Tentang Bir dan Perpisahan dengan Jerman

Sebelum memulai tulisan mengenai bir ini, saya hendak mengumumkan bahwa saya telah lulus s2! Yeay! Saya ujian tanggal 20 September yang lalu, dan lulus dengan hasil yang sangat baik menurut dosen saya. Terima kasih ya buat semua yang sudah mendukung dan mendoakan saya, semoga ilmunya bermanfaat. Amin amin.

Ketika saya memberi kabar kepada beberapa sahabat di Indonesia bahwa saya telah lulus, kebanyakan dari mereka -setelah mengucapkan selamat, bertanya, “dirayain pake bir nggak, Mi?” atau ada juga yang memaksa, “you should celebrate with big glasses of beer!”. Yang tentu saja sudah pasti absolutely saya lakukan, apalagi suami saya ikut ke Jerman kali itu, dan selama 3 minggu di sana, kayaknya dia sudah mencicipi lebih banyak merk bir daripada saya yang 2 tahun tinggal di sana hahaha.

Sebanyak apa bir yang suami saya cicipi? Ya mungkin ada sekitar 15-20 merk bir. Tapi sebenarnya, di Jerman saja ada lebih dari 1.300 brewery atau Bahasa Jermannya “Brauerei”. Nah dari 1.300 brewery itu, ada sekitar 5.000 merk bir yang diproduksi. Seperti yang sudah bisa kita duga sebelumnya, brewery paling banyak terletak di Bavaria, tepatnya di kota Bamberg. Tapi mungkin belum banyak yang tahu tentang ini: bahwa banyak biara-biara Katolik yang memproduksi bir, terutama dari ordo Benediktin.

Mengenal Komponen dan Jenis Bir

img_7262_2

Beberapa jenis bir yang saya cicipi ketika seminar. Salah satunya adalah bir yang diproduksi oleh brewery tertua di Jerman yaitu Weihenstephan (botol ketiga dari kiri), yang juga diproduksi oleh para Benediktin di biara mereka.

Kebetulan, selama 3 hari di bulan September kemarin, saya juga harus mengikuti seminar yang diselenggarakan oleh pemberi beasiswa saya, yaitu KAAD. Tema seminar kali itu adalah “Bierkulturen” atau Beer Culture. Saya merasa beruntung sekali bisa ikut seminar tersebut karena jadi bisa mengenali sejarah dan budaya orang Jerman….enggak ding, saya merasa beruntung karena bisa nyicipin macam-macam bir haha. Jadi mungkin yang pernah ikut wine tasting atau wine course(?) atau semacamnya bisa kebayang bahwa ini semacam itu tapi bir dan gratis tis.

Sebagai bagian dari seminar, kami mengunjungi brewery di dekat St. Ottilien bernama Andachs. Brewery ini juga dimiliki oleh ordo Benediktin sejak awal berdirinya, Andachs adalah namanya bukit tempat biara pastur-pastur itu berada. Pemandu kami menjelaskan bahwa ordo Benediktin banyak yang memiliki brewery karena mereka adalah ordo pekerja. Jadi mereka biasanya punya ladang, punya kebun, punya peternakan, dan tentu saja mereka bikin roti dan bir. Apa hubungannya roti dan bir?

img_7275_2

“Krug” atau gelas bir yang disimpan di loker di Andachs. Dulu kalau orang minum bir, mereka punya gelas sendiri-sendiri yang mereka simpan di brewery dan mereka pakai ketika minum di sana.

Bir dan roti sebenarnya memiliki bahan baku yang (hampir) sama, yaitu gandum (dan ragi) plus air. Dalam bir ditambahkan juga hops atau “hopfen”. Fungsi dari tanaman ini adalah untuk memberi rasa getir pada bir. Konon katanya, dulu orang-orang nggak tau kalau mereka bisa bikin bir langsung dari gandum, ragi dan air. Jadi mereka bikin roti dulu, trus rotinya direndam sampe buyar dan terfermentasi maksimal hehehe…makanya bir disebut “flüssiges Brot” atau roti cair (euw). Walaupun di Indonesia sempat dilarang beredar di minimarket kesayangan anda, di Jerman pada jaman dahulu kala, bir dianggap minuman yang menyehatkan, juga untuk anak-anak. Ini disebabkan karena bir sudah melalui proses perebusan yang lama. Sementara air minum biasa itu dianggap kotor…(terus saya jadi mikir kenapa mereka nggak ngerebus air aja ya?). Eh tapi walaupun anak-anak dulu boleh minum bir, jumlahnya sedikit sekali, paling cuma ditetesin aja ke mulut, macam vaksin polio.

Nah lalu, tahukah anda bahwa 80% bir yang diproduksi di dunia ini adalah jenis Pilsner? Atau paling tidak mengaku-ngaku jenis itu? Coba cek botol Bir Bintang masing-masing. Kenapanya saya juga kurang jelas, tapi Pilsner sebenarnya adalah bir asli Ceko atau pada saat itu masih bernama Bohemia, tepatnya di kota Pilsen pada tahun 1842. Bir dari Pilsen ini dianggap mempunyai rasa yang lebih “mild” daripada bir buatan Jerman pada umumnya. Konon katanya sih karena air di Pilsen kandungan mineralnya lebih sedikit. Pilsen juga selalu berwarna terang tidak seperti kebanyakan bir dari Inggris misalnya yang gelap.  Merk bir Pilsen pertama adalah Pilsner Urquell, sampai saat ini masih bisa dibeli di supermarket.

Bir memiliki dua macam cara fermentasi: ada yang di atas atau top-fermented atau di bawah tanah bottom-fermented. Kedua cara fermentasi ini katanya sih menghasilkan reaksi ragi yang berbeda dan rasa bir yang berbeda. Tapi sungguh, saya ini nggak bisa membedakan rasa bir. Taunya cuma enak atau nggak enak itu aja. Lalu dari mana datangnya warna terang dan gelap pada bir? Dari gandumnya. Kalau warnanya gelap, berarti gandumnya sudah dipanggang dulu, menghasilkan aroma yang agak smoky gitu.

Tahun ini Jerman, khususnya mungkin Bavaria sedang merayakan “500 Tahun Dalil Kemurnian”, dalam Bahasa Inggris “500 Years of Purity Law” atau Bahasa Jermannya “500 Jahre Reinheitsgebot”. Purity Law adalah aturan atau faham (pake p apa f nih) yang menganggap bahwa bir terdiri dan HANYA BOLEH terdiri dari tiga unsur ini: air, gandum dan hops. Jadi kalau ditambah yang lain, ya itu melanggar aturan. Walaupun begitu, saat ini banyak brewery yang sekarang sudah mencampur baurkan perasa ke dalam bir. Mungkin kalau anda pernah minum Radler, nah itu…sudah nggak suci lagi bir itu maksudnya.

beer-reinheitsgebot_1000x667

Gandum, Hops dan Air, hanya tiga hal tersebut yang boleh ada di bir berdasarkan Purity Law. Sumber: http://www.travel1000places.com

Bir dan Orang Yahudi

Bicara soal suci, sekarang coba kita bicarakan soal orang Yahudi (ih apa hubungannya coba). Saya akan bicara khusus mengenai bir dan orang Yahudi di Jerman karena kami juga berkunjung ke Jüdisches Museum München, atau Museum Yahudi Munich di mana sedang diselenggarakan pameran bertajuk “Bier ist der Wein dieses Landes” atau “bir adalah wine-nya daerah ini.” Pameran ini bercerita mengenai asal muasal bir di tanah Mesir dan juga para pengusaha bir dengan latar belakang Yahudi. Satu hal yang sangat menarik bagi saya adalah bahwa orang Yahudi yang selalu mengalami tekanan (anti-semitism selalu ada bahkan sebelum Hitler, fyi) tetap mencari akal bagaimana bisa bertahan hidup.

