ROCK,SCISSORS,PAPER and…..(freakin’) DEUTSCH

The Rock, The Scissors and The Paper

Akhirnya hari yang ditunggu datang juga! Pembukaan pameran saya yang pertama, tanggal 15 Juli 2011 kemarin berjalan dengan baik. Oh ya, judul pamerannya adalah Rock, Scissors, Paper. Judul ini tiba-tiba saya temukan ketika lagi ngalamun. Dan ternyata cocok. Lilian pakai batu-batuan, saya pastinya pakai gunting dan Komo adalah kartunis dan karikaturis yang selalu pakai kertas. Saya datang pada hari itu sekitar jam 5 sore. Nyiapin ini itu, buka-bukain plastik yang masih menyelubungi karyanya Lilian dan Komo, membetulkan letak burung hantu-burung hantu saya, memasang judul karya dan nama seniman, lalu menata gorengan di atas piring. Hehe.. Sekitar jam 8, pembukaan pameran dimulai.

Banyak teman-teman yang datang, meskipun saya tidak terlalu mengenal mereka. Tapi saya sangat senang atas waktu dan apresiasi yang mereka berikan. Pameran dibuka oleh Bu Atie Krisna, pemilik Galeri Bu Atie yang juga seorang seniman. Walau saya baru pertama kali ketemu Bu Atie Krisna malam itu, saya dan beliau sudah terhubung oleh hubungan perteman orang-orang terdekat di sekitar kami.

Anyway,banyak sekali pertanyaan yang saya dapat malam itu. Apakah saya akan serius menekuni dunia seni, apa saya sudah punya brand sendiri, apa saya mau pameran lagi dan lain sebagainya. Semua itu saya anggap sebagai doa yang akan sangat menyenangkan sekali kalau memang bisa terjadi (jawaban sok artis). Yang jelas, saya yakin bahwa apa yang saya lakukan selama ini –menjahit- ternyata tidak sia-sia. Banyak orang yang penasaran bagaimana saya bisa membuat ini dan membuat itu. Padahal saya sendiri selalu merasa banyak orang yang bisa melakukan apa yang saya lakukan. Menjahit itu tidak sesulit melukis atau menggambar.

Ada hal yang membuat saya agak sedih malam itu, yaitu ketidakhadiran Komo dan Lilian. Bukannya saya merasa jadi repot sendiri –saya sama sekali tidak keberatan, tapi rasanya sepi nggak ada mereka. Saya merasa suasana akan lebih hidup kalau mereka ada. Really miss them. Dalam tulisan singkat ini saya ingin berterimakasih pada Bu Inge, Pak Seno, dan Bu Atie Krisna yang sudah mendukung selama persiapan pameran sampai pembukaan. Tidak lupa saya ucapkan terimakasih pada sahabat terbaik saya, Elina, yang menyempatkan datang sendirian malam itu dan juga merelakan dirinya jadi juru foto. And to my best hang-out buddies di Semarang : Galang, Lina dan Mean, yang datang di menit-menit terakhir. Maaf lupa ngabari, hehe…

Selama pameran berlangsung, sampai hari ini, saya bertemu dengan beberapa pengunjung pameran dan menyempatkan ngobrol sama mereka.Beberapa diantaranya nggak nyangka kalau yang bikin karya dari kain perca itu saya, mereka pikir yang bikin sudah oma-oma dan selo. Saya berkenalan dengan seorang bapak yang sudah cukup berumur, bernama Pak Pudak Sumirat. Beliau adalah seorang tionghoa, pelukis dan mengajar di activity club-nya Gramedia Semarang. Beliau mengajari anak-anak SD melukis dan menggambar. Pak Pudak suka sekali bercerita, mungkin efek karena udah tua ya?

Begitu tau bahwa saya sedang melakukan riset soal budaya tionghoa, Pak Pudak berjanji akan meminjami saya sebuah buku tentang sejarah suku bangsa di Indonesia. Katanya bukunya buku lama, belinya di loak. Saya segera menghilangkan harapan bahwa buku yang dimaksud itu adalah bukunya Lombard, Nusa Jawa itu…yang sampai sekarang belum mampu saya beli. Hiks. Tapi, saya tetep pengen baca bukunya. Lama-lama saya merasa bahwa sebenarnya, above every issues or topics, saya lebih suka sejarah. Mungkin ini juga yang bikin saya suka suka museum, because from every tiny object, there comes the story behind it.

Pak Pudak berjanji akan mengusulkan kegiatan menjahit di klub-nya Gramedia, dan saya bisa menjadi pengajar di sana. Yey! Pengunjung berikutnya adalah dua orang tante-tante, yang rumahnya di Jalan Indraprasta, Semarang. Salah satu diantara mereka bernama Tante Sari. Yang membuat saya terkesan adalah, bukannya mau membeli karya, beliau malah nawarin saya kain perca. Ternyata Tante Sari ini adalah seorang penjahit. Hehehe…baiknya…katanya nanti kalau sudah terkumpul banyak, mau dianter ke Widya Mitra.

