Identitas di Persimpangan Jalan: Resensi buku “Tokoh Tionghoa dan Indentitas Indonesia” karya Leo Suryadinata*

Tokoh Tionghoa memang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Pemikiran dan  perjuangan mereka dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat telah memberikan sumbangan yang berarti bagi negeri. Dari sekian banyak tokoh yang memiliki peran penting, Leo Suryadinata merangkum delapan sosok Tionghoa yang sepak terjangnya dianggap signifikan dalam kaitannya dengan pendefinisian identitas kebangsaan masyarakat Tionghoa di Indonesia. Terutama, sepanjang era 1920-1970. Delapan orang tokoh ini adalah mereka yang tergolong agresif dalam menyuarakan isu identitas, yang utamanya melalui keterlibatan mereka dalam dunia tulis-menulis serta jurnalistik.

Delapan fragmen yang dihadirkan Suryadinata lewat penerbit Komunitas Bambu ini adalah terbitan ulang dari buku berjudul Mencari Identitas Nasional: Dari Tjoe Bou San sampai Yap Thiam Hien yang pernah diterbitkan oleh LP3ES pada tahun 1990. Walaupun dibukukan menjadi satu, bukan berarti riwayat kedelapan tokoh yang dipilih oleh Suryadinata ini memiliki pandangan yang seragam mengenai identitas kebangsaan. Ada Tjoe Bou San dan Kwee Kek Beng yang menganut nasionalis Tionghoa. Bou San, yang sempat bekerja di Sin Po ini, gigih memperjuangkan pemberantasan Undang-undang kekawulaan pemerintah kolonial Belanda. Sementara, Kek Beng adalah penerus Bou San di surat kabar yang sama.

Kemudian, ada Kwee Hing Tjiat yang melepaskan konsep nasionalisme Tionghoanya dan menganjurkan pembauran total. Lalu, di tempat lain hadir sosok P.K. Ojong yang juga menyarankan pembauran total dengan budaya masyarakat setempat. Upaya ini mendapatkan tantangan keras dari Yap Thiam Hien yang anti ganti nama serta anti-asimilasi. Sementara itu, dalam hal keagamaan, ada dua tokoh yang diangkat yaitu Kwee Tek Hoay, penganjur ajaran Tridharma dan Abdul Karim Oey, pendiri Persatuan Islam Tionghoa di Indonesia. Kiprah mereka dalam bidang agama ini juga sangat berpengaruh terhadap orientasi masyarakat Tionghoa akan kebangsaan.

Dari buku ini, juga dapat kita peroleh informasi mengenai keterlibatan mereka dalam beberapa organisasi dan media massa besar, baik itu yang mereka dirikan maupun sebagai wadah bagi mereka untuk menyalurkan idealisme dan pemikiran mengenai identitas Tionghoa. Organisasi dan media massa tersebut antara lain adalah surat kabar Sin Po, majalah Intisari, BAPERKI, Tiong Hwa Hwee Kwan dan Partai Tionghoa Indonesia (PTI), sebuah partai berorientasi Indonesia yang didirikan oleh Liem Koen Hian. Perbedaan pandangan yang dimiliki tokoh-tokoh ini disebabkan juga karena pengaruh dari organisasi di mana mereka terlibat.

Suryadinata mengatakan bahwa buku ini belum bisa mewakili seluruh tokoh Tionghoa yang berperan dalam kurun waktu tersebut, maka ada beberapa nama lain yang disebut sekilas, namun perannya tidak kalah penting. Seperti misalnya Oei Tjong Hauw, anak dari Oei Tiong Ham yang dengan perusahaan besarnya ternyata menggagas lahirnya sebuah surat kabar bernama Mata Hari, terbit pertama kali di Semarang pada tahun 1934. Selain itu ada pula Dr. Yap Hong Tjoen seorang ahli mata lulusan sekolah Belanda yang mendukung Undang-undang kekawulaan Belanda.

Dari kisah latar belakang pendidikan, kelas sosial, dan pengalaman pergerakan dan kelembagaan tokoh-tokoh dalam buku ini, kita bisa memahami mengapa ada beberapa orang Tionghoa yang kemudian lebih memilih menjadi nasionalis Tionghoa. Semua itu bukan karena mereka tidak menghargai Indonesia, tetapi lebih karena tekanan dari pemerintah Belanda. Bahkan, Kwee Kek Beng juga menyokong pergerakan nasionalis Indonesia melalui tulisan-tulisannya di surat kabar. Dalam setiap cerita pun, kita bisa membaca bahwa pada akhirnya mereka justru menyuarakan agar orang Tionghoa menjadi Indonesia.

Judul : Tokoh Tionghoa dan Indentitas Indonesia : Dari Tjou Bou San Sampai Yap Thiam Hien

Penulis : Leo Suryadinata
Penerbit : Komunitas Bambu, 2010

*Leo Suryadinata adalah direktur Chinese Heritage Centre dan profesor di Nanyang Technological University,  Singapura.

