Bertamu ke Rumah Beethoven

ImageHari Minggu kemarin, saya, Tatiana, Jeniffer, dan Karla berkunjung ke Beethovens Geburthaus (rumah kelahiran Beethoven), tentu saja di Bonn, Jerman. Rumah ini sekarang menjadi museum tempat disimpan dan dipamerkannya arsip dan barang-barang peninggalan sang komponis tersebut. Ada pianonya, biolanya, meja tulisnya, kaca mata, sampe ada potongan rambutnya. Tentu saja ada juga surat-surat yang pernah ditulis Beethoven untuk sahabat-sahabatnya, dan beberapa partitur dari karya-karyanya, baik yang masih tulisan tangan maupun yang udah dicetak. Oya, di dalam rumah ini sama sekali ga boleh foto-foto. Kami masuknya pake kupon gratisan (lagi), saya sempat ngecek kayaknya kalau bayar, harganya sekitar 6 Euro, kalau mau pinjam audioguide 2.5 Euro.

 ImageImage

Tahun 2014 ini adalah peringatan 125 tahun berdirinya Beethoven-Haus Society, jadi selain pameran yang permanen, mereka juga memamerkan perjalanan komunitas (yayasan?) yang menaungi museum ini. Menurut saya, ini lebih menarik daripada kisah hidup Beethoven itu sendiri. Mungkin karena saya selalu terkesan dengan orang-orang yang mendedikasikan dirinya untuk kelestarian arsip, bagaimana mengolahnya, dan bagaimana menyajikannya kepada publik. Kalau kisah hidup Beethoven, saya rasa tidak sulit untuk dicari tahu.

Waktu kecil, saya sangat akrab dengan sosok Beethoven. Karena dulu saya les piano dan sempat belajar memainkan lagu-lagu dari Beethoven (sekarang udah lupa semua jadi jangan disuruh praktek ya). Saya selalu suka musik klasik, dan saya merasa bersalah karena tidak dengan serius memperkenalkan jenis musik ini pada Tere sampai sekarang. Padahal dulu papa saya sangat bersikeras anaknya harus tahu jenis-jenis musik macam ini. Pengetahuan semacam ini sangat bermanfaat di masa sekarang saya dewasa. Karena percaya atau tidak, ada orang yang tidak kenal Beethoven. Apalagi kalau kamu di Jerman, ada orang yang bilang “kamu harus pergi ke Beethoven’s House“, kemudian kamu jawab dengan “Beethoven siapa ya?” maka niscaya akan ilfillah orang tersebut sama kamu. Hehehe…

Saya juga merasa lebih bisa relate sama pertunjukan-pertunjukan di sini because I know what I see or what I hear. Kamu ga akan merasa pergi nonton orkestra itu spesial kalo kamu ga tau seberapa terkenal lagu yang mereka mainkan, misalnya. Sama kayak saya ga merasa nonton bola itu seru-seru amat karena saya ga tau siapa pemainnya. Emangnya dia hebat ya? Dll, dsb, usw, etc.

Kembali ke Beethoven’s House. Dulu pemerintah Kota Bonn sempat nggak mau bertanggung jawab sama kelestarian rumah ini. Maka pda 1889 secara swadaya, 12 orang yang cinta sama Beethoven mulai menggalang dana. Jadi dulu di Jerman pemerintahnya sama aja kayak di Indonesia, ga peduli sama heritage. Itu tandanya, kita ga boleh menyerah!!! Hahha…Beethoven’s House sempat juga terancam terbakar pas perang dunia ke 2, tapi ada caretaker rumah ini yang berusaha nyelametin. Dia naik ke atap dan menghalau api yang mulai menyambar. Terharu saya bacanya… 😥

Lalu ada juga video yang menyajikan rekaman dari tentara Amerika dan Inggris yang menyelamatkan dan mengembalikan aset dari Beethoven’s House pasca perang dunia ke 2. Saya jadi inget film Monuments Men. Tapi kalau Monuments Men itu kan mereka mencari kembali benda-benda seni yang dicuri Hitler ya? Kalau aset-aset Beethoven ini, kayaknya emang diselametin sebelum perang, trus pas perang udah selesai dikembalikan lagi. Tapi mungkin saya salah :p

Di akhir pameran, saya mencoba bermain-main dengan portal arsip digital yang lucu banget. Jadi halaman-halamannya kayak games gitu, trus ada backsound suara-suaranya. Ini ada fotonya beberapa, jadi mungkin kebayang dikit. Itu kan ada gambar semacam suasana rumah, nah kalau kita klik salah satu gambar, misalnya buku, maka kita akan diarahkan ke cerita mengenai pendidikan Beethoven, mulai dari pendidikan dasar sampe sekolah musiknya. Lalu misalnya kita klik gambar piano, maka kita akan diarahkan ke halaman yang ada gambar piano sama rak buku dengan partitur yang bisa kita pilih. Trus klik ‘play’, kita dengerin deh lagunya. Versi yang lucu tadi ditujukan untuk anak-anak sampai usia 13 tahun. Sementara ada juga arsip partitur, karya-karya Beethoven yang dimainkan beberapa orkestra, violis, maupun pianis handal yang bisa kita lihat dan dengarkan. ImageImageImage

Dari komputer tempat kita mengakses arsip itu, kita bisa juga ngirim e-cards ke temen, sodara, pacar, dll. Template nya udah mereka sediakan, bisa disisipi lagu juga di e-cardsnya. Tentunya lagunya Beethoven. Kreatif banget ya…salut deh sama tim yang bikin ini 🙂 Selesai dari tour di Beethoven’s House, kami belanja di toko souvenirnya. Tapi saya cuma beli permen Haribo seharga 50 sen, soalnya permennya berbentuk kepalanya Beethoven. Hehe lucu deh 😀

Image

Advertisements

One thought on “Bertamu ke Rumah Beethoven

  1. Kok g ada foto permen 50sennya? Hehhe On 30 Jun 2014 16:16, “Anastasia Dwirahmi” wrote:

    > anastasiadwirahmi posted: “Hari Minggu kemarin, saya, Tatiana, > Jeniffer, dan Karla berkunjung ke Beethovens Geburthaus (rumah kelahiran > Beethoven). Rumah ini sekarang menjadi museum tempat disimpan dan > dipamerkannya arsip dan barang-barang peninggalan sang komponis tersebut. > Ada pi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s