Di Jerman sempat ada pelarangan bagi orang Yahudi untuk membuka brewery. Tapi mereka tidak menyerah begitu saja melainkan mencari cara bagaimana mereka bisa ikutan dalam bisnis minuman yang menjanjikan itu tanpa perlu buka brewery. Jawabannya adalah, mereka membuka ladang hops. Dan hops yang mereka hasilkan selalu yang terbaik, karena mereka tidak mau dicibir sebagai “pedagang Yahudi yang tidak becus”. Orang-orang Yahudi ini juga yang pertama kali menemukan ide untuk memproses dan menjual hops dalam bentuk pelet (kayak makanan ikan) sehingga lebih memudahkan dalam proses pengiriman dan untuk pengolahan selanjutnya.

Ada lagi cerita yang menarik. Yaitu soal pemakaian tanda bintang di pintu brewery tradisional di sekitar Bavaria. Banyak yang menyangka, tanda bintang ini menandakan bahwa pemilik rumah-rumah bir tersebut adalah orang Yahudi. Tapi ternyata bukan. Simbol bintang mereka pakai sebagai bagian dari tradisi dan kepercayaan untuk menolak api/ mencegah kebakaran. Semacam tolak bala gitu. Dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Star of David-nya orang Yahudi. Terus saya jadi cerita sama mas pemandu museumnya kalau bir di Indonesia namanya Bir Bintang hehehe 😀

brewersstarmonk

Ilustrasi yang menunjukkan seorang rahib mengaduk rebusan bir dengan simbol bintang di atasnya sebagai pelindung. Sumber: http://www.brewingmuseum.org

Apakah bir halal untuk orang Yahudi? Jawabannya ya dan tidak. Yahudi, seperti yang kita tahu, juga mengenal prinsip halal dan haram. Salah satu bedanya di istilah. Mereka menyebutnya dengan kosher (halal) atau treif (haram). Konon pada suatu waktu, seorang Rabbi datang ke tanah Bavaria. Orang-orang Yahudi di situ memintanya melakukan perjamuan, tapi Rabbi menolak karena tidak ada anggur. Orang-orang Bavaria itupun berkata “tapi kami tidak punya anggur di sini!” dan Rabbi itu bertanya “lalu kalian punya apa?” lalu jawab mereka “kami punya bir! Asli dari tanah kami.” Maka berkatalah Rabbi itu, “baiklah, kalau memang bir adalah anggurnya tanah ini, mari kita adakan perjamuan.” Duh coba dia datangnya ke Semarang. If you know what I mean haha.

Sebagai penutupan dari rangkaian seminar, kami berkunjung ke Oktoberfest which literally is heaven on earth (or hell on earth, depends on your point of view heheh). Di sana saya dan suami merasakan bagaimana rasanya mabuk karena bir. Bir untuk Oktoberfest memang disiapkan khusus. Mulai dibuat katanya di bulan Maret dan dibuka di bulan September, dengan kandungan alkohol yang lebih tinggi tapi rasanya lebih enteng. Makanya nggak terasa tau-tau udah pusing aja.

Mengenal bir selama seminggu terakhir saya di Jerman menjadi sebuah tanda perpisahan yang berkesan bagi saya dan negara tersebut. Rasanya sedih juga karena kali ini saya tidak tahu pasti kapan bisa kembali lagi. Saya belajar banyak, saya betul-betul belajar banyak dari negara tersebut dan orang-orang yang saya temui di sana. Tapi nggak boleh sedih karena di Indonesia pun enak dan bisa berkarya. Terima kasih terima kasih sekali lagi 🙂

Prost!!

Advertisements

Tourism and Its Contribution for the Community in Chinatown of Semarang

The Chinatown of Semarang, Indonesia is one great example where tourism and community try to work together to reveal and preserve the local heritage. The Chinese-Indonesian started to gain back their freedom of expressing their cultural identity in 1998, when the 32 years long dictatorship of Soeharto ended. As they became ‘free’, many Chinese cultural activities came back alive all over the country. It is now one of the main tourist destination in the city.

The Gate of Chinatown.(Dwirahmi Suryandari, 2010)

The Gate of Chinatown.(Dwirahmi Suryandari, 2010)

See Hoo Kiong is one of the main temple (Klenteng) in Sebandaran Street, Chinatown (Dwirahmi Suryandari 2013)

See Hoo Kiong is one of the main temple (Klenteng) in Sebandaran Street, Chinatown. (Dwirahmi Suryandari, 2013)

The Chinatown of Semarang comprises a large area of business center, housing, river, and is located side by side with other ethnic group settlements. When we enter this area, we will soon see how the dynamic of the community really helps bring out the character of this area. Even in normal days, there are always something happening there. People praying inside beautiful temples, selling goods in the market -which I and my mom visited regularly, traditional medicine shops serving their customers, or kids practicing the lion dance show. These -if we don’t want to call it non-artificial- are genuinely raised by the community.

The traditional market in China Town where people from different ethnic group meet and interact. (Dwirahmi Suryandari, 2012)

The traditional market in China Town where people from different ethnic group meet and interact. (Dwirahmi Suryandari, 2012)

Of course there are some organized efforts in order to add more values and enhance the quality of these cultural attractions, as well as to make sure that the community will benefit from this tourism activities . In 2003 an organisation called ‘Kopi Semawis’ (Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata – Chinatown Community of Semarang for Tourism) was founded. This organisation has been working since then creating many organized activities involving the local community of Chinatown. For example the festival during the Chinese New Year, exhibitions, book discussions, and approaching local government as well as private companies for financial and promotional support. This organisation is unique because it is not only composed by Chinese-Indonesian, but also people from other ethnic groups. This organisation has helped raising consciousness of the people living in Chinatown about their culture.

One of the 'Potehi' puppet master preparing for show. (Dwirahmi Suryandari, 2010)

One of the ‘Potehi’ puppet master preparing for show. (Dwirahmi Suryandari, 2010)

Consciousness of culture and also collective memory are very important. With that, the community will have sense of belonging of their heritage and work hand in hand to make sure that the values will not vanished through times. I think tourism can bring out the best of Chinatown. It makes the community realize more about the value of their identity and at the same time brings financial advantages. We can see now that many local food stalls, Chinese painting artists, puppet theater shows are more highly appreciated than before.

