No Reason To Be Sad!

Kenapa judul tulisan kali ini seperti itu? Hm, ya karena saya akan menulis betapa minggu kemarin tepatnya dari tanggal 19-25 September 2011 saya mengalami hari-hari terbaik saya di Jerman. Memang ada beberapa kejadian agak menyebalkan di awal minggu, tapi ternyata semuanya bisa terbalas dengan hal-hal baik yang terjadi kemudian. And I could not ask for more. God does love me so much.

Hari Senin dan Selasa, saya kerja seperti biasa di Dresden. Malam harinya saya habiskan dengan jalan-jalan di pusat perbelanjaan sepanjang Prager Strasse sampai Hauptbahnhof tanpa membeli apapun. Termasuk ketika saya menguatkan hati untuk tidak membeli jaket di Jack Wolfskin, atau bahkan di C&A dan H&M yang harganya lebih murah. Hehe

The Ballet Surprise

Semperoper

Hari Rabu, tiba-tiba supervisor saya di kantor masuk ke ruangan dan berkata bahwa hari itu juga saya bisa membeli tiket pertunjukan balet dengan harga murah. Dan dengan baiknya dia membiarkan saya meninggalkan kantor pada pukul 14.30 hanya untuk memastikan bahwa saya akan mendapat tiket dan terutama tempat duduk yang strategis. Tanpa pikir panjang sayapun segera pergi menuju Altstadt. Pertunjukan balet akan berlangsung esoknya (Kamis) di Semperoper, salah satu gedung opera paling bagus di Eropa. Semperoper masih merupakan bagian dari Staatlische Kunstsammlungen Dresden, dan biasanya ada penawaran khusus untuk karyawan SKD. Dari harga normal 55 Euro, saya bisa membeli tiket khusus dengan harga 11 Euro saja. And guess what, saya dapat di baris nomor 2! Wasn’t that amazing?¬†Inilah salah satu keuntungan kerja di museum. Jadi, siapa yang mau kerja di museum???? ūüėÄ

Sepulang dari beli tiket, saya menuju Prager Strasse lagi berburu baju baru. Oke, memang agak norak sih, tapi saya ingin tampil sebaik mungkin untuk melihat balet. Hanya saja, entah malaikat dari mana datang menyertai saya sore itu, saya akhirnya pulang tanpa membeli sepotong pakaianpun. Saya berpikir untuk melihat apakah saya masih punya pakaian yang cukup manis untuk dipakai ke gedung opera.

Dan akhirnya, hari yang dinantipun tiba. Saya suka balet. Well sebenarnya, saya suka segala macam pertunjukan. Apalagi kalau menonton langsung dan dapat tempat duduk spesial. Malam itu saya memutuskan memakai legging, tank top, dan oversized cardigan yang saya ingat dibeli di Mangga Dua. Sepatunya cuma sepatu trepes seharga 6 Euro yang saya beli di NewYorker beberapa minggu yang lalu. Saya tahu bahwa dilarang telat untuk nonton pertunjukan di gedung opera, apalagi sekelas Semperoper. Pukul 18.50 saya sudah duduk manis di kursi istimewa saya, besebelahan dengan bapak-bapak dan ibu-ibu yang memakai jas dan gaun-gaun yang pastinya nggak dibeli di Mangga Dua.

dan inilah saya di dalam Semperoper

Oke, kembali ke bahwa saya suka nonton pertunjukan. Saya suka melihat pertunjukan musik, drama, tari dan lainnya mungkin karena dari kecil saya sudah biasa pentas. Saya sering menari Jawa ketika masih TK-SD, SMP mungkin tidak, tapi SMA, saya mengalami banyak sekali pengalaman menyenangkan, mendebarkan dan mengharukan ketika saya harus pentas. Entah itu menari, menyanyi atau bermain musik (gamelan). Salah satu hal yang paling saya suka dari tampil adalah merasakan nervous dan tense-nya. Nikmat sekali. Maka, ketika saya menonton pertunjukan, salah satu hal yang membuat saya terharu atau larut dalam suasana adalah saya membayangkan bagaimana rasanya menjadi mereka-mereka yang ditonton itu. Ah, pasti menyenangkan sekali. Bukan masalah bayaran atau popularitas yang akan mereka dapat. Tapi lebih ke rasa bahwa malam itu adalah malam milik mereka. They own the night. And it reminded me that I used to have my own nights (and also days).