Ong Bing Hok dan Rumah Kertas

Bila sedikit menilik ke belakang, perjalanan pertama kami –di suatu hari sekitar Mei 2010– sesungguhnya diawali dengan menyambangi tempat pembuatan rumah kertas milik Ong Bing Hok di Gang Cilik, Pecinan Semarang. Namun, ketika itu kami belum mempublikasikan catatan mengenai seluk-beluk rumah kertas, tempat pembuatan rumah kertas, ritual pembakarannya, hingga empunya rumah kertas pak Ong Bing Hok untuk diketahui lebih jauh. Kini, kami kembali lagi ke sana untuk memberikan informasi tentang hal itu.

Seorang Pekerja di Bengkel Rumah Kertas Ong Bing Hok

Rumah kertas merupakan satu dari sekian banyak media yang dipakai dalam upacara tradisional masyarakat Tionghoa untuk memberikan penghormatan pada leluhur mereka. Rumah kertas ini nantinya akan dibakar saat peringatan kematian/meninggalnya kerabat atau pendahulu mereka. Dalam upacara ini juga digunakan tata-cara perhitungan hari seperti halnya pada masyarakat Jawa, seperti tiga hari, tujuh hari dan yang agak berbeda, 49 hari. Pada hari ke 49 ini dipercaya arwah leluhur sudah naik ke kahyangan. Nantinya, abu hasil pembakaran rumah kertas tadi dilarung di laut, sebagai wujud kesempurnaan pengiriman rumah pada leluhur. Hal ini dapat kita saksikan pada komunitas-komunitas Tionghoa di kota-kota pesisir utara Jawa pada umumnya.

Tentang Ong Bing Hok sendiri, sang pengrajin rumah kertas, adalah generasi keempat di keluarganya sebagai pembuat/pengrajin rumah kertas. Kakek-buyutnya, atau generasi pertama dari silsilah keluarga Ong Bing Hok masih asli Tiongkok. Menariknya di sini adalah hingga sekarang, Ong Bing Hok masih bertahan dan tetap melestarikan tradisi leluhurnya, meski (hanya) melalui usaha pembuatan rumah kertas ini. “ Karena ini hal yang mulia untuk dilakukan ,” demikian penuturan Ong Bing Hok.

Ong Bing Hok dan keluarga besarnya melalui banyak periode sejarah Indonesia dimana orang Tionghoa kerap kali mendapat perlakuan yang tidak adil. Salah satunya saat terjadi huru-hara pada 1965, Bing Hok menyaksikan sendiri bagaimana banyak temannya yang kabur ke Tiongkok. Namun tidak seperti kawan-kawannya, ia sendiri memilih untuk tetap tinggal di Indonesia, karena saat itu menurutnya kondisi politik di Tiongkok juga sama tidak stabilnya dengan Indonesia. Karena peristiwa di 1965 itu pula, Bing Hok terpaksa keluar dari Tiong Hwa Hwee Kwan (sekolah berbahasa Cina) yang ditutup oleh pemerintah.

Salah satu sudut rumah Bing Hok

Sore itu, ketika kami berkunjung ke rumahnya, Ong Bing Hok sedang menggarap sebuah rumah kertas pesanan yang akan dibakar keesokan harinya. ‘Bengkel’nya nampak sederhana, hanya memanfaatkan sisa ruangan bagian depan rumahnya. Di ruangan itu, nampak berbagai peralatan kerja dan bahan-bahan membuat rumah kertas. Sementara, di langit-langit rumahnya digantung beberapa pernak-pernik pelengkap rumah kertas seperti koper, pengawal, dewa-dewa, tandu, dan gudang. Semuanya, tentu saja, terbuat dari kertas juga.

Pernik tersebut juga merupakan syarat dalam proses pembakaran. Karena tanpa berbagai pernik itu, diyakini rumah tidak akan terkirim dengan sempurna ke alam baka. Satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan adalah ‘sertifikat rumah’ yang berisi nama si pengirim dan penerima. Semuanya ditulis dengan menggunakan bahasa dan aksara Hokkian. Namun, ada kekhawatiran bahwa ketiadaan generasi penerus yang mampu berbahasa Hokkian inilah yang dapat mengancam keberlangsungan usaha turun-temurun ini.

Bing Hok mengatakan, bahwa saat ini hanya ada sedikit pembuat rumah kertas di Semarang. Jika ada pun, toh tidak semua dari mereka memahami betul bagaimana tata-aturan tradisi yang benar dalam membuat dan menyajikan rumah kertas dalam ritual sembahyangan. Dalam hal ini, Bing Hok tidak hanya mahir membuat rumah-rumahan beserta isinya, melainkan juga mampu membuat perlengkapan upacara lain seperti lian, too wi, teng-tengan, dan lain-lain.

