I Love Berlin!

di depan Siegessaeule, menuju Brandenburger Tor (I love the color of my new scarf! Let's welcome the colorful winter, and colorful life. Yey!)

Berlin is indeed one of the best cities in the world. I love this not-so-metropolitan capital of Germany 🙂 Kebetulan saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi kota terbesar di Jerman ini sekali lagi, sepanjang minggu kemarin.

Berhubung facebook saya rusak ( I think some freaks hacked it), maka foto2, dan tentu saja cerita akan saya upload di blog ini. Tunggu ya!

Advertisements

Museum adalah…

Museum. Hm, why in the world I love this thing called museum? Sebenernya alasannya ada banyak dan bermacam-macam. Dan mungkin satu tulisan tidak cukup untuk menampung semua. Pertemuan saya dengan museum yang pertama adalah di tahun 2007, saat saya mulai menjadi volunteer di Museum Anak Kolong Tangga, Yogyakarta. Setelah itu, saya menjadi sangat suka pada museum. Jadi, ketertarikan saya pada museum insyaallah datang murni dari hati saya sendiri. Well okay, di tulisan kali ini saya akan mencoba menyampaikan apa makna museum menurut pendapat saya. Dan tentu saja makna-makna tersebut menjadi beberapa dari banyak alasan kenapa saya menyukai museum. Dan semua ini saya tulis atas pengalaman saya mengelilingi beberapa museum di dua kota di Jerman, yaitu Dresden dan Leipzig. Terutama dua museum etnologi di dua kota tersebut.

1. Museum adalah ketekunan

Yap, museum dengan banyak koleksi di dalamnya, adalah lambang dari ketekunan manusia. Coba bayangkan, berapa lama waktu yang dikumpulkan untuk mengumpulkan objek-objek yang ada di dalam museum. Bagaimana mengolah informasi atas objek, melakukan riset ilmiah, dan yang paling penting adalah mewariskan objek (dan juga ketekunan itu) dari generasi ke generasi. Mustahil jika semua itu bisa terjadi tanpa adanya kerja keras dan kesabaran yang dilakukan terus-menerus dari waktu ke waktu.

2. Museum adalah kepedulian

Tanpa kepedulian, tidak  mungkin museum bisa berdiri dan museum akan eksis selama manusia masih peduli. Tanpa kepedulian, tidak mungkin objek yang sudah berumur ratusan tahun bisa terawat dengan baik. Tanpa kepedulian, tidak mungkin orang-orang mau bekerja dan menjaga objek di dalam museum, atau bahkan berkunjung ke museum. Menurut saya, kepedulian merupakan sebuah makna yang sangat nampak dari museum. And in the case of museum, biasanya kepedulian ini sampai pada hal-hal yang dianggap remeh. Yang mungkin bagi kebanyakan orang dianggap kurang atau tidak penting.

3. Museum adalah keingintahuan

Tidak diragukan lagi. Museum adalah wujud nyata dari rasa ingin tahu manusia. Rasa itulah yang membuat para kolektor melakukan ekspedisi ke berbagai penjuru dunia untuk melihat budaya lain dan mengumpulkan artefak. Rasa ingin tahu juga yang membuat para ilmuwan, kurator dan staff museum lain terus melakukan riset atas objek yang dimiliki museum. Tentu saja rasa ingin tahu juga yang membuat orang-orang pergi mengunjungi museum. Tanpa hasrat alami manusia yang satu ini, mustahil museum bisa berkembang dan lestari.

4. Museum adalah perjalanan

Mengunjungi museum kita seolah-olah terbawa dalam sebuah perjalanan umat manusia. Bagaimana manusia itu berkembang dari waktu ke waktu. Kita juga bisa membayangkan bagaimana sebuah objek yang berasal dari sebuah suku di pelosok Afrika, bisa terpajang dengan manis di dalam lemari kaca di sebuah museum yang megah. Saya juga selalu menerka-nerka bagaimana seorang kolektor bisa mendapatkan sebuah objek tertentu, perjalanan seperti apa yang mereka tempuh, dan bagaimana akhirnya objek itu bisa sampai ke tangan sebuah museum. Apa saja yang sudah dilalui oleh objek tersebut sampai akhirnya dia bisa dinikmati oleh para pengunjung museum, dan beralih fungsi menjadi salah satu media belajar yang penting bagi manusia.

5. Museum adalah pengabdian

Begitu banyak orang yang bekerja di dan untuk museum. Mulai dari kurator, konservator, bagian edukasi, publikasi, sekretaris, sampai penjaga keamanan dan petugas teknis. Selain itu ada juga para kolektor, petugas pemerintah dan institusi budaya lainnya di luar museum yang mendukung keberadaan museum. Mereka semua menurut saya bekerja dengan penuh pengabdian. Bahkan di Eropa sekalipun, working in a museum doesn’t seem to be a wealth-making profession. Dan sekali lagi, mereka mengabdi pada hal yang mungkin menurut orang tidak cukup make sense. Tapi di sini museum tetap berdiri dengan megah dan melangsungkan kegiatan belajar hampir setiap hari untuk anak-anak sekolah. Kalau bukan pengabdian, apa lagi?

