Membaca 6 Kisah Perempuan Tionghoa

Membaca  buku karya Lim Sing Meij merupakan tantangan bagi saya yang sama sekali tidak terbiasa membaca karya ilmiah atau hasil penelitian. Saya paling malas membaca pendahuluan serta berbagai landasan teori dan pemikiran dalam sebuah karya tulis (padahal saya tahu itu sangat berguna). I always want to get straight to the point. Maka, saya lebih menyukai bacaan yang jenisnya seperti buku Leo Suryadinata yang saya resensi sebelumnya. Dan tulisan saya kali ini bukan resensi buku. Saya hanya akan berbagi cerita tentang buku Lim Sing Meij ini, dan bagaimana saya membacanya.

Sebenarnya, ini adalah kajian yang saya cari-cari. Mungkin sebagai seorang perempuan, saya otomatis ingin tahu mengenai perempuan dan gerakan mereka. Walaupun saya bukan feminis. Buku ini menarik perhatian saya walau dari judulnya saja sudah membuat saya bingung : “Ruang Sosial Baru Perempuan Tionghoa, Sebuah Kajian Pascakolonial.” Kenapa pascakolonial dan apa itu pascakolonial? Dan kenapa menggunakan masa kolonial sebagai titik tolaknya? Akhirnya daripada saya bingung, saya memutuskan untuk mencari tahu kenapa bisa muncul istilah itu.

Lim menuliskan bahwa wacana pascakolonial berarti suatu perlawanan terhadap kolonialisme dan warisan-warisannya. Dan dalam karyanya ini, Lim menggunakan pendekatan-pendekatan yang menggugat teori-teori Feminis Barat yang memiliki pandangan yang bias mengenai “perempuan dunia ketiga”. Feminis Barat cenderung menganggap bahwa perempuan yang hidup di negara dunia ketiga sebagai subjek yang monolitik. Keadaan itu disebut sebagai kolonisasi diskursus, yang dikritisi oleh Mohanty dalam bukunya Under The Western Eyes. Teori Mohanty inilah yang kemudian digunakan Lim dalam penelitiannya. Untuk lebih memahami teori pascakolonial, kita harus lebih dahulu paham soal teori pascastruktural yang membawa nama Foucault dan Derrida penting untuk disebut. Dan secara sadar saya melewatkan bagian itu. Hehehe… Semoga tidak terlalu berpengaruh terhadap proses membaca buku ini.

Oke, lebih baik saya berbagi cerita tentang perempuan-perempuan Tionghoa profesional yang menjadi narasumber dalam karya ini, serta premis-premis yang muncul dalam buku ini mengenai perempuan Tionghoa dan pergulatan mereka. Untung saja, buku ini banyak menampilkan kutipan langsung wawancara sehingga sangat membantu saya yang kegemaran membaca bukunya berangkat dari hobi membaca cerita pendek.

Ada enam orang narasumber, mereka adalah Muthia, Wati, Nani, Ima, Erni dan Kartika. Keenamnya adalah perempuan Tionghoa yang hidup di Jakarta dan menempuh pendidikan tinggi, serta bekerja dalam sektor formal, dan menjadi seorang ‘profesional’ dalam pekerjaan mereka. Karya ini memang mengaku terbatas pada keenam orang ini saja dan tidak mencoba melakukan generalisasi terhadap perempuan Tionghoa. Mengapa? Karena seperti manusia pada umumnya, identitas perempuan tionghoa bukanlah sesuatu yang homogen. Jika mereka sama dalam hal ketionghoaannya mereka bisa saja berbeda dalam hal agama, kepercayaan, pendidikan, status sosial, bahkan kota tempat tinggal, yang melahirkan pribadi yang berbeda pula.

Kajian soal perempuan hampir tidak pernah lepas dari isu bagaimana perempuan terdiskriminasi. Dalam kasus perempuan Tionghoa (walaupun sekali lagi, tidak semua) mereka sudah terdiskriminasi sejak dalam keluarga, terutama bagi perempuan Tionghoa yang hidup dalam keluarga yang masih menganut kuat konfusianisme. Konfusianisme menjunjung tinggi konsep rule by man. Man yang dimaksud disini bukanlah manusia, tetapi laki-laki. Sehingga keputusan yang diambil oleh para senior, ayah, orang yang lebih tua, atau saudara laki-laki adalah hal yang mutlak. Dalam dunia barat, konsep ini disebut patriarkhi.

Memiliki seorang anak laki-laki adalah kebanggan bagi keluarga konfusian, sementara anak perempuan dianggap tidak terlalu berharga. Namun, walaupun status kehormatan dipegang penuh oleh laki-laki, perempuan mempunyai kewajiban untuk mempertahankan tradisi keluarga secara turun-temurun. Nani dan Muthia menuturkan bagaimana mereka merasa diperlakukan secara berbeda dalam keluarga. Muthia mengaku bahwa adik laki-lakinya tidak memanggilnya “cici”, padahal terhadap kakak laki-lakinya, adiknya memanggil “koko”. Yang memanggil Muthia “cici” hanyalah adik perempuannya (hal.78). Sementara Nani merasa bahwa nama yang diberikan padanya tidak memiliki makna yang bagus sehingga dia enggan menggunakannya (hal.80).