Karya bersama, Noah's Return To Paradise

Jadi itulah sedikit cerita soal pameran Rock, Scissors, Paper –pameran Lilian, saya dan Komo, yang masih berlangsung sampai tanggal 23 besok. Besok!! Semoga lain kali saya masih bisa pameran lagi, karena ternyata ada beberapa hal yang saya sesali, yang terjadi karena kurangnya persiapan, but better not mention them here.

Untuk melihat foto-foto lainnya silahkan klik di sini dan di sini.

Auf Deutsch, bitte!

So, berikutnya saya akan cerita soal lika-liku belajar bahasa Jerman. Siapa bilang Deutsch ist einfach? Bahasa Jerman itu susah bung! Coba-coba bayangin aja, banyak sekali jenis “the” dalam Bahasa Jerman : Der, Die, Das, Dem, Den, Des. Nah selain dipakai untuk membedakan maskulin, feminin, dan neutral, artikel-artikel itu dipakai juga untuk membedakan plural-singular, dativ-akkusativ-genitiv. Belum lagi untuk mengetahui apakah obyek itu dativ atau akkusativ, kita harus tau preposisi apa yang diikuti dativ atau akkusativ, terus terus verba apa yang diikuti dativ atau akkusativ. Aturan untuk verba dalam Bahasa Jerman juga lebih rumit dari Bahasa Inggris.

Tapi ada satu hal yang membuat saya bersyukur, ternyata saya punya kepekaan terhadap bahasa. Jadi kadang-kadang saya bisa langsung tau bentuk perfekt atau praeteritum dari sebuah verba tanpa harus melihat contekan. Yang penting tau aturan-aturan dasarnya, terus nebak aja, dirasa-rasain pantes apa enggak. Hehe.. (nyombong dikit boleh lah ya). Hal ini juga yang membuat saya semangat belajar Bahasa Jerman –selain karena harus. Saya agak sebel karena buku pelajaran Bahasa Jerman yang saya dapet dari tempat les itu : fotokopian. Padahal saya sudah mendambakan belajar bahasa dengan buku yang warna-warni dan banyak ilustrasi yang lucu-lucu. Iya, saya memang orang yang lebih mudah belajar kalo teks yang saya pelajari itu warna warni. Dulu dosen kesayangan saya, Mbak Dike, pernah bilang bahwa memang ada orang dengan tipe seperti itu. Sepertinya dia pernah nulis soal macam-macam gaya mencatat yang ada kolerasi dengan bagaimana cara orang belajar/ karakter orang. Tapi saya lupa dia nulis dimana ya? Pas itu belum ada fesbuk soalnya.

Yang saya kagum dari bahasa ini adalah, mereka punya istilah untuk menggambarkan semua hal. Misalnya dalam tema liburan, mereka punya kata Ausflug, untuk menggambarkan tur yang dilakukan dalam sehari, Stadtrundfahrt, yang artinya keliling kota, Picknick, yang artinya piknik=pergi untuk leisure, tapi hanya beberapa jam, dan Urlaub, yang artinya liburan, selama beberapa hari ke luar kota/negeri. Adakah yang tau apa istilahnya dalam bahasa lain? Begitu juga dengan motor. Ada Mofa, Moped, Motorat dan moge…hehe enggak ding. Mofa itu kalau nggak salah motor matic, Moped itu motor biasa, kalau Motorat itu ya moge itu tadi. Motor gede. Saya nggak tau apakah diferensiasi istilah ini benar-benar digunakan di sana. Harus dibuktikan kebenarannya.

Di level 2 ini, saya juga punya teman-teman yang lebih lucu. Eh, sebenernya temennya hampir sama sih sama yang di level 1, mungkin karena dulu pas level 1 kelasnya dipisah dan sekarang 2 kelas itu digabung, jadi terasa lebih rame. Dan juga, kita sudah lebih saling mengenal, jadi di kelas udah nggak jaim lagi dan bisa bercanda semaunya. Saya jadi sedikit sedih harus meninggalkan kelas ini lebih awal.

Nah, saya juga paling seneng kalo dapet PR, Homework, Hausaufgaben. Mungkin ini efek dari belum kesampean sekolah lagi. Jadi tugas sesepele apapun akan saya anggap serius, seserius bikin paper. Hihihi…dan inilah essay pertama saya dalam Bahasa Jerman. Soal Klenteng Tay Kak Sie. Click to enlarge.

My first German essay 😀

Selamat Datang Tahun Ajaran Baru!!

Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah. Dari dulu saya selalu berusaha menghindari perilaku atau pemikiran bahwa hari pertama masuk sekolah adalah hari yang hectic. Pakaian harus rapi, alat tulis lengkap, tas wangi, NGGAK PENTING. Yang penting sekolah. Sekolah aja kok repot. Satu lagi sih yang penting, Tere harus potong rambut. Karena rambutnya yang panjang itu menambah waktu sekitar 10 menit sendiri untuk siap-siap di pagi hari. Tapi karena hari ini tukang potongnya nggak ada, mungkin baru besok dia akan dipotong rambutnya. Biar praktis!