One of the ritual celebrated in the Chinese-Indonesian community, called King Hoo Ping. In this moment, the people pray for the soul of the death. This kind of ritual held by the community is also one big tourist attraction.

One of the ritual celebrated in the Chinese-Indonesian community, called King Hoo Ping. In this moment, the people pray for the soul of the death. This kind of ritual held by the community is also one big tourist attraction. (Dadang Pribadi, 2010)

There are many concerns about how tourism will bring disadvantages to the environment. But in the case if Chinatown of Semarang, I think tourism has triggered the community and government to make strategy for a better living quality in Chinatown. For example, how they could maintain the sanitation of the river. On top of all those things, I think tourism activities in Chinatown of Semarang has brought the inter-ethnicity dialogue in my city to a better stage. It means that tourism has benefited our local community in broader scope. And I am so proud about it.

 

Dwirahmi Suryandari

A passionate explorer and a student. Now living in Bonn, Germany.

Museum di Bonn dan Ziarah ke Aachen

Judulnya agak nggak kreatif ya? Hehe…kemampuan menulis saya semakin berkurang akhir-akhir ini. Mungkin karena jarang dilatih 😛 Anyway, seperti yang sudah saya janjikan kemarin, saya akan menulis pengalaman saya jalan-jalan ke salah satu museum di Kota Bonn, Jerman. Kebetulan hari Kamis tanggal 19 Juni 2014 yang lalu adalah hari libur di sini, jadi saya sempatkan waktu itu untuk pergi ke museum. Saya pergi bersama dua orang teman baru dari Guatemala : Jeniffer dan Carla. Ohya, Jeniffer juga mau ngambil master di bidang heritage kayak saya, bedanya dia lebih spesifik; Monumental Heritage (di Dessau). Saya seneng ketemu dia karena ada temen jalan-jalan ke museum dan mengeksplorasi cerita (sejarah) tentang tempat-tempat yang kami kunjungi….nggak semua orang suka lho melakukan itu. Saya ingat dulu sebagian besar orang Indonesia yang ada di Dresden itu kayak ‘pasrah’ gitu aja sama sekitar, maksudnya ga peduli sama betapa menariknya kota itu dan betapa beruntungnya mereka bisa kuliah di sana. Mungkin karena mereka ga merasa beruntung? Hehe…

Kami bertiga berangkat dari Kreuzberg setelah makan siang. Hari itu museum tutup jam 18.00 jadi masih ada waktu lumayan buat liat-liat semua pameran. Kami bertiga masuk dengan tiket gratis dari Stadthaus, nah masalahnya saya lupa nanya kalo bayar, saya harus bayar berapa hehe 😀 Museum ini bernama LVR-Landesmuseum Bonn/ Rheinisches Landesmuseum Bonn. Bagian luar bangunan terbuat dari kaca. Sepertinya dulu di tempat di mana museum itu berdiri, ada sebuah bangunan tua, soalnya di balik kaca itu kayak ada sisa peninggalannya.

Image

Jeniffer, saya, dan Carla di depan LVR-Landesmuseum Bonn

Image

Dengan pergi ke museum ini, pengunjung bisa belajar bagaimana kehidupan manusia yang tinggal di tepi Sungai Rhine jaman dulu (2000 tahun yang lalu). Kala itu, bangsa Romawi masih menguasai daerah yang (dulu) bernama Germania ini (?). Dari mulai kehidupan sehari-hari seperti bagaimana mereka mencari makan, masak, alat transportasi, agama, sampai ritual penguburan. Mereka menunjukkan periode-periode kehidupan masyarakat di tepi Sungai Rhine sehingga kita bisa tau gimana mereka mengalami perubahan dan perkembangan dari waktu ke waktu. Seperti biasa museum di Jerman itu canggih dan sophisticated. Hehe…saya bingung bagaimana ya menjelaskannya? Btw, ketika kami berkunjung ke sana, lagi ada pameran khusus soal peninggalan benda-benda perunggu dari jaman Romawi. Yang disayangkan adalah, museum di Jerman ini jarang sekali menyajikan keterangan dalam Bahasa Inggris, jadi saya nggak mudeng 😦 tapi saya jadi termotivasi untuk belajar Bahasa Jerman lebih baik lagi 🙂

Image

And here comes the best experience so far : saya dapat kesempatan untuk mengunjungi Aachen dan terlibat dalam sebuah perjalanan spiritual yang terjadi hanya sekali dalam 7 tahun. Yes, once in 7 years!! Dan pas banget yang terakhir itu tahun 2007, jadi tahun 2014 ini ada lagi. Ziarah ini bertujuan untuk menghormati 4 relik yang dianggap suci menurut kepercayaan Katolik : 1. Pakaian yang dikenakan Bunda Maria ketika melahirkan 2. Kain pembalut bayi Yesus (semacam kain bedong gitu) 3. Kain pinggang ketika Yesus disalib dan 4. Kain pembungkus kepala Yohanes Pembaptis. Jadi setiap 7 tahun sekali relik-relik tersebut dipamerkan untuk publik.

Image

Koeln Cathedral

Kami berangkat dari Bonn naik kereta dengan group ticket. Satu tiket harganya 41 euro bisa dipake berlima selama sehari untuk keliling ke mana aja selama masih dalam bagian Nord-Rhine Westfalen (NRW). Hari itu hari Minggu, 22 Juni 2014, tapi kami semua (15 orang) udah bangun jam 5.30, mandi, terus berangkat (tiket ini juga berlaku untuk naik bisa dalam Kota Bonn, jadi dari Kreuzberg kami ga perlu jalan kaki ke stasiun). Kami harus ganti kereta di Koeln, dan pas lagi nunggu kereta sambungannya dateng, foto-foto bentar di depan Katdreal Koeln yang tersohor itu (Katedral ini adalah gereja Katolik tertinggi di dunia, sebenernya kalo Sagrada Familia yang di Spanyol itu sudah selesai, dia bakal jadi yang tertinggi, tapi sampe sekarang blm selesai pembangunannya).

Image

With my best bb’s. Yeeaayyyy!!!

Kira-kira pukul 9.00 kami sudah sampai di Aachen. Ziarah dimulai dengan tur singkat di pusat kota Aachen, kemudian kami bergegas cari tempat duduk untuk ikut misa yang dimulai jam 11.00. Misanya panas banget, saya memutuskan untuk nggak ikut. Gila aja dipanggang gitu di siang bolong, saya (dan Jeniffer) memutuskan untuk masuk ke museum di sebelah lapangan tempat misa diadakan. Hehe…di dalem lebih adem dan kita bisa ngintip-ngintip dikit pameran tentang Charlemagne (kalo mau masuk pameran bayar 10 Euro).