Judul pertunjukan malam itu adalah Zaubernaechte. Dan maafkan saya yang tidak terlalu paham cerita yang disampaikan. Yang jelas ada tiga cerita yang ditampilkan. Setiap cerita durasinya sekitar 40 menit. Saya baru tahu juga bahwa ada yang namanya istirahat di pertunjukan semacam ini. Jadi karena ada 3 bagian, maka ada 2 kali istirahat. Satu kali istirahat waktunya 20 menit. Dan 20 menit ini biasanya digunakan pengunjung untuk melihat-lihat gedung Semperoper, minum Champagne atau ke kamar kecil. Saya hanya melakukan yang pertama dan terakhir, karena nggak mungkin beli Champagne. Bukan masalah uangnya, tapi saya tidak tahu harus bilang apa sama bartendernya.

Oke, and the show was AMAZING. Saya tidak menyangka bahwa saya bisa punya kesempatan untuk menonton pertunjukan dengan perpaduan teknologi dan keindahan gerak manusia sebagus itu. Saya tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata. Yang jelas, kalau ketika membaca tulisan ini kalian membayangkan sebuah pertunjukan balet yang spektakuler, it was ten times better than your imagination. It was beyond everything that you can imagine. Trust me.

Bagian pertama berjudul No Thumb dengan koreografi dari Pascal Touzeau dan iringan musik klasik ¬†Dona Nobis Pacem oleh¬†Pńďteris Vasks. No Thumb membuka pertunjukan malam itu dengan sangat indah, saya hampir menangis ketika melihatnya. Walaupun malam itu yang disajikan adalah balet kontemporer, saya tetap terharu!

And The Show Goes On

Cerita mengenai bagian kedua (di buku panduan penonton) dimulai dengan prolog seperti ini:

“I saw God in my dream last night,”

“Really? What was he like?”

“She was black.”

Dan Sie War Schwarz (She Was Black) memang merupakan judul dari koreografi ini. Mats Ek, sang koreografer berusaha menampilkan konflik-konflik yang dialami manusia di era modern, dengan beberapa sentuhan yang penuh dengan fantasi. Saya terkejut karena di bagian ini seorang laki-laki keluar dan menari tanpa mengenakan sehelai pakaian pun… *gleg. Bagian ketiga sangat cocok dengan judulnya;¬†Spacio Tempo oleh Jacopo Godani. Dengan permainan cahaya yang membuat para penari nampak seperti siluet, bagian terakhir ini membuat saya tidak bisa mengalihkan pandangan dari panggung. Saya takut melewatkan bagian terkecil sekalipun.

Akhirnya pertunjukan malam itu selesai. Sayapun pulang dan saya merasa menjadi salah satu dari sedikit orang yang paling beruntung di dunia. Bisa melihat balet di Semperoper. Huaaa…bisa ke Jerman dan bekerja di museum di negara ini saja membuat saya merasa beruntung, ternyata masih banyak bonus lain yang saya dapatkan. Semoga semua ini bisa membuat saya menjadi orang yang punya wawasan lebih luas, dan yang lebih penting, malam itu saya merasa bahwa Tere harus bisa melihat apa yang saya lihat. I will take you here, Girl! (Bagi yang ingin melihat foto-foto pertunjukan balet malam itu, silahkan¬†klik di sini).

