6 Tempat yang Selalu Saya Kunjungi Di Berlin

Kemarin pas saya di U-Bahn menuju rumah teman saya, tiba-tiba kepikiran, kok kayaknya kalau di Berlin saya selalu pergi ke tempat yang itu-itu aja ya? Jadi saya memutuskan untuk menulis senarai ini sebagai pengingat saja untuk diri saya sendiri supaya lebih kreatif dan tidak malas mencari tempat lain untuk dikunjungi.

Dussmann das KulturKaufhaus

Tidak usah bingung melihat namanya yang panjang, tempat ini sebenernya adalah toko buku. Tapi gede banget!! Lokasinya terletak di Friedrichstrasse, cukup dekat dari mana-mana kalau mau melanjutkan jalan-jalan. Tapi saya suka nongkrong di sini karena nggak pernah bosan muter-muter di dalem tokonya. Toko buku ini jual mulai dari buku, alat tulis yang lucu-lucu, CD musik (yang koleksinya lebih lengkap dari toko musik manapun), sampai board games!

Saya pertama kali ke toko buku ini untuk menghadiri talkshow nya Dewi Lestari dalam rangka persiapan Frankfurt Book Fair. Sejak itu, saya selalu menyempatkan ke sini kalau pas ke Berlin. Lumayan buat numpang ngecharge hape, minum air gratis, sambil baca-baca buku, dan selama apapun nangkring di situ, ga akan ada yang ngusir. Yang saya suka dari toko ini, mereka punya bagian sendiri di belakang yang menjual buku-buku berbahasa inggris (terjemahan juga, jadi bisa nemu banyak buku dari berbagai penulis seluruh dunia). Di bagian ini juga tempat bacanya nyaman, dan itu tadi..ada colokannya. Hehehe…

IMG_5694

Bagian favorit saya yang lain adalah Music Notes Section. Di situ ada pianonya, di pianonya ada headsetnya, jadi kita bisa ambil satu partitur, trus main tanpa mengganggu yang lain karena suara dari piano cuma bisa kita dengar di headset (nggak akan malu-maluin juga kalo masih amatiran seperti saya ini).

Ishin

Saya pertama kali ke rumah makan khas Jepang ini tahun 2014. Terus sejak itu, setiap kali ke Berlin dan lapar, saya selalu ke sini. Yang saya suka di sini Buta Don-nya. Harganya cukup murah, cuma 5,6 Euro aja. Salah satu cabangnya terletak deket banget sama Dussman. Jadi biasanya kalau lagi di Dussmann dan lapar, saya lari sebentar ke Ishin. Hehehe…

Globetrotter

Ini adalah toko perlengkapan outdoor activity. Sebenernya lebih bagus yang di Dresden (toko yang di Dresden ada kolamnya, buat nyobain perahu). Saya selalu ke sini walaupun jarang belanja karena tau sendiri harga barang-barang begituan bikin kantong bolong. Tapi saya suka aja liat-liat barangnya, ngobrol sama mas-mas yang jaga, tanya soal gimana milih tas dan jaket yang bagus. Saya sendiri ga pernah naik gunung, tapi suami saya suka. Jadi biasanya kalau saya ke sini itu atas permintaan dia yang mau nitip-nitip hahaha…jadi intinya dia nitip terus tiap kali saya ke Berlin :p

IMG_3841.JPG

Sama seperti di Dussman, toko ini bikin betah. Bisa bobo-boboan di hammocknya, masuk ke tenda, kalau di Dresden bisa main perahu karet, dll, dsb. Dan pelayannya ga pernah bete, kadang kalau di Indonesia kan kalo orang masuk toko, tapi ga belanja malah ngerepotin, disewotin sama penjaganya. Apalagi suka ada tulisan “dilarang duduk di sini”, “dilarang mencoba” haha…teman saya sampai pernah ketiduran di hammock nungguin saya muter-muter. Untung nggak digulingin sama mas-masnya.

