Cemburu

Akhir-akhir ini saya sering merasa cemburu dan iri. Saya kira, perasaan itu manusiawi. Karena setiap orang pasti pernah merasakannya. Kenapa seseorang cemburu? Karena dia tidak mendapatkan apa yang seharusnya bisa dan ingin dia dapatkan, yang seharusnya dia pantas dapatkan. Tapi pada kenyatannya, sesuatu itu diberikan pada orang lain. Dan ketika orang lain itu menjadi lebih baik, lebih tenar dan lebih bahagia karena sesuatu itu, maka kita akan cemburu. Coba saja kalau kita memang merasa bahwa kita tidak pantas mendapatkan sesuatu itu. Misalnya, saya tidak akan cemburu pada Ibu Theresa yang diberi gelar orang suci, atau pada Natalie Portman yang menyabet piala Oscar, atau pada Bono yang mendapat Nobel, atau lebih sederhana, pada teman saya yang menikah dengan seseorang yang kaya raya. Bukannya saya tidak ingin suami saya jadi kaya raya, tapi suami teman saya itu, jelas-jelas bukan orang yang ingin saya dapatkan. So I don’t bother.

Minggu, 6 Maret 2011, sebuah artikel tentang Teater Koma yang mementaskan lakon “Sie Jin Kwie Kena Fitnah” diturunkan oleh Kompas. Ketika membaca artikel ini, saya agak tergelitik oleh rasa cemburu, tapi saya cemburu untuk orang lain. Saya merasa cemburu karena saya rasa sebenarnya pementasan teater, seni pertunjukan atau apapunlah itu, sama seperti politik. Yang besar makin besar, yang kaya makin kaya, yang terkenal makin terkenal. Sie Jien Kwie bukan barang baru bagi saya, paling tidak saya pernah mendengarnya dari Thio Tiong Gie, seorang dalang potehi hebat dari Semarang. Dan saya pernah memegang buku Sie Jien Kwie yang masih beraksara Hokian ketika bertandang ke kediaman beliau, sebuah gang sempit di daerah pecinan, dekat dengan tempat pembuangan sampah.

Bagi saya, Thio Tiong Gie bisa disejajarkan dengan Nano Riantiarno. Ini bukan masalah siapa yang dimuat di koran, karena Thio Tiong Gie pun pernah masuk koran (dan juga Kompas) beberapa kali. Ini soal apresiasi kita terhadap seni, yang ternyata masih terkurung oleh jeruji bernama ketenaran. Dan saya membenci seni dari sudut pandang itu. Sebuah penggalan wawancara dengan Nano di artikel tersebut menyatakan betapa teater koma harus menanggung beban berat ketika dilarang pentas di jaman orde baru. Ah, sama dengan Thio Tiong Gie dan juga Bambang Sutrisno. Mereka semua merasakan susahnya pentas di jaman orde baru.Bahkan Thio Tiong Gie pernah dibawa oleh tentara ke setiap klenteng untuk menerjemahkan aksara Hokian yang ada di tempat-tempat ibadah itu. Hanya untuk memastikan tidak ada kalimat yang berisi propaganda.  Apa yang membedakan mereka? Nasib? Kreatifitas? Saya tidak tahu jawabannya. Yang jelas saya merasa dalang-dalang potehi itu boleh juga tampil di Taman Ismail Marzuki dan menjual tiket pada penonton.

 

Ini cover buku yang berisi cerita Sie Djin Kwie milik Bambang Sutrisno, isinya adalah cerita Sie Djien Kwie salinan tangan Pak Bambang sendiri dalam Bahasa Indonesia.(Anastasia Dwirahmi, 2010)

Saya sedang membaca buku karya Leo Suryadinata berjudul Etnis Tionghoa dan Nasionalisme Indonesia. Dalam bab pertama buku itu (dan ya, saya memang baru membaca sampai bab pertama), ada cerita tentang surat kabar bernama Li Po, yang terbit pada awal abad 20. Surat kabar itu, saking sulit kondisi keuangannya, harus menunggu pelanggan mengirimkan uang berlangganan baru kemudian bisa terbit. Jadi semacam surat kabar yang terbit by request. Sama seperti kedua dalang yang saya sebutkan di atas. Mereka juga hanya tampil by request. Di ulang tahun makco dan kongco, tahun baru cina, cap go meh, dan upacara-upacara lainnya yang biasanya diadakan oleh klenteng atau keluarga Tionghoa kaya. Jadi, apakah bisa kita mengharapkan tiba-tiba mereka tampil dengan kratifitas sedemikian rupa?

Yang lucu adalah, tiba-tiba saya ingat bahwa saya dan seorang sahabat bernama Iid pernah menulis artikel mengenai Thio Tiong Gie (Saujana Potehi di Pecinan Semarang), yang Puji Tuhan mendapat banyak sambutan dan komentar yang positif dari orang-orang di sekitar kami. Tidak lama setelah itu, saya menemukan bahwa Goenawan Muhammad juga pernah menulis artikel yang sama soal Thio Tiong Gie, dengan isi yang kurang lebih sama dan bisa dilihat di sini. Bedanya, saya dan Iid mungkin tidak seterkenal GM. Tapi kami, paling tidak saya, tidak merasa cemburu :). Apa yang kami dapatkan sekarang adalah apa yang kami pantas dapatkan untuk sekarang.

