Gemäldegalerie Alte Meister Dresden, Surga Di Teriknya Musim Panas

Hari ini saya berkesempatan mengunjungi Gemäldegalerie Alte Meister Dresden. Galeri tersebut letaknya di tengah kota tua, di sebelah selatan Sungai Elbe. Galeri ini berada di dalam Zwinger, salah satu bangunan terkenal di Dresden dan merupakan salah satu dari 13 museum/galeri yang berada di bawah naungan Staatliche Kunstsammlungen Dresden (SKD). Bisa ditebak dari namanya :“Alte Meister” atau “Old Master”, galeri yang pernah hancur pada jaman perang dunia kedua ini menyimpan lukisan-lukisan dari para pelukis terkenal dari abad 15 sampai 18.

Pintu masuk, hanya boleh memotret sampai di sini 😀

Berada di dalam galeri megah dengan interior yang mewah, saya benar-benar merasakan atmosfer dari Eropa pada masa-masa pelukis-pelukis tersebut berkarya. Galeri Alte Meister memiliki banyak ruangan. Ruangan membagi karya beradasarkan tempat dan era (abad) dari sang pelukis berasal. Pembagian tersebut memudahkan pengunjung untuk mengenali karakteristik karya dari tiap pelukis dan masa saat lukisan tersebut dibuat.

Galeri ini memamerkan karya dari seorang pelukis Italia yang terkenal bernama Raffaelo Santi (1483-1520), berjudul Die Sixtinische Madonna/ The Sistine Madonna/  Madonna Di San Sisto (saya menduga yang terakhir adalah judul aslinya karena ditulis dalam Bahasa Italia). Sebelumnya lukisan berukuran lumayan besar ini disimpan di sebuah gereja di San Sisto, Piacenza, Italia dan akhirnya dibawa ke Gemäldegalerie Alte Meister Dresden pada tahun 1754. Lukisan ini adalah salah satu lukisan tentang Madonna, atau biasa kita kenal dengan sebutan Bunda Maria, yang terkenal. Karya ini sempat direlokasi ke Rusia setelah perang dunia kedua.

Madonna Di San Sisto, by Raffaelo Santi, 1513 (gambar diambil dari Wikipedia)

Pelukis terkenal lain yang karyanya bisa kita nikmati di galeri empat lantai ini adalah Rembrandt van Rijn, seorang Belanda yang lahir di Leiden pada tahun 1606, yang juga merupakan salah satu pelukis kenamaan dalam sejarah seni Eropa. Kemudian tentu saja ada beberapa lukisan dari Bernardo Belloto atau Canaletto yang melukis beberapa sudut kota Dresden. Canaletto adalah seorang seniman yang berhasil mengabadikan kota Dresden di era Baroque dalam lukisan-lukisannya. Itulah sebabnya galeri ini memiliki program bernama Danke Für Canaletto.

Monumen Canaletto View atau Der Canaletto Blick, sebagai ungkapan penghargaan atas Bernardo Bellotto (Canaletto) yang melukis Dresden, terutama pemandangan Altstadt dari tepi utara Sungai Elbe.

Keindahan lukisan dari pelukis-pelukis tersebut berpadu harmonis dengan kemegahan bangunan galeri. Di dalam galeri disediakan sofa-sofa yang nyaman untuk duduk dan menikmati lukisan-lukisan besar yang terawat dengan sangat baik. Pengunjung bahkan bisa meminjam sebuah alat khusus (dengan harga sewa 3 Euro), untuk mendengar sejarah dari lukisan-lukisan tersebut. Alat ini berbentuk seperti telepon genggam, dengan memencet kode yang ada di samping (hampir) setiap lukisan, maka mereka bisa mengetahui sejarah dan cerita menarik di balik tiap masterpiece tersebut.

Bagi saya, mengunjungi galeri ini tidak bisa hanya sekali. Karena banyak sekali lukisan dari ruangan ke ruangan, sudut ke sudut yang memiliki daya tarik magis yang tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata. Saya benar-benar merasa seperti di dalam surga!

Advertisements

This is “West”

Seperti yang sudah saya ceritakan di tulisan sebelumnya, saya mendarat di Berlin pada tanggal 9 Agustus, lalu naik bis ke Dresden. Setelah sampai Dresden, saya dijemput Dita di Hauptbahnhof (stasiun utama) Dresden dan naik trem ke apartemen Gilang di Parkstrasse 5., yang sekarang namanya sudah diganti jadi Gret-Palucca-Strasse 9. Nah, setelah istirahat sebentar, Dita datang lagi sekitar jam 5 sore untuk mengajak mengenal cara menggunakan trem, berbelanja di supermarket dan membeli handphone. Dia juga ngajarin gimana cara nyebrang jalan di sini. Pas jalan-jalan sama Dita saya menyempatkan ke toko buku namanya Hugendubel, terus langsung beli buku 😀 kayaknya kemana-mana yang dibeli harus buku!

