Memahami Kereta Api dari Hati

Kemarin saya diajak oleh seorang kawan untuk menghadiri FGD yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) dengan judul : Diskusi Hasil Penelitian Pembangunan Infrastruktur Jaringan Transportasi Kereta Api di Semarang dan Sekitaranya. Acara ini bertujuan untuk melaporkan hasil penelitian yang diselenggarakan oleh Puslit Arkenas bekerja sama dengan beberapa komunitas di Kota Semarang. Hadir sebagai pembicara adalah Sony Wibisono dari Puslit Arkenas, Krisprantono dari Universitas Katolik Soegijopranoto, Tjahjono Rahardjo dari Indonesian Railway Preservation Society serta Albertus Kriswandhono seorang arkeolog-arsitek yang berperan sebagai moderator. Berikut adalah tulisan saya -mungkin tidak terlalu sistematis- mengenai apa yang saya dapat dari mengikuti diskusi selama 3 jam di Gereja Blenduk, Kota Lama Semarang tersebut.

FGD

Suasana diskusi di Gereja Blenduk, Kota Lama Semarang – 5 Desember 2012

Sejarah perkeretaapian di Indonesia memang dimulai dari Semarang. Dipilihnya Kota Semarang sebagai yang pertama untuk mendirikan perusahaan kereta api didasarkan pada alasan strategis. Semarang menjadi pusat perhatian dari Hindia Belanda karena kota ini memiliki pelabuhan serta dikelilingi oleh kota-kota kecil yang memiliki perkebunan. Dibangunnya rel kereta api tentu saja untuk menghubungkan daerah pedalaman dengan pelabuhan utama di Semarang, guna melancarkan kegiatan ekspor hasil perkebunan ke negara-negara lain, terutama Eropa. Ketika itu perkebunan merupakan sektor utama pendapatan pemerintah Hindia Belanda, dan menyebar hingga ke Jawa Timur dan Yogyakarta serta sebagian Pulau Jawa bagian barat. Beberapa pelabuhan penting selain Semarang terletak di Cirebon, Tegal dan Pekalongan.

Jika kita tarik lebih jauh ke belakang, Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro bisa menjadi salah satu penyebab munculnya perusahaan kereta api. Perang Jawa yang terjadi pada tahun 1825-1830 menyebabkan defisit besar bagi pemerintah Hindia Belanda, sehingga segera setelah perang itu berakhir, pemerintah menetapkan sistem tanam paksa. Gula adalah salah satu komoditas utama dan banyak dikembangkan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sehingga bisa dikatakan sejarah perkeretaapian sangat erat kaitannya dengan industri gula. Sampai tahun 1925, Pulau Jawa menjadi pemasok gula terbesar kedua di dunia.

Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau biasa disingkat NIS adalah perusahaan kereta api pertama di Semarang. Perusahaan ini berdiri pada tahun 1867 dengan rute yang pertama Semarang-Tanggung sepanjang 25 kilometer. Menurut Tjahjono, kereta penumpang pada saat itu masih menjadi satu dengan kereta barang. Semarang-Tanggung adalah bagian dari jalur Semarang-Ambarawa, yang rencananya akan diteruskan sampai Yogyakarta melalui Surakarta.

Mulanya NIS memiliki lokomotif uap yang dibeli dari Jerman dan Inggris. Selain NIS ada juga 2 perusahaan lain yang muncul yaitu Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) dan Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS). Masuknya kereta api juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan teknologi penunjangnya, yaitu teknik rancang bangun. Hal ini bisa dilihat dari dibangunnya jembatan-jembatan kokoh melintasi perbukitan dan sungai di Pulau Jawa.

Satu hal yang cukup mengejutkan adalah, total rel kereta api yang dibangun dari tahun 1888-1925 jauh lebih panjang dan lebih rumit daripada yang dimiliki oleh Indonesia pasca kemerdekaan. Berkurangnya lintasan kereta di Indonesia bisa disebabkan oleh beberapa hal, misalnya berkembangnya moda transportasi lain sehingga kereta serta relnya (yang membutuhkan perawatan berkala) dianggap kurang ekonomis. Padahal anggapan ini sebenarnya salah, kereta api (dan trem dalam kota) adalah alat transportasi yang sangat ekonomis dan efisien karena bisa mengangkut orang dan barang dalam jumlah banyak serta membutuhkan ruang yang sedikit (coba bandingkan lebar rel dengan lebar jalan raya).