Lalu bagaimana dengan Thio Tiong Gie? Dalang-dalang lainnya? Seniman-seniman lainnya? Apa yang membuat seorang seniman jalanan berbeda dengan seniman yang bisa keliling dunia untuk pameran di galeri-galeri terkenal? Mereka sama-sama bisa menggambar. Saya mempunyai teman seorang seniman, dia berbakat dan terkenal. Pernah pameran di sana dan di sini. Coba kalau tiba-tiba dia membuat satu seri karya yang bertemakan seniman jalanan, misalnya, lukisan wajah. Pasti akan dianggap fenomenal dan cerdas, kritis, inovatif, dan seterusnya. Sedangkan seniman-seniman jalan itu, yang sudah melukis ratusan wajah dan paling banter hanya dibayar dengan beberapa lembar puluhan ribu, boro-boro bisa ikut pameran.

Siapa yang memutuskan sesuatu itu seni atau bukan? Seni yang mahal, yang murah? Yang kreatif, yang tidak kreatif? Saya tidak ingin menjadikan industri, globalisasi, liberalisasi atau semacamnya sebagai jawaban. Karena toh semuanya berisi manusia.

What Are You Writing For?

*sebuah tulisan yang tidak intelek

Saya lupa kapan pertama kali saya mulai menulis. Mungkin SMP. Saat itu saya dan seorang sahabat saya bernama Sera, sedang benci-bencinya pada guru mata pelajaran geografi yang kalau tidak salah bernama Pak Bambang. Maka, terinspirasi oleh film berjudul “Killing Mrs. Tingle” (atau “Teaching Mrs. Tingle”, ya?) yang dibintangi oleh Katie Holmes,saya dan Sera membuat sebuah cerita berjudul Killing Mr. Bambang. Serius!!! Tanya Sera kalau ga percaya, and I hope she read this, and tell me how embarassing that was. Kami menulisnya bergantian. Dia menulis satu bab, kemudian saya baca dan lanjutkan, begitu seterusnya. Tapi karena tadi saya bilang saya lupa kapan persisnya saya mulai menulis, jadi sepertinya sebelumnya saya sudah pernah menulis. Yang saya ingat, saya pernah diajukan untuk ikut lomba mengarang tingkat daerah ketika SD, karena guru Bahasa Indonesia saya waktu itu terkesan oleh hasil tugas mengarang saya, dan tentu saja guru itu tidak menyebalkan seperti Pak Bambang.

Setelah itu saya banyak menulis, tentu saja menulis cerpen, yang banyak terinspirasi oleh cerpen-cerpen di majalah Gadis. Saya hanya membaca majalah Gadis, karena menurut saya, dua majalah lain yang saat itu sedang happening, Kawanku dan Aneka Yess, isinya tidak bermutu. Bahkan sampai sekarang saya tetap merasa begitu. SMA adalah masa-masa menulis puisi, yang mana tersangka utama penyebabnya adalah film Ada Apa Dengan Cinta. Saya paling malu membahas ini, saya benci mengakui fakta bahwa saya dulu pernah menulis puisi!!! Bukan berarti saya benci puisi ya. Tapi puisi-puisi saya payah dan terlalu melankolis. Hehe..

Lalu kuliah. Saya ingat ketika itu saya melihat suami saya (dulu dia belum siapa-siapa saya) ternyata menulis, dan tulisannya ditempel di semacam mading kampus. Saya berpikir, lho, kok dia bisa nulis dan tulisannya intelek? Akhirnya saya memutuskan bahwa saya juga harus bisa menulis seperti dia. Walaupun saat itu saya masih asyik menulis cerpen, tapi paling tidak saya berusaha membuat cerpen saya lebih berbobot, dan saat itu saya pikir Fira Basuki dan Dewi Lestari banyak mempengaruhi gaya bercerita saya. Dan sampai sekarang, entah kenapa, saya paling tidak percaya diri jika suami saya membaca tulisan saya. Untung dia tidak terlalu percaya saya bisa menulis, jadi dia tidak terlalu peduli juga.

Tapi, saya tidak pernah benar-benar tahu apa yang membuat saya suka menulis sampai sekarang. Alasannya selalu berganti-ganti. Iseng, sedang jatuh cinta, marah, ikut tren, ingin membuat diri terkesan cerdas, dan mungkin ingin membuat seseorang terkesan. Well, bukan mungkin, itu pasti. Dan berapa dari kita yang tidak pernah melakukan sesuatu hanya untuk membuat seseorang terkesan? Sampai akhirnya saya kehilangan tenaga untuk menulis. Saya ingin, tapi tidak punya energi untuk melakukan itu. Mungkin karena selama ini saya tidak melakukannya untuk diri saya. Mungkin saya harus kembali pada penyebab awal kenapa saya menulis : iseng. Karena dari semua alasan yang saya sebutkan diatas, hanya isenglah yang tidak reaktif, dalam arti sebagai reaksi atas apa yang orang lain perbuat terhadap saya atau apa yang terjadi di luar saya. I want to be a proactive writer. Penulis yang iseng.