Image

di gerbang tua kota Aachen

Image

Holy (Hot) Mass

Oiya, Charlemagne (atau Charles the Great) adalah sosok yang sangat terkenal buat umat Katolik di Eropa. Beliau ini dijuluki Father of Europe (kata seorang romo yang jadi guide kami hari itu). Charlemagne adalah raja dari Francia. Francia itu sebuah kerajaan di Eropa jaman dulu yang terdiri dari konfedarasi orang-orang Germanic. Dulu Eropa batas negara bangsanya belum kayak sekarang ya, jadi agak rumit juga ceritanya. Hehehe…Beliau bertahta dari tahun 768-814, meninggal di Aachen, dan dialah yang mendirikan katedral yang pada tahun 1978 masuk dalam daftar pertama World Heritage menurut UNESCO (ada 12, Katedral Aachen ini salah satunya). Di katedral ini telah dinobatkan 30 orang raja yang pernah memimpin Jerman dan sekitarnya 😀 Sejarah mengenai kenapa Charlemagne begitu penting dan bagaimana beliau bisa mendapatkan 4 relik terpenting itu bisa dibaca di sini. Singkatnya dia mendapatkan relik-relik tersebut sebagai hadiah dari Yerusalem karena jasanya melindungi umat Katolik di Eropa.

Image

Tampak depan Katedral Aachen

Image

Salah satu bagian dari Katedral Aachen, kacanya bagus ya 🙂

Image

ini juga bagian dalam dari Katedral Aachen, sebenarnya langit-langitnya bagus tapi nggak kefoto karena ada tali pembatas yang ga boleh dilewatin

Image

Jubah yang katanya pernah dikenakan Bunda Maria

Mungkin pada bertanya-tanya ya, masa sih reliknya asli? Saya sendiri kurang mau membicarakan apakah saya percaya itu asli atau tidak, saya cuma mau bilang bahwa saya lebih tertarik pada kesempatan untuk terlibat di peziarahan yang bersejarah ini. Tradisi ini sudah berlangsung selama 660 tahun! Lagipula pergi ke Aachen sangat mudah dari Bonn. Kalau saya lagi di Indonesia, ya ngapain juga kali jauh-jauh terbang ke Jerman hehehe….

Hhhhmmm kayaknya ceritanya udahan dulu soalnya harus belajar. Besok Jumat ujiaannn 😥

My Report :)

It was amazing to receive the scholarship from Rave Foundation for 4 months in Germany. During my stay in the two cities – Dresden and Leipzig, I had so many useful experiences about the management of museum, and I was lucky because I had the chance to do the internship in a big institution of Staatliche Kunstsammlungen Dresden, with various kinds of museums and galleries. This was very important for me because I come from a country that lack of professionals in museum field. So working in one of many good museums in Europe, especially in Germany was until now the best experience for my career forward.

I had the internship in two ethnological museums owned by Staatliche Kunstsammlungen Dresden, they were in Leipzig and Dresden. My first term of internship was from middle August until the end of September in Museum fuer Voelkerkunde Dresden. Here, I got the first impression about the situation of museum in Germany, how the organisation of the museum, how they work and also how they manage the exhibition. I also had a glance on how the restorators and the technical department of this museum work. But I was first only observing. In this museum I had the chance to do some scientifical works with the collections from Indonesia. It was great because it made me learn about my own culture and I could see how the Europeans see my culture.

In this scientifical work, I had the responsibility to make the description of some old objects of wayang puppets, batiks, and some objects of the chinese Indonesian culture. I also learned how to make a good digital photo of objects, the catalogue systems and the database of the collections. Beside making the descriptions for the archives of the museum, I also prepared some for the database of Virtual Collection of Masterpiece (VCM), the online catalogue of museum from around the world.
I did some educational programs with the department of education. I learned on how to prepare the materials for workshops and guided tours, and how to deal with smaller and older children. This experience with the education department of museum in Dresden was very important because I had to make my own programs for children for the museum in Leipzig, where I had my internship for the second term.

My removal to Leipzig allowed me to see a great permanent exhibition organised by GRASSI Museum fuer Voelkerkunde. I saw how they created a really great and convinient exhibition room, and the technologies that they use to support the exhibition. But my main task here was to present some batik workshops for children and adults, therefore in this museum I was fully working in the education department. I started my days in Leipzig assisting some programs for children, like kid’s birthday, school workshop and special guided tours for children. Then I had to prepare for my own workshops. For this preparation I made some trials with the help of my colleagues.

I had three workshops here, one was for children, one for adults and one for my colleagues in Leipzig. I began the workshops for children and adults by showing them the batik in the showcases of the museum, and telling the history and the real traditional process of making batik. Then we did the workshops. I was glad and proud to see how the people were interested of the process of batik making and that they were eager to try that. I have to say that all the workshops were great, I made some new friends and exchanged knowledges with the participants. I also had one day chance to do batik demonstration on the exhibition room. It was a pleasure for me to talk with the visitors of the museum and explain them about my own heritage. During this period I made a visit to Berlin because my embassy asked me to do the same workshop in the Labyrinth Museum in Berlin. The workshop was successful and I had some impressions of great museums in Berlin.

workshop at Labyrinth Museum Berlin with the embassy

My third term of internship was back in Dresden again. This time I involved in some projects while continue on doing scientifical works. First I had to help on preparing the winter gallery, especially on the inventory process. I was trusted to select some things to be sold at the gallery, especially things that came from Indonesia, defining the quality and responsible for the pricing. I also participated at the opening ceremony of the winter gallery. From this event I learned about how the museum funds itself and who the important stakeholders that support the existence of a museum are. Another task that I had was to make a preparation of a small exhibition that will be opened on the beginning of 2012.

This task was quiet challenging because I felt that this was really new for me. The exhibition will be about models, ranging from ship models, house models, household models, etc. I had to cooperate with the catalogue department to know all the models that the museum has, then I need to choose among those models, the objects that might be suitable for the exhibition. Then I made some photos of the objects, and discussed with the restorators about the condition of the objects. The last thing I did was designing the display on the chosen and approved objects. I had a brand new experience while preparing this exhibition and I was so excited about it.

During my stay, I only had one problem: language. I should had be able to speak and understand better of German. Unfortunately, because I had to move from one city and another, I couldn’t find a proper program from a language course. But all the colleagues were so nice a supportive. I would like to thank Ms. Petra Martin, the curator for South East Asia and also my supervisor for this program, for all the chances, the knowledges and hospitality that she’s given to me. Also for the colleagues in Leipzig, Ms. Christine Fischer, Mr. Dietmar Grundmann and Mr. Reinhard Wagenknecht.

I would like also to thank all the people in Rave Foundation for the scholarship that made me have this experience for having an internship in Dresden and Leipzig, and had the chance to conduct a workshop in Berlin. With this chance I was able to visit many museums and galleries, improving my language skill, and had interactions with various kinds of people from around the world. I believe this knowledge that I have now, will help me in my future career and I hope I can make a better condition for the situations of museums in Indonesia. I really appreciate the Rave Foundation for giving the chance for young people from third world countries to work in museums in Germany. I think this program is really usefull for those who want to learn about museum.

 http://www.ifa.de/en/foerderprogramme/rave-foundation/ravestipendien/erfahrungsbericht/dwirahmi-suryandari/

No Reason To Be Sad!

