Tentang Bir dan Perpisahan dengan Jerman

Sebelum memulai tulisan mengenai bir ini, saya hendak mengumumkan bahwa saya telah lulus s2! Yeay! Saya ujian tanggal 20 September yang lalu, dan lulus dengan hasil yang sangat baik menurut dosen saya. Terima kasih ya buat semua yang sudah mendukung dan mendoakan saya, semoga ilmunya bermanfaat. Amin amin.

Ketika saya memberi kabar kepada beberapa sahabat di Indonesia bahwa saya telah lulus, kebanyakan dari mereka -setelah mengucapkan selamat, bertanya, “dirayain pake bir nggak, Mi?” atau ada juga yang memaksa, “you should celebrate with big glasses of beer!”. Yang tentu saja sudah pasti absolutely saya lakukan, apalagi suami saya ikut ke Jerman kali itu, dan selama 3 minggu di sana, kayaknya dia sudah mencicipi lebih banyak merk bir daripada saya yang 2 tahun tinggal di sana hahaha.

Sebanyak apa bir yang suami saya cicipi? Ya mungkin ada sekitar 15-20 merk bir. Tapi sebenarnya, di Jerman saja ada lebih dari 1.300 brewery atau Bahasa Jermannya “Brauerei”. Nah dari 1.300 brewery itu, ada sekitar 5.000 merk bir yang diproduksi. Seperti yang sudah bisa kita duga sebelumnya, brewery paling banyak terletak di Bavaria, tepatnya di kota Bamberg. Tapi mungkin belum banyak yang tahu tentang ini: bahwa banyak biara-biara Katolik yang memproduksi bir, terutama dari ordo Benediktin.

Mengenal Komponen dan Jenis Bir

img_7262_2

Beberapa jenis bir yang saya cicipi ketika seminar. Salah satunya adalah bir yang diproduksi oleh brewery tertua di Jerman yaitu Weihenstephan (botol ketiga dari kiri), yang juga diproduksi oleh para Benediktin di biara mereka.

Kebetulan, selama 3 hari di bulan September kemarin, saya juga harus mengikuti seminar yang diselenggarakan oleh pemberi beasiswa saya, yaitu KAAD. Tema seminar kali itu adalah “Bierkulturen” atau Beer Culture. Saya merasa beruntung sekali bisa ikut seminar tersebut karena jadi bisa mengenali sejarah dan budaya orang Jerman….enggak ding, saya merasa beruntung karena bisa nyicipin macam-macam bir haha. Jadi mungkin yang pernah ikut wine tasting atau wine course(?) atau semacamnya bisa kebayang bahwa ini semacam itu tapi bir dan gratis tis.

Sebagai bagian dari seminar, kami mengunjungi brewery di dekat St. Ottilien bernama Andachs. Brewery ini juga dimiliki oleh ordo Benediktin sejak awal berdirinya, Andachs adalah namanya bukit tempat biara pastur-pastur itu berada. Pemandu kami menjelaskan bahwa ordo Benediktin banyak yang memiliki brewery karena mereka adalah ordo pekerja. Jadi mereka biasanya punya ladang, punya kebun, punya peternakan, dan tentu saja mereka bikin roti dan bir. Apa hubungannya roti dan bir?

img_7275_2

“Krug” atau gelas bir yang disimpan di loker di Andachs. Dulu kalau orang minum bir, mereka punya gelas sendiri-sendiri yang mereka simpan di brewery dan mereka pakai ketika minum di sana.

Bir dan roti sebenarnya memiliki bahan baku yang (hampir) sama, yaitu gandum (dan ragi) plus air. Dalam bir ditambahkan juga hops atau “hopfen”. Fungsi dari tanaman ini adalah untuk memberi rasa getir pada bir. Konon katanya, dulu orang-orang nggak tau kalau mereka bisa bikin bir langsung dari gandum, ragi dan air. Jadi mereka bikin roti dulu, trus rotinya direndam sampe buyar dan terfermentasi maksimal hehehe…makanya bir disebut “flüssiges Brot” atau roti cair (euw). Walaupun di Indonesia sempat dilarang beredar di minimarket kesayangan anda, di Jerman pada jaman dahulu kala, bir dianggap minuman yang menyehatkan, juga untuk anak-anak. Ini disebabkan karena bir sudah melalui proses perebusan yang lama. Sementara air minum biasa itu dianggap kotor…(terus saya jadi mikir kenapa mereka nggak ngerebus air aja ya?). Eh tapi walaupun anak-anak dulu boleh minum bir, jumlahnya sedikit sekali, paling cuma ditetesin aja ke mulut, macam vaksin polio.

Nah lalu, tahukah anda bahwa 80% bir yang diproduksi di dunia ini adalah jenis Pilsner? Atau paling tidak mengaku-ngaku jenis itu? Coba cek botol Bir Bintang masing-masing. Kenapanya saya juga kurang jelas, tapi Pilsner sebenarnya adalah bir asli Ceko atau pada saat itu masih bernama Bohemia, tepatnya di kota Pilsen pada tahun 1842. Bir dari Pilsen ini dianggap mempunyai rasa yang lebih “mild” daripada bir buatan Jerman pada umumnya. Konon katanya sih karena air di Pilsen kandungan mineralnya lebih sedikit. Pilsen juga selalu berwarna terang tidak seperti kebanyakan bir dari Inggris misalnya yang gelap.  Merk bir Pilsen pertama adalah Pilsner Urquell, sampai saat ini masih bisa dibeli di supermarket.