Selepas menyambangi kediamaan Ong Bing Hok, kami mencoba untuk mencari informasi mengenai ritual bakar rumah kertas. Dari penuturan Bing Hok, membakar rumah kertas adalah tradisi penganut Kong Hu Chu. Namun dari beberapa artikel yang kami temukan, tradisi ini justru berasal dari seorang kaisar China beragama Budha. Walaupun tidak serta merta juga bisa dikatakan ini adalah tradisi Budha (karena memang bukan). Sebenarnya, menghormati leluhur memang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Cina, sehingga apapun agamanya, mereka kebanyakan masih menjalankan tradisi ini.

Pembakaran rumah kertas, peringatan 49 hari, di Vihara Tanah Putih Semarang - 27 Mei 2010

Hal ini kami buktikan sendiri keesokan harinya, ketika mengikuti jejak rumah kertas yang dirakit oleh Bing Hok sampai ke Vihara Tanah Putih, Semarang, tempat dimana rumah kertas itu akan dibakar. Rumah kertas itu ternyata akan dipersembahkan kepada seorang almarhum oma beragama Katolik oleh cucunya yang beragama Islam. Hal tersebut membuat kami menjadi lebih paham akan perpaduan agama, tradisi, budaya dan kehidupan manusia yang terlalu rumit untuk dikotak-kotakkan berdasarkan satu identitas saja.

Penelusuran kami akan Bing Hok dan rumah kertas belum selesai. Kelak, kami akan kembali ke sana dan akan berusaha menuliskan lagi hasil ‘blusukan’ kami di Gang Cilik, yang memang ‘cilik’ itu.

Pecinan, Semarang Juli 2010



Bukan Sekedar Potehi

Saya belum menyerah. Saya ingat pernah menuliskan kalimat itu pada status facebook pribadi saya beberapa waktu yang lalu. Dan memang sampai saat ini, saya masih belum menyerah untuk menjelajahi pecinan, mencari dan mempelajari budaya tionghoa. Maka siang itu, saya berjalan menyusuri gang pinggir, lalu belok ke kiri setelah jembatan. Dan kembali sampai di Tay Kak Sie. Mas Ridho sudah datang rupanya. Hehe…kali ini saya bukan yang pertama.

Wedang, Pencarian, dan Penemuan

Jalan-jalan hari itu dibuka dengan semangkuk wedang tahu yang hangat dan sebatang rokok. Wedang tahu ini bukan sembarang wedang tahu. Entah saya yang sudah fanatik sama pecinan atau gimana, saya merasa, kalau untuk urusan perwedangan, pecinan Semarang nggak ada lawannya. Kalau wedang tahu ini, dijualnya kebanyakan siang hari.

Anehnya, walaupun diminum siang hari, wedang tahu yang hanya berisi air jahe dan sari pati kedelai ini tetap menyegarkan. Padahal kan, jahe panas dan banyak orang yang bilang lebih cocok diminum malam hari. Wedang tahu dijajakan dengan dipanggul oleh pak penjualnya. Sebilah kayu panjang yang kedua sisinya diganduli tangki besar berisi wedang, mangkuk, sendok dan lainnya ( I know there should be a word to call that thing, tapi saya nggak tau). Rasanya nano nano ada pahit, manis dan pedas. Harganya 4000 saja semangkuk. Nyam..

Inilah si Wedang Tahu 🙂

Wedang lainnya? Ada..namanya Tjap Kaw King. Jualan malam hari, di Jalan Wotgandul. Biasanya kalau habis makan Mie Hap Kie, saya langsung have dessert di sini. Hehe…dan langsung kekenyangan luar biasa. Di sinilah dijual wedang ronde, wedang kacang, wedang roti, wedang kacang hijau, dan lainnya. Nggak ada yang menandingi. Wedang ronde gerobak di sekitar Tugu Jogja? Kalah deh…(maaf ya, yang orang Jogja).

Jadi, cukup sekian dulu soal perwedangan. Saya janji akan membicarakannya lain kali, karena nama Tjap Kaw King sendiri sudah mengandung nuansa sejarah tionghoa di Semarang. Apa itu? Penasaran kan? I’ll keep it for next time.

Setelah Mas Candra dan Mas Singgih beserta pacarnya datang, kami langsung bergerak. Agak bingung juga saat itu, mau kemana ya? Karena Pak Bambang sedang pentas di Jakarta. Hm…hm…setelah Mas Candra membuka catatannya, dia mengusulkan bagaimana kalau ke toko obat cina. Akhirnya kami berusaha mencari. Lokasinya Pekojan – Gang Warung –Gang Pinggir.

