Bear-Lin

Betapa beruntungnya saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi Berlin dalam rangka mengisi acara pada resepsi diplomatik KBRI. Acara ini merupakan acara tahunan yang dilaksanakan sekitar bulan September untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Tapi, tidak semua orang Indonesia di Jerman bisa datang ke acara ini, karena ini merupakan jamuan kelas diplomat (namanya aja Resepsi Diplomatik). Tamu yang diundang dibatasi hanya 300-400 orang, sebagian besar adalah para duta besar, beberapa orang lain yang sepertinya cukup terhormat di mata KBRI, beberapa anggota PPI Jerman, dan tentu saja staf KBRI. Berangkat dari Dresden pukul 09.04, saya hanya sempat sarapan kopi dan sandwich yang saya beli di stasiun. Tapi rasanya nikmat, berasa traveler sejati. Hihi..Gambar di bawah ini adalah sarapan saya dan Hauptbahnhof Dresden.

Saya sampai di Berlin Hauptbahnhof (stasiun utama) di hari yang sama pada pukul 11.14. Dan dijemput oleh Pak Anis dari bagian sosial-budaya. Saya sudah diberi tahu sebelumnya oleh Mas Apung (staf sosbud juga) bahwa yang menjemput nanti Pak Anis, wajahnya Indo-Arab dan tinggi. Saya dengan mudah menemukan Pak Anis, tapi bukan karena wajah Indo-Arabnya, melainkan karena beliau pake batik. Ehehe.. Jarak Hauptbahnhof dan KBRI sangat dekat, katanya cuma 5 menit kalau jalan kaki. Dan Hauptbahnhof Berlin adalah salah satu tempat (dari banyak tempat di Jerman) yang membuat saya kagum. It was sooo BIG! Kata Mas Apung sih ini stasiun kereta api terbesar di Eropa.

Berlin Hauptbahnhof, yang besar dan bersih.

Begitu sampai di KBRI, saya langsung menemui Bu Birgit, seorang staf lokal yang bisa bicara Bahasa Indonesia dengan sangat baik, lengkap dengan ekspresi “deh”, “dong”, “sih”, dan masih banyak lagi. Saya diminta menunggu sampai jam 12.00 untuk berangkat bersama Pak Anis lagi ke Hotel Adlon. Mungkin sudah tau ya Hotel Adlon? Adlon Kempinski. Cukup terkenal karena Michael Jackson pernah menginap di sana dan muncul di balkon hotel bersama anaknya yang membuat heboh media, lalu Barrack Obama juga pernah menginap di Adlon, dan tentu saja bapak kita yang terhormat : SBY. Terakhir hotel ini ada di filmnya Liam Neeson, berjudul Unknown (dan saya tidak akan bosan untuk pamer betapa ‘penting’nya hotel ini. Hehe..).

Ketika saya ke kamar mandi, saya bertemu dengan Mbak Tuti, yang saat itu sedang mengonde rambutnya sendiri. “Kalau di Adlon, aduh..nggak bakal sempet mbak. Saya nanti mesti sibuk, jadi mending kondean di sini.” Usut punya usut, Mbak Tuti -yang juga staf sosbud – ternyata adalah penari dan berasal dari Bali. Pantas saja dia sudah tidak canggung mengonde-ngonde rambut. Karena ternyata lama (tidak jam 12.00 seperti yang dijanjikan) maka saya mondar mandir di KBRI dan akhirnya berkenalan dengan bapak-bapak yang sedang memanfaatkan “smoking area” (balkon). Ada seorang yang sudah tinggal di Jerman selama 20 tahun. Tapi katanya, dia bukan yang paling lama, ada yang sudah 40 tahun.

Sekitar jam 13.00 saya, Mbak Tuti, Mas Apung, dan dua orang staf lainnya berangkat ke Adlon. Sesampainya di sana saya berkenalan dengan Bapak Rudolf Smend dan Joachim Blank. Pak Smend adalah kolektor batik, dan Pak Blank seorang seniman yang beberapa karyanya menggunakan teknik batik juga. Semua batik koleksi Pak Smend antik dan indah. Saya sampai takut memegang, takut salah. Tapi beliau sangat ramah dan rendah hati, sebelumnya saya sudah sempat berkomunikasi dengan beliau via email. Dia diundang khusus oleh KBRI untuk memamerkan batiknya sebagai ‘side event’ dari resepsi diplomatik kali ini. Setelah ganti baju (dan dikonde sama Mbak Tuti juga), sayapun siap melakukan demo membatik. Awalnya, Pak Smend sempat menawari saya untuk menggunakan salah satu kain antiknya sebagai kemben, tapi selain kurang percaya diri, saya merasa akan kedinginan dan ada kemungkinan juga kainnya bakal rusak kalau saya pakai. Hehe, akhirnya saya mengenakan kebaya encim cantik berwarna kuning yang saya bawa dari Semarang, sebagai sarungnya, Pak Smend meminjamkan salah satu koleksinya yang belum terlalu rapuh.

Palaissaal,Adlon Kempinski,tempat acara diselenggarakan.

Inilah saya yang sedang membatik, sampai lupa makan!