Bir memiliki dua macam cara fermentasi: ada yang di atas atau top-fermented atau di bawah tanah bottom-fermented. Kedua cara fermentasi ini katanya sih menghasilkan reaksi ragi yang berbeda dan rasa bir yang berbeda. Tapi sungguh, saya ini nggak bisa membedakan rasa bir. Taunya cuma enak atau nggak enak itu aja. Lalu dari mana datangnya warna terang dan gelap pada bir? Dari gandumnya. Kalau warnanya gelap, berarti gandumnya sudah dipanggang dulu, menghasilkan aroma yang agak smoky gitu.

Tahun ini Jerman, khususnya mungkin Bavaria sedang merayakan “500 Tahun Dalil Kemurnian”, dalam Bahasa Inggris “500 Years of Purity Law” atau Bahasa Jermannya “500 Jahre Reinheitsgebot”. Purity Law adalah aturan atau faham (pake p apa f nih) yang menganggap bahwa bir terdiri dan HANYA BOLEH terdiri dari tiga unsur ini: air, gandum dan hops. Jadi kalau ditambah yang lain, ya itu melanggar aturan. Walaupun begitu, saat ini banyak brewery yang sekarang sudah mencampur baurkan perasa ke dalam bir. Mungkin kalau anda pernah minum Radler, nah itu…sudah nggak suci lagi bir itu maksudnya.

beer-reinheitsgebot_1000x667

Gandum, Hops dan Air, hanya tiga hal tersebut yang boleh ada di bir berdasarkan Purity Law. Sumber: http://www.travel1000places.com

Bir dan Orang Yahudi

Bicara soal suci, sekarang coba kita bicarakan soal orang Yahudi (ih apa hubungannya coba). Saya akan bicara khusus mengenai bir dan orang Yahudi di Jerman karena kami juga berkunjung ke Jüdisches Museum München, atau Museum Yahudi Munich di mana sedang diselenggarakan pameran bertajuk “Bier ist der Wein dieses Landes” atau “bir adalah wine-nya daerah ini.” Pameran ini bercerita mengenai asal muasal bir di tanah Mesir dan juga para pengusaha bir dengan latar belakang Yahudi. Satu hal yang sangat menarik bagi saya adalah bahwa orang Yahudi yang selalu mengalami tekanan (anti-semitism selalu ada bahkan sebelum Hitler, fyi) tetap mencari akal bagaimana bisa bertahan hidup.

Di Jerman sempat ada pelarangan bagi orang Yahudi untuk membuka brewery. Tapi mereka tidak menyerah begitu saja melainkan mencari cara bagaimana mereka bisa ikutan dalam bisnis minuman yang menjanjikan itu tanpa perlu buka brewery. Jawabannya adalah, mereka membuka ladang hops. Dan hops yang mereka hasilkan selalu yang terbaik, karena mereka tidak mau dicibir sebagai “pedagang Yahudi yang tidak becus”. Orang-orang Yahudi ini juga yang pertama kali menemukan ide untuk memproses dan menjual hops dalam bentuk pelet (kayak makanan ikan) sehingga lebih memudahkan dalam proses pengiriman dan untuk pengolahan selanjutnya.

Ada lagi cerita yang menarik. Yaitu soal pemakaian tanda bintang di pintu brewery tradisional di sekitar Bavaria. Banyak yang menyangka, tanda bintang ini menandakan bahwa pemilik rumah-rumah bir tersebut adalah orang Yahudi. Tapi ternyata bukan. Simbol bintang mereka pakai sebagai bagian dari tradisi dan kepercayaan untuk menolak api/ mencegah kebakaran. Semacam tolak bala gitu. Dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Star of David-nya orang Yahudi. Terus saya jadi cerita sama mas pemandu museumnya kalau bir di Indonesia namanya Bir Bintang hehehe 😀

brewersstarmonk

Ilustrasi yang menunjukkan seorang rahib mengaduk rebusan bir dengan simbol bintang di atasnya sebagai pelindung. Sumber: http://www.brewingmuseum.org

Apakah bir halal untuk orang Yahudi? Jawabannya ya dan tidak. Yahudi, seperti yang kita tahu, juga mengenal prinsip halal dan haram. Salah satu bedanya di istilah. Mereka menyebutnya dengan kosher (halal) atau treif (haram). Konon pada suatu waktu, seorang Rabbi datang ke tanah Bavaria. Orang-orang Yahudi di situ memintanya melakukan perjamuan, tapi Rabbi menolak karena tidak ada anggur. Orang-orang Bavaria itupun berkata “tapi kami tidak punya anggur di sini!” dan Rabbi itu bertanya “lalu kalian punya apa?” lalu jawab mereka “kami punya bir! Asli dari tanah kami.” Maka berkatalah Rabbi itu, “baiklah, kalau memang bir adalah anggurnya tanah ini, mari kita adakan perjamuan.” Duh coba dia datangnya ke Semarang. If you know what I mean haha.

Sebagai penutupan dari rangkaian seminar, kami berkunjung ke Oktoberfest which literally is heaven on earth (or hell on earth, depends on your point of view heheh). Di sana saya dan suami merasakan bagaimana rasanya mabuk karena bir. Bir untuk Oktoberfest memang disiapkan khusus. Mulai dibuat katanya di bulan Maret dan dibuka di bulan September, dengan kandungan alkohol yang lebih tinggi tapi rasanya lebih enteng. Makanya nggak terasa tau-tau udah pusing aja.

Mengenal bir selama seminggu terakhir saya di Jerman menjadi sebuah tanda perpisahan yang berkesan bagi saya dan negara tersebut. Rasanya sedih juga karena kali ini saya tidak tahu pasti kapan bisa kembali lagi. Saya belajar banyak, saya betul-betul belajar banyak dari negara tersebut dan orang-orang yang saya temui di sana. Tapi nggak boleh sedih karena di Indonesia pun enak dan bisa berkarya. Terima kasih terima kasih sekali lagi 🙂

Prost!!

Advertisements