Ulang Tahun Tere di Museum Ronggowarsito

Akhirnya cita-cita saya selama satu tahun ini tercapai, merayakan ulang tahun anak saya, Tere di museum. Setelah pulang dari Jerman dalam rangka magang di beberapa museum di Dresden, Leipzig dan Berlin, saya ingin sekali menerapkan ilmu yang saya dapat di sana. Memang tidak mudah, butuh waktu sekitar 6 bulan sejak saya pulang untuk bisa merealisasikannya. Dan saya menemukan momen yang tepat, yaitu ulang tahun Tere yang ke-6. Sejak bulan Juni, saya sudah mengungkapkan ide ini pada suami, karena bagaimanapun juga saya tidak mungkin memutuskan ini sendirian. Selain itu saya butuh dukungan finansial dari dia, dan saya belum bisa memastikan apakah merayakan ulang tahun di museum akan lebih murah atau lebih mahal daripada merayakan ulang tahun di sekolah atau di KFC misalnya.

Saya mulai dengan memilih museum. Museum Ronggowarsito menjadi satu-satunya pilihan. Alasannya sederhana saja, dibandingkan museum-museum lain di Semarang, Ronggowarsito kondisinya lebih baik. Walaupun sayang sekali tidak bisa saya bilang ideal. Saya mulai melakukan pendekatan dengan museum tersebut. Setelah pulang dari hari pertama masuk sekolah, saya langsung mengajak Tere berkunjung. Saya pun melakukan survey kecil-kecilan, kira-kira ruang pamer mana yang siap dan pantas mendukung acara ini. Dari sekian banyak ruang pamer, hanya ada satu yang sudah cukup bagus karena baru selesai direnovasi. Ruang ini terletak di Gedung A, dan memerkan koleksi museum dari jaman pra-sejarah sampai masa Hindu-Buddha di Nusantara. Saat itu juga saya tanya sama Tere, “kamu mau ulang tahun di sini?” dia bilang mau. Dan saya melanjutkan rencana itu.

Saat kunjungan pertama kami ke Ronggowarsito

Lalu saya melakukan pendekatan pada pegawai museum. Kebetulan saya bertemu dengan Bu Herma, beliau adalah Kepala Seksi Tata Pameran dan Pelayanan (yang cukup mengherankan bagi saya, mengingat Tata Pameran dan Pelayanan adalah dua bidang di museum yang berbeda jauh). Bu Herma menyambut baik usul tersebut dan beliau sangat antusias. Apalagi setelah beliau tahu bahwa saya punya beberapa pengalaman terkait dengan museum. Beliau memperkenalkan beberapa staff Museum Ronggowarsito dan seorang pemandu bernama mas Zaki yang nantinya akan banyak membantu saya di acara ulang tahu Tere.

Beberapa minggu setelah kunjungan pertama, saya datang lagi ke Ronggowarsito. Kali ini untuk menentukan kira-kira nanti acaranya bagaimana. Saya menyusuri lagi ruang pamer di Gedung A lantai bawah, mencatat koleksi apa saja yang sekiranya tidak terlalu sulit untuk dijelaskan pada anak-anak. Beberapa di antaranya adalah Prasasti Canggal, Patung Buddha, Ganesha, Prambanan, Borobudur, Arca Durga, dan Ratu Sima. Saya memilih yang sedekat mungkin dengan anak-anak. Alasan saya memilih Ganesha, karena dia berkepala gajah sehingga pasti menarik perhatian, Durga, bertangan banyak, dan Ratu Sima adalah seorang Ratu yang tentunya menarik bagi anak-anak perempuan.

Kira-kira ada 10 koleksi yang harus dijelaskan oleh pemandu. Saya tidak ingin anak-anak kehabisan waktu dan energi dalam tour, karena setelah tour, ada games yang sekaligus menjadi penutup acara. Games-nya saya rancang seperti ini : anak-anak akan dibagi dalam kelompok terdiri atas 5-6 orang, mereka harus berusaha menjawab pertanyaan di pos-pos yang ada di ruang pamer. Setiap pos dijaga oleh kakak pemandu yang membawa kertas pertanyaan dan hadiah setelah mereka menjawab pertanyaan. Jumlah pos ada 6, dan semua pos terletak di koleksi yang tadi sudah dijelaskan dalam tour.

Isi pertanyaan dalam pos-pos tersebut adalah : 1. Berapa tangan Durga Mahisasuramardhini? 2. Ganesha berkepala apa? 3. Terbuat dari apa uang kuno ini? 4. Ada berapa jumlah Candi Gedongsongo? (saya juga menambahkan perintah bagi mereka untuk berhitung 1-10 dalam Bahasa Jawa, ini sesuai dengan kurikulum sekolah. Mereka kelas 1 SD, baru saja dapat pelajaran Bahasa Jawa) 5. Tirukan cara duduk Buddha! dan 6. Gambarlah Prasasti Canggal dan isilah dengan ucapan selamat ulang tahun untuk TERE!

Saya merasa, ke-6 pertanyaan tersebut cukup mewakili pola pendidikan anak yang mencakup aspek kognitif, motorik dan kreatifitas anak.Setelah itu, mereka berjalan menuju pintu keluar dan acara selesai.