Hasilnya? NIHIL. Setelah memasuki beberapa toko obat dan menanyakan kesediaan beliau-beliau itu untuk diwawancara, kami tidak mendapatkan respon positif. Belakangan, kami tau alasannya. Mereka takut rahasia ramuan mereka tersebar luas. Oalahh…iya deh maklum. Diam-diam saya tetap penasaran dan akan mencari cara untuk mendekati mereka.

Tapi ada beberapa hal yang kami dapatkan, pertama, toko-toko obat tersebut tidak menerima resep dokter. Mereka hanya menerima resep dari shinse atau dari kelenteng. Yang kedua, toko Ngo Hok Tong adalah toko obat tertua. Kini namanya Panca Jaya. Ketiga, siapa bilang obat yang bukan resep dokter harganya murah. Mahal cing! Tadi saya sempat menguping pembicaraan seorang pembeli dan pramuniaga toko. Harganya ratusan ribu lah obatnya.

Karena kami pantang menyerah, akhirnya kami berusaha mencari objek lain untuk dijelajahi. Saya punya satu nama. Thio Tiong Gie. Namun, dari awal saya sudah menetapkan beliau sebagai pilihan terakhir. Kenapa? Pikir saya, Thio Tiong Gie sudah banyak diungkap. Pernah dimuat di beberapa surat kabar nasional, dan namanya sudah cukup terkenal di Semarang. Misi saya kan mencari-cari mereka yang belum terungkap keberadaannya. Tapi karena saat itu tidak ada pilihan lain maka ya sudah, ke tempat Pak Thio saja. Saya sudah browsing soal dia dan mendapatkan alamatnya di kampung pesantren, kelurahan Purwodinatan.

Masuk ke jalan Petudungan, kami bertanya pada sebuah bengkel las bernama Bintara. Bengkel itu adalah kepunyaan Pak Thio (saya tahu ini dari hasil browsing juga). Saat saya numpang tanya disana, yang menjawab adalah anak-anak beliau yang ramah-ramah. Kata mereka, “oh, papah lagi mimpin sembahyangan.” Tapi tidak lama kemudian Pak Thio lewat dengan dibonceng motor oleh cucu perempuannya. Kami langsung membuntuti motor itu. Tidak seberapa jauh ternyata.

Kami disambut oleh Liong yang lagi ngintip ini.

Saat saya browsing, saya membaca sebuah artikel yang menulis bahwa Thio adalah orang yang ramah. Batinku, “masa sih? Wajahnya angker begitu.” Ternyata, beliau dan semua yang tinggal di rumah beliau sangat baik dan murah senyum. Saya jadi merasa berdosa masih menyisakan stereotip bahwa orang tionghoa itu ketus-ketus dan tertutup.

Ketika kami menyampaikan maksud kami untuk mewawancara beliau soal potehi, tanggapan Pak Thio adalah, “kenapa kalau ngomong budaya kok hanya potehi? Padahal masih banyak yang harus diketahui orang selain potehi.” Kami semua manggut-manggut setuju. Lalu, mulai berceritalah Pak Thio. Awalnya memang tentang potehi.

Riwajat Thiong Gie dan Potehi

Pak Thio Tiong Gie asli Demak, lahir pada tahun 1933, ia pindah ke Semarang  pada tahun 1942 ketika Jepang masuk ke Indonesia. Saat itu terjadi huru hara besar dimana-mana karena pergantian kekuasaan. Dan salah satu tempat yang paling aman adalah Semarang. Akhirnya keluarga Thio hijrah ke Semarang dan meninggalkan rumah serta toko kain milik keluarga di Demak yang sudah habis dirampok.

Sesampainya di Semarang, ayah Thio membuka usaha baru, yaitu menjual makanan kecil (kue basah). Untuk mengemas kue basahnya tersebut, ayah Thio menggunakan koran bekas yang belinya kiloan. Nah, suatu kali dalam satu ikat koran yang beliau beli, terselip buku cerita Tiongkok berjudul She Jin Kwee Cing Tse. Thio yang saat itu masih kecil membawa buku itu kemana-mana dan membacanya. Lama-lama dia jatuh cinta pada cerita itu. Kisah She Jin Kwee Cing Tse ini sudah ada versi Jawanya dan ditampilkan oleh banyak kelompok ketoprak di Jogjakarta yang dikenal dengan Kisah Joko Sudiro. Thio kecil juga suka nonton wayang potehi, yang saat itu masih disampaikan dalam bahasa Hokkian campur Melayu.

Ketika Thio berumur 27 tahun, ia diajak oleh seorang dalang untuk manggung di Cianjur. Cerita yang pertama kali dia bawakan adalah cerita She Jin Kwee tadi, dan jangan salah…beliau masih menyimpan bukunya hingga sekarang. Yah…paling tidak, begitulah kira-kira awalnya bagaimana Thio Tiong Gie menjadi dalang wayang potehi. Tapi, apakah dia hanya pantas dilabeli dalang potehi saja?

