Bukan Sekedar Potehi

Saya belum menyerah. Saya ingat pernah menuliskan kalimat itu pada status facebook pribadi saya beberapa waktu yang lalu. Dan memang sampai saat ini, saya masih belum menyerah untuk menjelajahi pecinan, mencari dan mempelajari budaya tionghoa. Maka siang itu, saya berjalan menyusuri gang pinggir, lalu belok ke kiri setelah jembatan. Dan kembali sampai di Tay Kak Sie. Mas Ridho sudah datang rupanya. Hehe…kali ini saya bukan yang pertama.

Wedang, Pencarian, dan Penemuan

Jalan-jalan hari itu dibuka dengan semangkuk wedang tahu yang hangat dan sebatang rokok. Wedang tahu ini bukan sembarang wedang tahu. Entah saya yang sudah fanatik sama pecinan atau gimana, saya merasa, kalau untuk urusan perwedangan, pecinan Semarang nggak ada lawannya. Kalau wedang tahu ini, dijualnya kebanyakan siang hari.

Anehnya, walaupun diminum siang hari, wedang tahu yang hanya berisi air jahe dan sari pati kedelai ini tetap menyegarkan. Padahal kan, jahe panas dan banyak orang yang bilang lebih cocok diminum malam hari. Wedang tahu dijajakan dengan dipanggul oleh pak penjualnya. Sebilah kayu panjang yang kedua sisinya diganduli tangki besar berisi wedang, mangkuk, sendok dan lainnya ( I know there should be a word to call that thing, tapi saya nggak tau). Rasanya nano nano ada pahit, manis dan pedas. Harganya 4000 saja semangkuk. Nyam..

Inilah si Wedang Tahu 🙂

Wedang lainnya? Ada..namanya Tjap Kaw King. Jualan malam hari, di Jalan Wotgandul. Biasanya kalau habis makan Mie Hap Kie, saya langsung have dessert di sini. Hehe…dan langsung kekenyangan luar biasa. Di sinilah dijual wedang ronde, wedang kacang, wedang roti, wedang kacang hijau, dan lainnya. Nggak ada yang menandingi. Wedang ronde gerobak di sekitar Tugu Jogja? Kalah deh…(maaf ya, yang orang Jogja).

Jadi, cukup sekian dulu soal perwedangan. Saya janji akan membicarakannya lain kali, karena nama Tjap Kaw King sendiri sudah mengandung nuansa sejarah tionghoa di Semarang. Apa itu? Penasaran kan? I’ll keep it for next time.

Setelah Mas Candra dan Mas Singgih beserta pacarnya datang, kami langsung bergerak. Agak bingung juga saat itu, mau kemana ya? Karena Pak Bambang sedang pentas di Jakarta. Hm…hm…setelah Mas Candra membuka catatannya, dia mengusulkan bagaimana kalau ke toko obat cina. Akhirnya kami berusaha mencari. Lokasinya Pekojan – Gang Warung –Gang Pinggir.

Hasilnya? NIHIL. Setelah memasuki beberapa toko obat dan menanyakan kesediaan beliau-beliau itu untuk diwawancara, kami tidak mendapatkan respon positif. Belakangan, kami tau alasannya. Mereka takut rahasia ramuan mereka tersebar luas. Oalahh…iya deh maklum. Diam-diam saya tetap penasaran dan akan mencari cara untuk mendekati mereka.

Tapi ada beberapa hal yang kami dapatkan, pertama, toko-toko obat tersebut tidak menerima resep dokter. Mereka hanya menerima resep dari shinse atau dari kelenteng. Yang kedua, toko Ngo Hok Tong adalah toko obat tertua. Kini namanya Panca Jaya. Ketiga, siapa bilang obat yang bukan resep dokter harganya murah. Mahal cing! Tadi saya sempat menguping pembicaraan seorang pembeli dan pramuniaga toko. Harganya ratusan ribu lah obatnya.

Karena kami pantang menyerah, akhirnya kami berusaha mencari objek lain untuk dijelajahi. Saya punya satu nama. Thio Tiong Gie. Namun, dari awal saya sudah menetapkan beliau sebagai pilihan terakhir. Kenapa? Pikir saya, Thio Tiong Gie sudah banyak diungkap. Pernah dimuat di beberapa surat kabar nasional, dan namanya sudah cukup terkenal di Semarang. Misi saya kan mencari-cari mereka yang belum terungkap keberadaannya. Tapi karena saat itu tidak ada pilihan lain maka ya sudah, ke tempat Pak Thio saja. Saya sudah browsing soal dia dan mendapatkan alamatnya di kampung pesantren, kelurahan Purwodinatan.

