Bambang Sutrisno – Babak Pertama

Hari Jumat tanggal 2 Juli 2010, saya bersama Mas Ridho dan Mas Candra dari BYAR Creative Industry kembali mengunjungi pecinan. Kali ini, kami akan mencari rumah Pak Bambang Sutrisno, sang dalang Wayang Potehi. Ini adalah kali kedua setelah perjumpaan pertama saya dengan Pak Bambang ketika beliau sedang mempersiapkan pentas Wayang Potehi di depan Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok pada 22 Juni 2010 — yang saat itu saya dan Mas Candra secara tidak sengaja menjumpai kelompok seni tradisi ini di Pecinan Semarang.

Seperti dalam jalan-jalan sebelumnya, saya selalu sampai di Pecinan lebih dulu. Untungnya saja saya membawa majalah National Geographic yang baru, jadinya nggak bosen nunggu. Selama menunggu, saya sempat clingak-clinguk di “rumah abu” Yayasan Tjie Lam Tjay yang persis bersebelahan dengan Kelenteng Tay Kak Sie. Saya lihat di sana ada yang sedang menyiapkan sembahyangan bakar rumah kertas (sayangnya saya lupa namanya apa). Karena saya selalu ragu untuk masuk ke Rumah Abu itu (alasannya logis dan tidak logis. Hehehe… yang logis adalah, saya takut menganggu orang yang sedang sembahyang. Sementara yang tidak logis, saya merasa suasana di situ singup. Hihihi…), maka saya memutuskan untuk menunggu di bangku merah panjang yang ada di depan Pujasera Tay Kak Sie, sambil baca-baca majalah tadi.

Bambang Sutrisno, saat menerima kami di kediamannya

Lalu… lalu… setelah Mas Candra datang, kira-kira 45 menit menunggu tadi, sekitar pukul 13.30, dia langsung bertanya ke seorang satpam, “Dimana rumah Pak Bambang sang dalang?”

Ternyata, memang rumahnya tidak terlalu jauh. Cukup menyusuri Gang Lombok saja, melewati Yayasan Kuncup Melati, lalu ada tukang kusen pintu di sekitar itu.. terus… terus… dan sampai deh di rumahnya.

Sesampainya kami di sana, ternyata Pak Bambang sedang tidur siang. “Maaf ya Pak, mengganggu…,” kata Mas Candra. Sementara, saya sendiri terpana dan masih terus terpana karena demi segala nama Tuhan, rumahnya kecil banget. Itupun rumah kontrakan. Jadi, lantas saya pun bertanya dalam hati,”Dimana Pak Bambang tidur?” Usut-punya-usut, ya di ruang tamu yang juga merangkap sebagai ruang keluarga, ruang makan, ruang menyimpan barang, dll., dst. itu tempat di mana kami bertandang siang itu.

Setelah saya dipersilakan masuk, saya langsung disuruh duduk di atas alas kardus yang bawahnya dialasi tikar anyaman. Sedangkan Mas Candra duduk di depan pintu, dan pintunya sengaja dibuka karena sempitnya ruang. Jujur, saat itu pula, saya nggak bisa membayangkan bagaimana rasanya duduk di dalam bertiga dengan keadaan pintu tertutup.

Rumah Pak Bambang sebenarnya terdiri dari dua lantai, lantai pertama ukurannya kira-kira 1,5m x 3m. Kecil banget, bukan? Iya, memang. Wong lebarnya saja pas buat saya selonjoran. Panjangnya, ya nggak beda jauh dari itulah. Di dalamnya ada tangga dari kayu yang sudah ringkih dan tampak rapuh. Saya sungguh ngeri membayangkan Pak Bambang yang sesepuh itu harus naik-turun tangga. Bagaimana dengan ukuran lantai duanya? Ya kira-kira samalah. Di atas, katanya, berfungsi sebagai gudang untuk menyimpan baju dan barang-barangnya yang lain.

Tidak lama kemudian, Mas Ridho datang menyusul. Ketika Mas Ridho datang, Pak Bambang sedang sibuk menarik kardus yang ia simpan di belakang pintu. Ia tarik dari tempatnya. Isi kardus itu adalah buku-buku cerita wayang. Dan, ternyata kami baru mengetahui bahwa kebanyakan dari buku cerita itu adalah tulisan tangan beliau sendiri! Ia menulisnya dengan rapi. Katanya, cerita-cerita itu beliau dapat dari gurunya. Memang ada sih beberapa komik seperti Kera Sakti, 5 Harimau Sakti, terus ada … apa tuh … yang penunggang rajawali itu. Tetapi, kata Pak Bambang, justru yang sudah jadi komik atau buku cerita itu nggak bisa dijadikan landasan cerita untuk bahan mendalang karena sudah terlalu banyak modifikasi dari si pengarang. Jadi untuk menyiasatinya, beliau lebih suka menggunakan catatannya sendiri. Dan, buku catatannya ada buaaannnyaaakkkk banget! Buku tulis yang ia gunakan masih Tjap Banteng. Yang artinya sudah tuuuaaaaa banget.

Tulisan tangan Pak Bambang, rapi ya?

Kemudian sisi lain yang menarik dari isi kardus itu buat kami ada dua hal. Yang pertama, ada sehelai baju wayang berwarna merah dengan motif bunga keemasan, berkerah hijau. Baju boneka yang sudah usang dan mripili itu ternyata kenang-kenangan dari guru beliau yang bernama Siauw Thian Hoo. Saya langsung berpikir, “ah, lucu nih kalo dimasukin ke museum.” Hehehe… “tapi itu sih terserah Pak  Bambang saja, itu kan barang beliau…” batin saya (*padahal mupeng).