Pelaksanaannya ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Menurut pengalaman, akan lebih baik jika jumlah anak tidak terlalu banyak, 20 adalah jumlah ideal. Tapi, jumlah teman sekelas Tere saja ada 40 anak, belum ditambah dengan teman-teman TK nya yang sekarang duduk di kelas lain. Total ada 53 undangan yang saya sebar, dengan permohonan konfirmasi keikutsertaan. Pesta diadakan hari Minggu, 5 Agustus dan sampai hari Sabtu, 4 agustus jumlah anak yang konfirmasi berjumlah 40. Saat itu saya berpikir, mungkin acaranya akan sedikit di luar rencana.

Undangan Ulang Tahun Tere dan sticker suvenirnya

Untungnya, saya memiliki banyak teman yang bersedia membantu. Salah satunya adalah Mbak Palma dari Sanggar Tari Amarta Laksita, dia setuju untuk membantu saya dengan cuma-cuma. Karena ada 40 anak, maka tour harus dibagi menjadi 3 kelompok, agar situasi tetap aman terkendali. Nah, anak-anak yang sedang menunggu giliran tur diberi workshopdolanan anak oleh Mbak Palma.

Salah satu kelompok sedang dijelaskan mengenai Ganesha

Jadi, pada hari Minggu tanggal 5 Agustus, acara kami mulai pukul 11 siang. Pertama, anak-anak kami kumpulkan dalam ruangan, untuk pemanasan, sambil berkenalan dengan para pemandu. Lalu kami membagi mereka menjadi 3 kelompok. 1 kelompok pergi untuk tour, yang 2 kelompok menunggu sambil ikut workshop. Setelah semua kelompok dapat giliran tour, mereka kami biarkan istirahat sebentar untuk minum. Waktu istirahat ini juga kami manfaatkan untuk tiup lilin dan potong kue. Setelah anak-anak segar kembali, kami membagi mereka menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil (dan percayalah, membagi anak-anak menjadi kelompok itu susahnya minta ampun).

Setelah kelompok terbentuk, mereka kembali lagi ke ruang pamer. Sudah ada kakak pemandu di masing-masing pos dengan pertanyaan. Jika berhasil menjawab atau melaksanakan perintah, mereka akan diberi stickerbertuliskan “ayo ke museum”. Saya sengaja membuat suvenir yang berfungsi sebagai kenang-kenangan sekaligus bisa untuk kampanye soal museum. Di pintu keluar, mereka disambut oleh Tere (Tere sengaja saya tempatkan di kelompok pertama untuk games, jadi dia bisa menyambut teman-teman yang lain) yang bertugas membagi balon dan bingkisan berupa snack dan makan siang.

Pos menirukan Dhyani Buddha Amitabha

Pos Menggambar Prasasti Canggal dan Menulis Ucapan

Salah satu gambar Prasasti Canggal menurut imajinasi temen-temen Tere 🙂

Kebetulan, Museum Ronggowarsito memiliki ruang yang cukup luas dengan tempat duduk yang nyaman bagi para orang tua yang menunggu. Ada juga orang tua yang terdorong untuk masuk ke beberapa ruang pamer dan mengelilingi museum. Guru kelas Tere juga hadir saat itu. Beliau mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya dia melihat orang tua murid memiliki konsep acara ulang tahun seperti ini. Saya sendiri cukup puas dengan acaranya, walaupun banyak hal yang sepertinya perlu diperbaiki, dan ada juga yang tidak sesuai dengan rencana. Tapi intinya saya bangga karena bisa memberi inspirasi bagi guru dan orang tua murid yang lain, bahwa museum bisa menjadi pilihan untuk merayakan acara-acara serupa.

Akhir rangkaian acara, bagi balon dan bingkisan

Ini Tere (baju garis-garis) dan teman baiknya, udah mau pulang 🙂

Beberapa hal yang harus diperhatikan jika ada yang ingin mengadakan acara ulang tahun di museum adalah :

1. Pastikan museum menerima usulan anda dengan baik, dan kalau bisa mereka terlihat bersemangat.

2. Karena SDM di museum belum terlalu mengerti cara dan metode seperti ini, maka usahakan anda yang in charge, jangan menyerahkan sepenuhnya pada pihak museum.

3. Kerjasamalah dengan rekan-rekan anda, orang tua murid dan guru kelas dari si anak. Dijamin akan sangat membantu.

4. Lakukan beberapa kali survey pendahuluan, catat koleksi-koleksi yang penting dan relevan untuk anak.

5. Tentukan susunan acara yang pas, jangan terlalu singkat, jangan terlalu lama. Karena mungkin anak akan lelah dan orang tua malas terlalu lama menunggu.

6. Sebar undangan jauh-jauh hari dan minta orang tua untuk mengkonfirmasi keikutsertaaan anak.

7. Tetap patuhi peraturan dan batasan yang sudah ditetapkan oleh museum. Misalnya tidak boleh makan dan minum di dalam ruang pameran, tidak boleh menyentuh koleksi, dan sebagainya. Ini memang pesta, tapi juga tidak boleh seenak kita sendiri.

8. Jika ada games/ permainan/ workshop yang menuntut tersedianya alat tulis/ alat pendukung lainnya, sebaiknya anda yang menyediakan semua. Jangan minta pihak orang tua untuk membekali anaknya dengan alat-alat tersebut. Biasanya mereka malas, sudah disuruh datang ke museum, disuruh membawa macam-macam.

9. Selebihnya….bisa nanya sama saya. Hehe 🙂