Saya tidak menyangka, bahwa banyak orang yang tertarik melihat apa yang saya lakukan. Kebetulan saya membatik dengan motif Bokor Kencono. Saya sudah siap-siap sejak awal untuk bercerita mengenai motif ini, bahkan sudah menyiapkan versi Bahasa Jermannya. Beberapa tamu jongkok di samping saya dan menanyakan tentang proses membuat batik. Bagaimana kalo mau dua warna, tiga warna, dan seterusnya. Saya jawab setahu dan semampu saya, tapi sepertinya sih cukup meyakinkan. Saya terus membatik sampai Mas Apung datang dan menanyakan apakah saya mau makan atau tidak. Akhirnya setelah melihat tamu sudah mulai sepi dan acara sudah hampir selesai, sayapun masuk ke ruang resepsi dan makan nasi goreng. Enak!

Rendang adalah salah satu menu yang disajikan. Mas Apung cerita bahwa yang membuat adalah chef dari Hotel Adlon dengan supervisi KBRI, yaitu  Mas Apung sendiri. Hasil akhirnya ternyata memuaskan banyak orang. Beberapa menu lainnya adalah kerupuk udang, pangsit, dan ayam kecap. Pencuci mulutnya tidak khas Indonesia, tapi tetap saja tidak mengurangi suasana “Indonesia” malam itu. Sambil makan, saya berbincang dengan Bu Birgit dan Pak Smend. Saya bertanya, yang mana Duta Besar Indonesia. Bu Birgit lalu menunjuk seorang bapak dan seseorang (saya lupa siapa) berkata pada saya bahwa Pak Edi -si Dubes-berasal dari Semarang.


Rendang ala Adlon

Ketika acara sudah benar-benar akan berakhir, saya berfoto bersama istri Dubes dan ibu-ibu KBRI lainnya. Lalu saya menuju ruang ganti karena sudah tidak tahan pakai kain. Ketika keluar dari ruang ganti, rombongan Duta Besar lewat. Pak Edi menyalami saya dan berkata, “terima kasih ya Mbak, bagus sekali lho mbatiknya.” Saya mengucap terimakasih kembali dan bertanya, “bapak orang Semarang, ya?” Lalu dengan girangnya dia bilang iya, menanyakan saya orang Semarang juga atau bukan, Semarang nya sebelah mana, dan lain-lain.

Bersama Pak Smend, Bu Dubes, dan Pak Joachim. Mereka yang ditengah itu. Sebelah kanan saya Mas Apung. Dan yang lain adalah ibu-ibu KBRI (apa iya ya?)

Saya dan Mas Apung pulang pukul 22.30, saya menginap di apartemen Mas Apung yang ternyata sangat dekat dengan Adlon. Ketika mau tidur, saya baru sadar bahwa saya belum mandi sore tadi. Tapi saya sama sekali tidak berpikir untuk mandi saat itu, karena sudah ngantuk dan capek. Setelah ngobrol sebentar sama Mas Apung, sayapun tidur. Dan Mas Apung baik sekali karena membiarkan saya tidur di kamarnya, sementara dia tidur di kamar tamu bersama tumpukan cucian. Bulan depan kebetulan saya harus ke Berlin lagi, dan sudah janjian sama Mas Apung untuk menginap di sana lagi. Terimakasih Mas Apung 🙂

Esoknya, saya kembali ke KBRI untuk membicarakan workshop batik bulan Oktober yang akan datang. Jam 12.30 Mas Apung dan Bu Birgit mengantar saya ke Hauptbahnhof, di jalan sempat foto-foto sebentar di lapangan yang ternyata bekas penjara. Di lapangan itu masih ada satu sel yang dibiarkan utuh. Dan kalau kita masuk sel itu, tiba-tiba keluar suara dengan musik latar yang mencekam mengiringi suara orang yang memberikan testimoni seperti apa rasanya dipenjara. Saya nggak kebayang kalau masuk ke situ malam-malam apa jadinya ya? Karena kereta saya pukul 14.48, kami masih sempat makan siang di stasiun. Setelah itu belanja souvenir.

di depan bekas sel, yang jadi semacam monumen

bersama Bu Birgit Steffan, yang baikkkkk banget

Mas Apung dan Bu Birgit harus kembali ke kantor segera karena jam makan siang sudah habis. Maka sayapun jalan-jalan sendiri di Hauptbahnhof. Saya belanja suvenir lagi dan lagi. Lalu jalan-jalan. Kemudian dengan sangat santai saya berjalan menuju Gleis (jalur) 2, tempat kereta menuju Dresden berangkat. Ketika saya melihat ke jalur itu, sudah ada kereta di sana. Lalu saya melihat jam, sudah pukul 14.46! Saya panik karena satu persatu pintu mulai ditutup, dan orang-orang di luar kereta (para pengantar) sudah pada melambaikan tangan pada yang di dalam. Tanpa pikir panjang saya lari dan melompat ke wagen (gerbong) terdekat yang pintunya masih buka. Saya pikir, gerbongnya salah kan tidak apa-apa yang penting sudah masuk. Akhirnya setelah salah duduk satu kali, bertanya berkali-kali, saya menemukan gerbong yang benar. Lain kali, saya berjanji pada diri sendiri untuk duduk manis menunggu kereta walaupun masih lama. Huahh…

So, auf wiedersehen, Berlin!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s