Well, saya juga bukan orang yang terlalu suka cerita soal bagaimana Tere di hari pertama tahun ajaran baru. Sekolah ya sekolah aja. Sekolah kok ndadak dibahas. Lagian ini juga sudah tahun ke-2 nya di TK. Jadi biasa aja. Lalu mengapa saya menulis? Sebenarnya sudah sejak tahun lalu saya ingin menulis, tapi entah kenapa dulu tidak jadi.

Jadi begini. Saya rasa, sekolah-sekolah di seluruh Indonesia, terutama sekolah yang sudah mapan, harus mulai merenung. Mau itu international school kek, RSBI kek, SBI kek, sekolah swasta, negeri atau apapun itu. Karena THEY DO ASK TOO MUCH!!! Tahun ini (seperti halnya tahun lalu), saya mendapatkan list perlengkapan alat tulis yang harus dibeli untuk tahun ajaran 2011/2012. Totalnya 267.000. Mungkin bagi sebagian orang itu bukan harga yang mahal. Tapi buat saya, 267.000 itu banyak. Apalagi kalau tau apa saja barangnya. Dan itu belum termasuk uang seragam dan buku paket.

Barangnya yang tidak masuk akal antara lain mulai dari 3 buah tempat pensil, gunting, rautan, pensil tulis, dan penghapus. Penghapus? Are they insane? Penghapus saja harus kembaran? Ya itulah alasan yang mereka berikan pada saya ketika saya tanya : “Bu, kenapa saya harus beli tempat pensil lagi? Kan tahun lalu sudah?” Si ibu guru (yang sebenarnya saya suka sama dia, karena dia baik dan sabar, but for this case, everybody turns into evil) menjawab : “karena tahun ini warnanya beda bu, tahun lalu kan merah kuning ijo, tahun ini pink, biru dan ungu (kalo ga salah).” Sayapun melirik dengan benci ke kardus tempat menyimpan tempat-tempat pensil itu. Memang warnanya ganti.

Pertanyaannya : 1. Kenapa warnanya harus ganti setiap tahun sehingga seolah-olah menciptkan kebutuhan untuk beli lagi? 2. Kenapa harus beli yang baru? Punya Tere yang dulu masih bagus kok 3. Memangnya kalo ga kembaran kenapa? Apakah semua-semuanya haru kembaran?

Dulu saya ingat gurunya pernah bilang : “Bu, nanti kasihan anaknya kalau penghapus, gunting sama setipnya beda-beda.” Kasihan? Saya nggak merasa kasihan sama Tere bahkan kalau peralatan tulisnya beda sendiri atau paling belel di kelas (selama masih bisa digunakan, tinta tidak habis, tidak sobek). Dan sejauh pengetahuan saya, Tere bukan anak yang kepinginan (untuk alat tulis). Bahkan ada alat tulisnya yang sudah dipakai sejak play group dan sampai sekarang masih bagus.

Gurunya juga memberi alasan bahwa kalau punya Tere beda sendiri, nanti dia bingung karena kondisinya biasanya begini : misalnya anak-anak satu kelas pensil warnanya ditaruh di tempat pensil warna pink, maka ketika mau mewarna menggunakan pensil warna gurunya akan bilang “ambil tempat pensil warna pink!” Bagi saya, itu keliru. Mungkin kalau anak-anak BARU SAJA BENAR-BENAR belajar warna, itu memang cara yang efektif. Anak-anak ini sudah ngerti warna semua, jadi sebenernya, bilang aja, “Hari ini kita akan mewarna menggunakan pensil warna, ambil pensil warnanya.” Kalau katanya metode mengatur -alat tulis jenis apa dimasukkan ke tempat pensil warna apa- ini mempermudah, mempermudah siapa? Gurunya apa muridnya?

Beberapa yang masuk akal dari daftar itu adalah : buku tugas dan buku kegiatan, karena memang disablon nama sekolahnya. Pensil warna isi 24, karena dia dulu TK A pensil warnanya hanya isi 12, buku tabungan, map untuk portofolio dan buku konsultasi. Tempat pensil sebenernya termasuk salah satu yang disablon nama sekolah, tapi bukan berarti setiap tahun harus ganti kan? Ada nggak sih yang merasa ini terlalu aneh dan mengada-ngada.

Saya jadi kawatir, justru kebiasaan bahwa semuanya harus kembar-kembar itulah yang bikin anak-anak mudah iren. Bukankah sebenarnya semuanya baik-baik saja bila alat tulis anak-anak itu beda-beda? Besok-besok kalau mereka tidak punya apa yang dimiliki temannya, tidak sama, atau tidak kembar, jangan-jangan mereka protes karena sudah dibiasaakan sejak kecil bahwa semuanya itu harus sama adanya. Lagi-lagi, it’s a school then it’s bussiness. Shit. Tapi tetep aja saya mikir, mereka itu masih harus nyari uang ya? Nyari keuntungan? It’s a Catholic school for Christ Sake!!