Masuk ke jalan Petudungan, kami bertanya pada sebuah bengkel las bernama Bintara. Bengkel itu adalah kepunyaan Pak Thio (saya tahu ini dari hasil browsing juga). Saat saya numpang tanya disana, yang menjawab adalah anak-anak beliau yang ramah-ramah. Kata mereka, “oh, papah lagi mimpin sembahyangan.” Tapi tidak lama kemudian Pak Thio lewat dengan dibonceng motor oleh cucu perempuannya. Kami langsung membuntuti motor itu. Tidak seberapa jauh ternyata.

Kami disambut oleh Liong yang lagi ngintip ini.

Saat saya browsing, saya membaca sebuah artikel yang menulis bahwa Thio adalah orang yang ramah. Batinku, “masa sih? Wajahnya angker begitu.” Ternyata, beliau dan semua yang tinggal di rumah beliau sangat baik dan murah senyum. Saya jadi merasa berdosa masih menyisakan stereotip bahwa orang tionghoa itu ketus-ketus dan tertutup.

Ketika kami menyampaikan maksud kami untuk mewawancara beliau soal potehi, tanggapan Pak Thio adalah, “kenapa kalau ngomong budaya kok hanya potehi? Padahal masih banyak yang harus diketahui orang selain potehi.” Kami semua manggut-manggut setuju. Lalu, mulai berceritalah Pak Thio. Awalnya memang tentang potehi.

Riwajat Thiong Gie dan Potehi

Pak Thio Tiong Gie asli Demak, lahir pada tahun 1933, ia pindah ke Semarang  pada tahun 1942 ketika Jepang masuk ke Indonesia. Saat itu terjadi huru hara besar dimana-mana karena pergantian kekuasaan. Dan salah satu tempat yang paling aman adalah Semarang. Akhirnya keluarga Thio hijrah ke Semarang dan meninggalkan rumah serta toko kain milik keluarga di Demak yang sudah habis dirampok.

Sesampainya di Semarang, ayah Thio membuka usaha baru, yaitu menjual makanan kecil (kue basah). Untuk mengemas kue basahnya tersebut, ayah Thio menggunakan koran bekas yang belinya kiloan. Nah, suatu kali dalam satu ikat koran yang beliau beli, terselip buku cerita Tiongkok berjudul She Jin Kwee Cing Tse. Thio yang saat itu masih kecil membawa buku itu kemana-mana dan membacanya. Lama-lama dia jatuh cinta pada cerita itu. Kisah She Jin Kwee Cing Tse ini sudah ada versi Jawanya dan ditampilkan oleh banyak kelompok ketoprak di Jogjakarta yang dikenal dengan Kisah Joko Sudiro. Thio kecil juga suka nonton wayang potehi, yang saat itu masih disampaikan dalam bahasa Hokkian campur Melayu.

Ketika Thio berumur 27 tahun, ia diajak oleh seorang dalang untuk manggung di Cianjur. Cerita yang pertama kali dia bawakan adalah cerita She Jin Kwee tadi, dan jangan salah…beliau masih menyimpan bukunya hingga sekarang. Yah…paling tidak, begitulah kira-kira awalnya bagaimana Thio Tiong Gie menjadi dalang wayang potehi. Tapi, apakah dia hanya pantas dilabeli dalang potehi saja?

Ternyata tidak! Wah, bakal terpesona deh sama bapak yang satu ini. Dari kemampuan mendalangnya saja sudah sangat hebat, suaranya ngebas dan lantang. Lalu, yang bikin saya melongo adalah ketika beliau mempraktekkan perbedaan antara suluk wayang cina dan wayang jawa. Ketika Pak Thio mencoba untuk menunjukkan bagaimana suluk wayang jawa itu…wow…saya sampai merinding. Persis seperti dalang wayang kulit kawakan. Kalau hanya mendengar suaranya tanpa melihat orangnya, kita tidak akan menyangkan kalau dia orang tionghoa.

