Membaca Karya si Urban Archeologist

Karya Adytama Pranada (Charda) yang dipamerkan pada Jakarta Biennale di Museum Seni Rupa dan Keramik berhasil menarik perhatian saya sebagai pecinta museum. Menurut cerita yang tersaji di katalog, Charda berusaha menantang ‘rezim’ museum dan penulisan sejarah yang ia curigai tidak mampu menyajikan sejarah yang tidak tunggal.

ImageImageImage

Museum memang tidak mungkin menyajikan seluruh kisah sejarah, itulah mengapa ada proses kurasi. Saya pikir hal tersebut wajar, seperti juga Biennale yang sama-sama melalui proses kurasi. Tetapi saya juga tidak sedang mengatakan bahwa  kuratorial museum di Indonesia sudah sempurna. Banyak hal memang yang perlu dikritisi dari museum yang ada di Indonesia. Mulai dari segi perawatan koleksi, publikasi, sampai kualitas sumber daya manusia pengelola museum.

Memang ada beberapa museum, terutama museum-museum perjuangan yang hanya merepresentasikan versi cerita dari penguasa pada waktu museum didirikan. Praktek politik representasi museum ini sudah lama dibahas. Sehingga menurut saya keputusan Charda untuk mengkritisi museum dari sisi yang ia pilih (yaitu mengenai representasi museum) sudah sangat ketinggalan jaman. Paling tidak bagi para pemerhati sejarah dan museum.

Isu yang diangkat oleh Charda mengenai keberpihakan museum bukanlah hal yang baru lagi. Beberapa tahun belakangan ini, sudah banyak komunitas yang melakukan penelusuran sejarah baik itu sejarah kota, sejarah bangsa, maupun sejarah kampung-kampung di sekitar mereka. Bukan lagi museum yang ditantang, tapi penulisan sejarah secara lebih luas. Kegelisan Charda tentu juga dirasakan oleh banyak pecinta sejarah. Hanya saja Charda cukup cerdas menamai dirinya dengan sebutan Urban Archeologist.

Keputusannya untuk menyajikan karya-karya fiktif malah mengaburkan pesan yang ingin ia sampaikan mengenai ‘kisah sejarah yang tidak terwakili dalam museum’. Bagi saya karya seniman lain yang sifatnya project based sudah merupakan jawaban dari protes terhadap museum di Indonesia yang tidak berkembang dalam hal konsep dan display. Bukankah itu yang diharapkan dari museum? Yaitu bahwa museum selalu melakukan riset yang serius dan mengikuti zaman dengan penyajian yang kreatif? Justru karya Charda yang hanya memamerkan lukisan tanpa caption membuat pengunjung menjadi sulit mennerjemahkan pesan yang ia maksud. Saya juga tidak berhasil menangkap kesan bahwa Charda sudah melakukan riset yang baik untuk karyanya kali ini.

Terlebih lagi, saya tidak melihat ada hal yang istimewa dari konsep dan presentasi karyanya . Bahkan menurut saya, tidak ada unsur seni dalam karya tersebut. Kecuali jika cerita fiktif yang dia sajikan kemudian bisa dianggap sebagai seni. Namun tetap saja secara penyajian kurang menarik. Berbeda misalnya dengan karya Saleh Husein berjudul Arabian Party, yang sama-sama menampilkan cerita fiktif. Presentasi Saleh Husein nampak lebih memiliki unsur artistik setidaknya bagi mata awam dan juga menunjukkan seberapa banyak ia telah melakukan riset.

Jika ia ingin merespon isu mengenai museum/sejarah yang tidak mewakili kisah banyak orang dengan menggunakan kisah fiktif, akan menarik jika ia mengubah sebuah cerita sejarah yang dikenal banyak orang dan membuat versinya sendiri. Daripada menyajikan kisah mengenai seorang Rahmansyah yang tidak membuat orang kebanyakan sadar akan pesan di dalamnya.

Cara Charda menyampaikan kisah dalam video bahwa ia mendapatkan sebuah paket juga sulit dipercaya (yang kemudian membawa saya sebagai penikmat pada kebingungan berikutnya). Charda mungkin juga bisa, misalnya, menceritakan kembali sebuah kisah sejarah yang dianggap tidak penting dengan bumbu-bumbu fiktif atau parodi yang disesuaikan dengan konteks masa kini. Dengan begitu maka Charda melekatkan pesannya secara simbolik pada kisah sejarah yang sudah ada dan tidak ‘memaksa’ orang untuk menebak-nebak maksud dari presentasinya. Karena menurut saya jika Charda ingin menantang penulisan sejarah, maka ia harus meletakkan penantang dan yang ditantang di satu arena.

(tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas dari workshop kurator muda DKJ-Ruang Rupa. Nggak yakin juga yang ditulis memenuhi syarat. Asal aja sih 😀 Tulisan mengenai workshop dan jalan-jalan tur Jakarta Biennale akan diupload kemudian,yah!)