Trem di Dresden, nama perusahaannya DVB (Dresdner Verkehrsbetriebe)

Nah, keesokan harinya, dalam kondisi masih jetlag saya memutuskan untuk jalan-jalan sendiri. Padahal saat itu saya belum punya peta trem. Hanya berusaha mengingat-ingat apa yang dikatakan Dita kemarin. Surprisingly, saya berhasil menemukan kantor tempat saya bekerja. Padahal tempatnya agak jauh, di daerah Klotzsche sudah agak utara Dresden ke arah bandara. Saya sudah biasa naik angkutan umum sendiri, baik ketika di Jogja atau di Semarang. Jadi saya tidak merasa ada yang spesial banget ketika saya berani naik angkutan sendiri. Toh di sini angkutan umumnya bersih dan supirnya nggak iseng :p Tapi ternyata ketika Gilang menelepon untuk mengecek keadaan saya, dia kaget mendengar saya bisa naik trem sendiri sampe Klotzsche. Hehehe…

Lalu hari-hari berikutnya berjalan dengan sendirinya, saya belajar hal baru setiap hari. Termasuk gimana caranya nggak panik kalau naik mobil, karena saya nggak biasa melihat atau berada di dalam mobil yang jalan di sebelah kanan jalan. Aneh. Saya juga belajar melakukan segalanya dengan cepat. Jalan cepat, naik trem dan milih tempat duduk cepet-cepet (soalnya keburu tremnya jalan ntar ngguling), belanja dan bayar di kasir cepet, apalagi ya? Ah! Orang Jerman kalo ngomong cepetnya bukan main, jadi harus bisa menyerap semua dengan cepat juga. Saya nggak membayangkan gimana kalo orang Perancis ngomong, yang katanya lebih cepet lagi.

salah satu hal yang saya (suka) lakukan sendiri di Dresden, duduk-duduk di tepi sungai Elbe

Di Jerman, ketika orang-orang makan di resto atau kedai makan, jangan harap ada yang namanya dilayani berlebihan. Masing-masing bawa nampan dan nanti setelah selesai makan, nampan beserta piring dan gelas bekas ditaruh di semacam rak khusus. Setelah rak itu penuh, baru petugas akan membawanya ke dapur untuk dicuci. Kecuali mungkin untuk restoran-restoran yang agak lebih mahal, misalnya yang di daerah turis. Awalnya saya sempet nggak biasa dan salah tingkah, karena kadang-kadang saya ga tau dimana mereka meletakkan rak itu, jadi celingak-celinguk dulu setiap kali mau masuk ke kedai makan.

Semuanya terlihat baik-baik saja dengan cara mereka hidup. Kenapa ya ada yang bilang bahwa so called west culture itu buruk? Dimana jeleknya? Menurut saya mereka sangat efisien. Yang perlu dilayani ya dilayani. Kebutuhan orang untuk berpergian mereka layani dengan baik dengan menyediakan alat transportasi yang bagus, tapi mereka tidak membuang banyak tenaga untuk melayani orang untuk hal-hal yang sebenarnya bisa dilakukan sendiri (seperti membawa nampan itu tadi). Mereka juga selalu mengucapkan salam satu sama lain. Bahkan di lift, dengan orang-orang yang tidak mereka kenal. Ketika ada orang yang keluar duluan dari lift, orang-orang yang masih tinggal di dalamnya akan berseru : “Tschuss!” Posisi perempuan dan laki-laki juga sama. Sama-sama manusia. Jarang sekali ada perempuan yang dilecehkan di jalan, seperti dipanggil-panggil atau disiul-siulin. Kadang-kadang saya merasa tidak dianggap manusia kalau lagi digodain di jalan di negara saya. I will confront them next time. I promise.

begini nih, bawa sendiri makanan ke meja, setelah selesai beresin sendiri 🙂

 

Dresden, The Beginning

So, here I am in Dresden. I departed from Jakarta at 19.30 WIB and I arrived in Dresden the next day at 12.15 AM (German Time, I still don’t know what that called). So, August 9th will be noted in one of my historical dates. Ini adalah pengalaman pertama buat saya. Naik pesawat sendiri, ke luar negeri, dan tinggal di tempat baru sendirian. My flight was nice, but not so nice. Tapi ketika orang-orang bilang bahwa terbang dengan Lufthansa itu menyebalkan, bagi saya….hmmm… The services were good and the flight attendants were nice. I mean who the hell needs a bloody tall, skinny,young, pretty, and smiling-all-the-time type of flight attendants? The Lufthansa crews are nice enough for me. And the foods were delicious, yeah well since I’m a western minded type of girl. Oh, and one of the flight attendants even really looks like Lucy Liu.

