Benda Cagar Budaya, Siapa Peduli?

Hari ini setidaknya ada 3 tulisan mengenai benda cagar budaya di Kompas. Yang pertama adalah mengenai minimnya upah para perawat benda cagar budaya di Kudus, yang kedua adalah mengenai Candi Muara Jambi yang “terkikis” oleh kegiatan industri tambang di sekitarnya dan yang ketiga mengenai Museum Radya Pustaka yang katanya lebih baik dikelola oleh pemerintah pusat. Membaca tulisan – tulisan tersebut, jujur saja membuat saya semakin pesimis dengan niat pemerintah dan orang-orang Indonesia dalam merawat peninggalan nenek moyang.

Upah seorang perawat benda cagar budaya di Kudus hanya sebesar Rp 75.000 per bulan, dengan alasan minimnya anggaran. Dan benda-benda bersejarah itu juga hanya disimpan di bekas sebuah balai kesehatan. Candi Muara Jambi juga semakin keropos karena tidak ada konservasi yang memadai. Padahal situs ini adalah universitas tertua di nusantara, tempat banyak cendekiawan masa lalu belajar. Mengenai Museum Radya Pustaka, saya rasa mau dirawat sama siapapun tidak ada bedanya selama yang merawat itu belum paham mengenai fungsi dan pengelolaan museum yang baik itu seperti apa.

Ketika saya membaca mengenai berita-berita itu, saya berpikir kenapa tidak ada (saya tidak pernah dengar) orang Indonesia yang mau menolong kasus-kasus seperti ini. Kudus adalah kota yang terkenal dengan industri rokok, saya tidak perlu menyebut merk. Perusahaan ini gencar mengatakan bahwa mereka juga peduli pada budaya, menurut saya omong kosong. Selama yang mereka danai itu konser jazz yang digawangi oleh seniman kota gudeg yang sudah mapan. Atau perusahaan lain yang berusaha mendukung pengembangan batik, ini dan itu. Tapi mereka hanya mau membiayai acara berskala besar, glamor, batik juga hanya sebatas fashion show, dan pameran (jualan).

Siapa yang mau merawat benda-benda peninggalan nenek moyang yang sudah ada ini? Yang sudah tua dan rapuh, tapi punya nilai historis teramat penting. Ketika saya mengunjungi Museum Keraton Surakarta beberapa waktu yang lalu, saya miris melihat kondisi museum tersebut. Tidak heran anak muda malas ke museum, jangankan mereka, saya yang suka museum saja malas ke museum itu. Di sana ada kereta kuda milik keraton yang sangat kental pengaruh Eropa-nya. Kereta ini memiliki ornamen malaikat-malaikat di sisinya dan desain serta warnanya sangat Eropa. Menurut saya ini unik untuk menggambarkan (mungkin) betapa kuat hubungan keraton Solo dengan Belanda misalnya. Ada dua buah kereta, dan keduanya berada di selasar terbuka, tidak terawat sama sekali.

kalau rumah saya besar, kereta ini mau saya minta saja

Hampir semua objek di dalam ruang pamer tidak ada keterangannya. Ruangannya berdebu, singup, lembab dan lemari-lemarinya kumuh. Waktu itu saya berpikir, lebih baik mungkin memang semua benda cagar budaya di Indonesia ini diberikan saja pada museum-museum di luar negeri. Dijamin lebih dirawat. Saya kadang heran kalau kita meraung-raung karena ada benda cagar budaya di tangan asing, memangnya kenapa? Apa ada jaminan kita bisa dan mau merawatnya dengan lebih baik? Apa cuma karena gengsi? Saya jadi ingat dulu sering  minta anjing, begitu dikabulkan oleh ayah saya, saya selalu malas merawat. Begitu anjing itu dikasih ke orang lain saya nangis merengek-rengek minta dikembalikan, ayah saya selalu bilang, “lha kamu ini aneh, wong anjingnya aja nggak kamu rawat, kenapa waktu papa kasih ke orang lain kamu nangis?”

Tempat penyimpanan wayang kulit di Museum fuer Voelkerkunde, Dresden. Bersih, rapi dan terawat.

Kalau kemarin sempat masyarakat kita heboh karena batik  katanya mau dicuri Malaysia, kenapa tidak heboh juga banyak batik di museum digerogoti rayap? Lalu semua orang tiba-tiba pakai batik (yang dipakai juga batik printing), semua orang jualan batik. Begitu kita menang dan batik diakui sebagai intangible heritage dari Indonesia, ya sudah, euphoria nya berhenti. Kelak batik-batik itu juga akan dimuseumkan dan dimakan rayap. Kita memang tidak bisa merawat apa yang sudah ada dan apa yang ditinggalkan oleh pendahulu kita. Orang Indonesia selalu senang dengan kegegapgempitaan, yang baru-baru. Sementara ruh nenek moyang kita tersimpan dalam diam di dalam fosil-fosil tidak terawat, di gudang museum-museum kita, atau yang lebih beruntung, di tangan bangsa lain.

random thoughts :

#1 orang Indonesia lebih suka dengan yang intangible, karena bisa dimain-mainin. Karena namanya saja intangible, maka itu berupa konsep atau ide, jadi bisa diputar ke kanan dan ke kiri sesuai kemauan dan kepentingan mereka sendiri. Misalnya, “ya yang penting kan pelestarian motif batik, entah ini pameran cuma jualan atau apa kan yang penting pelestarian motifnya itu”. Beda dengan yang tangible. Bendanya ada di sana, diam saja. Kalau mau menguntungkan ya dijual (ilegal), kalau tidak ya dirawat (merepotkan).

#2 saya menulis ini dalam keadaan meriang luar biasa. Setelah selesai jadi sembuh. Terbukti menulis adalah obat yang ampuh mengatasi penyakit.