Menjadi Katolik dan Indonesia

This is not a spiritual note, neither a note that tries to compare one religion to other. Saya menulis ini, hanya ingin berbagi rasa tentang apa yang saya rasakan tentang “ibadah” selama saya di Jerman kemarin. Dan bukannya saya masih in Germany mode (or maybe mood?), tapi saya ingin membayar utang (paling tidak terhadap diri sendiri) untuk menulis pengalaman saya selama di sana. Sebenarnya keinginan untuk menulis tulisan tentang ini muncul ketika saya pergi ke gereja kemarin Minggu (29/01). Saya merasa bahwa betapa mewahnya orang Indonesia kalau beribadah. Dan -di luar kekerasan yang banyak terjadi- orang Katolik (yang benar-benar mengharap bisa beribadah secara kolektif) seharusnya bersyukur. Karena jangan harap kita bisa merasakan hal seperti itu -paling tidak- di Jerman (khususnya untuk orang Indonesia Katolik yang ada di sana).

Saya harus bilang bahwa saya bukan orang Katolik yang baik. Haha.. does it matter anyway? Sejak pertama datang ke Jerman, saya sudah tahu bahwa saya akan tinggal di kota yang terletak di (bekas) Jerman Timur. Artinya kebanyakan orang di sana tidak beragama Katolik. Dan tentu saja jarang ditemukan gereja Katolik. Selama saya di Dresden saya hanya menemukan 3 gereja Katolik di sana, salah satunya adalah Katedral (yang lebih banyak dikunjungi turis daripada umat). Selain itu ada beberapa gereja Kristen yang dulunya gereja Katolik seperti Frauenkirche, gereja ortodoks serta beberapa aliran lain seperti Evangelis salah satunya Thomaskirche di Leipzig. Bahkan Katedral di Berlin sekarang sudah berfungsi sebagai gereja Kristen. Nah, sebenarnya apa sih yang mau saya bicarakan?

Begini, saya beberapa kali melihat status teman-teman saya  -yang beragama Islam – dan kebanyakan dari mereka mengaku kangen mendengar suara adzan. Saya bisa memahami bagaimana mereka merindukan suara adzan karena di Jerman tidak ada adzan. Walaupun saya tahu banyak juga teman saya yang beragama Islam menganggap adzan yang bersahut-sahutan dan tidak merdu itu mengganggu ketertiban lingkungan. Tapi paling tidak, komunitas orang Indonesia yang beragama Islam tidak kehilangan : sholat berjamaah, pengajian, merayakan Idul Fitri-Idul Adha bersama, jumatan, dan lainnya. Sementara kami yang beragama Kristen dan Katolik (terutama Katolik) susah sekali mencari kesempatan untuk bisa beribadah dan merayakan hari besar sebagaimana kebiasaan kami di Indonesia. Tidak ada yang namanya : misa lingkungan, kunjungan romo paroki, lomba-lomba di gereja, atau bahkan arisan Wanita Katolik. Haha.. sumpah saya sih nggak keberatan dengan ketiadaan itu semua, bener. Saya cuma mau cerita aja. Bahwa….

Bahwa kalau orang merasa karena Jerman atau negara Eropa lainnya itu adalah basis dari agama Kristen (simply karena mereka negara Eropa atau negara “barat”), maka orang Kristen dan Katolik di sana akan lebih enak. Tidak. Saya tidak bicara masalah keimanan ya, saya cuma mau berbagi cerita tentang kondisi yang nampak saja. Komunitas orang Indonesia di luar negeri dimanapun saya yakin masih didominasi orang-orang Islam (which is not a crime), dan itu yang membuat mereka lebih mudah menjalankan ibadah seperti yang mereka lakukan di Indonesia. Mungkin dengan pengecualian (atau perkecualian?) negara-negara lain yang tidak mengakui kebebasan beragama. Saya juga tidak tahu negara mana saja itu.

Katedral, di kawasan wisata. Altstadt- Dresden. (Anastasia Dwirahmi, 2011)

Selama saya di sana, saya baru ke gereja di bulan-bulan terakhir. Antara November sampai Desember. Biasanya saya ke gereja bertiga, bersama Ferdi dan Christina. Gereja Katolik di sana sangat minim teknologi. Bangunannya memang indah, yang saya perkirakan dibangun atau terinspirasi puncak kejayaan era gotik di abad pertengahan, dimana gereja dibangun semegah mungkin bukan karena umatnya banyak melainkan untuk menunjukkan kekuasaan Allah (thanks Mr.Gaarder!! For I’m able to put a lil bit of intellectual bite in my writing!). Selain minim teknologi, gereja di sana tidak digila-gilai seperti gereja di Indonesia. Umatnya sedikit, sehingga kami yang foreigner ini malah sering menarik perhatian. Misa hari Minggu itu paling hanya seramai misa pagi harian di Indonesia (jumlah umat tidak lebih dari 50). Misa paling ramai yang pernah saya datangi adalah misa Adven minggu pertama (sebagai catatan saja, Adven itu di sana memang lebih “hip” daripada di Indonesia, tapi secara tradisi. Mungkin kalau di Indonesia seperti bulan Ramadhan). Itupun saya perkirakan umatnya tidak lebih dari 100 orang. Apalagi kalau misa hari Jumat sore (misa favorit kami karena cuma 45 menit), paling banyak 20 orang.

