Setelah Satu Semester Berlalu :D

It’s been a while since the last time I wrote something on this blog. I had been ‘busy’ with other things such as school, travelling and procrastinating (sleeping all day long and try to survive this bloody cold winter). This next post will be in Indonesian Language and a lil bit of English haha, because I am too lazy to think and write completely in English. So here we go.

Sejak tulisan saya yang sebelumnya (One Summer In Kreuzberg), saya belum menyempatkan diri untuk menulis lagi. Padahal, banyak hal yang ingin saya simpan baik-baik sebagai kenangan, dan salah satu cara yang saya tahu adalah dengan menulisnya di blog ini. Winter Semester 2014/2015 dimulai pada bulan September tahun lalu, dan berakhir bulan Februari ini. Saya sudah menyelesaikan semua tes tertulis, dan masih harus menulis 3 esai untuk kelas Museology, Heritage Management dan Body of Knowledge. Semester ini saya mengambil 7 kelas dan itu membuat teman-teman saya melotot sambil bilang “Are you crazy?” tapi saya punya alasan, saya ingin menyelesaikan semua modul/kelas di tahun pertama supaya di tahun kedua saya bisa magang dan jalan-jalan keliling Eropa πŸ˜€

IMG_1053Bulan-bulan pertama di Cottbus sangat berat bagi saya. Pertama karena saya terbiasa tinggal di Bonn di mana semua kebutuhan saya ‘dilayani’ oleh pengurus biara, mulai dari makan, kebersihan kamar dan laundry. Yang harus saya lakukan di sana hanya belajar Bahasa Jerman. Sementara di sini, semuanya harus diurus sendiri. Saya juga bukan orang yang pandai bergaul, jadi selama bulan pertama di Cottbus rasanya saya nggak terlalu punya banyak teman. Saya ingat pertama kali saya benar-benar menjalin pertemanan adalah dengan Tomo, teman satu program dari Jepang. Malam itu saya nggak bisa masuk ke kamar karena kuncinya ketinggalan di dalem kamar (ada beberapa sistem pintu di Jerman yang otomatis terkunci kalo kita tutup dari luar, jadi kunci nggak boleh lupa dibawa). Jadi malam itu saya nginep di tempat Tomo dan sejak itu kami berteman cukup akrab. Malam itu juga, saya beli tiket ke Roma tanpa pikir panjang. Tiba-tiba aja pengen ke Roma. Heheh…

IMG_0705Ngomong-ngomong soal Roma dan traveling, selama satu semester ini saya juga sudah jalan-jalan ke Dresden (karena gratis), Potsdam, Weimar, dan Stuttgart. Okay, mari kita mulai dengan Roma. Saya berangkat ke Roma naik Easyjet dan hanya membayar 70 Euro pulang pergi. Di sana saya menginap di apartement orang, yang saya temukan lewat Air Bn’B. It was a really great experience!! Rome was so beautiful. Sayangnya, saya tidak sempat masuk ke Vatican City, cuma jalan-jalan di St. Peter’s Square aja. Karena waktu itu sekitar pertengahan Desember, Roma sudah berhiaskan lampu-lampu natal yang membuat kota abadi itu semakin cantik dan romantis. Beberapa orang bilang, Roma punya aset heritage yang bagus tapi management-nya tidak terlalu baik, dan itu bisa saya rasakan ketika di sana. Setiap bangunan kelihatan megah dan ramai oleh turis, tapi tidak terawat dengan baik seperti di Jerman, misalnya. Sign system dan kebersihan juga kurang diperhatikan. But anyway, I will love to come back and live there for my internship this year ;). Di Roma, saya sempat berkunjung ke Basilika Santo Paulus, Piazza Navona, Gereja Santo Ignasius Loyola, dan tentu saja Pantheon dan Colosseum. And of course I ate gelato, pizza and a really good pasta!

IMG_0863IMG_1002Akhir Desember, saya memutuskan untuk menghabiskan liburan natal bersama Karl dan Anne, dua orang teman KAAD saya dari Filipina. Selama lebih dari dua minggu saya tinggal di apartemen mereka dan makan nasi tiap hari. I think I gain a couple of weight 😦 but it was okay, I was really happy there. Kami juga sempat jalan-jalan ke Esslingen, sebuah kota kecil di sekitar Stuttgart. Esslingen adalah salah satu kota kecil khas Jerman, banyak rumah-rumah di sana masih asli bentuknya dan kebanyakan dibangun dengan rangka dari kayu (half-timbered house). Saya sebenarnya heran, banyak orang suka jalan-jalan ke Eropa, tapi jarang ada yang mampir ke Jerman. Tujuan utama orang Asia kalau ke Eropa pasti ke Perancis (dan ke Paris tentunya) atau Belanda (dengan Amsterdamnya). Padahal menurut saya imaji soal Eropa itu kita dapatkan dari film, dan kebanyakan apa yang kita lihat di film itu justru adanya yang asli di Jerman. Menurut saya sih. Okay Paris might be great but come on, semua yang kalian lihat di Paris itu adalah mitos, heheh…Kalau mau lihat ‘negeri dongeng’ di Eropa, pergilah ke kota-kota kecil di Jerman (atau Belgia). Saya belum pernah ke Paris sih, tapi Amsterdam sudah tahun lalu. Menurut saya, kalau disuruh milih mau ke Amsterdam atau Luxemburg, saya milih Luxemburg karena selama dua hari di sana saya nggak bosan. Di Amsterdam entah mengapa hari pertama sudah bosan :p