And the show goes on! Yap, esoknya Gesine, teman baik saya di Jerman mengajak saya pergi ke Weinfest di Radebeul, salah satu “desa” penghasil anggur di Sachsen. Malam itu saya mencoba bermacam-macam Wine. Yang saya suka (karena manis) bernama Federweisser. Katanya ini anggur putih yang masih baru, jadi belum terlalu terfermentasi, kadar alkohol masih rendah. Cuma kalau minum kebanyakan tetep aja mabuk katanya. Hehehe…saya juga mencoba Gl√ľhwein. Anggur hangat dengan rempah-rempah. Harganya 1,5 Euro saja per gelas. Dan rasanya enakk…banget. Biasanya¬†Gl√ľhwein ini mulai dijual ketika sudah mulai dingin, menjelang Natal. Kami pulang dari Radebeul jam 1 dini hari, saya menginap di rumah Gesine. Rumahnya “rumah orang Jerman banget”, kata Gesine yang fasih berbahasa Indonesia, dengan beberapa kata agak medok khas Semarang. Oh iya, Gesine 2 tahun kuliah di Semarang. Makanya dia bisa Bahasa Indonesia, suka makanan pedas, dan pinter bikin martabak.

Salah satu sudut Weinfest

Wine Village Radebeul

so many kinds of Wine

I’ll be waiting in Kingston(e) Town

Dan itu belum semua! Hari Sabtu pagi saya bangun di rumah Gesine dengan perut yang terasa aneh karena alkohol dan kepala yang agak pusing. Mungkin karena tadi malam kami pulang sangat larut dan suhu ketika itu sekitar 7 derajat Celcius! Sekitar pukul 2 siang saya memutuskan untuk pulang ke apartment. Masih harus packing untuk pindahan ke Leipzig dan tentu saja karena…..hari Minggunya saya akan pergi ke Rathen bersama Thomas, Annegret dan Pak Fao.

sama Thomas dan Annegret di Rathen

Thomas adalah anak dari supervisor saya di kantor (namanya Ibu Petra) dan Annegret pacarnya Thomas. Mereke berdua baik-baik, lucu-lucu dan yang paling penting : they speak English! Sudah sejak dua minggu yang lalu saya merengek minta diajak ke Rathen. Rathen adalah kota kecil di Sachsen, yang sudah sempat saya lihat dari atas gunung ketika pergi ke Bastei -salah satu pegunungan di¬†S√§chsische Schweiz–¬†sama Petra beberapa minggu yang lalu. Ketika melihat kota kecil itu dari atas, saya langsung bilang : saya harus kesana! Dan S√§chsische Schweiz, kenapa namanya demikian karena artinya adalah Swiss di Saxonia. Swiss identik dengan pegunungan. Maka dari itu, pegunungan ini bernama¬†S√§chsische Schweiz (Saxon Switzerland). Menurut saya tempat ini wajib dikunjungi jika ada yang punya kesempatan ke Sachsen.

Kami berangkat dari Dresden Hauptbahnhof pukul 11.30 dan 30 menit kemudian sampai di kota mungil itu. Di Rathen kami ke danau bernama Amselsee (Amsel adalah salah satu jenis burung). Di danau itu, saya berhasil membujuk mereka semua untuk naik perahu. 5 Euro untuk ber-4, dan kami bisa berperahu sambil piknik di tengah danau, memberi makan bebek, bahkan Thomas sempat minum bir. Setelah selesai main perahu-perahuan, kami berjalan menuju sebuah air terjun kecil di dekat danau, kemudian Thomas berkata bahwa setelah ini kami akan diajak jalan ke Königstein (King Stone).

Awalnya saya tidak tau apa itu¬†K√∂nigstein.¬†Annegret kemudian memberi saya sebuah leaflet soal¬†K√∂nigstein.¬†Melihat gambarnya, saya berpikir bahwa oh, kastil.¬†Okay then –biasa aja. Dari Rathen kami harus naik kereta lagi. Dari awal kami membeli tiket seharga 23 Euro yang bisa dipakai ber-4 selama sehari mengelilingi Sachsen. Jadi naik kereta berkali-kali pun nggak bayar lagi. Dan, ehm…ternyata¬†K√∂nigstein¬†itu lebih semacam benteng besar instead of just a castle! Dan benar-benar seperti apa yang pernah saya lihat di film-film. Dimana ada kota di dalam benteng. Mungkin yang pernah nonton¬†Kingdom of Heaven, Prince of Persia¬†dan film-film sejenis itu paham maksud saya. Dulu di sana ada gereja, kapel, rumah-rumah, penjara, gudang, pasar, dan lain-lain. Sekarang ditambah ada museum, restoran dan coffee shop. Kami berjalan mengelilingi benteng-luar dan dalam- dan saya terpana melihat konstruksi dari bangunan itu. Bentengnya benar-benar nempel jadi satu dengan batu asli dari gunungnya.¬†I just have no idea how men did that in the former times.