Ternyata tidak! Wah, bakal terpesona deh sama bapak yang satu ini. Dari kemampuan mendalangnya saja sudah sangat hebat, suaranya ngebas dan lantang. Lalu, yang bikin saya melongo adalah ketika beliau mempraktekkan perbedaan antara suluk wayang cina dan wayang jawa. Ketika Pak Thio mencoba untuk menunjukkan bagaimana suluk wayang jawa itu…wow…saya sampai merinding. Persis seperti dalang wayang kulit kawakan. Kalau hanya mendengar suaranya tanpa melihat orangnya, kita tidak akan menyangkan kalau dia orang tionghoa.

Itu melongo yang pertama. Yang kedua, adalah saat beliau bercerita mengenai sejarah bagaimana wayang potehi diciptakan. Wayang potehi berusia lebih dari 3000 tahun, dan ternyata lahir dari balik teralis penjara. Kadang saya merasa, Pak Thio ini suka trans sendiri kalo lagi cerita, jadi gaya bercerita dia mirip sama gaya dia mendalang (walaupun saya belum pernah liat dia ndalang). Intinya, Pak Thio serius dan sangat menghayati setiap ceritanya. Nah, ketika beliau bercerita mengenai sejarah wayang potehi, Thio mengelurkan sapu tangan dari kantongnya, mengikat di sini dan di situ, lalu…voila! Jadilah ‘replika’ wayang potehi dari sapu tangan beliau.

Raja-Raja, Soekarno dan Sejarah

Lalu, hal terakhir yang ingin saya sampaikan disini adalah (karena sebenarnya masih banyak hal yang perlu saya tuliskan soal dia, tapi lain kali ya), Thio Tiong Gie is not just a potehi master, dia juga sejarawan, budayawan, pendeta, penjaga tradisi dan lain-lainnya. Di usianya yang sudah senja ini, beliau masih sangat bersemangat berbagi cerita soal apapun. Termasuk dua hal ini : Sejarah raja-raja Nusantara dan Soekarno, “mumpung saya masih hidup.” Gitu sih katanya. Yang mau tau soal sejarah kerajaan tapi bosen dengerin guru sejarah atau dosen di kelas, dateng ke rumah Pak Thio. Dijamin nggak ngantuk. Hehe..

Soekarno? Ya, Soekarno. Pak Thio ngefans berat sama si Bung satu ini. Beliau bilang, ada dua pemimpin dunia yang tak tergantikan, yaitu Soekarno dan Hitler (saya no comment deh soal Hitler). Di ruang tamu tempat kami berbincang, ada gambar Soekarno yang cukup besar. Mas Ridho langsung nanya, “ngefans sama Bung Karno ya Pak?”

Pak Thio mengangguk. Tapi, bukan kisah ngefansnya yang membuat saya lagi-lagi melongo. Namun kisah dibalik gambar Soekarno itu. Percaya nggak, gambar itu pernah dikubur sama Pak Thio selama 32 tahun! Jadi gambar itu dibungkus kertas, kerdus, sabut kelapa, trus apa lagi ya? Pokoknya supaya awet dan nggak rusak kena hujan atau panas. Lalu, setelah dibuntel, gambar itu dipendem di bawah pohon jeruk yang terletak di depan rumahnya. Kini, pohon jeruk itu udah ganti jadi pohon belimbing. Tapi tempat dia mengubur gambar itu masih ada. Ini sempat saya foto.

Semua itu karena Pak Thio takut pada rezim Soeharto dan kroni-kroninya. Sehingga dia menyembunyikan gambar “sang penyambung lidah rakyat” (kata Pak Thio nih, mengutip tulisan di nisan Bung Karno) di bawah pohon, lebih dari 3 dasawarsa. Selain melongo, saya juga merinding. HEBAT!!! “Siapa yang berani masang foto Bung Karno pada saat itu? Tidak ada!” katanya berapi-api.

See the Bung Karno picture up there? Itulah gambar yang beliau sembunyikan selama 32 tahun.

Pak Thio bilang, ada satu tokoh lagi yang dia pengen pasang fotonya tapi belum kesampean. Siapa? Hayo siapa….Kwan Im? Yesus? Confusius? Bunda Maria? Megawati? Bukan…Jawabannya adalah : R.A. Kartini sodara-sodara. Beliau bilang, jika ada ukuran foto R.A. Kartini yang sebesar ukuran gambar Bung Karno yang dia punya, dia mau beli lalu dipasang berdampingan…(Mas Candra atau Mas Singgih tertarik menggambar R.A. Kartini? Hehehe..keren lho).

