Bukan Anak Sekolah

Di kereta menuju Cottbus dari Berlin. Di musim semi yang bersalju.

Tiba-tiba suatu malam, saya kepikiran ini nih: kenapa ya saya kok bisa sekolah lagi? Iya saya memang mau sekolah yang tinggi tapi sebenernya secara akademis saya ini nggak jago-jago banget. Gayanya aja mau belajar social sciences, humanities and culture, tapi kalau udah diajak ngobrol soal itu sama orang lain saya tetep aja merasa bego. Intinya, saya itu nggak merasa pinter-pinter banget lah. Nah tapi saya suka sekolah. Lucunya sepanjang sejarah persekolahan saya dari SD sampai sekarang lagi S2 ini, masa jaya saya sebagai seorang murid berakhir di…kelas 6 SD.

Iya, cuma sampai kelas 6 SD aja saya dapet ranking. Setelah itu masuk SMP, yang kebetulan muridnya banyak banget, pinter-pinter, cina-cina (maaf ini tidak bermaksud rasis. Saya juga cina walaupun separo), kaya-kaya, jadi deh saya nggak bersinar sama sekali. Selain karena sayanya juga mulai males belajar. Biasa, sudah menginjak usia remaja. Dulu pas SD, saya kenal banyak guru, sempet diikutin lomba ini itu. Paling berbekas dalam ingatan saya adalah saya dianggap pintar menulis, lalu diikutin lomba menulis essay. Bagi saya, cuma lomba itu yang penting. Lomba pramuka mah standar. Hahaha…

Terus waktu SMP, saya bener-bener nggak nampak. Prestasi bisa dibilang standar, olah raga nggak jago sama sekali, nggak pernah kepilih di bidang organisasi, lomba antar kelas juga kalahan terus. SMA? Masa SMA saya cukup asik, tapi saya nggak popular. Atau mungkin iya, tapi saya popular sebagai anak yang sombong. Padahal saya suka ngelamun aja, karena kalau harus fokus setiap saat itu menghabiskan energi ya nggak? Jadinya kalo pas jam istirahat, saya ngaplo aja. Disapa juga diem aja. Jadilah saya dianggap sombong.

Saya berani taruhan, di antara teman satu geng saya, kalau saya kembali ke SMA saya lagi, pasti guru-guru pada nggak inget sama saya. Soalnya, saya emang nggak ngapa-ngapain. Pinter jelas enggak, nilai IPA saya ampun-ampun banget deh. Eh tapi ada satu guru yang saya yakin inget sama saya, guru antropologi. Soalnya di kelas 3, ulangan pertama saya langsung dapet 100. Bahagia sekali hati itu ibu guru. Di bidang olah raga, saya juga payah banget, nggak pernah sekalipun masuk tim inti apapun. Saya jadi males juga. Nggak pernah datang kalau pas ekstrakulikuler. Ketika itu saya sudah sok-sok memutuskan untuk diri saya sendiri, apa yang penting dan nggak penting.

Waktu kuliah apalagi, siapa dosen yang tahu saya? Hehehe…cuma satu atau dua. Yang satu pembimbing akademik, yang satu pembimbing skripsi yang sedari awal emang sudah seperti teman sendiri. Nilai saya juga nggak bagus-bagus amat, A bisa diitung pake satu tangan, B cukup banyak. Kemudian C, termasuk mata kuliah Agama Katolik yang saya benci sampai sekarang. Saya lulus dengan IPK 3,38. Pas jaman saya itu, temen-temen seangkatan pada lulus dengan IPK di atas 3,5. Banyak deh yang cum laude. Saya bisa lulus saja sudah senang, bayangkan skripsi saya cuma 35 halaman! Hahaha…

Tapi saya tekankan sekali lagi: saya suka sekolah. Saya suka belajar. Saya suka berada di dalam kelas dan mendengarkan dosen atau guru, saya suka kalau di kelas ada hal baru yang diajarin hari itu (kecuali untuk KIMIA, FISIKA dan AKUNTANSI), saya suka mengerjakan PR, mencatat, menulis essay, apalagi kalau belajar bahasa. Saya suka banget. Masalah jago nggak jago, pada akhirnya saya menikmati prosesnya. Saya selalu percaya ini: sebenernya masalah pinter atau nggak pinter, itu bukan nilai yang menentukan kok, ya nggak? Saya mungkin memang di atas kertas nggak cemerlang-cemerlang amat. Tapi saya yakin ada banyak hal yang sudah saya pelajari sampai sekarang dan itu sangat saya syukuri dan berguna.

Banyak orang yang tanya: kamu kok bisa dapet beasiswa gimana caranya? Jawabannya sederhana: ya mendaftar. Tapi setelah saya renung-renungkan, iya ya, gimana saya bisa dapat beasiswa (ini sudah yang kedua kalinya) kalau saya nggak pinter-pinter banget. Di berbagai website motivasi, pasti ada kalimat: jangan menyerah! Anda pasti bisa kalau mau berusaha! Buat saya yang penting adalah mengenali dan mengidentifikasi di mana sih “jatah”mu. Saya, yang nilainya pas-pasan, mana mungkin bisa dapat Erasmus? Atau Rockefeller? Atau apalah itu beasiswa yang paling bonafid. Tapi apa saya butuh? iya. Apa penyedia beasiswa cuma itu aja? Enggak banget.