Koenigstein, so BIG!

Sebenarnya saya belum puas jalan-jalan. Tapi jam 6 sore, benteng sudah ditutup. Maka kamipun memutuskan untuk turun gunung. Anyway, yeah, perjalanan ke¬†K√∂nigstein membutuhkan waktu sekitar 40 menit naik gunung. Ketika saya naik, yang ada dalam pikiran saya hanya bahwa nanti ketika mau pulang jalannya turun, sudah hukum alam, it won’t cheat me, I guess. Dan kami pun menunggu kereta datang di stasiun kecil bernama¬†K√∂nigstein juga. Dan keretapun datang membawa kami pulang ke Dresden. Nobody talked during the journey on the train back home. Capek semua. Hihihi…

when I am king,
Surely I would need a queen
And a palace and everything, yeah yeah
And now I am king,
And my queen will come at dawn
She’ll be waiting in Kingston Town

(UB 40 – Kingston Town) –> karena Thomas nyanyi-nyayi lagu ini terus sepanjang naik gunung.

Bear-Lin

Betapa beruntungnya saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi Berlin dalam rangka mengisi acara pada resepsi diplomatik KBRI. Acara ini merupakan acara tahunan yang dilaksanakan sekitar bulan September untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Tapi, tidak semua orang Indonesia di Jerman bisa datang ke acara ini, karena ini merupakan jamuan kelas diplomat (namanya aja Resepsi Diplomatik). Tamu yang diundang dibatasi hanya 300-400 orang, sebagian besar adalah para duta besar, beberapa orang lain yang sepertinya cukup terhormat di mata KBRI, beberapa anggota PPI Jerman, dan tentu saja staf KBRI. Berangkat dari Dresden pukul 09.04, saya hanya sempat sarapan kopi dan sandwich yang saya beli di stasiun. Tapi rasanya nikmat, berasa traveler sejati. Hihi..Gambar di bawah ini adalah sarapan saya dan Hauptbahnhof Dresden.

Saya sampai di Berlin Hauptbahnhof (stasiun utama) di hari yang sama pada pukul 11.14. Dan dijemput oleh Pak Anis dari bagian sosial-budaya. Saya sudah diberi tahu sebelumnya oleh Mas Apung (staf sosbud juga) bahwa yang menjemput nanti Pak Anis, wajahnya Indo-Arab dan tinggi. Saya dengan mudah menemukan Pak Anis, tapi bukan karena wajah Indo-Arabnya, melainkan karena beliau pake batik. Ehehe.. Jarak Hauptbahnhof dan KBRI sangat dekat, katanya cuma 5 menit kalau jalan kaki. Dan Hauptbahnhof Berlin adalah salah satu tempat (dari banyak tempat di Jerman) yang membuat saya kagum. It was sooo BIG! Kata Mas Apung sih ini stasiun kereta api terbesar di Eropa.

Berlin Hauptbahnhof, yang besar dan bersih.

Begitu sampai di KBRI, saya langsung menemui Bu Birgit, seorang staf lokal yang bisa bicara Bahasa Indonesia dengan sangat baik, lengkap dengan ekspresi “deh”, “dong”, “sih”, dan masih banyak lagi. Saya diminta menunggu sampai jam 12.00 untuk berangkat bersama Pak Anis lagi ke Hotel Adlon. Mungkin sudah tau ya Hotel Adlon? Adlon Kempinski. Cukup terkenal karena Michael Jackson pernah menginap di sana dan muncul di balkon hotel bersama anaknya yang membuat heboh media, lalu Barrack Obama juga pernah menginap di Adlon, dan tentu saja bapak kita yang terhormat : SBY. Terakhir hotel ini ada di filmnya Liam Neeson, berjudul Unknown (dan saya tidak akan bosan untuk pamer betapa ‘penting’nya hotel ini. Hehe..).