Setelah ngobrol sampai kemana-mana, akhirnya kami permisi pulang. Sepertinya Pak Thio juga perlu istirahat karena dia hari itu baru sampai rumah setelah manggung di Sukabumi selama 2 bulan. Sebelum pulang, saya bertanya, “boleh mampir lagi kan, Pak?” Pak Thio tersenyum, “boleh, mumpung saya masih hidup.” Saya nyengir. Ah, bapak ini bikin deg-degan aja.

Cerita berikutnya adalah soal Tjie Lam Tjay. Tunggu ya! 🙂

TinkerBell

Have you ever wondered how nature gets its glow – who gives it light and color as the seasons come and go?

Saya dan Tere sedang menemukan keasyikan baru. Nonton TinkerBell. Hehehehe…penting? Banget..

TinkerBell adalah salah satu ikon disney yang cukup populer. Kita mengenalnya lewat film Peter Pan. TinkerBell adalah sahabat Peter yang senantiasa membantu the never grown up boy itu… Seingat saya, dulu ketika membaca kisah Peter Pan, saya ngefans berat sama TinkerBell. Bahkan, saya sampai sebel sama tokoh Wendy yang mengalihkan perhatian Peter dari TinkerBell.

Film TinkerBell yang saya tonton ini adalah film yang berkisah tentang asal-usul peri kecil berbaju hijau ini. Film ini baru dibuat sekitar tahun 2008, sekuelnya sudah ada dengan judul Tinkerbell, The Lost Treasure. So, film pertama ini bersetting di tempat kelahiran TinkerBell. Nama tempatnya Pixie Hollow, masih satu kecamatan sama Neverland. Hehehehe…sebenarnya Pixie Hollow itu berada di Neverland. Kenapa saya suka sama film ini? Simple, because it’s disney’s movie. Saya memang suka sama bagaimana Disney mengilustrasikan dongeng-dongeng klasik menjadi sebuah gambar visual yang menarik. Walaupun banyak yang bilang bahwa Disney mengubah beberapa cerita klasik dan menjadikannya tidak orisinil lagi, atau bahwa Disney mengkomersialisasikan imajinasi anak-anak…saya nggak peduli tuh. Gambarnya selalu cantik, musiknya magis, dan ceritanya kocak..menurut saya lho.

Jadi, TinkerBell lahir di Pixie Hollow, seperti semua peri lain di Neverland. Setiap peri ceritanya dianugerahi bakat yang berbeda, dan mereka semua bekerjasama untuk membuat musim berganti di mainland. Yang dimaksud mainland dalam film ini adalah London. Beberapa jenis peri berdasarkan bakatnya ada; the fast flying fairy (yang mengatur angin), water fairy, animal fairy, light fairy, garden fairy, mereka semua digolongkan ke dalam the fairy of all talent, yang tugasnya adalah membawa musim semi ke mainland. Selain mereka ada winter fairy, summer fairy dan autumn fairy. Semua peri yang mempunyai bakat alam tadi disebut nature talent fairy. Lalu, peri apakah TinkerBell? Seperti namanya, dia adalah Tinker Fairy, atau peri pengrajin. Tugasnya adalah mencipatakan barang-barang untuk keperluan peri lainnya. TinkerBell merasa bakatnya ini kurang penting dan kurang keren. Makanya dia ingin menjadi peri yang memiliki bakat alam, nah…film ini bercerita mengenai usaha TinkerBell tersebut sampai bagaimana akhirnya ia menemukan jati dirinya. Di film ini TinkerBell punya empat sahabat, yaitu Rosetta, Silvermist, Iridessa dan satu lagi kalo ga salah namanya Fawn.

Sejak punya Tere, saya memang jadi lebih suka nonton film yang “lucu2” kayak gini. Lumayan juga sih, buat cuci mata. Pixie Hollow is seriously beautiful.

Bambang Sutrisno – Babak Pertama

Hari Jumat tanggal 2 Juli 2010, saya bersama Mas Ridho dan Mas Candra dari BYAR Creative Industry kembali mengunjungi pecinan. Kali ini, kami akan mencari rumah Pak Bambang Sutrisno, sang dalang Wayang Potehi. Ini adalah kali kedua setelah perjumpaan pertama saya dengan Pak Bambang ketika beliau sedang mempersiapkan pentas Wayang Potehi di depan Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok pada 22 Juni 2010 — yang saat itu saya dan Mas Candra secara tidak sengaja menjumpai kelompok seni tradisi ini di Pecinan Semarang.

Seperti dalam jalan-jalan sebelumnya, saya selalu sampai di Pecinan lebih dulu. Untungnya saja saya membawa majalah National Geographic yang baru, jadinya nggak bosen nunggu. Selama menunggu, saya sempat clingak-clinguk di “rumah abu” Yayasan Tjie Lam Tjay yang persis bersebelahan dengan Kelenteng Tay Kak Sie. Saya lihat di sana ada yang sedang menyiapkan sembahyangan bakar rumah kertas (sayangnya saya lupa namanya apa). Karena saya selalu ragu untuk masuk ke Rumah Abu itu (alasannya logis dan tidak logis. Hehehe… yang logis adalah, saya takut menganggu orang yang sedang sembahyang. Sementara yang tidak logis, saya merasa suasana di situ singup. Hihihi…), maka saya memutuskan untuk menunggu di bangku merah panjang yang ada di depan Pujasera Tay Kak Sie, sambil baca-baca majalah tadi.

