saya bahkan tidak tahu bahwa museum punya laboratorium juga). Desain ruang pameran dibuat sedemikian rupa sehingga kita benar-benar merasakan atmosfer dari budaya tertentu yang dipamerkan di ruang tersebut. Para edukator menyelenggarakan program pendidikan untuk anak-anak sebaik mungkin. Mereka tidak sekedar mengajari anak-anak membuat kerajinan tangan, sebelumnya mereka harus membaca materi edukasi, membuat modul, menyiapkan ruangan, material workshop, dan masih banyak lagi.

9. Museum adalah perenungan

Berkunjung ke museum, membuat kita merenung. Setidaknya itulah yang saya rasakan setiap saya berdiri di depan sebuah objek koleksi museum dan meneliti setiap detailnya. Merenung akan sejarah umat manusia, peradaban dan budayanya. Bagaimana kita berbeda satu sama lain, tapi juga sama. Bagaimana kita meyakini hal-hal yang berbeda, memakan makanan yang berbeda, mengenakan pakaian yang berbeda, tetapi sama-sama menyukai keindahan (museum etnologi di Dresden dan Leipzig membuat saya sadar bahwa semua manusia di dunia pada dasarnya menyukai keindahan). Saya juga sering merenung, bagaimana kehidupan saya jika dipajang di sebuah museum. Will there be so many beautiful and insightful things about me?

10. Museum adalah masa lalu, masa kini dan masa depan

Pada akhirnya saya yakin bahwa museum adalah perpaduan dari spirit akan masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Museum memang (tampaknya) selalu menampilkan semua hal dari masa lalu, tapi walaupun begitu museum yang baik akan selalu berusaha melakukannya dengan teknologi masa kini, bukan hanya demi kecanggihan semata, namun juga untuk kenyamanan para pengunjung dan kelestarian objek. Saya tidak menyangka bahwa mengunjungi sebuah museum membuat saya sadar betapa kreatifnya manusia jaman sekarang (hehe). Dan museum selalu membuat saya berpikir akan masa depan. Bukan berarti hanya mengukur apa yang akan terjadi pada kita di masa datang berdasarkan apa yang kita lihat di museum mengenai masa lalu dengan perbandingan masa kini, namun juga bagaimana saya (kita) sebagai generasi sekarang bertanggung jawab untuk perawatan dan pendokumentasian kehidupan masa kini, agar generasi berikutnya bisa melihat dan belajar. Dan juga, bagaimana kita bisa berperan serta untuk kelangsungan hidup museum-museum di masa datang.

Jadi, selamat berkunjung ke museum dan menemukan maknanya untuk anda sendiri. Viel Spaβ!

GRASSI Museum in Leipzig, ada tiga museum di dalam sini, salah satunya Museum fuer Voelkerkunde Leipzig (Sumber : website Uni Leipzig)