Kenapa judul tulisan kali ini seperti itu? Hm, ya karena saya akan menulis betapa minggu kemarin tepatnya dari tanggal 19-25 September 2011 saya mengalami hari-hari terbaik saya di Jerman. Memang ada beberapa kejadian agak menyebalkan di awal minggu, tapi ternyata semuanya bisa terbalas dengan hal-hal baik yang terjadi kemudian. And I could not ask for more. God does love me so much.

Hari Senin dan Selasa, saya kerja seperti biasa di Dresden. Malam harinya saya habiskan dengan jalan-jalan di pusat perbelanjaan sepanjang Prager Strasse sampai Hauptbahnhof tanpa membeli apapun. Termasuk ketika saya menguatkan hati untuk tidak membeli jaket di Jack Wolfskin, atau bahkan di C&A dan H&M yang harganya lebih murah. Hehe

The Ballet Surprise

Semperoper

Hari Rabu, tiba-tiba supervisor saya di kantor masuk ke ruangan dan berkata bahwa hari itu juga saya bisa membeli tiket pertunjukan balet dengan harga murah. Dan dengan baiknya dia membiarkan saya meninggalkan kantor pada pukul 14.30 hanya untuk memastikan bahwa saya akan mendapat tiket dan terutama tempat duduk yang strategis. Tanpa pikir panjang sayapun segera pergi menuju Altstadt. Pertunjukan balet akan berlangsung esoknya (Kamis) di Semperoper, salah satu gedung opera paling bagus di Eropa. Semperoper masih merupakan bagian dari Staatlische Kunstsammlungen Dresden, dan biasanya ada penawaran khusus untuk karyawan SKD. Dari harga normal 55 Euro, saya bisa membeli tiket khusus dengan harga 11 Euro saja. And guess what, saya dapat di baris nomor 2! Wasn’t that amazing? Inilah salah satu keuntungan kerja di museum. Jadi, siapa yang mau kerja di museum???? 😀

Sepulang dari beli tiket, saya menuju Prager Strasse lagi berburu baju baru. Oke, memang agak norak sih, tapi saya ingin tampil sebaik mungkin untuk melihat balet. Hanya saja, entah malaikat dari mana datang menyertai saya sore itu, saya akhirnya pulang tanpa membeli sepotong pakaianpun. Saya berpikir untuk melihat apakah saya masih punya pakaian yang cukup manis untuk dipakai ke gedung opera.

Dan akhirnya, hari yang dinantipun tiba. Saya suka balet. Well sebenarnya, saya suka segala macam pertunjukan. Apalagi kalau menonton langsung dan dapat tempat duduk spesial. Malam itu saya memutuskan memakai legging, tank top, dan oversized cardigan yang saya ingat dibeli di Mangga Dua. Sepatunya cuma sepatu trepes seharga 6 Euro yang saya beli di NewYorker beberapa minggu yang lalu. Saya tahu bahwa dilarang telat untuk nonton pertunjukan di gedung opera, apalagi sekelas Semperoper. Pukul 18.50 saya sudah duduk manis di kursi istimewa saya, besebelahan dengan bapak-bapak dan ibu-ibu yang memakai jas dan gaun-gaun yang pastinya nggak dibeli di Mangga Dua.

dan inilah saya di dalam Semperoper

Oke, kembali ke bahwa saya suka nonton pertunjukan. Saya suka melihat pertunjukan musik, drama, tari dan lainnya mungkin karena dari kecil saya sudah biasa pentas. Saya sering menari Jawa ketika masih TK-SD, SMP mungkin tidak, tapi SMA, saya mengalami banyak sekali pengalaman menyenangkan, mendebarkan dan mengharukan ketika saya harus pentas. Entah itu menari, menyanyi atau bermain musik (gamelan). Salah satu hal yang paling saya suka dari tampil adalah merasakan nervous dan tense-nya. Nikmat sekali. Maka, ketika saya menonton pertunjukan, salah satu hal yang membuat saya terharu atau larut dalam suasana adalah saya membayangkan bagaimana rasanya menjadi mereka-mereka yang ditonton itu. Ah, pasti menyenangkan sekali. Bukan masalah bayaran atau popularitas yang akan mereka dapat. Tapi lebih ke rasa bahwa malam itu adalah malam milik mereka. They own the night. And it reminded me that I used to have my own nights (and also days).

Judul pertunjukan malam itu adalah Zaubernaechte. Dan maafkan saya yang tidak terlalu paham cerita yang disampaikan. Yang jelas ada tiga cerita yang ditampilkan. Setiap cerita durasinya sekitar 40 menit. Saya baru tahu juga bahwa ada yang namanya istirahat di pertunjukan semacam ini. Jadi karena ada 3 bagian, maka ada 2 kali istirahat. Satu kali istirahat waktunya 20 menit. Dan 20 menit ini biasanya digunakan pengunjung untuk melihat-lihat gedung Semperoper, minum Champagne atau ke kamar kecil. Saya hanya melakukan yang pertama dan terakhir, karena nggak mungkin beli Champagne. Bukan masalah uangnya, tapi saya tidak tahu harus bilang apa sama bartendernya.

Oke, and the show was AMAZING. Saya tidak menyangka bahwa saya bisa punya kesempatan untuk menonton pertunjukan dengan perpaduan teknologi dan keindahan gerak manusia sebagus itu. Saya tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata. Yang jelas, kalau ketika membaca tulisan ini kalian membayangkan sebuah pertunjukan balet yang spektakuler, it was ten times better than your imagination. It was beyond everything that you can imagine. Trust me.

Bagian pertama berjudul No Thumb dengan koreografi dari Pascal Touzeau dan iringan musik klasik  Dona Nobis Pacem oleh Pēteris Vasks. No Thumb membuka pertunjukan malam itu dengan sangat indah, saya hampir menangis ketika melihatnya. Walaupun malam itu yang disajikan adalah balet kontemporer, saya tetap terharu!

And The Show Goes On

Cerita mengenai bagian kedua (di buku panduan penonton) dimulai dengan prolog seperti ini:

“I saw God in my dream last night,”

“Really? What was he like?”

“She was black.”

Dan Sie War Schwarz (She Was Black) memang merupakan judul dari koreografi ini. Mats Ek, sang koreografer berusaha menampilkan konflik-konflik yang dialami manusia di era modern, dengan beberapa sentuhan yang penuh dengan fantasi. Saya terkejut karena di bagian ini seorang laki-laki keluar dan menari tanpa mengenakan sehelai pakaian pun… *gleg. Bagian ketiga sangat cocok dengan judulnya; Spacio Tempo oleh Jacopo Godani. Dengan permainan cahaya yang membuat para penari nampak seperti siluet, bagian terakhir ini membuat saya tidak bisa mengalihkan pandangan dari panggung. Saya takut melewatkan bagian terkecil sekalipun.