Itu melongo yang pertama. Yang kedua, adalah saat beliau bercerita mengenai sejarah bagaimana wayang potehi diciptakan. Wayang potehi berusia lebih dari 3000 tahun, dan ternyata lahir dari balik teralis penjara. Kadang saya merasa, Pak Thio ini suka trans sendiri kalo lagi cerita, jadi gaya bercerita dia mirip sama gaya dia mendalang (walaupun saya belum pernah liat dia ndalang). Intinya, Pak Thio serius dan sangat menghayati setiap ceritanya. Nah, ketika beliau bercerita mengenai sejarah wayang potehi, Thio mengelurkan sapu tangan dari kantongnya, mengikat di sini dan di situ, lalu…voila! Jadilah ‘replika’ wayang potehi dari sapu tangan beliau.

Raja-Raja, Soekarno dan Sejarah

Lalu, hal terakhir yang ingin saya sampaikan disini adalah (karena sebenarnya masih banyak hal yang perlu saya tuliskan soal dia, tapi lain kali ya), Thio Tiong Gie is not just a potehi master, dia juga sejarawan, budayawan, pendeta, penjaga tradisi dan lain-lainnya. Di usianya yang sudah senja ini, beliau masih sangat bersemangat berbagi cerita soal apapun. Termasuk dua hal ini : Sejarah raja-raja Nusantara dan Soekarno, “mumpung saya masih hidup.” Gitu sih katanya. Yang mau tau soal sejarah kerajaan tapi bosen dengerin guru sejarah atau dosen di kelas, dateng ke rumah Pak Thio. Dijamin nggak ngantuk. Hehe..

Soekarno? Ya, Soekarno. Pak Thio ngefans berat sama si Bung satu ini. Beliau bilang, ada dua pemimpin dunia yang tak tergantikan, yaitu Soekarno dan Hitler (saya no comment deh soal Hitler). Di ruang tamu tempat kami berbincang, ada gambar Soekarno yang cukup besar. Mas Ridho langsung nanya, “ngefans sama Bung Karno ya Pak?”

Pak Thio mengangguk. Tapi, bukan kisah ngefansnya yang membuat saya lagi-lagi melongo. Namun kisah dibalik gambar Soekarno itu. Percaya nggak, gambar itu pernah dikubur sama Pak Thio selama 32 tahun! Jadi gambar itu dibungkus kertas, kerdus, sabut kelapa, trus apa lagi ya? Pokoknya supaya awet dan nggak rusak kena hujan atau panas. Lalu, setelah dibuntel, gambar itu dipendem di bawah pohon jeruk yang terletak di depan rumahnya. Kini, pohon jeruk itu udah ganti jadi pohon belimbing. Tapi tempat dia mengubur gambar itu masih ada. Ini sempat saya foto.

Semua itu karena Pak Thio takut pada rezim Soeharto dan kroni-kroninya. Sehingga dia menyembunyikan gambar “sang penyambung lidah rakyat” (kata Pak Thio nih, mengutip tulisan di nisan Bung Karno) di bawah pohon, lebih dari 3 dasawarsa. Selain melongo, saya juga merinding. HEBAT!!! “Siapa yang berani masang foto Bung Karno pada saat itu? Tidak ada!” katanya berapi-api.

See the Bung Karno picture up there? Itulah gambar yang beliau sembunyikan selama 32 tahun.

Pak Thio bilang, ada satu tokoh lagi yang dia pengen pasang fotonya tapi belum kesampean. Siapa? Hayo siapa….Kwan Im? Yesus? Confusius? Bunda Maria? Megawati? Bukan…Jawabannya adalah : R.A. Kartini sodara-sodara. Beliau bilang, jika ada ukuran foto R.A. Kartini yang sebesar ukuran gambar Bung Karno yang dia punya, dia mau beli lalu dipasang berdampingan…(Mas Candra atau Mas Singgih tertarik menggambar R.A. Kartini? Hehehe..keren lho).

Setelah ngobrol sampai kemana-mana, akhirnya kami permisi pulang. Sepertinya Pak Thio juga perlu istirahat karena dia hari itu baru sampai rumah setelah manggung di Sukabumi selama 2 bulan. Sebelum pulang, saya bertanya, “boleh mampir lagi kan, Pak?” Pak Thio tersenyum, “boleh, mumpung saya masih hidup.” Saya nyengir. Ah, bapak ini bikin deg-degan aja.

Cerita berikutnya adalah soal Tjie Lam Tjay. Tunggu ya! 🙂

Advertisements

5 thoughts on “Bukan Sekedar Potehi

  1. Pingback: Saujana Potehi di Pecinan Semarang « Anastasia Dwirahmi
  2. Pingback: Saujana Potehi di Pecinan Semarang « Iid Marsanto
  3. Pingback: Bukan Sekedar Potehi « Iid Marsanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s