Diskriminasi juga dialami dalam bidang pendidikan dan karir/pekerjaan. Kartika mengatakan bahwa  orang Tionghoa yang mengikuti tes di PTN harus mengikuti psikotes, tidak demikian dengan orang pribumi. Menariknya, keenam perempuan Tionghoa ini adalah pribadi yang tangguh dan selalu berusaha untuk keluar dari cengkraman ketidakadilan. Kartika membuktikan bahwa ia bisa menjadi mahasiswa teladan (hal. 114). Sementara Ima menjadi korban dalam kasus kerusuhan 1998, supermarket yang ia bina bersama suaminya dibakar massa. Namun ia tetap eksis sebagai dosen dan akuntan publik dan mendapatkan penghargaan Satyalencana Karya Sapta dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2005 atas pengabdiannya pada negara (hal.66-67).

Selain tantangan dari luar, perempuan Tionghoa juga mengalami tekanan dari keluarga saat mereka akan memilih pekerjaan atau jurusan saat kuliah. Muthia mengatakan ia dicemooh oleh orang tua dan kakak laki-lakinya saat masuk ke jurusan psikologi konseling, karena hanya jurusan itu yang bersedia menerimanya. Muthia kini menjadi konselor HIV/AIDS dan melakukan pemberdayaan pada para penyandang HIV/AIDS. Begitu juga dengan Nani yang terjun ke ranah sosial kemasyarakatan, ia mengawali karirnya di LSM dan meneruskan kuliah magister teologi di Jogja. Ia menjadi seorang teolog feminis sekaligus trainer profesional (hal.75-76).

Agama dan kepercayaan bagi perempuan Tionghoa dalam penelitian ini bukan suatu hal yang diturunkan atau ditularkan begitu saja dari keluarga. Bahkan keyakinan beragama mereka diperoleh melalui proses kritis dan dipengaruhi oleh pengalaman hidup, baik yang pahit maupun manis. Erni mendapatkan ketenangan batin dengan menganut Islam, sementara Muthia yang awalnya sempat menjadi seorang Kristen fundamentalis kini membebaskan diri dari paham tersebut karena berbagai pengalaman hidupnya (hal.95-96). Sementara bagi Wati, menjadi seorang Katolik tidak berarti menganggap bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya kebenaran (hal.99). Keputusan mereka untuk menganut agama lain selain Kong Hu Chu itu tentu saja mendapatkan tantangan dari keluarga.

Identitas ketionghoaan sempat menjadi beban bagi beberapa perempuan Tionghoa informan dalam penelitian ini. Namun, berlatarbelakang pendidikan yang baik dan berbekal mental yang kuat, perempuan-perempuan ini menempuh perjalanan pencarian identitas dengan terus mempertanyakan  secara reflektif jati diri mereka sebagai orang Tionghoa dan juga orang Indonesia pada saat yang sama, setidaknya begitulah penangkapan saya saat membaca kutipan-kutipan wawancara mereka. Mereka sempat melakukan penyangkalan diri sampai akhirnya menempuh proses rekonsiliasi yang tidak mudah. Seperti Nani, yang mengaku juga mendapatkan perlakuan diskriminatif justru dari orang Tionghoa karena dia berasal dari keluarga Cina miskin, berprofesi sebagai trainer dan menikah dengan non-Tionghoa (hal.153).

Perempuan Tionghoa dalam penelitian ini secara garis besar saya nilai sebagai pribadi yang liberal, moderat, berpikiran terbuka dan cerdas. Pengalaman hidup dan pendidikan telah membuat mereka memandang diri sendiri dan lingkungan di luar mereka, termasuk bagaimana bangsa ini ‘menerima’ mereka dengan cara yang sangat mengesankan. Lim Sing Meij sendiri menurut saya sangat hebat karena dia berhasil membingkai cerita keenam perempuan Tionghoa tersebut menjadi satu, dan menunjukkan betapa perempuan Tionghoa bagaimanapun juga memiliki identitas Tionghoa dan indentitas Indonesia yang senantiasa berdampingan.

Buku ini sangat menarik untuk dibaca dan saya dan bersyukur ada seorang perempuan Tionghoa yang menulis mengenai topik ini. Beberapa kisah di buku ini membuat saya tersentuh dan banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan dari cerita-cerita di dalamnya. Saya percaya masih banyak sisi dari perempuan Tionghoa yang menarik untuk dibahas, seperti misalnya perempuan Tionghoa dari kelas menengah-bawah yang hidup di kota kecil sepanjang pesisir utara pulau Jawa. Saya sendiri merasa mengenal beberapa perempuan  Tionghoa yang hebat, yang kisah hidupnya mungkin sangat menarik untuk dibahas.