Akhirnya pertunjukan malam itu selesai. Sayapun pulang dan saya merasa menjadi salah satu dari sedikit orang yang paling beruntung di dunia. Bisa melihat balet di Semperoper. Huaaa…bisa ke Jerman dan bekerja di museum di negara ini saja membuat saya merasa beruntung, ternyata masih banyak bonus lain yang saya dapatkan. Semoga semua ini bisa membuat saya menjadi orang yang punya wawasan lebih luas, dan yang lebih penting, malam itu saya merasa bahwa Tere harus bisa melihat apa yang saya lihat. I will take you here, Girl! (Bagi yang ingin melihat foto-foto pertunjukan balet malam itu, silahkan klik di sini).

And the show goes on! Yap, esoknya Gesine, teman baik saya di Jerman mengajak saya pergi ke Weinfest di Radebeul, salah satu “desa” penghasil anggur di Sachsen. Malam itu saya mencoba bermacam-macam Wine. Yang saya suka (karena manis) bernama Federweisser. Katanya ini anggur putih yang masih baru, jadi belum terlalu terfermentasi, kadar alkohol masih rendah. Cuma kalau minum kebanyakan tetep aja mabuk katanya. Hehehe…saya juga mencoba Glühwein. Anggur hangat dengan rempah-rempah. Harganya 1,5 Euro saja per gelas. Dan rasanya enakk…banget. Biasanya Glühwein ini mulai dijual ketika sudah mulai dingin, menjelang Natal. Kami pulang dari Radebeul jam 1 dini hari, saya menginap di rumah Gesine. Rumahnya “rumah orang Jerman banget”, kata Gesine yang fasih berbahasa Indonesia, dengan beberapa kata agak medok khas Semarang. Oh iya, Gesine 2 tahun kuliah di Semarang. Makanya dia bisa Bahasa Indonesia, suka makanan pedas, dan pinter bikin martabak.

Salah satu sudut Weinfest

Wine Village Radebeul

so many kinds of Wine

I’ll be waiting in Kingston(e) Town

Dan itu belum semua! Hari Sabtu pagi saya bangun di rumah Gesine dengan perut yang terasa aneh karena alkohol dan kepala yang agak pusing. Mungkin karena tadi malam kami pulang sangat larut dan suhu ketika itu sekitar 7 derajat Celcius! Sekitar pukul 2 siang saya memutuskan untuk pulang ke apartment. Masih harus packing untuk pindahan ke Leipzig dan tentu saja karena…..hari Minggunya saya akan pergi ke Rathen bersama Thomas, Annegret dan Pak Fao.

sama Thomas dan Annegret di Rathen

Thomas adalah anak dari supervisor saya di kantor (namanya Ibu Petra) dan Annegret pacarnya Thomas. Mereke berdua baik-baik, lucu-lucu dan yang paling penting : they speak English! Sudah sejak dua minggu yang lalu saya merengek minta diajak ke Rathen. Rathen adalah kota kecil di Sachsen, yang sudah sempat saya lihat dari atas gunung ketika pergi ke Bastei -salah satu pegunungan di Sächsische Schweiz– sama Petra beberapa minggu yang lalu. Ketika melihat kota kecil itu dari atas, saya langsung bilang : saya harus kesana! Dan Sächsische Schweiz, kenapa namanya demikian karena artinya adalah Swiss di Saxonia. Swiss identik dengan pegunungan. Maka dari itu, pegunungan ini bernama Sächsische Schweiz (Saxon Switzerland). Menurut saya tempat ini wajib dikunjungi jika ada yang punya kesempatan ke Sachsen.

Kami berangkat dari Dresden Hauptbahnhof pukul 11.30 dan 30 menit kemudian sampai di kota mungil itu. Di Rathen kami ke danau bernama Amselsee (Amsel adalah salah satu jenis burung). Di danau itu, saya berhasil membujuk mereka semua untuk naik perahu. 5 Euro untuk ber-4, dan kami bisa berperahu sambil piknik di tengah danau, memberi makan bebek, bahkan Thomas sempat minum bir. Setelah selesai main perahu-perahuan, kami berjalan menuju sebuah air terjun kecil di dekat danau, kemudian Thomas berkata bahwa setelah ini kami akan diajak jalan ke Königstein (King Stone).

Awalnya saya tidak tau apa itu Königstein. Annegret kemudian memberi saya sebuah leaflet soal Königstein. Melihat gambarnya, saya berpikir bahwa oh, kastil. Okay then –biasa aja. Dari Rathen kami harus naik kereta lagi. Dari awal kami membeli tiket seharga 23 Euro yang bisa dipakai ber-4 selama sehari mengelilingi Sachsen. Jadi naik kereta berkali-kali pun nggak bayar lagi. Dan, ehm…ternyata Königstein itu lebih semacam benteng besar instead of just a castle! Dan benar-benar seperti apa yang pernah saya lihat di film-film. Dimana ada kota di dalam benteng. Mungkin yang pernah nonton Kingdom of Heaven, Prince of Persia dan film-film sejenis itu paham maksud saya. Dulu di sana ada gereja, kapel, rumah-rumah, penjara, gudang, pasar, dan lain-lain. Sekarang ditambah ada museum, restoran dan coffee shop. Kami berjalan mengelilingi benteng-luar dan dalam- dan saya terpana melihat konstruksi dari bangunan itu. Bentengnya benar-benar nempel jadi satu dengan batu asli dari gunungnya. I just have no idea how men did that in the former times.

Koenigstein, so BIG!

Sebenarnya saya belum puas jalan-jalan. Tapi jam 6 sore, benteng sudah ditutup. Maka kamipun memutuskan untuk turun gunung. Anyway, yeah, perjalanan ke Königstein membutuhkan waktu sekitar 40 menit naik gunung. Ketika saya naik, yang ada dalam pikiran saya hanya bahwa nanti ketika mau pulang jalannya turun, sudah hukum alam, it won’t cheat me, I guess. Dan kami pun menunggu kereta datang di stasiun kecil bernama Königstein juga. Dan keretapun datang membawa kami pulang ke Dresden. Nobody talked during the journey on the train back home. Capek semua. Hihihi…

when I am king,
Surely I would need a queen
And a palace and everything, yeah yeah
And now I am king,
And my queen will come at dawn
She’ll be waiting in Kingston Town

(UB 40 – Kingston Town) –> karena Thomas nyanyi-nyayi lagu ini terus sepanjang naik gunung.