NIS, SJS dan SCS memiliki jalur dan stasiunnya masing-masing, sehingga bisa dipetakan di daerah konsentrasi kerja dari tiga perusahaan ini. SJS lebih banyak melayani rute ke daerah selatan, barat dan seputar Kota Semarang, sementara NIS beroperasi di timur dan selatan dan SCS ke arah barat. Tentu saja terjadi persinggungan rel-rel kereta dari ketiga perusahaan ini, dan ketika itu sistem sinyal serta stasiun-stasiun penunjuang di sepanjang rute sudah berkembang dengan sistem yang baik. Menurut Bu Endang dari Jurusan Sejarah Universitas Diponegoro, SJS sudah memberlakukan sistem tarif yang membedakan penumpang pribumi dengan Tionghoa dan Belanda. Orang pribumi, hanya bisa menumpang di kelas ‘ekonomi’ dengan tarif 30 sen gulden, sementara masyarakat Tionghoa dan Belanda bisa duduk di kelas yang lebih baik dengan membayar tiket seharga  3 gulden.

Stasiun yang pertama di Semarang (dan di Indonesia, atau pada masa itu Nusantara) adalah stasiun Samarang NIS yang terletak di kelurahan Kemidjen. Saat ini stasiun tersebut sudah berubah menjadi pemukiman padat. Penelusuran yang dilakukan oleh Karyadi Baskoro, seorang anggota IRPS berhasil mengungkap keberadaan stasiun ini. Sampai sekarang masyarakat di Kelurahan Kemidjen masih menyebut kampungnya dengan nama Sporland (seharusnya Spoorlan). Selain itu ada juga Stasiun Ambarawa yang kini dikembangkan menjadi Museum Kereta Api Ambarawa.

Stasiun Kedungjati

Stasiun Kedungjati (Kedoeng-Jatti),Jawa Tengah. Salah satu stasiun milik NIS (1910-1920). Sumber : http://luk.staff.ugm.ac.id/itd/bangunan/ka/05.html

Mencoba memahami kereta api berarti mempelajari konteks sejarah dan budaya masyarakat pada jaman itu. Kereta api bukan sekedar alat transportasi, tapi merupakan simbol peralihan jaman dan berkembangnya teknologi pada akhir abad 19 sampai pertengahan abad 20. Beberapa pensiunan pegawai PT. KAI yag hadir pada saat diskusi, menunjukkan bagaimana mereka sangat dekat, cinta dan memahami kereta api. Mulai dari lokomotifnya, gerbongnya, nama stasiun serta rute kereta, baik yang masih berfungsi maupun yang sudah mangkrak, semua masih terekam dengan baik di benak mereka. Jika dilihat latar belakang pendidikannya, mereka bukanlah lulusan sarjana teknik, tidak ada sekolah khusus yang pernah mereka ikuti. Berbeda dengan pilot yang pasti semuanya lulusan sekolah penerbang, lalu bekerja di maskapai-maskapai penerbangan. Pensiunan pegawai kereta api adalah sosok-sosok yang belajar di atas lokomotif, di pos palang kereta, di rumah-rumah sinyal.

Mereka tumbuh besar bersama kereta api. Ayah atau kakek mereka mungkin yang mengalami sendiri bagaimana awal mula NIS berdiri. Ada memori romantis tertentu antara mereka dan mesin-mesin kereta. Sehingga ketika diskusi di Gereja Belenduk itu, saya melihat betapa emosionalnya mereka ketika membicarakan mengenai lokomotif tertentu. Seorang mantan masinis bercerita tentang perbedaan penomoran lokomotif berdasarkan mesinnya, ada yang uap ada yang diesel. Seorang yang lain mengeluh tentang susahnya naik kereta api pada jaman sekarang (padahal beliau bekerja puluhan tahun bagi perusahaan kereta api). Mereka, tentu saja berbeda dengan pilot Garuda Indonesia yang mogok kerja karena merasa gajinya kurang.

Saya jadi sadar, betapa kereta api bagi mereka bukan sekadar mesin, bukan sekedar teknologi, tapi merupakan bagian dari sejarah hidup. Dan mereka adalah bagian kecil dari sejarah bangsa kita yang ceritanya jarang kita dengar.