Bambang Sutrisno, saat menerima kami di kediamannya

Lalu… lalu… setelah Mas Candra datang, kira-kira 45 menit menunggu tadi, sekitar pukul 13.30, dia langsung bertanya ke seorang satpam, “Dimana rumah Pak Bambang sang dalang?”

Ternyata, memang rumahnya tidak terlalu jauh. Cukup menyusuri Gang Lombok saja, melewati Yayasan Kuncup Melati, lalu ada tukang kusen pintu di sekitar itu.. terus… terus… dan sampai deh di rumahnya.

Sesampainya kami di sana, ternyata Pak Bambang sedang tidur siang. “Maaf ya Pak, mengganggu…,” kata Mas Candra. Sementara, saya sendiri terpana dan masih terus terpana karena demi segala nama Tuhan, rumahnya kecil banget. Itupun rumah kontrakan. Jadi, lantas saya pun bertanya dalam hati,”Dimana Pak Bambang tidur?” Usut-punya-usut, ya di ruang tamu yang juga merangkap sebagai ruang keluarga, ruang makan, ruang menyimpan barang, dll., dst. itu tempat di mana kami bertandang siang itu.

Setelah saya dipersilakan masuk, saya langsung disuruh duduk di atas alas kardus yang bawahnya dialasi tikar anyaman. Sedangkan Mas Candra duduk di depan pintu, dan pintunya sengaja dibuka karena sempitnya ruang. Jujur, saat itu pula, saya nggak bisa membayangkan bagaimana rasanya duduk di dalam bertiga dengan keadaan pintu tertutup.

Rumah Pak Bambang sebenarnya terdiri dari dua lantai, lantai pertama ukurannya kira-kira 1,5m x 3m. Kecil banget, bukan? Iya, memang. Wong lebarnya saja pas buat saya selonjoran. Panjangnya, ya nggak beda jauh dari itulah. Di dalamnya ada tangga dari kayu yang sudah ringkih dan tampak rapuh. Saya sungguh ngeri membayangkan Pak Bambang yang sesepuh itu harus naik-turun tangga. Bagaimana dengan ukuran lantai duanya? Ya kira-kira samalah. Di atas, katanya, berfungsi sebagai gudang untuk menyimpan baju dan barang-barangnya yang lain.

Tidak lama kemudian, Mas Ridho datang menyusul. Ketika Mas Ridho datang, Pak Bambang sedang sibuk menarik kardus yang ia simpan di belakang pintu. Ia tarik dari tempatnya. Isi kardus itu adalah buku-buku cerita wayang. Dan, ternyata kami baru mengetahui bahwa kebanyakan dari buku cerita itu adalah tulisan tangan beliau sendiri! Ia menulisnya dengan rapi. Katanya, cerita-cerita itu beliau dapat dari gurunya. Memang ada sih beberapa komik seperti Kera Sakti, 5 Harimau Sakti, terus ada … apa tuh … yang penunggang rajawali itu. Tetapi, kata Pak Bambang, justru yang sudah jadi komik atau buku cerita itu nggak bisa dijadikan landasan cerita untuk bahan mendalang karena sudah terlalu banyak modifikasi dari si pengarang. Jadi untuk menyiasatinya, beliau lebih suka menggunakan catatannya sendiri. Dan, buku catatannya ada buaaannnyaaakkkk banget! Buku tulis yang ia gunakan masih Tjap Banteng. Yang artinya sudah tuuuaaaaa banget.

Tulisan tangan Pak Bambang, rapi ya?

Kemudian sisi lain yang menarik dari isi kardus itu buat kami ada dua hal. Yang pertama, ada sehelai baju wayang berwarna merah dengan motif bunga keemasan, berkerah hijau. Baju boneka yang sudah usang dan mripili itu ternyata kenang-kenangan dari guru beliau yang bernama Siauw Thian Hoo. Saya langsung berpikir, “ah, lucu nih kalo dimasukin ke museum.” Hehehe… “tapi itu sih terserah Pak  Bambang saja, itu kan barang beliau…” batin saya (*padahal mupeng).

Lalu benda kedua yang cukup menghebohkan adalah,…hm…sebenarnya cukup banyak sih. Tapi jenisnya sama, yaitu kumpulan surat jalan beliau ke luar kota saat akan mementaskan Wayang Potehi di masa lalu. Jadi dalam setiap surat jalan itu harus ada keterangan bahwa dia tidak terlibat gerakan “G 30 S/ PKI”. Arsip yang penting nih! Saya langsung terbayang bagaimana Pak Bambang kala itu harus menunjukkan sehelai surat tersebut setiap melewati perbatasan kota, dengan rombongan senimannya.