Bear-Lin

Betapa beruntungnya saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi Berlin dalam rangka mengisi acara pada resepsi diplomatik KBRI. Acara ini merupakan acara tahunan yang dilaksanakan sekitar bulan September untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Tapi, tidak semua orang Indonesia di Jerman bisa datang ke acara ini, karena ini merupakan jamuan kelas diplomat (namanya aja Resepsi Diplomatik). Tamu yang diundang dibatasi hanya 300-400 orang, sebagian besar adalah para duta besar, beberapa orang lain yang sepertinya cukup terhormat di mata KBRI, beberapa anggota PPI Jerman, dan tentu saja staf KBRI. Berangkat dari Dresden pukul 09.04, saya hanya sempat sarapan kopi dan sandwich yang saya beli di stasiun. Tapi rasanya nikmat, berasa traveler sejati. Hihi..Gambar di bawah ini adalah sarapan saya dan Hauptbahnhof Dresden.

Saya sampai di Berlin Hauptbahnhof (stasiun utama) di hari yang sama pada pukul 11.14. Dan dijemput oleh Pak Anis dari bagian sosial-budaya. Saya sudah diberi tahu sebelumnya oleh Mas Apung (staf sosbud juga) bahwa yang menjemput nanti Pak Anis, wajahnya Indo-Arab dan tinggi. Saya dengan mudah menemukan Pak Anis, tapi bukan karena wajah Indo-Arabnya, melainkan karena beliau pake batik. Ehehe.. Jarak Hauptbahnhof dan KBRI sangat dekat, katanya cuma 5 menit kalau jalan kaki. Dan Hauptbahnhof Berlin adalah salah satu tempat (dari banyak tempat di Jerman) yang membuat saya kagum. It was sooo BIG! Kata Mas Apung sih ini stasiun kereta api terbesar di Eropa.

Berlin Hauptbahnhof, yang besar dan bersih.

Begitu sampai di KBRI, saya langsung menemui Bu Birgit, seorang staf lokal yang bisa bicara Bahasa Indonesia dengan sangat baik, lengkap dengan ekspresi “deh”, “dong”, “sih”, dan masih banyak lagi. Saya diminta menunggu sampai jam 12.00 untuk berangkat bersama Pak Anis lagi ke Hotel Adlon. Mungkin sudah tau ya Hotel Adlon? Adlon Kempinski. Cukup terkenal karena Michael Jackson pernah menginap di sana dan muncul di balkon hotel bersama anaknya yang membuat heboh media, lalu Barrack Obama juga pernah menginap di Adlon, dan tentu saja bapak kita yang terhormat : SBY. Terakhir hotel ini ada di filmnya Liam Neeson, berjudul Unknown (dan saya tidak akan bosan untuk pamer betapa ‘penting’nya hotel ini. Hehe..).

Ketika saya ke kamar mandi, saya bertemu dengan Mbak Tuti, yang saat itu sedang mengonde rambutnya sendiri. “Kalau di Adlon, aduh..nggak bakal sempet mbak. Saya nanti mesti sibuk, jadi mending kondean di sini.” Usut punya usut, Mbak Tuti -yang juga staf sosbud – ternyata adalah penari dan berasal dari Bali. Pantas saja dia sudah tidak canggung mengonde-ngonde rambut. Karena ternyata lama (tidak jam 12.00 seperti yang dijanjikan) maka saya mondar mandir di KBRI dan akhirnya berkenalan dengan bapak-bapak yang sedang memanfaatkan “smoking area” (balkon). Ada seorang yang sudah tinggal di Jerman selama 20 tahun. Tapi katanya, dia bukan yang paling lama, ada yang sudah 40 tahun.

Sekitar jam 13.00 saya, Mbak Tuti, Mas Apung, dan dua orang staf lainnya berangkat ke Adlon. Sesampainya di sana saya berkenalan dengan Bapak Rudolf Smend dan Joachim Blank. Pak Smend adalah kolektor batik, dan Pak Blank seorang seniman yang beberapa karyanya menggunakan teknik batik juga. Semua batik koleksi Pak Smend antik dan indah. Saya sampai takut memegang, takut salah. Tapi beliau sangat ramah dan rendah hati, sebelumnya saya sudah sempat berkomunikasi dengan beliau via email. Dia diundang khusus oleh KBRI untuk memamerkan batiknya sebagai ‘side event’ dari resepsi diplomatik kali ini. Setelah ganti baju (dan dikonde sama Mbak Tuti juga), sayapun siap melakukan demo membatik. Awalnya, Pak Smend sempat menawari saya untuk menggunakan salah satu kain antiknya sebagai kemben, tapi selain kurang percaya diri, saya merasa akan kedinginan dan ada kemungkinan juga kainnya bakal rusak kalau saya pakai. Hehe, akhirnya saya mengenakan kebaya encim cantik berwarna kuning yang saya bawa dari Semarang, sebagai sarungnya, Pak Smend meminjamkan salah satu koleksinya yang belum terlalu rapuh.

Palaissaal,Adlon Kempinski,tempat acara diselenggarakan.

Inilah saya yang sedang membatik, sampai lupa makan!

Saya tidak menyangka, bahwa banyak orang yang tertarik melihat apa yang saya lakukan. Kebetulan saya membatik dengan motif Bokor Kencono. Saya sudah siap-siap sejak awal untuk bercerita mengenai motif ini, bahkan sudah menyiapkan versi Bahasa Jermannya. Beberapa tamu jongkok di samping saya dan menanyakan tentang proses membuat batik. Bagaimana kalo mau dua warna, tiga warna, dan seterusnya. Saya jawab setahu dan semampu saya, tapi sepertinya sih cukup meyakinkan. Saya terus membatik sampai Mas Apung datang dan menanyakan apakah saya mau makan atau tidak. Akhirnya setelah melihat tamu sudah mulai sepi dan acara sudah hampir selesai, sayapun masuk ke ruang resepsi dan makan nasi goreng. Enak!

Rendang adalah salah satu menu yang disajikan. Mas Apung cerita bahwa yang membuat adalah chef dari Hotel Adlon dengan supervisi KBRI, yaitu  Mas Apung sendiri. Hasil akhirnya ternyata memuaskan banyak orang. Beberapa menu lainnya adalah kerupuk udang, pangsit, dan ayam kecap. Pencuci mulutnya tidak khas Indonesia, tapi tetap saja tidak mengurangi suasana “Indonesia” malam itu. Sambil makan, saya berbincang dengan Bu Birgit dan Pak Smend. Saya bertanya, yang mana Duta Besar Indonesia. Bu Birgit lalu menunjuk seorang bapak dan seseorang (saya lupa siapa) berkata pada saya bahwa Pak Edi -si Dubes-berasal dari Semarang.


Rendang ala Adlon

Ketika acara sudah benar-benar akan berakhir, saya berfoto bersama istri Dubes dan ibu-ibu KBRI lainnya. Lalu saya menuju ruang ganti karena sudah tidak tahan pakai kain. Ketika keluar dari ruang ganti, rombongan Duta Besar lewat. Pak Edi menyalami saya dan berkata, “terima kasih ya Mbak, bagus sekali lho mbatiknya.” Saya mengucap terimakasih kembali dan bertanya, “bapak orang Semarang, ya?” Lalu dengan girangnya dia bilang iya, menanyakan saya orang Semarang juga atau bukan, Semarang nya sebelah mana, dan lain-lain.