Ketika saya ke kamar mandi, saya bertemu dengan Mbak Tuti, yang saat itu sedang mengonde rambutnya sendiri. “Kalau di Adlon, aduh..nggak bakal sempet mbak. Saya nanti mesti sibuk, jadi mending kondean di sini.” Usut punya usut, Mbak Tuti -yang juga staf sosbud – ternyata adalah penari dan berasal dari Bali. Pantas saja dia sudah tidak canggung mengonde-ngonde rambut. Karena ternyata lama (tidak jam 12.00 seperti yang dijanjikan) maka saya mondar mandir di KBRI dan akhirnya berkenalan dengan bapak-bapak yang sedang memanfaatkan “smoking area” (balkon). Ada seorang yang sudah tinggal di Jerman selama 20 tahun. Tapi katanya, dia bukan yang paling lama, ada yang sudah 40 tahun.

Sekitar jam 13.00 saya, Mbak Tuti, Mas Apung, dan dua orang staf lainnya berangkat ke Adlon. Sesampainya di sana saya berkenalan dengan Bapak Rudolf Smend dan Joachim Blank. Pak Smend adalah kolektor batik, dan Pak Blank seorang seniman yang beberapa karyanya menggunakan teknik batik juga. Semua batik koleksi Pak Smend antik dan indah. Saya sampai takut memegang, takut salah. Tapi beliau sangat ramah dan rendah hati, sebelumnya saya sudah sempat berkomunikasi dengan beliau via email. Dia diundang khusus oleh KBRI untuk memamerkan batiknya sebagai ‘side event’ dari resepsi diplomatik kali ini. Setelah ganti baju (dan dikonde sama Mbak Tuti juga), sayapun siap melakukan demo membatik. Awalnya, Pak Smend sempat menawari saya untuk menggunakan salah satu kain antiknya sebagai kemben, tapi selain kurang percaya diri, saya merasa akan kedinginan dan ada kemungkinan juga kainnya bakal rusak kalau saya pakai. Hehe, akhirnya saya mengenakan kebaya encim cantik berwarna kuning yang saya bawa dari Semarang, sebagai sarungnya, Pak Smend meminjamkan salah satu koleksinya yang belum terlalu rapuh.

Palaissaal,Adlon Kempinski,tempat acara diselenggarakan.

Inilah saya yang sedang membatik, sampai lupa makan!

Saya tidak menyangka, bahwa banyak orang yang tertarik melihat apa yang saya lakukan. Kebetulan saya membatik dengan motif Bokor Kencono. Saya sudah siap-siap sejak awal untuk bercerita mengenai motif ini, bahkan sudah menyiapkan versi Bahasa Jermannya. Beberapa tamu jongkok di samping saya dan menanyakan tentang proses membuat batik. Bagaimana kalo mau dua warna, tiga warna, dan seterusnya. Saya jawab setahu dan semampu saya, tapi sepertinya sih cukup meyakinkan. Saya terus membatik sampai Mas Apung datang dan menanyakan apakah saya mau makan atau tidak. Akhirnya setelah melihat tamu sudah mulai sepi dan acara sudah hampir selesai, sayapun masuk ke ruang resepsi dan makan nasi goreng. Enak!

Rendang adalah salah satu menu yang disajikan. Mas Apung cerita bahwa yang membuat adalah chef dari Hotel Adlon dengan supervisi KBRI, yaitu¬† Mas Apung sendiri. Hasil akhirnya ternyata memuaskan banyak orang. Beberapa menu lainnya adalah kerupuk udang, pangsit, dan ayam kecap. Pencuci mulutnya tidak khas Indonesia, tapi tetap saja tidak mengurangi suasana “Indonesia” malam itu. Sambil makan, saya berbincang dengan Bu Birgit dan Pak Smend. Saya bertanya, yang mana Duta Besar Indonesia. Bu Birgit lalu menunjuk seorang bapak dan seseorang (saya lupa siapa) berkata pada saya bahwa Pak Edi -si Dubes-berasal dari Semarang.