Ketika saya transit di Changi, saya belum merasa terlalu emosional, walaupun katanya Changi adalah bandara yang bagus, tapi kan masih di Singapura. Hehe…seorang petugas yang ternyata orang Indonesia, bertanya pada saya “mau kemana ini?” saya jawab, “Eh, ke Berlin”. Dia mengecek paspor saya, dan saya melirik name tag nya. Logatnya bukan logat Malaysia, jadi saya yakin dia orang Indonesia. Tapi namanya Malaysia banget (walaupun sekarang sudah lupa siapa namanya). So he’s an Indonesian man, with Malaysian name, working in Singaporean airport. Tas saya di cek dan seorang petugas perempuan bertanya, “can I see your nelkarte?” hah? Apa dia bilang? Saya nangkepnya karte=card=kartu, makanya saya tunjukin lagi boarding pass. Terus dia bilang, “no, no, nail kate”. Sambil tangannya memperagakan orang lagi gunting kuku. Owalah, gunting kuku maksudnya. Dan gunting kuku sayapun harus ditinggal di Changi. Hihihi…

And after that was an almost 12 hours flight from Singapore to Frankfurt. Dan ketika mendarat di Frankfurt, saya bener-bener harus lari-lari karena pesawatnya baru nyampe jam 05.30 dan saya harus mengejar connecting flight ke Berlin pukul 06.20. Walaupun masih ada waktu 50 menit, tapi saya masih harus melewati pos pengecekan paspor (yang dijaga ketat oleh polisi imigrasi) dan lugagge check, yang selalu membuat saya nervous. Di pos polisi imigrasi tadi, saya ditanya “Sprechen Sie Deutsch?” dan saya jawab dengan lancarnya : “Ein bischen (sithik)”. Polisi tadi senyam senyum, trus nanya lagi dalam bahasa Jerman yang saya ga jelas apa tapi tau artinya, kurang lebih dia nanya : “jadi mau praktikum di Dresden?” saya jawab, “Ja, im Museum.” Trus dia nanya lagi pake bahasa Inggris, “Where will you stay in Dresden?” Saya jawab, “ In my friend’s apartment. I’ll stay there, he is having Urlaub, I think”. Dan kemudian saya berpikir, jawaban macam apa itu. But anyway, he stamped my passport. Yay!

Frankfurt International Airport

Lalu ke Lugagge Check. Saya berusaha menjadi orang yang cekatan, saya nggak mau dianggap sebagai orang Indonesia yang lamban. Hehe… Tapi begitu sudah lolos, ketika menunggu semua barang saya turun dari rail (apa sih namanya) saya sempet terpana melihat ke monitor x-ray yang dikontrol oleh seorang petugas. Sampai seorang petugas lain di depan saya mengangkat tangannya ke atas sambil bilang, “Hey Miss, is this yours?” Lalu saya panik dan mengambil laptop saya dari nampan sambil bilang “ Ups, sorry”. Dan mas-mas officer tadipun tertawa, “ It’s okay, early in the morning, huh?” Yaya, but nope. It’s just me being ndeso.

Berlin Currywurst

Frankfurt to Berlin was quite short, maybe because that 12 hours experience on board I just had before. Dan begitu sampai di Berlin saya merasa lega karena berakhir sudah drama luggage and passport check! Hah! Berlin is where I actually felt the real weather of Germany. Because in Frankfurt I just ran from one terminal to another, but still inside the building. It IS cold. It is summer, but cold. Di Berlin saya dijemput saya Ceri, temennya Maestro, dan sama seorang petugas KBRI bernama Birgit. Lalu setelah ngobrol sambil makan Currywurst saya naik bis ke Dresden, nama bisnya Berlin Linien Bus. Di Dresden, saya turun di Hauptbahnhof dan dijemput sama orang Indonesia lainnya bernama Mas Dita. Dan saya diantar ke tempat dimana saya akan tinggal selama 49 hari kedepan, di apartmennya Gilang. Enough for today. Mau tidur dulu. Akhirnya gelap juga….dari tadi nungguin kapannnnnnn gelapnya.

Selasa, 9 Agustus, 22.17