ada yang bilang aku china*

*sebuah refleksi ringan setelah membaca buku Mereka Bilang Aku China, karya Dewi Anggraeni, Bentang Pustaka, 2010

Saya baru mendapat kiriman sebuah buku dari seorang sahabat di Jogja, buku itu berjudul Mereka Bilang Aku China. Buku ini, karena saya pikir cukup ringan untuk dibaca, saya bawa ke gym dan menemani saya fitness pagi ini. Tak diduga, efeknya adalah, saya terharu membaca buku ini sehingga hampir menangis di atas sepeda statis. Tapi lebih dari itu, buku tersebut membuat saya mengkhayal bagaimana kalau saya menjadi salah seorang dari 8 perempuan tionghoa yang dikisahkan dalam buku ini. Salah satunya adalah Susi Susanti, yang tentu saja perlu kita ingat namanya di hari pahlawan ini, tanpa menihilkan peran ketujuh perempuan lainnya sebagai anak bangsa yang gigih berjuang bahkan sampai ke akar rumput.

Saya berkhayal bukan karena saya merasa secemerlang mereka atau telah memberikan kontribusi sebesar mereka pada masyarakat, tapi karena selama membaca kisah-kisah dalam buku itu, saya merasa “lho, saya juga punya pengalaman yang menarik dalam hal identitas ketionghoaan.” Dan saya ingin menuliskannya sendiri karena saya belum segitu pentingnya untuk diwawancara oleh seorang penulis macam Dewi Anggraeni. Hehe..

Ibu saya Tionghoa dan ayah saya Jawa. Saya tidak merasakan adanya perbedaan dari identitas etnis tersebut sampai ketika saya SMP. Seingat saya, banyak sekali teman saya yang keturunan tionghoa dan mereka kaya-kaya, cantik-cantik dan pintar-pintar. Saya merasa, guru-guru lebih sayang pada mereka daripada ke saya atau teman-teman saya yang so-called pribumi. Begitu juga dengan masa SMA, namun karena SMA ini adalah sekolah yang sangat menekankan pentingnya persaudaraan, pembauran dan semangat berjuang untuk kebaikan dan kemuliaan sesama, maka segala macam perbedaan tersebut dikubur. Mengapa saya bilang dikubur dan bukan terkubur? Karena saya sadar betul bahwa kondisi “berbaur” itu memang dirancang oleh SMA saya, itu memang bukan suatu hal yang buruk, karena pada kenyataannya sampai sekarang saya lebih bisa merasakan kehangatan teman-teman masa SMA daripada SMP.

Ada satu momen yang masih membekas di ingatan saya tentang masa SMA. Salah seorang teman akrab saya, yang kebetulan laki-laki, tionghoa dan sering bercanda dengan saya, tiba-tiba secara spontan ketika kami sedang saling mengejek satu sama lain melontarkan, “Wo…dasar jowo edan.” Seketika saya diam, bukan tersinggung karena dia menghina orang jawa. Tapi karena saya tidak suka dibilang jawa. Saya memang selalu tidak suka dibilang jawa dan merasa sebal setiap harus mendaftar sekolah harus mencentang kotak “jawa” dalam pertanyaan mengenai suku bangsa. Tapi bukan karena saya ingin mencentang “tionghoa/china” juga. Pokoknya, saya tidak suka dibilang jawa. Eh, tapi ini bukan berarti saya sebel sama orang Jawa lho…

Masuk kuliah, pengalaman saya berbeda lagi. Saya memang ingin masuk universitas negri, karena saya merasa dengan masuk negri saya akan lebih memiliki kesempatan untuk mengenal bermacam-macam jenis dan bentuk manusia. Ternyata, saya adalah salah satu dari bentuk manusia  yang sedikit berbeda. Saya tidak terlalu ingat apakah teman-teman kuliah satu angkatan saya menyadari bahwa saya separuh china atau tidak. Yang jelas, masa-masa kuliah di Jogja adalah masa paling sering saya merasa dianggap lebih tionghoa daripada Jawa. Apakah saya senang? Tidak juga sih.