IMG_1147Cerita soal Dresden dan Potsdam tidak terlalu menarik hahah, soalnya saya sudah banyak cerita soal Dresden beberapa tahun lalu di blog ini dan Potsdam, well that city is just full of castles and I don’t know what else is great about it. In the other hand, Weimar is great. Oke, pertama saya harus bilang kenyataan bahwa Jerman memiliki banyak kastil, gedung, bangunan, rumah, dll dsb yang tercatat dalam World Heritage List itu memang sangat berlebihan. Karena kalau kita lihat sebenernya ‘nilai’ dari benda-benda tersebut biasa aja. Untuk bisa masuk ke dalam World Heritage List, sebuah properti harus memiliki yang namanya ‘Outstanding Universal Value‘, dan begitu sebuah properti masuk ke dalam list itu, seolah-olah ada tanggung jawab semua umat manusia di muka bumi untuk menjaga dan mengapresiasi. Menjaga sih boleh-boleh saja, but who the hell are you saying that a child born in a village in the middle of nowhere in Sumatra should care about who Goethe and Schiller are? Pada akhirnya, semua hal tentang World Heritage List atau konvensi yang mendasarinya perlu dilihat secara lebih kritis.

But I DO care about Goethe and Schiller (yang juga menunjukkan bahwa there’s no such thing as universal value, except maybe human rights?). Saya tumbuh bersama figur-figur asing itu karena papa membawa saya pada mereka. Termasuk juga Beethoven, Mozart, Grimm bersaudara, lalu juga yang nggak terlalu tua-tua banget : Karajan dan beberapa tokoh lain yang semuanya Jerman hahah, I know my dad has a good taste πŸ˜› Begini, seiring dengan maraknya gerakan kembali ke hal-hal berbau lokal, dan kebanggaan orang menjadi ndeso, saya masih bangga dengan diri saya yang separuh kebarat-baratan dan separuh ke timur-timuran whatever that means. Tidak perlu malu mengakui bahwa selama hidup ini memang kita banyak terpapar dengan ide-ide dari luar dan kita juga menghidupi ide-ide itu dalam diri kita. Ya nggaaakkk??? Dan sekali lagi, saya merasa beruntung mengenal figur-figur itu jauh sebelum saya ke Jerman karena saya jadi lebih bisa menghargai waktu dan kesempatan yang saya miliki di sini, berada di tengah peninggalan dari peradaban yang menurut saya, suka nggak suka, memang hebat.

IMG_1177Di Weimar, selain jalan-jalan ke rumahnya Goethe dan Schiller, saya juga ke Buchenwald, bekas Concentration Camp kira-kira 30 menit dari pusat kota Weimar. Ketika saya di sana, salju sedang turun dengan lebatnya sampai nggak bisa liat apa-apa. Yang ada semuanya putih. Dan saya merinding membayangkan apa yang terjadi di sana dalam cuaca seperti itu ketika camp tersebut masih berfungsi. Banyak orang Yahudi, homoseksual, tahanan perang dan kriminal meninggal di tempat ini. Ada satu hal yang saya ingat, bahwa sebenarnya kalau mau membicarakan soal kekejaman terhadap tahanan, kita tidak boleh hanya berpikir mengenai tentara SS saja. Karena banyak orang Jerman yang sebenarnya tahu akan apa yang terjadi di camp ini, tapi mereka memilih untuk tutup mulut. Orang-orang tersebut kebanyakan adalah pegawai atau pemiliki perusahaan yang disewa oleh SS untuk memasang mesin, alat berat, termasuk tungku di krematorium. Padahal kalau mereka menolak bekerjasama dengan SS, nggak ada resikonya juga, tapi demi uang mereka rela tutup mulut dan nggak melaporkan kejahatan SS di concentration camp. Jangan dibayangkan kalau hukum di Jerman itu melegalkan apa yang dilakukan oleh Nazi dan SS, kebanyakan dari praktek yang mereka lakukan itu sebenarnya melanggar hukum.

Anyway, bulan ini karena sudah selesai semua kelas di kampus, saya mengambil kursus singkat Bahasa Spanyol di Berlin. And I fall in love with this language πŸ™‚ Saya juga jadi lebih sering ke Berlin untuk beli tempe, karena saya baru tahu ada yang jual tempe di Berlin. Iya saya tau sih kalo banyak Asian Market di mana-mana tapi nggak tau kenapa kok selama ini nggak pernah kepikiran beli tempe di sana. Beberapa bulan belakangan ini saya juga sering masak, dan semakin lama masakan saya semakin enak! Mulai dari babi kecap, pasta, mamel tempe, siomay sampai hari ini saya mau bikin bapao. Sekarang selain sibuk belajar bahasa, saya juga lagi ribet nyari oleh-oleh karena dua minggu lagi mau pulang ke Semarang!!! Dan saya sudah tidak sabar mau makan di tempat-tempat favorit saya di sana. So see you guys very soon!!!

Advertisements

3 thoughts on “Setelah Satu Semester Berlalu :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s