Sebenernya ini baru saya sadari akhir-akhir ini. Di tengah rasa kegalauan saya mengikuti perkuliahan di Cottbus ini (lagi-lagi saya merasa kurang pintar sendiri), saya bertanya-tanya, kenapa saya bisa sampai di sini lagi? Jawabannya karena saya secara nggak sadar sudah mengenali potensi saya, mengidentifikasi saya ini pantasnya di mana, minta beasiswa ke siapa. Eitsss…bukan, ini bukan berarti saya bilang bahwa lembaga beasiswa yang satu standarnya lebih ecek-ecek daripada yang lain. Tapi: setiap lembaga penyedia beasiswa itu punya visi misi. Nah, profil kamu cocok nggak sama visi misi mereka. Profil saya jelas nggak cocok buat Erasmus, atau DAAD, atau Aminef. Mereka memang standar nilai dan prestasinya cukup tinggi.

Tapi profil saya pas untuk Rave Foundation dan KAAD. Saya dapat Rave Foundation karena pengalaman saya kerja di museum, bukan karena nilai. Saya dapat beasiswa KAAD, karena bidang yang ingin saya pelajari, yaitu heritage, dianggap dibutuhkan di Indonesia (menurut mereka) dan level bahasa jerman saya dianggap cukup baik. Jadi nilai tidak diperhitungkan sama sekali? Ya diperhatikan, tapi kamu nggak harus cum laude atau pernah ikut pertukaran pelajar untuk bisa diterima. Jadi, kalau kamu mendaftar beasiswa hanya karena gengsi nama besar beasiswa tersebut, ya kalau nggak cocok nggak bakal keterima. Malah keburu tua.

Di Cottbus ini saya juga sempat sedih. Berbagai tawaran magang yang dikirim ke email kami oleh si program coordinator, syaratnya tidak bisa saya jangkau. Bayangin aja, sebagian besar meminta kita untuk bisa bahasa lain selain bahasa inggris: spanyol, rusia, mandarin, perancis. Lah saya, belajar bahasa jerman udah setengah mati aja nggak bisa-bisa. Teman-teman saya yang bule-bule itu…mereka minimal pada bisa dua bahasa lain selain bahasa ibu mereka. Kesempatan akhirnya jatuh ke mereka, tawaran juga jatuh ke mereka. Saya iri? Iya, kalau enggak malah nggak wajar. Tapi saya nggak terus ngamuk-ngamuk dan protes. Saya sekarang lagi belajar bahasa spanyol juga (kecanduan belajar bahasa).

Lalu apa yang saya lakukan supaya saya bisa magang juga?

Ya cari sendiri! Sekali lagi, saya mencoba mengidentifikasi kira-kira saya cocoknya di mana. Karena bintang saya Aquarius…saya cocoknya kerja di air. Enggak ding. Oke jadi saya suka museum, saya dari Indonesia, saya menguasai bahasa inggris, sedikit bahasa jerman, sangat sedikit bahasa spanyol. Kira-kira di mana museum di Eropa yang banyak pake bahasa inggris? Louvre? Enggak mungkin, tu museum walopun yang ngunjungin dari mana-mana tetep aja staff nya orang Perancis. Jawabannya ada di Roma: Museum Vatikan. Keliatannya mentereng ya? Iya. Terus saya cari yang lain lagi, KITLV, lembaga di Leiden Belanda yang menyimpan banyak arsip dan melakukan penelitian soal Indonesia. Cocok dong pasti? Jadi buat apa saya nangis-nangis nggak bisa magang di World Heritage Watch di Berlin atau di kantor UNESCO di Paris kalau ada tempat lain yang lebih pas buat kapasitas saya saat ini?

Jadi intinya saya keterima nggak? Saya tidak diterima di Vatikan, tetapi saya diberi kesempatan sama mereka untuk magang di organisasi rekanan mereka di Roma, salah satu UNESCO Chair. Museum Vatikan sendiri yang merekomendasikan nama saya ke direkturnya. Saya diterima di KITLV, dan sekarang sedang mendaftar di UNESCO Jakarta. Jadi dari yang tadinya saya merasa nggak punya kesempatan, saya jadi kesannya tinggal milih mau yang mana. Roma, Leiden, atau Jakarta.

IMG_1334

East Side Gallery, Berlin – February 2015. Rasanya aneh kalo posting nggak pake foto. Jadi seadanya di komputer ajalah ya. (Foto: Anastasia Dwirahmi)

Kenapa saya nulis ini? Soalnya saya gemes sama diri saya sendiri yang selalu minder sama orang yang nilainya bagus-bagus, yang risetnya oke, yang deket sama dosen dan guru-guru. Saya rasa, kenapa saya berambisi untuk kuliah terus juga salah satunya untuk membuktikan itu: I can find my own path. Walaupun lucu juga pada akhirya path yang saya pilih justru kembali ke kampus. Hehe…saya cuma pengen membuktikan, kamu nggak harus nilainya bagus, nggak harus disayang guru atau diingat dosen, nggak harus cum laude kalau mau sekolah atau sukses. Yang penting, harus mawas diri, boleh sambil berdoa dikit-dikit, terus belajarlah yang banyak. Semakin banyak kamu tau hal-hal baru, semakin terbuka kesempatan kamu.

Advertisements