Linda Christanty, ketika sedang mengantre karcis kereta api di Gambir, pernah dituding orang dan dikatai “Dasar cina!” (hal.82) Saya juga memiliki pengalaman serupa, walaupun tidak separah itu. Saat itu saya sedang mengantre tiket bioskop di Ambarukmo Plaza, filmnya Harry Potter dan hari itu adalah hari pertama pemutaran. Saya sudah antre sejak sebelum mall buka. Dan ada seorang perempuan yang entah terlalu kreatif atau terlalu bosan, menowel lengan saya dan bertanya, “ Anda orang China ya?” spontan saya bertanya, “emang iya, ya?” karena saya benar-benar kaget. “ Iya, wajah anda seperti orang China.” Saya manggut-manggut, tidak menjawab, dan ingin segera memastikan apakah wajah saya memang segitu China-nya.

Akhir-akhir ini, setelah saya lebih serius menekuni studi tentang tionghoa dan berusaha lebih peka, saya menyadari beberapa hal unik yang terjadi berkaitan dengan bagaimana pedagang di pasar Gang Baru Pecinan Semarang menyapa saya. Pemilik toko kelontong yang mayoritas tionghoa akan memanggil saya “nok” sementara pedagang-pedagang yang kebanyakan orang jawa akan memanggil saya “nik”. Kadang, saya merasa lucu karena ketika saya berada di sekitar orang tionghoa, ketionghoaan saya malah lenyap. Dan ketika saya berada di antara orang Jawa, kejawaan sayalah yang lenyap. Semua ciri-ciri fisik  saya seolah-olah termakan oleh ciri-ciri fisik dari identitas (etnis) tertentu yang dimiliki orang-orang di sekitar saya. Sehingga saya menjadi tidak jelas. Mungkin seperti warna merah marun, yang kalau dijejerkan dengan warna merah malah jadi lebih ungu dan kalau dijejerkan warna ungu jadi lebih merah. Iya nggak sih?

Saya merasa, dalam lubuk spiritual saya yang paling dalam, saya lebih cocok dengan mistisisme tionghoa (kalau memang ada istilah demikian). Saya selalu heran pada suami saya yang terlalu kejawen, percaya mbah petruk dan eyang semar di puncak Merapi, walaupun saya tidak menolak untuk mempelajari hal-hal itu. Tapi saya bisa sebegitu larutnya berdiri di depan patung Kong Hu Chu di Tay Kak Sie, dan memohon restu agar saya lebih rajin belajar, membaca buku dan mempelajari ilmu-ilmu baru. Saya tidak tahu apa persisnya yang membuat saya merasa demikian. Maybe it runs in my blood. Padahal, saya sama sekali tidak pernah melihat ibu saya, atau bahkan oma opa saya melakukan hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan/agama/ budaya tionghoa. Setahu saya mereka hanya percaya Tuhan Yesus.

Padahal juga, saya tidak berhak menyandang predikat peranakan. Karena yang tionghoa itu ibu saya, bukan ayah saya. Sementara istilah peranakan merujuk pada mereka yang berayah cina dan beribu pribumi. Hal tersebut karena masyarakat china/tionghoa menggunakan garis keturunan dari ayah dan bukan ibu. Beberapa catatan sejarah bisa menjelaskan apa yang menyebabkan orang-orang China pada jaman dulu menikah dengan perempuan pribumi.

Saya sedang tidak berusaha menjadi melankolis. Menurut saya, yang saya tuliskan di atas bukan sesuatu yang menyedihkan, mengesankan, atau mengharukan. Saya hanya ingin berbagi pengalaman saja. Bahwa, beginilah saya yang beribu tionghoa dan berayah Jawa. Tentu akan berbeda sekali dengan perempuan-perempuan yang memang keturunan tionghoa, yang berayah tionghoa dan beribu pribumi, atau perempuan yang kebetulan berwajah mirip tionghoa padahal dilahirkan dari keluarga jawa yang sadhumuk bathuk sanyari bumi tohpati. Jadi begitulah, ada yang bilang saya China dan ada yang bilang saya Jawa. Dan bagaimana rasanya menjadi saya? Selalu menyenangkan 🙂