The Traffic part 1

Beberapa bulan belakangan ini, saya merasa sangat membenci lalu lintas. Nggak tau juga gimana awalnya, saya jadi orang yang panikan, terutama kalau naik motor. Saya selalu sebal dengan siapapun itu yang memboncengi saya. Saya merasa mereka itu tidak tau cara berkendara yang baik. Most people don’t. Orang-orang merasa mereka bisa mengendarai motor dan mobil dengan baik, tapi ketika di jalan, semuanya jadi egois. Bukankah menjadi tidak egois di jalan itu bagian dari kemampuan mengendarai kendaraan dengan baik ya? (Heran…) Saya sering dengar orang-orang bilang bahwa orang dari kota tertentu memiliki perilaku di jalan lebih buruk dari orang yang berasal dari kota lain. Buat saya, semuanya sama saja. Jalanan itu sudah seperti hutan. You eat or you’ll be eaten.

Saya bersyukur tidak bisa mengendarai mobil dan tidak terlalu suka mengendarai motor. Saya tidak mau menjadi seperti orang-orang di jalanan. Kebanyakan orang terlalu permisif terhadap diri sendiri. Orang cenderung nggak mau disalahkan juga. Saya sering menemui seseorang yang menyetir mobil mengucapkan sumpah serapah pada pengendara lain yang dia anggap menghalangi jalan atau berperilaku merugikan. Tapi ketika dia harus terjebak dalam kondisi itu atau secara sadar berada dalam kondisi itu, dia tidak mau disalahkan. Saya jadi merasa bahwa jalanan itu selain seperti hutan, juga sudah menjadi medan perang. Semuanya merasa benar sendiri, dan kalau sampai ada korban, ya itu resiko.

Hhhh….

– Rahmi yang sedang sebel sama jalan raya –

Advertisements