Rendang ala Adlon

Ketika acara sudah benar-benar akan berakhir, saya berfoto bersama istri Dubes dan ibu-ibu KBRI lainnya. Lalu saya menuju ruang ganti karena sudah tidak tahan pakai kain. Ketika keluar dari ruang ganti, rombongan Duta Besar lewat. Pak Edi menyalami saya dan berkata, “terima kasih ya Mbak, bagus sekali lho mbatiknya.” Saya mengucap terimakasih kembali dan bertanya, “bapak orang Semarang, ya?” Lalu dengan girangnya dia bilang iya, menanyakan saya orang Semarang juga atau bukan, Semarang nya sebelah mana, dan lain-lain.

Bersama Pak Smend, Bu Dubes, dan Pak Joachim. Mereka yang ditengah itu. Sebelah kanan saya Mas Apung. Dan yang lain adalah ibu-ibu KBRI (apa iya ya?)

Saya dan Mas Apung pulang pukul 22.30, saya menginap di apartemen Mas Apung yang ternyata sangat dekat dengan Adlon. Ketika mau tidur, saya baru sadar bahwa saya belum mandi sore tadi. Tapi saya sama sekali tidak berpikir untuk mandi saat itu, karena sudah ngantuk dan capek. Setelah ngobrol sebentar sama Mas Apung, sayapun tidur. Dan Mas Apung baik sekali karena membiarkan saya tidur di kamarnya, sementara dia tidur di kamar tamu bersama tumpukan cucian. Bulan depan kebetulan saya harus ke Berlin lagi, dan sudah janjian sama Mas Apung untuk menginap di sana lagi. Terimakasih Mas Apung ūüôā

Esoknya, saya kembali ke KBRI untuk membicarakan workshop batik bulan Oktober yang akan datang. Jam 12.30 Mas Apung dan Bu Birgit mengantar saya ke Hauptbahnhof, di jalan sempat foto-foto sebentar di lapangan yang ternyata bekas penjara. Di lapangan itu masih ada satu sel yang dibiarkan utuh. Dan kalau kita masuk sel itu, tiba-tiba keluar suara dengan musik latar yang mencekam mengiringi suara orang yang memberikan testimoni seperti apa rasanya dipenjara. Saya nggak kebayang kalau masuk ke situ malam-malam apa jadinya ya? Karena kereta saya pukul 14.48, kami masih sempat makan siang di stasiun. Setelah itu belanja souvenir.

di depan bekas sel, yang jadi semacam monumen

bersama Bu Birgit Steffan, yang baikkkkk banget

Mas Apung dan Bu Birgit harus kembali ke kantor segera karena jam makan siang sudah habis. Maka sayapun jalan-jalan sendiri di Hauptbahnhof. Saya belanja suvenir lagi dan lagi. Lalu jalan-jalan. Kemudian dengan sangat santai saya berjalan menuju Gleis (jalur) 2, tempat kereta menuju Dresden berangkat. Ketika saya melihat ke jalur itu, sudah ada kereta di sana. Lalu saya melihat jam, sudah pukul 14.46! Saya panik karena satu persatu pintu mulai ditutup, dan orang-orang di luar kereta (para pengantar) sudah pada melambaikan tangan pada yang di dalam. Tanpa pikir panjang saya lari dan melompat ke wagen (gerbong) terdekat yang pintunya masih buka. Saya pikir, gerbongnya salah kan tidak apa-apa yang penting sudah masuk. Akhirnya setelah salah duduk satu kali, bertanya berkali-kali, saya menemukan gerbong yang benar. Lain kali, saya berjanji pada diri sendiri untuk duduk manis menunggu kereta walaupun masih lama. Huahh…

So, auf wiedersehen, Berlin!