Baju boneka, kenangan dari Sang Guru
Baju boneka, kenangan dari Sang Guru

Selain itu, ada juga surat jalan milik istrinya yang isinya kurang lebih sama, yang menyatakan bahwa orang tersebut tidak terlibat kegiatan partai terlarang. “Istri saya ini sudah meninggal tahun 2006 kemarin. Dia sudah pulang ke ‘India’.” Saya langsung bingung, lho kok India? Oh … ternyata maksudnya pulang ke tempat di mana agama Buddha berasal. *manggut-manggut.

Surat Jalan ini harus dilengkapi dengan foto plus keterangan yang menyatakan bahwa yang bersangkutan tidak terlibat G 30 S/ PKI

Setelah kami puas melihat-melihat isu dusnya, Pak Bambang memasukkan lagi satu demi satu koleksinya tersebut dan berujar, “nanti habis saya salin mau saya bakar.” Hah? Dibakar? Dengan sigap saya langsung ngomong, “Aduh pak, jangan… kan sayang. Mending … kita rawat aja.” Eh, setelah mendengar saran saya itu Pak Bambangnya malah bingung. Tapi, akhirnya beliau berjanji akan memberikannya setelah pentas Sam Poo besar, di bulan Agustus besok.

Sekitar pukul 15.30, kami pamitan.

Namun, kami tidak langsung pulang karena saya masih penasaran dengan rumah kertas yang saya lihat di Rumah Abu tadi siang. Dan, kami pun beranjak ke sana. Sesampainya di sana, seketika saya dan Mas Candra mendekat, dan terdengar lantunan doa dalam bahasa entah Hokkian entah Mandarin.

Upacaranya sudah dimulai. Dan seperti biasa, hehe… saya masih ragu untuk mendekat. Tapi, karena Mas Ridho sudah main nyelonong duluan, ya sudah akhirnya saya ikut masuk juga. lalu saya berdiri dengan canggungnya tanpa tahu harus ngapain. “Hmm … boleh motret nggak ya?” gumam saya.  Tidak lama kemudian, lantunan doa-doa itu selesai. Pendeta dan para pendoa melepas pakaian sembahyang mereka. Si pendeta pakai warna kuning, pendoa yang lain pakai warna biru. Pakaian sembahyangnya berupa jubah panjang yang ada kancing-kancing kecil di bagian samping.

“Ayo sini… sini… masuk saja,” ajak si pendeta. Lho ternyata ramah to? Akhirnya, saya masuk lebih dalam mendekati meja persembahan. Dia adalah seorang Banthe, atau pemimpin upacara agama Buddha. Dia bilang, sebenarnya dalam ajaran Buddha, tidak ada tradisi membakar rumah kertas. Namun, ini adalah sebuah wujud ‘dakwah melalui budaya’, begitu katanya. Agama Buddha berusaha menyesuaikan dengan budaya Tionghoa. Dan pengetahuannya tentang budaya Tionghoa sangat komplit di mata saya. Dia mengajak kami berkeliling Rumah Abu dan mempelajari simbol-simbol yang terukir pada rumah itu. Kelelewar merupakan lambang kemujuran. Sementara, di meja sembahyang ada berbagai macam kue (kueh), ada kue moho, bakpao, kue ketan yang melambangkan umur panjang. Selain itu, ada pula buah jeruk, semangka, nanas yang melambangkan kehadiran raja/kemuliaan/derajat yang tinggi bagi seseorang. Di meja itupun tampak berbagai macam manisan. Sayangnya, tidak semua bisa saya ingat maknanya, karena lagi-lagi kebodohan terbesar saya adalah lupa bawa buku catatan. Hiks …

Di Rumah Abu ini ternyata juga ada ukiran-ukiran kayu penghias ruangan peninggalan tokoh Tionghoa terkenal di Semarang, seperti Oei Tiong Ham dan seorang kapiten pemimpin Kong Koan. Kong Koan adalah otoritas Tionghoa di Semarang pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Kong Koan dibubarkan pada tahun 1930 oleh pemerintah Hindia-Belanda. Dari Kong Koan-lah asal muasal kata ‘kongkow’, yang berarti duduk-duduk sambil ngobrol, berasal. Menarik bukan? Hehehe …

Tidak lama kemudian, upacara dimulai lagi. Rumah kertas akan dibakar pada pukul 20.00. Sayangya tidak ada satupun di antara kami yang bisa mengikuti prosesi ritual itu sampai akhir.

Tapi, tidak apa-apa … pasti lain kali masih ada kesempatan.

-Bersambung-