Lalu benda kedua yang cukup menghebohkan adalah,…hm…sebenarnya cukup banyak sih. Tapi jenisnya sama, yaitu kumpulan surat jalan beliau ke luar kota saat akan mementaskan Wayang Potehi di masa lalu. Jadi dalam setiap surat jalan itu harus ada keterangan bahwa dia tidak terlibat gerakan “G 30 S/ PKI”. Arsip yang penting nih! Saya langsung terbayang bagaimana Pak Bambang kala itu harus menunjukkan sehelai surat tersebut setiap melewati perbatasan kota, dengan rombongan senimannya.

Baju boneka, kenangan dari Sang Guru
Baju boneka, kenangan dari Sang Guru

Selain itu, ada juga surat jalan milik istrinya yang isinya kurang lebih sama, yang menyatakan bahwa orang tersebut tidak terlibat kegiatan partai terlarang. “Istri saya ini sudah meninggal tahun 2006 kemarin. Dia sudah pulang ke ‘India’.” Saya langsung bingung, lho kok India? Oh … ternyata maksudnya pulang ke tempat di mana agama Buddha berasal. *manggut-manggut.

Surat Jalan ini harus dilengkapi dengan foto plus keterangan yang menyatakan bahwa yang bersangkutan tidak terlibat G 30 S/ PKI

Setelah kami puas melihat-melihat isu dusnya, Pak Bambang memasukkan lagi satu demi satu koleksinya tersebut dan berujar, “nanti habis saya salin mau saya bakar.” Hah? Dibakar? Dengan sigap saya langsung ngomong, “Aduh pak, jangan… kan sayang. Mending … kita rawat aja.” Eh, setelah mendengar saran saya itu Pak Bambangnya malah bingung. Tapi, akhirnya beliau berjanji akan memberikannya setelah pentas Sam Poo besar, di bulan Agustus besok.

Sekitar pukul 15.30, kami pamitan.

Namun, kami tidak langsung pulang karena saya masih penasaran dengan rumah kertas yang saya lihat di Rumah Abu tadi siang. Dan, kami pun beranjak ke sana. Sesampainya di sana, seketika saya dan Mas Candra mendekat, dan terdengar lantunan doa dalam bahasa entah Hokkian entah Mandarin.

Upacaranya sudah dimulai. Dan seperti biasa, hehe… saya masih ragu untuk mendekat. Tapi, karena Mas Ridho sudah main nyelonong duluan, ya sudah akhirnya saya ikut masuk juga. lalu saya berdiri dengan canggungnya tanpa tahu harus ngapain. “Hmm … boleh motret nggak ya?” gumam saya.  Tidak lama kemudian, lantunan doa-doa itu selesai. Pendeta dan para pendoa melepas pakaian sembahyang mereka. Si pendeta pakai warna kuning, pendoa yang lain pakai warna biru. Pakaian sembahyangnya berupa jubah panjang yang ada kancing-kancing kecil di bagian samping.

“Ayo sini… sini… masuk saja,” ajak si pendeta. Lho ternyata ramah to? Akhirnya, saya masuk lebih dalam mendekati meja persembahan. Dia adalah seorang Banthe, atau pemimpin upacara agama Buddha. Dia bilang, sebenarnya dalam ajaran Buddha, tidak ada tradisi membakar rumah kertas. Namun, ini adalah sebuah wujud ‘dakwah melalui budaya’, begitu katanya. Agama Buddha berusaha menyesuaikan dengan budaya Tionghoa. Dan pengetahuannya tentang budaya Tionghoa sangat komplit di mata saya. Dia mengajak kami berkeliling Rumah Abu dan mempelajari simbol-simbol yang terukir pada rumah itu. Kelelewar merupakan lambang kemujuran. Sementara, di meja sembahyang ada berbagai macam kue (kueh), ada kue moho, bakpao, kue ketan yang melambangkan umur panjang. Selain itu, ada pula buah jeruk, semangka, nanas yang melambangkan kehadiran raja/kemuliaan/derajat yang tinggi bagi seseorang. Di meja itupun tampak berbagai macam manisan. Sayangnya, tidak semua bisa saya ingat maknanya, karena lagi-lagi kebodohan terbesar saya adalah lupa bawa buku catatan. Hiks …

Di Rumah Abu ini ternyata juga ada ukiran-ukiran kayu penghias ruangan peninggalan tokoh Tionghoa terkenal di Semarang, seperti Oei Tiong Ham dan seorang kapiten pemimpin Kong Koan. Kong Koan adalah otoritas Tionghoa di Semarang pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Kong Koan dibubarkan pada tahun 1930 oleh pemerintah Hindia-Belanda. Dari Kong Koan-lah asal muasal kata ‘kongkow’, yang berarti duduk-duduk sambil ngobrol, berasal. Menarik bukan? Hehehe …

Tidak lama kemudian, upacara dimulai lagi. Rumah kertas akan dibakar pada pukul 20.00. Sayangya tidak ada satupun di antara kami yang bisa mengikuti prosesi ritual itu sampai akhir.

Tapi, tidak apa-apa … pasti lain kali masih ada kesempatan.

-Bersambung-

Advertisements

3 thoughts on “Bambang Sutrisno – Babak Pertama

  1. Pingback: Cemburu « Anastasia Dwirahmi
  2. Pingback: Saujana Potehi di Pecinan Semarang « Iid Marsanto
  3. Pingback: Bambang Sutrisno [*Babak Pertama] « Iid Marsanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s