Masih Pentingkah?

Sebenarnya, saya sudah menduga, kalau ada film Indonesia yang baru keluar dan mengangkat tema yang nggak saru, nggak porno dan mengangkat soal agama, pasti langsung muncul polemik. Bagus juga sih, akhirnya bangsa ini menjadi bangsa yang kritis. Tapi saya sebel dan mikir, can’t we just watch it and shut up? Saya nonton film “?” dua kali. Yang kedua dibayarin, jadi saya mau nonton lagi. Kalo nggak ya nggak mau, karena tidak seperti Finding Nemo, film ini nggak lucu untuk ditonton berkali-kali.

Hehehe… Tapi saya rasa daripada bersikap sinis, lebih baik saya menuliskan apa yang membuat saya suka sama film ini, selain karena Rio Dewanto ternyata ganteng.

1. Saya suka film ini karena syutingnya di Semarang. Jadi sebenernya itulah alasan utama saya berangkat ke bioskop untuk nonton film ini. Apalagi, hampir semua settingnya pernah menjadi makanan saya sehari-hari : pecinan, kota lama dan gereja Karang Panas. Jujur kalo misalnya syutingnya ngga di Semarang, saya juga belum tentu sesemangat itu untuk nonton film ini. See? I’m that melancholic.

2. Karena menurut saya, film ini cukup real. Memang sih adegan Ping Hen pisuh2an sama sekelompok orang Islam itu kayaknya udah jarang banget terjadi, tapi aku pikir ungkapan “Cino” dan “Teroris asu” itu adalah ungkapan suara hati kebanyakan orang Indonesia yang diam-diam, atau tidak diam-diam mengumpatkan kata-kata itu ke udara…pas lagi ngobrol sama temen-temen, pas lagi bercanda, pas lagi nonton tivi soal terorisme. Who knows? Yang jelas, saya pernah, mengucapkan keduanya. Masalah masakan babi, itu juga issue di Semarang. Well sebenarnya bukan masakan babinya sih. Tapi paling enggak kasusnya serupa. Jadi umat Kong Hu Chu dan Tri Dharma itu biasanya kalo sembahyang pake arak putih. Nah, selama bulan puasa, arak putih tidak dijual (atau dilarang, ya?) karena yang punya toko kelontong di pasar Gang Baru takut tokonya digerebek. Padahal, itu untuk keperluan sembahyang. Jadi pernyataan Ping Hen sesaat sebelum Tan Kat Sun meninggal, “Saya ngerti kenapa papi selalu menghormati mereka yang berbeda agama, walaupun mereka nggak menghargai papi” itu nyata. Karena saya pernah bertemu dengan orang Cina di gang baru yang mengalami hal yang kurang lebih sama. So that shit happens guys. Dan aku pikir apakah ada yang tau? Saya rasa, tidak banyak. Jadi ini bukan hal yang tidak layak diangkat ke film.

3. Karena menurut saya, film-filmnya Hanung selama ini hanya mengangkat kebaikan dari agamanya saja. Tapi baru kali ini saya melihatnya mengangkat dari banyak sisi. Dan apakah kebaikan yang diangkat dari banyak sisi agama itu keluar dari kaidah agama itu? Saya rasa, lucu kalau ada yang berpendapat begini. Karena pada intinya agama itu : cinta akan sesama dan Tuhan. Setidaknya begitu yang coba disampaikan film ini. Dan, terlepas dari penafsiran akan apa itu Tuhan menurut masing2 agama, film ini cukup konsisten dalam menyampaikan pesannya. Dan film ini yang bikin kan manusia juga.

Kemarin ketika keduakalinya saya nonton tanda tanya, saya duduk disamping 3 orang cewek yang sumpah berisiknya minta ampun. Dan sepanjang film mereka selalu mempertanyakan misalnya kenapa Menuk melarang Surya untuk makan menjelang drama penyaliban Yesus. Tidak banyak yang tahu bahwa orang Katolik berpuasa hari Jumat Agung. Saya juga senang bisa tau apa itu 99 Asmaul Husna, karena ternyata ada beberapa dari 99 Nama Allah itu yang tidak berbeda dengan apa yang diyakini oleh agama saya tentang gelar-gelar Ilahi. Jadi apakah informasi seperti itu masih dianggap tidak ada gunanya? Saya rasa kita harus menghargai edukasi yang kecil-kecil seperti itu. Karena ternyata bagi kebanyakan orang Indonesia, berbeda itu masih penting. Dan salah satu cara untuk menghargai perbedaan ya dengan mengenal orang yang berbeda. Memang terdengar klise banget ya. Tapi itulah konsekuensinya kalau kita mau berbeda dengan damai. Tidak ada salahnya sedikit demi sedikit mengenal orang-orang yang agamanya berbeda, sambil makan pop-corn, while holding hands with your boyfriend or girlfriend in the dark. Kecuali kalau sudah nggak penting. Jadi, masih penting nggak kita berbeda?

Ditulis oleh saya yang sedang berusaha menikmati film saja…