Dolores Burritos

Pertama kali saya mendengar soal kedai ini kira-kira 2 tahun yang lalu. Ketika itu saya sedang siap-siap untuk berangkat ke Jerman lagi. Waktu itu ada teman yang membagi tautan di facebook bahwa kedai ini sedang memperingati hari jadinya yang kesekian dan mereka membagikan Burrito gratis seharian. Saya jadi penasaran, dan akhirnya kesampean ke sana tahun 2015. Pertama ke sana saya suka banget, lama-lama jadi biasa aja. Saya masih suka ke sini karena tempatnya lucu, pelayanannya cepet (kalo pas nggak rame banget), dan mudah dijangkau. Yang unik di sini ada yang namanya Burrito in a Bowl. Yang wujudnya sekilas kayak semangkuk mie ayam. Saya nggak tau ada berapa Dolores di Berlin tepatnya, tapi yang saya tau ada 2, di sekitar Alexanderplatz dan di Wittenbergplatz.

IMG_5592.JPG

Naturkundemuseum

Naturkundemuseum terletak di Invalidenstrasse, relatif dekat dari Hauptbahnhof. Menurut saya ini adalah museum yang menyenangkan, cocok buat segala usia. Rasanya saya sudah hafal sama isi museum ini dan seluk beluknya. Kadang saya ke sini karena cuma pengen duduk di salah satu sudutnya, atau lihat pameran temporer. Pameran temporer yang saya kunjungi terakhir adalah soal panda, itu aja saya datangnya dua kali hahaha…saking sukanya sama panda. Saya suka museum ini karena…it’s so simple. It’s nature…museum ini tentang alam dan bagaimana alam berevolusi. Museum ini cukup kontemplatif juga sebenernya, bikin kita mikir. Bahwa kita kecil dan masih muda banget dibandingkan alam ini. Kalau ke museum lain kadang saya suka stress baca sejarah ini itu, dan jadi marah, jadi sedih, too much prejudice ahhhh bingung ngejelasinnya. Kalau di Naturkundemuseum ini…rasanya semua soal embracing the nature aja.

Sebenernya dari sisi exhibition design, museum ini tergolong konservatif. Teknologi yang digunakan memang lebih banyak daripada museum di Indonesia ya, tapi dibandingkan museum lain di Berlin -seperti Jewish Museum misalnya, museum ini tergolong cukup kuno. Tapi yang ga bisa dikalahin sama museum lain yaaaa….ada rangka brachiosaurus yang gede banget. Konon rangka ini adalah rangka dinosaurus terlengkap. Eh sekarang ada rangka T-rex dan Spinosaurus juga di sana yang dipamerkan sampai bulan Juni 2016, dan ada program Night at The Museum yang saya penasaran banget pengen nyoba.

Lego Store

Kalau ke Globetrotter dititipin suami, ke Lego Store ini dititipin kakak sama anak. Hahaha…nasib…nasib…enggak ding, saya suka juga ke Lego Store ini. Biasanya juga walaupun ga dititipin saya suka nawarin, biar ada alasan untuk mampir. Toko ini deket juga sama Wittenbergplatz dan biasanya saya memang selalu ke daerah ini buat window shopping :p teman-teman saya sampai heran kok saya masih mainan Lego padahal udah tua begini. Pernah pas saya naik S-bahn, ada anak kecil yang melototin tas belanjaan Lego saya terus dia bilang ke bapaknya, “Pah kenapa perempuan itu beli Lego kan udah gede.”

Penjaga tokonya juga ramah-ramah dan suka ngasi bonus, ngasi tips cara milih Lego untuk kado, trus suka ngasi info-info yang menarik gitu soal Lego. Oiya, harga Lego di Jerman lebih murah daripada di Indonesia, jadi yang mau kulakan, bisa lho.

IMG_5595.JPG

Rasanya cuma tempat itu aja yang saya selalu kunjungi. Saya nggak bilang bahwa tempat-tempat itu terbaik, bahkan saya sendiri merasa bahwa ada pilihan yang lebih menarik (terutama untuk tempat makannya), tapi mungkin karena suka malas mikir, udah kedinginan, kelaparan, malas tersesat, makanya saya selalu kembali ke tempat yang sama.

Sampai ketemu di tulisan berikutnya: Jewish Museum.