Saya pernah menghitung berapa electric tools yang digunakan oleh gereja. Suatu kali saya melihat hanya satu set : mike dan speaker. Untuk musik mereka tidak butuh listrik karena mereka menggunakan orgel, yang suaranya membahana membuat orang merinding. Papan nomer bacaan dan lagu masih menggunakan kayu yang bisa digeser-geser dan diganti setiap mau misa, lampu? Pakai lilin. Tapi jangan salah, kondisi gereja yang seperti itu kalau buat saya malah menambah kekhusukan orang dalam beribadah. Bandingkan dengan gereja Katolik di Indonesia, paling tidak yang saya tahu di Semarang. Lampu, mike dan speaker, LCD proyektor, kipas angin (dan beberapa gereja pakai AC), laptop, organ, dll. Saya tahu bahwa itu semua tidak menjamin apakah orang bisa beribadah dengan “layak” atau tidak. Saya malah merasa lebih nyaman ke gereja di Jerman karena merasa bahwa ketika saya ke gereja saya berdoa, bukan untuk lihat presentasi power point.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa menjadi orang Katolik di sana lebih susah, daripada orang Islam -misalnya. Saya tahu betapa susahnya cari masjid. Salah satu bangunan yang menjadi landmark kota Dresden berbentuk menyerupai masjid, tapi ternyata itu adalah pabrik tembakau (yaelah..). Saya juga tidak ingin mengatakan bahwa lebih baik beribadah dengan sedikit teknologi, atau sebaliknya. Intinya : jadi orang beriman, beragama dan mau beribadah di luar negeri itu, walaupun lebih aman, tapi jangan harap mendapatkan gegap gempita dan keguyuban yang dirasakan seperti di Indonesia. Mungkin karena di sana agama bukan barang penting dan laku dijual seperti di sini. Dan sekali lagi I have no problem with that (berapa kali ya saya harus ngomong ini? Hehe..). Anyway, ini pengalaman saya tinggal di kota yang relatif kecil, mungkin dengan komunitas orang Indonesia yang lebih besar di kota lain atau negara lain, kondisinya akan berbeda. So Good Luck people!

Advertisements

in my bag

these are the things in my bag :

1. Dunia Sophie by Jostein Gaarder.

2. Notes buat nulis-nulis. Just in case I have something important pops out of my mind to make the world a better place. Haha.

3. Tempat pensil. I made it myself, lhoo…

4. Blackberry. Yes I am a loser. And it’s Bellagio baby! Indonesia, first in the world to launch!!

5. Rokok dan korek.

6. Lipbalm.

7. Dompet.

8. Kamus Jerman.

(saking nggak punya bahan untuk ditulis tapi pengen banget posting di blog)

Setelah Jerman

Sudah sebulan sejak saya kembali ke Indonesia. Lalu apa? Yang jelas akhirnya saya berusaha untuk menulis lagi, walaupun rasanya malaasssss sekali. Selain malas saya merasa tidak punya bahan untuk ditulis. Seperti kebanyakan orang yang baru balik dari luar negeri (untuk belajar atau kerja, bukan untuk liburan) saya sempat mengalami masa yang orang menyebutnya “culture shock”. Saya juga kurang ngerti kenapa disebut demikian. Dan kadang, orang beranggapan bahwa hal itu buruk, kadang saya sempet dibilang terlena dan lupa dengan Indonesia (for only 5 months? C’mon people). Soalnya hidup di Jerman enak, makanan enak, rumah enak, lingkungan enak, baju-baju bagus dan murah, dll dsb. Mereka sebenarnya tidak tau bahwa shock yang katanya saya alami itu tidak ada hubungannya dengan itu semua. Walaupun saya tidak memungkiri bahwa memang semua hal itu benar adanya. Tapiiii…please deh, saya nggak sekampungan itu juga.

Saya memang cuma 5 bulan disana tapi banyak sekali hal yang membuat saya belajar banyak, tentang dunia 🙂 Saya mendapat banyak pengalaman di sana, terutama bagaimana bekerja di museum, it was a lot of fun!! Tons of fun. Saya punya banyak teman baru, melihat hal-hal baru, belajar banyak kebiasaan baru. Saya menegaskan di sini bahwa bohong banget kalo saya nggak mau balik lagi. Hehe.. mungkin ini juga yang orang kira membuat saya bete sama Indonesia. Padahal itu semua lebih pada perubahan rutinitas, bukan karena saya kepanasan di sini!! (eventhough on the first days I have to admit that humidity kills me). Tapi memang saya akui banyak hal yang jauh lebih saya suka di sana daripada di sini. Terutama berkaitan dengan kelakuan orang di jalan. I have to say that orang Indonesia itu kampungan. Semua kaya baru pertama liat perempuan dan kaya baru pertama bawa kendaraan bermotor, dan pejalan kaki (terutama perempuan) ga dihargai sama sekali.

Pesta Natal sebelum pulang ke Indonesia 🙂 bersama teman-teman terbaik saya di Dresden.

Lalu setelah Jerman, saya mau apa? Life is not that easy afterall… Saya merencanakan ini dan itu, bahkan sempat berpikir mau mulai menjahit lagi. But no! Saya sudah sejauh ini dan saya tidak akan berhenti di sini. Saya akan mengejar mimpi saya, sekolah lagi dan kelak (entah kapan) saya akan mendirikan sebuah museum di Indonesia. Tapi sebelum itu saya mau belajar sebanyak-banyaknya. Sekarang saya sedang menguatkan diri saya untuk mulai mengumpulkan kliping koran lagi soal budaya tionghoa, mulai baca buku (yang sedang saya baca sekarang : Dunia Sophie, Jostein Gaarder), mulai baca koran, mulai baca materi kuliah, rajin mencari info beasiswa, belajar bahasa Jerman, belajar untuk ujian TOEFL iBT, semuanya, segalanya.

And nothing can stop me. Nothing.