6. Museum adalah proses dan hasil

Berkunjung ke museum berarti kita melihat sebuah proses dan hasil dalam waktu yang bersamaan. Museum adalah proses belajar dan hasil dari belajar. Museum yang baik selalu memperbarui data yang mereka miliki, ilmuwan tidak pernah berhenti bekerja di dalam museum. Jangan kira sebuah objek yang sudah duduk manis di dalam vitrin berarti sudah selesai diteliti. Kurator yang bertanggung jawab atas objek itu terus bekerja setiap hari, mencari apakah ada fakta baru yang bisa dia temukan atas objek tersebut. Dan semua hasil dari proses tersebut, bisa kita lihat di dalam museum. Sampai dimana seorang ilmuwan berproses, bisa kita lihat hasilnya di dalam lemari pajang.

7. Museum adalah kerjasama

Merawat sebuah museum dengan banyak koleksi membutuhkan waktu, pikiran dan tenaga yang tidak sedikit. Mereka semua bekerja bersama untuk menghasilkan sebuah presentasi yang layak dilihat di sebuah museum. Kurator/ilmuwan bertugas untuk menyeleksi barang apa yang cukup signifikan untuk diletakkan di lemari pajang, serta menuliskan keterangan atas barang tersebut. Sebelumnya, barang itu harus diutak-atik dulu di dalam ruang para konservator dengan spesialisasi masing-masing (metal, keramik, porcelain, kayu, kulit, kain, dan lainnya). Desainer kemudian memikirkan bagaimana posisi terbaik dari barang itu, di atas, di bawah, di dalam, di luar, menghadap kemana, bagaimana warna dari lemarinya, dan lain-lain. Lemari juga harus dirancang sebaik mungkin. Mulai dari kelembaban, pencahayaan, kemanan dan kenyamanan bagi pengunjung, kepraktisan untuk mendisplay barang, dan seterusnya. A lot of work, huh? Dan itu belum semua. Masih ada para petugas keamanan, ahli teknologi informasi, dan yang tentu saja para edukator (yang biasa kita kenal dengan tour guide).

8. Museum adalah totalitas

Dan semua itu dilakukan dengan penuh totalitas. Semua hal dirancang sebaik mungkin dari jauh-jauh hari. Pameran yang akan diselenggarakan di tahun 2014, sudah dibuat rencana anggarannya dari sekarang. Barang yang rusak, diperbaiki dengan penuh ketelitian dan -sekali lagi- ketekunan. Para konservator memiliki alat-alat yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya ada di laboratorium sebuah museum (saya bahkan tidak tahu bahwa museum punya laboratorium juga). Desain ruang pameran dibuat sedemikian rupa sehingga kita benar-benar merasakan atmosfer dari budaya tertentu yang dipamerkan di ruang tersebut. Para edukator menyelenggarakan program pendidikan untuk anak-anak sebaik mungkin. Mereka tidak sekedar mengajari anak-anak membuat kerajinan tangan, sebelumnya mereka harus membaca materi edukasi, membuat modul, menyiapkan ruangan, material workshop, dan masih banyak lagi.

9. Museum adalah perenungan

Berkunjung ke museum, membuat kita merenung. Setidaknya itulah yang saya rasakan setiap saya berdiri di depan sebuah objek koleksi museum dan meneliti setiap detailnya. Merenung akan sejarah umat manusia, peradaban dan budayanya. Bagaimana kita berbeda satu sama lain, tapi juga sama. Bagaimana kita meyakini hal-hal yang berbeda, memakan makanan yang berbeda, mengenakan pakaian yang berbeda, tetapi sama-sama menyukai keindahan (museum etnologi di Dresden dan Leipzig membuat saya sadar bahwa semua manusia di dunia pada dasarnya menyukai keindahan). Saya juga sering merenung, bagaimana kehidupan saya jika dipajang di sebuah museum. Will there be so many beautiful and insightful things about me?

10. Museum adalah masa lalu, masa kini dan masa depan

Pada akhirnya saya yakin bahwa museum adalah perpaduan dari spirit akan masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Museum memang (tampaknya) selalu menampilkan semua hal dari masa lalu, tapi walaupun begitu museum yang baik akan selalu berusaha melakukannya dengan teknologi masa kini, bukan hanya demi kecanggihan semata, namun juga untuk kenyamanan para pengunjung dan kelestarian objek. Saya tidak menyangka bahwa mengunjungi sebuah museum membuat saya sadar betapa kreatifnya manusia jaman sekarang (hehe). Dan museum selalu membuat saya berpikir akan masa depan. Bukan berarti hanya mengukur apa yang akan terjadi pada kita di masa datang berdasarkan apa yang kita lihat di museum mengenai masa lalu dengan perbandingan masa kini, namun juga bagaimana saya (kita) sebagai generasi sekarang bertanggung jawab untuk perawatan dan pendokumentasian kehidupan masa kini, agar generasi berikutnya bisa melihat dan belajar. Dan juga, bagaimana kita bisa berperan serta untuk kelangsungan hidup museum-museum di masa datang.

Jadi, selamat berkunjung ke museum dan menemukan maknanya untuk anda sendiri. Viel Spaβ!

GRASSI Museum in Leipzig, ada tiga museum di dalam sini, salah satunya Museum fuer Voelkerkunde Leipzig (Sumber : website Uni Leipzig)