Bersama Pak Smend, Bu Dubes, dan Pak Joachim. Mereka yang ditengah itu. Sebelah kanan saya Mas Apung. Dan yang lain adalah ibu-ibu KBRI (apa iya ya?)

Saya dan Mas Apung pulang pukul 22.30, saya menginap di apartemen Mas Apung yang ternyata sangat dekat dengan Adlon. Ketika mau tidur, saya baru sadar bahwa saya belum mandi sore tadi. Tapi saya sama sekali tidak berpikir untuk mandi saat itu, karena sudah ngantuk dan capek. Setelah ngobrol sebentar sama Mas Apung, sayapun tidur. Dan Mas Apung baik sekali karena membiarkan saya tidur di kamarnya, sementara dia tidur di kamar tamu bersama tumpukan cucian. Bulan depan kebetulan saya harus ke Berlin lagi, dan sudah janjian sama Mas Apung untuk menginap di sana lagi. Terimakasih Mas Apung 🙂

Esoknya, saya kembali ke KBRI untuk membicarakan workshop batik bulan Oktober yang akan datang. Jam 12.30 Mas Apung dan Bu Birgit mengantar saya ke Hauptbahnhof, di jalan sempat foto-foto sebentar di lapangan yang ternyata bekas penjara. Di lapangan itu masih ada satu sel yang dibiarkan utuh. Dan kalau kita masuk sel itu, tiba-tiba keluar suara dengan musik latar yang mencekam mengiringi suara orang yang memberikan testimoni seperti apa rasanya dipenjara. Saya nggak kebayang kalau masuk ke situ malam-malam apa jadinya ya? Karena kereta saya pukul 14.48, kami masih sempat makan siang di stasiun. Setelah itu belanja souvenir.

di depan bekas sel, yang jadi semacam monumen

bersama Bu Birgit Steffan, yang baikkkkk banget

Mas Apung dan Bu Birgit harus kembali ke kantor segera karena jam makan siang sudah habis. Maka sayapun jalan-jalan sendiri di Hauptbahnhof. Saya belanja suvenir lagi dan lagi. Lalu jalan-jalan. Kemudian dengan sangat santai saya berjalan menuju Gleis (jalur) 2, tempat kereta menuju Dresden berangkat. Ketika saya melihat ke jalur itu, sudah ada kereta di sana. Lalu saya melihat jam, sudah pukul 14.46! Saya panik karena satu persatu pintu mulai ditutup, dan orang-orang di luar kereta (para pengantar) sudah pada melambaikan tangan pada yang di dalam. Tanpa pikir panjang saya lari dan melompat ke wagen (gerbong) terdekat yang pintunya masih buka. Saya pikir, gerbongnya salah kan tidak apa-apa yang penting sudah masuk. Akhirnya setelah salah duduk satu kali, bertanya berkali-kali, saya menemukan gerbong yang benar. Lain kali, saya berjanji pada diri sendiri untuk duduk manis menunggu kereta walaupun masih lama. Huahh…

So, auf wiedersehen, Berlin!

Gemäldegalerie Alte Meister Dresden, Surga Di Teriknya Musim Panas

Hari ini saya berkesempatan mengunjungi Gemäldegalerie Alte Meister Dresden. Galeri tersebut letaknya di tengah kota tua, di sebelah selatan Sungai Elbe. Galeri ini berada di dalam Zwinger, salah satu bangunan terkenal di Dresden dan merupakan salah satu dari 13 museum/galeri yang berada di bawah naungan Staatliche Kunstsammlungen Dresden (SKD). Bisa ditebak dari namanya :“Alte Meister” atau “Old Master”, galeri yang pernah hancur pada jaman perang dunia kedua ini menyimpan lukisan-lukisan dari para pelukis terkenal dari abad 15 sampai 18.

Pintu masuk, hanya boleh memotret sampai di sini 😀

Berada di dalam galeri megah dengan interior yang mewah, saya benar-benar merasakan atmosfer dari Eropa pada masa-masa pelukis-pelukis tersebut berkarya. Galeri Alte Meister memiliki banyak ruangan. Ruangan membagi karya beradasarkan tempat dan era (abad) dari sang pelukis berasal. Pembagian tersebut memudahkan pengunjung untuk mengenali karakteristik karya dari tiap pelukis dan masa saat lukisan tersebut dibuat.

Galeri ini memamerkan karya dari seorang pelukis Italia yang terkenal bernama Raffaelo Santi (1483-1520), berjudul Die Sixtinische Madonna/ The Sistine Madonna/  Madonna Di San Sisto (saya menduga yang terakhir adalah judul aslinya karena ditulis dalam Bahasa Italia). Sebelumnya lukisan berukuran lumayan besar ini disimpan di sebuah gereja di San Sisto, Piacenza, Italia dan akhirnya dibawa ke Gemäldegalerie Alte Meister Dresden pada tahun 1754. Lukisan ini adalah salah satu lukisan tentang Madonna, atau biasa kita kenal dengan sebutan Bunda Maria, yang terkenal. Karya ini sempat direlokasi ke Rusia setelah perang dunia kedua.

Madonna Di San Sisto, by Raffaelo Santi, 1513 (gambar diambil dari Wikipedia)

Pelukis terkenal lain yang karyanya bisa kita nikmati di galeri empat lantai ini adalah Rembrandt van Rijn, seorang Belanda yang lahir di Leiden pada tahun 1606, yang juga merupakan salah satu pelukis kenamaan dalam sejarah seni Eropa. Kemudian tentu saja ada beberapa lukisan dari Bernardo Belloto atau Canaletto yang melukis beberapa sudut kota Dresden. Canaletto adalah seorang seniman yang berhasil mengabadikan kota Dresden di era Baroque dalam lukisan-lukisannya. Itulah sebabnya galeri ini memiliki program bernama Danke Für Canaletto.

Monumen Canaletto View atau Der Canaletto Blick, sebagai ungkapan penghargaan atas Bernardo Bellotto (Canaletto) yang melukis Dresden, terutama pemandangan Altstadt dari tepi utara Sungai Elbe.

Keindahan lukisan dari pelukis-pelukis tersebut berpadu harmonis dengan kemegahan bangunan galeri. Di dalam galeri disediakan sofa-sofa yang nyaman untuk duduk dan menikmati lukisan-lukisan besar yang terawat dengan sangat baik. Pengunjung bahkan bisa meminjam sebuah alat khusus (dengan harga sewa 3 Euro), untuk mendengar sejarah dari lukisan-lukisan tersebut. Alat ini berbentuk seperti telepon genggam, dengan memencet kode yang ada di samping (hampir) setiap lukisan, maka mereka bisa mengetahui sejarah dan cerita menarik di balik tiap masterpiece tersebut.

Bagi saya, mengunjungi galeri ini tidak bisa hanya sekali. Karena banyak sekali lukisan dari ruangan ke ruangan, sudut ke sudut yang memiliki daya tarik magis yang tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata. Saya benar-benar merasa seperti di dalam surga!